<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427</id><updated>2012-02-16T16:57:17.639-08:00</updated><category term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>DENBAGUS</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>57</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-6509704110182879479</id><published>2008-07-27T12:01:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T12:03:28.067-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>WERNER HEISENBERG 1901-1976</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ke tangan siapa Hadiah Nobel untuk bidang fisika jatuh di tahun 1932? Ke tangan Werner Heisenberg, ahli fisika Jerman. Tak ada orang dapat Hadiah Nobel tanpa sebab-sebab yang jelas. Dan sebab itu pun mesti luar biasa. Kalau sekedar penemu sih banyak, dan rasanya sulit hadiah itu dikantonginya. Kenapa bisa Heisenberg? Karena kreasi dan penemuannya dalam bidang "kuantum mekanika." Ini bukan barang sembarangan. Ini salah satu prestasi penting dalam seluruh sejarah ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Mekanika --tiap orang mafhum belaka-- adalah cabang itmu fisika yang berhubungan dengan hukum-hukum umum ihwal gerak sesuatu benda. Dan bukan cabang sembarangan cabang, melainkan cabang yang punya bobot fundamental dalam dunia ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Sejalan dengan kemajuan bertambah, kebutuhan pun meningkat. Yang dirasa cukup hari ini akan terasa kurang besoknya. Tak kecuali dalam hal mekanika. Pada tahun-tahun permulaan abad ke-20 sudah mulai terasa dan makin lama makin nyata betapa hukum yang berlaku di bidang mekanika tak mampu menjangkau dan memaparkan tingkah laku partikel yang teramat kecil seperti atom, apalagi partikel sub atom. Apabila hukum lama yang sudah diterima umum dapat memecahkan permasalahan dengan sempurna sepanjang menghadapi ihwal benda makroskopik (benda yang jauh lebih besar ketimbang atom) tidaklah demikian halnya jika berhadapan dengan benda yang teramat lebih kecil. Ini bukan saja membikin pusing kepala tetapi sekaligus juga teka-teki yang tak terjawab.&lt;br /&gt;Di tahun 1925 Werner Heisenberg mengajukan rumus baru di bidang fisika, suatu rumus yang teramat sangat radikal, jauh berbeda dalam pokok konsep dengan rumus klasik Newton. Teori rumus baru ini --sesudah mengalami beberapa perbaikan oleh orang-orang sesudah Heisenberg--sungguh-sungguh berhasil dan cemerlang. Rumus itu hingga kini bukan cuma diterima melainkan digunakan terhadap semua sistem fisika, tak peduli yang macam apa dan dari yang ukuran bagaimanapun.&lt;br /&gt;Dapat dibuktikan secara matematik, sepanjang pengamatan hanya dengan menggunakan sistem makroskopik melulu, perkiraan kuantum mekanika berbeda dengan mekanika klasik dalam jumlah yang terlampau kecil untuk diukur. (Atas dasar alasan ini, mekanika klasik --yang secara matematik lebih sederhana daripada kuanturn mekanika-- masih dapat dipakai untuk kebanyakan perhitungan ilmiah). Tetapi, bilamana berurusan dengan sistem dimensi atom, perkiraan tentang kuantum mekanika berbeda besar dengan mekanika klasik. Percobaan-percobaan membuktikan bahwa perkiraan mengenai kuantum mekanika adalah benar.&lt;br /&gt;Salah satu konsekuensi dari teori Heisenberg adalah apa yang terkenal --dengan rumus "prinsip ketidakpastian" yang dirumuskannya sendiri di tahun 1927. Prinsip itu umumnya dianggap salah satu prinsip yang paling mendalam di bidang ilmiah dan paling punya daya jangkau jauh. Dalam praktek, apa yang diterapkan lewat penggunaan "prinsip ketidakpastian" ini adalah mengkhususkan batas-batas teoritis tertentu terhadap kesanggupan kita membuat ukuran-ukuran ilmiah. Akibat serta pengaruh dari sistem ini sangat dahsyat. Apabila hukum dasar fisika menghambat seorang ilmuwan --bahkan dalam keadaan yang ideal sekalipun-- mendapatkan pengetahuan yang cermat dari suatu penyelidikan, ini disebabkan karena sifat-sifat masa depan dari sistem itu tidak sepenuhnya bisa diramalkan. Menurut "prinsip ketidakpastian," tak akan ada perbaikan pada peralatan ukur kita yang akan mengijinkan kita mengungguli kesulitan, ini.&lt;br /&gt;"Prinsip ketidakpastian" ini menjamin bahwa fisika, dalam keadaannya yang lumrah, tak sanggup membikin lebih dari sekedar dugaan-dugaan statistik. Seorang ilmuwan yang menyelidiki radioaktivitas, misalnya, mungkin mampu menduga bahwa satu dari setriliun atom radium, dua juta akan mengeluarkan sinar gamma dalam waktu sehari sesudahnya.&lt;br /&gt;Tetapi, Heisenberg sendiri tidak bisa menaksir apakah ada atom radium yang khusus yang akan berbuat begitu. Dalam banyak hal yang praktis, ini bukannya satu pembatasan yang ketat. Bilamana menyangkut jumlah besar, metoda statistik sering mampu menyuguhkan basis pijakan yang dapat dipercaya untuk sesuatu langkah. Tetapi, jika menyangkut jumlah dari ukuran kecil, soalnya jadi lain. Di sini "prinsip ketidakpastian" memaksa kita menghindar dari gagasan sebab-akibat fisika yang ketat. Ini mengedepankan suatu perubahan yang amat mendasar dalam pokok filosofi ilmiah. Begitu mendasarnya sampai-sampai ilmuwan besar Einstein tak pernah mau terima prinsip ini. "Saya tidak percaya," suatu waktu Einstein berkata, "bahwa Tuhan main-main dengan kehancuran alam semesta."&lt;br /&gt;Tetapi, ini pada hakekatnya sebuah pertanda bahwa ahli-ahli fisika yang paling modern merasa perlu menerimanya.&lt;br /&gt;Jelaslah sudah, dari sudut teori kuantum, dan pada tingkat lebih lanjut bahkan lebih besar dari "teori relativitas," telah merombak konsep dasar kita tentang dunia fisik. Tetapi, konsekuensi teori ini tidaklah semata bersifat filosofis.&lt;br /&gt;Diantara penggunaan praktisnya, dapat dilihat pada peralatan modern seperti mikroskop elektron, laser dan transistor. Teori kuantum juga secara luas digunakan dalam bidang fisika nuklir dan tenaga atom. Ini membentuk dasar pengetahuan kita tentang bidang "spectroscopy" (alat memprodusir dan meneliti spektra cahaya), dan ini digunakan secara luas di sektor astronomi dan kimia. Dan juga dimanfaatkan dalam penyelidikan teoritis dalam masalah yang topiknya beraneka ragam seperti kualitas khusus cairan belium, dasar susunan intern binatang-binatang, daya penambahan kekuatan magnit, dan radio aktivitas.&lt;br /&gt;Werner Heisenberg lahir di Jerman tahun 1901. Dia terima gelar doktor dalam bidang fisika teoritis dari universitas Munich tahun 1923. Dari tahun 1924 sampai 1927 dia kerja di Kopenhagen bersama ahli fisika besar Denmark, Niels Bohr. Kertas kerja penting pertamanya tentang ihwal kuantum mekanika diterbitkan tahun 1925 dan rumusnya tentang "prinsip ketidakpastian" keluar tahun 1927. Heisenberg meninggal tahun 1976 dalam usia tujuh puluh empat tahun. Dia hidup bersama isteri dan tujuh anak.&lt;br /&gt;Dari sudut arti penting kuantum mekanika, para pembaca mungkin heran apa sebab Heisenberg tidak ditempatkan lebih tinggi dari nomornya sekarang. Tetapi perlu diingat, Heisenberg bukanlah satu-satunya ilmuwan penting yang berhubungan dengan pengembangan kuantum mekanika. Sumbangan pikiran penting telah diberikan oleh beberapa pendahulu yang tenar seperti Max Planck, Albert Einstein, Niels Bohr, dan ilmuwan Perancis Louis Broglie. Sebaris tambahan masih bisa ditulis di sini seperti ilmuwan Austria Erwin Schrodinger, ahli Inggris P.A.M. Dirac. Semua mereka ini turut memberi sumbangan yang amat membantu bagi teori kuanturn pada tahun-tahun tak lama sesudah Heisenberg menerbitkan kertas kerjanya yang bermakna besar laksana sperma buat kesuburan ilmu pengetahuan. Namun begitu, saya pikir Heisenberg-lah tokoh yang paling utama dalam pengembangan mekanika kuantum ini dan atas dasar itulah dia layak diberi tempat urutan tinggi dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-6509704110182879479?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/6509704110182879479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=6509704110182879479' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/6509704110182879479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/6509704110182879479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/werner-heisenberg-1901-1976.html' title='WERNER HEISENBERG 1901-1976'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-7462781997657393263</id><published>2008-07-27T12:00:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T12:01:20.519-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>TS'AI LUN ± 105</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzF9KDQGtI/AAAAAAAAAEE/kxPQFlwfbFk/s1600-h/25.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzF9KDQGtI/AAAAAAAAAEE/kxPQFlwfbFk/s320/25.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227770921930988242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penemu bahan kertas Ts'ai Lun besar kemungkinan sebuah nama yang asing kedengaran di kuping pembaca. Menimbang betapa penting penemuannya, amatlah mengherankan orang-orang Barat meremehkannya begitu saja. Tidak sedikit ensiklopedia besar tak mencantumkan namanya barang sepatah pun. Ini sungguh keterlaluan. Ditilik dari sudut arti penting kegunaan kertas amat langkanya Ts'ai Lun disebut-sebut bisa menimbulkan sangkaan jangan-jangan Ts'ai Lun sebuah figur tak menentu dan tidak bisa dipercaya ada atau tidaknya. Tetapi, penyelidikan seksama membuktikan dengan mutlak jelas bahwa Ts'ai Lun itu benar-benar ada dan bukan sejenis jin dalam dongeng.&lt;br /&gt;Dia seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan yang di tahun 105 M mempersembahkan contoh kertas kepada Kaisar Ho Ti. Catatan Cina tentang penemuan Ts'ai Lun ini (terdapat dalam penulisan sejarah resmi dinasti Han) sepenuhnya terus terang dan dapat dipercaya, tanpa sedikit pun ada bau-bau magi atau dongeng. Orang-orang Cina senantiasa menghubungkan nama Ts'ai Lun dengan penemu kertas dan namanya tersohor di seluruh Cina.&lt;br /&gt;Tak banyak yang dapat diketahui perihal kehidupan Ts'ai Lun, kecuali ada menyebut dia itu orang kebirian. Tercatat pula kaisar teramat girang dengan penemuan Ts'ai Lun, dan ia membuatnya naik pangkat, dapat gelar kebangsawanan dan dengan sendirinya jadi cukong. Tetapi, belakangan dia terlibat dalam komplotan anti istana yang menyeret ke kejatuhannya. Catatan-catatan Cina menyebut --sesudah dia disepak-- Ts'ai Lun mandi bersih-bersih, mengenakan gaunnya yang terindah, lantas meneguk racun.&lt;br /&gt;Naskah Gulung&lt;br /&gt;Penggunaan kertas meluas di seluruh Cina pada abad ke-2, dan dalam beberapa abad saja Cina sudah sanggup mengekspor kertas ke negara-negara Asia. Lama sekali Cina merahasiakan cara pembikinan kertas ini. Di tahun 751, apa lacur, beberapa tenaga ahli pembikin kertas tertawan oleh orang-orang Arab sehingga dalam tempo singkat kertas sudah diprodusir di Bagdad dan Sarmarkand. Teknik pembikinan kertas menyebar ke seluruh dunia Arab dan baru di abad ke-12 orang-orang Eropa belajar teknik ini. Sesudah itulah pemakaian kertas mulai berkembang luas dan sesudah Gutenberg menemukan mesin cetak modern, kertas menggantikan kedudukan kulit kambing sebagai sarana tulis-menulis di Barat.&lt;br /&gt;Kini penggunaan kertas begitu umumnya sehingga tak seorang pun sanggup membayangkan bagaimana bentuk dunia tanpa kertas. Di Cina sebelum penemuan Ts'ai Lun umumnya buku dibuat dari bambu. Keruan saja buku macam itu terlampau berat dan kikuk. Memang ada juga buku yang dibuat dari sutera tetapi harganya amat mahal buat umum. Sedangkan di Barat --sebelum ada kertas-- buku ditulis di atas kulit kambing atau lembu. Material ini sebagai pengganti papyrus yang digemari oleh orang-orang Yunani, Romawi dan Mesir. Baik kulit maupun papyrus bukan saja termasuk barang langka tetapi juga harga sulit terjangkau.&lt;br /&gt;Sekarang, entah buku entah barang tulisan lain dapat diprodusir secara murah dan sekaligus dalam jumlah besar-besaran. Ini semua berkat adanya kertas. Memang, arti penting kertas tidaklah begitu menonjol tanpa adanya mesin cetak, tetapi sebaliknya mesin cetak pun tak banyak makna tanpa adanya bahan kertas yang begitu banyak dan begitu murah.&lt;br /&gt;Pertanyaan yang agak musykil sekarang: Siapa yang mesti urutan tingkatnya lebih atas antara Ts'ai Lun dan Gutenberg? Meskipun ruwet juga saya menentukan siapa diantara kedua orang ini berhubung sama-sama pentingnya, tetapi akhirnya saya ambil putusan tingkat Ts'ai Lun sedikit lebih tinggi dalam urutan ketimbang Gutenberg. Alasan-alasan saya begini: (1) Kertas digunakan banyak sekali semata-mata untuk bahan tulisan. (2) Ts'ai Lun mendahului Gutenberg dan Gutenberg mungkin tak terpikirkan bikin mesin cetak kalau saja kertas tidak diketemukan. (3) Andaikata hanya salah satu dari mereka melakukan ciptaan, saya duga tanpa mesin ciptaan Gutenberg pun buku-buku masih bisa diprodusir lewat sistem cetak blok (yang sudah lama dikenal orang jauh sebelum Gutenberg) lewat kombinasi kertas daripada lewat kombinasi dengan kulit domba.&lt;br /&gt;Apakah pada tempatnya memasukkan baik Ts'ai Lun maupun Gutenberg dalam urutan orang-orang yang paling berpengaruh di dunia? Untuk menyelami arti penting yang sempurna tentang penemuan kertas dan mesin cetak, sangatlah perlu memahami perkembangan kebudayaan Barat dan Cina. Sebelum masuk abad ke-2 M kebudayaan Cina masih dalam tarap lebih rendah ketimbang kebudayaan Barat. Tetapi pada tahun-tahun seribuan Masehi, kemajuan-kemajuan Cina sudah melebihi Barat bahkan di abad ke-7 dan ke-8 kebudayaan Cina dalam banyak segi merupakan kebudayaan termaju di dunia. Sesudah abad ke-15 M, Barat ngebut meninggalkan Cina di belakang. Pelbagai penyelesaian kultural mengenai perubahan-perubahan ini telah banyak dikembangkan, tetapi pelajaran teori tampaknya mengabarkan satu segi penting yang justru menurut saya sekedar suatu penjelasan yang tersederhana sifatnya.&lt;br /&gt;1. Memotong bambu dari rumpunnya &lt;br /&gt;2. Merendam bambu dalam air&lt;br /&gt;3. Memotong bambu kecil-kecil &lt;br /&gt;4. Melumat potongan bambu&lt;br /&gt;5. Menyaring bubur bambu &lt;br /&gt;6. Pencampuran dengan kapur&lt;br /&gt;7. Pembentukan pulp-kertas &lt;br /&gt;8. Pengeringan&lt;br /&gt;9. Penghalusan &lt;br /&gt;10. Pewarnaan lembaran kertas&lt;br /&gt;11. Penjilidan &lt;br /&gt;Tentu saja benar, pertanian dan tulis-menulis berkembang lebih dulu Timur Tengah ketimbang Cina. Tetapi hal ini bukanlah suatu jawaban apa sebab kebudayaan Cina begitu lambat dan berada di belakang Barat. Satu masalah muskil, menurut hemat saya, adalah sebelum adanya Ts'ai Lun tak ada satu tulisan bermutu pun di Cina. Di dunia Barat papyrus sudah ada, dan meskipun bahan itu mengalami kemunduran, tulisan dalam bentuk gulungan tak terbatas jumlahnya dan buku-buku lebih baik kualitasnya daripada ditulis di atas kayu atau bambu. Kekurangan bahan untuk menulis merupakan faktor penghambat utama kemajuan kebudayaan Cina. Seorang sarjana Cina memerlukan satu gerobak untuk membawa sejumlah buku yang dianggapnya bermanfaat. Bayangkan saja betapa berabenya berusaha mengatur administrasi pemerintahan dengan keadaan seperti itu.&lt;br /&gt;Penemuan kertas oleh Ts'ai Lun merombak total keadaan itu. Dengan sejumlah bahan-bahan tulisan yang ada, kebudayaan Cina melonjak naik begitu cepat sehingga hanya dalam beberapa abad sudah mampu mengimbangi Barat. Tentu, perpecahan politik di Barat menjadi sebab penting, tetapi ini sama sekali bukan sebab utama. Di abad ke-4 M Cina pun secara politis terpecah-pecah, tetapi biar begitu kebudayaan tetap maju dengan cepatnya. Dalam abad-abad berikutnya, tatkala kemajuan di Barat tersendat-sendat, Cina justru berhasil meraih penemuan-penemuan penting seperti kompas, bahan peledak,dan cara mencetak dengan blok. Sejak kertas jatuh lebih murah ketimbang kulit kambing serta dapat diperoleh dalam jumlah besar, keadaan sekarang terbalik.&lt;br /&gt;Sesudah orang-orang Barat mulai menggunakan kertas, mereka mampu duduk berhadapan dengan Cina, bahkan berhasil menyempitkan jurang pemisah kultural. Tulisan-tulisan Marco Polo menekankan keyakinannya bahwa bahkan di abad ke-13 M Cina berada jauh di atas Eropa dalam hal kemakmuran.&lt;br /&gt;Mengapa selanjutnya Cina berada di belakang Eropa? Berbagai penjajagan kultural yang njlimet telah dicoba, tetapi mungkin pengamatan teknologi yang sederhana dapat menemukan jawabannya. Di abad ke-15 di Eropa, seorang genius bernama Johann Gutenberg menemukan cara memproduksi buku sebanyak-banyaknya. Akibat penemuan itu, kultur Eropa maju dengan pesat. Karena Cina tidak punya orang seperti Gutenberg, Cina tetap bertahan pada sistem pencetakan blok sehingga perkembangan kulturnya merangkak lebih lambat.&lt;br /&gt;Apabila orang menerima analisa di atas, dia tidak bisa tidak harus menerima kesimpulan bahwa Ts'ai Lun dan Gutenberg adalah dua manusia yang merupakan tokoh sentral dalam sejarah dunia.&lt;br /&gt;Memang, Ts'ai Lun berada di barisan paling depan dari penemu-penemu lain karena beberapa alasan. Umumnya penemuan-penemuan merupakan produk dari jamannya dan bisa juga terjadi biarpun orang yang betul-betul menemukannya tak pernah hidup samasekali. Tetapi, keadaan ini samasekali tidak berlaku pada masalah kertas. Orang-orang Eropa tidak mulai memproduksi kertas beribu-ribu tahun sesudah Ts'ai Lun. Mereka baru terbuka pikiran dan membikinnya sesudah belajar proses pembikinannya dari orang Arab. Dalam hubungan ini, biarpun orang sudah menyaksikan bagaimana orang Cina memproduksi kertas, bangsa-bangsa Asia lainnya tak pernah punya kemampuan memproduksinya. Jadi jelaslah, penemuan cara memproduksi kertas bukanlah pekerjaan gampang, tak bisa begitu saja bisa dilaksanakan oleh kebudayaan maju yang serba tanggung, melainkan erat kaitannya dengan sumbangan pikiran dari perseorangan yang punya kelebihan luar biasa. Ts'ai Lun adalah model orang macam itu, dan cara membikin kertas yang dilakukannya (disamping modernisasi yang diperkenalkan sekitar tahun 1800 M) pada dasarnya sama serupa apa yang dilakukan orang hingga kini.&lt;br /&gt;Inilah alasan mengapa saya menempatkan baik Ts'ai Lun maupun Gutenberg kedua-duanya dalam urutan kesepuluh pertama orang berpengaruh dalam buku ini, dengan menempatkan Ts'ai Lun lebih atas ketimbang Gutenberg.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-7462781997657393263?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/7462781997657393263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=7462781997657393263' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7462781997657393263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7462781997657393263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/tsai-lun-105.html' title='TS&apos;AI LUN ± 105'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzF9KDQGtI/AAAAAAAAAEE/kxPQFlwfbFk/s72-c/25.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-104360680515843027</id><published>2008-07-27T11:59:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T11:59:55.800-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>Thomas Hobbes</title><content type='html'>English Philosopher/Linguist&lt;br /&gt;Born: 1588&lt;br /&gt;Died: 1679&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;English philosopher, mathematician, and linguist. Hobbes was born of an impoverished clerical family in Malmesbury, Wiltshire. At school he quickly excelled, making a reputation as a linguist and fluent poet and translator. After Oxford he entered the the employment of William Cavendish, and except for a short interval remained secretary, tutor, and general advisor to the family for the rest of his career. His employment included several "Grand Tours" during which he met the leading European intellectuals of his time. As a spokesman for the royalist Devonshires, Hobbes was caught up in the turmoil preceding the Civil War, and fled to France in 1640, remaining there until 1651.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobbes developed a materialist and highly pessimistic philosophy that was denounced in his own day and later, but has had a continuing influence on Western political thought. His Leviathan (1651) presents a bleak picture of human beings in the state of nature, where life is "nasty, brutish, and short." Fear of violent death is the principal motive that causes people to create a state by contracting to surrender their natural rights and to submit to the absolute authority of a sovereign. Although the power of the sovereign derived originally from the people, Hobbes said-challenging the doctrine of the divine right of kings-the sovereign's power is absolute and not subject to review by either subjects or ecclesiastical powers. Hobbes's concept of the social contract led to investigations by other political theorists, notably Locke, Spinoza, and Rousseau, who formulated their own radically different theories of the social contract. Because of his writings, especially "Leviathan", Hobbes lived in serious danger of prosecution after the restoration of Charles II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobbes's principal interests in his later years were translations, and he lived out his old age at the Devonshire's home.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Descriptive linguistics&lt;br /&gt;From Wikipedia, the free encyclopedia.&lt;br /&gt;Descriptive Linguistics is the work of analyzing and describing the actual language spoken now, or in the past, by any group of people. Accurate description of real speech is a very difficult problem and linguists have often been reduced to very inaccurate approximations.&lt;br /&gt;Almost all linguistic theory had its origin in practical problems of descriptive linguistics. Phonetics (and its theoretical developments such as phonemes) has dealt with how to pronounce languages. Syntax has developed to describe what is going on once phonetics has reduced spoken language to a control level. Lexicography collects "words" and has not given rise to much theory.&lt;br /&gt;An extreme mentalist viewpoint appears to deny that the linguistic description of a language can be done by anyone but a competent speaker. Such a speaker has internalized something called "linguistic competence" which gives them the ability to correctly extrapolate from their experience to new but correct expressions and to reject unacceptable expressions. Be that as it may be there are practical immediate needs for linguistic descriptions and we cannot wait for a full exploration of linguistic competence.&lt;br /&gt;There are tens of thousands of linguistic descriptions of thousands of languages that were prepared by people without adequate linguistic training. With a few honorable exceptions all linguistic descriptions done before, say, 1900, are amateur productions.&lt;br /&gt;A linguistic description would currently be considered good if it:&lt;br /&gt;1. described the phonology of the language and established a practical orthography.&lt;br /&gt;2. described the morphology of words.&lt;br /&gt;3. described the syntax of sentences.&lt;br /&gt;4. described the lexical derivations.&lt;br /&gt;5. included a vocabulary with at least a thousand entries.&lt;br /&gt;6. included a few genuine texts.&lt;br /&gt;There are some bonus topics that might also be included, like an analysis of discourse and historical reconstructions.&lt;br /&gt;Current work in syntax reexamines basic properties of movement. Under the minimalist assumptions of Chomsky (1995), movement is prohibited unless forced by grammatical considerations. From a set of comparable derivations, the one involving the least amount of moved material should therefore block other derivations. Within this framework, any cases of optional movement are problematic. We addressed this issue with experiments on stranding and pied-piping relative clauses in 115 English learners, aged 3;5 to 11;11, and an adult control group. All subjects participated in an elicited production experiment and a grammaticality judgement experiment. Our findings suggest that pied-piping is possible in young children's grammar only when stranding is ruled out, as predicted by minimalism. We claim that the children's responses represent the 'natural' grammar while adults' responses reflect a prescriptive artifact. We also found a discrepancy in all groups between production and judgements of the genitive pied-piping construction. We account for this finding with Kayne's (1994) analysis of relative clauses.&lt;br /&gt;Back to Index&lt;br /&gt;Resumptive restrictive relatives: A crosslinguistic perspective&lt;br /&gt;Margarita Suñer&lt;br /&gt;Cornell University&lt;br /&gt;One of the aims of linguistic theory is to account for language variation. This article contributes to that objective by examining resumptive relative clauses crosslinguistically. The major claims are (1) the core-grammar distinction between conventional and resumptive restrictive relative clauses is due to the feature composition of the relative complementizer; (2) the prohibition against pied-piping that some languages adhere to correlates with the lack of lexical relative pronouns; (3) particular grammars need to accommodate language-specific properties such as preferences for which elements may, must, or cannot acquire a phonological matrix; and (4) resumptive pronouns which appear in the absence of an island are inserted at LF for other than interpretive reasons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The current controversial topics are usually morphology and syntax. For many years too much attention given was to English, which has a very meager morphology, over-emphasized syntax, but now morphology has revived as an active field of study.&lt;br /&gt;The purpose of linguistic theory, so far as a practical linguist is concerned, is to make descriptions of morphology and syntax comprehensible. It is easy to see that the same data can often be described in different ways. For a while there was an active desire to find some measure which would allow some one description to be called the best. Today that goal seems to have been given up as chimerical.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-104360680515843027?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/104360680515843027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=104360680515843027' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/104360680515843027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/104360680515843027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/thomas-hobbes.html' title='Thomas Hobbes'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-462804167603452329</id><published>2008-07-27T11:57:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:58:45.782-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>THOMAS EDISON 1847-1931</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzFTesD3-I/AAAAAAAAAD8/QWPhIoOyNa0/s1600-h/24.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzFTesD3-I/AAAAAAAAAD8/QWPhIoOyNa0/s320/24.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227770205916356578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemu serba bisa Thomas Alva Edison lahir tahun 1847 di kota Milan, Ohio, Amerika Serikat. Cuma tiga tahun dia peroleh pendidikan formal, sesudah itu disepak keluar sekolah karena si guru menganggap anak ini dungu luar biasa.&lt;br /&gt;Ciptaan pertamanya, perekam suara elektronik dibikinnya tatkala umurnya dua puluh satu tahun. Hasil karyanya itu tidak dijualnya. Sesudah itu dia menekuni pembikinan peralatan yang diharapnya bisa laku terjual di pasar, tak lama sesudah dia berhasil membikin perekam suara elektronik, dia menemukan dan menyempurnakan mesin telegram yang secara otomatis mencetak huruf, yang dijualnya seharga 40.000 dolar, suatu jumlah besar pada saat itu. Sehabis itu, bagaikan antri dia menemukan hasil karya baru dan dalam tempo singkat Edison bukan saja masyhur tetapi juga berduit. Mungkin, penemuannya yang paling asli adalah mesin piringan hitam yang dipatenkannya tahun 1877. Tetapi, lebih terkenal di dunia dari itu adalah pengembangan bola lampu pijar yang praktis tahun 1879.&lt;br /&gt;Edison bukan orang pertama yang menciptakan sistem penerangan listrik. Beberapa tahun sebelumnya lampu bersinarkan arus listrik telah digunakan buat penerangan lampu jalan di Paris. Tetapi, bola pijar Edison berikut sistem pembagian tenaga listrik yang dikembangkannya memungkinkan adanya penerangan listrik yang praktis untuk di rumah. Tahun 1882, perusahaannya mulai memproduksi listrik untuk rumah-rumah di New York, dan dalam tempo singkat sudah tersebar ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;Dengan berdirinya perusahaan listrik pertama untuk penerangan rumah-rumah, Edison berarti sudah meletakkan dasar bagi perkembangan industri besar. Penggunaan tenaga listrik bukan cuma buat penerangan tetapi untuk seluruh aspek kebutuhan rumah tangga, mulai dari televisi hingga mesin cuci. Lebih jauh lagi, kegunaan tenaga listrik lewat distribusi jaringan-jaringan yang didirikan Edison dengan sendirinya mendorong penggunaan listrik untuk sektor industri.&lt;br /&gt;Edison juga memberi sumbangan besar luar biasa buat perkembangan kamera perfilman serta proyektor. Dia membuat penyempurnaan penting pertilponan (karbon transmiternya meningkatkan kejelasan pendengaran), penyempurnaan di bidang telegram, dan mesin tik. Diantara penemuan lainnya antara lain mesin dikte, mesin kopi dan tempat penyimpanan yang digerakkan baterei. Boleh dibilang, Edison merancang lebih dari 1000 penemuan, suatu jumlah yang betul-betul tak masuk akal.&lt;br /&gt;Satu sebab produktivitasnya amat mengherankan adalah karena pada awal-awal kariernya dia membangun sebuah laboratorium penyelidikan di Menlo Park, New Jersey. Di situlah dia menghimpun kelompok pembuat yang berkemampuan membantunya. Ini adalah cikal bakal sebuah laboratorium penyelidikan yang kemudian ditiru oleh begitu banyak industri. Laboratorium pemula Edison yang modern, suatu pusat penyelidikan yang berperalatan lengkap di mana begitu banyak orang bekerja bersama merupakan suatu team, adalah pula hasil karyanya yang penting, meskipun tentu saja sesuatu yang tidak bisa dia patenkan.&lt;br /&gt;Edison bukanlah seorang penemu semata; dia juga terlibat dalam pembikinan dan mengorganisir pelbagai perusahaan industri. Yang paling penting diantaranya akhirnya menjelma menjadi General Electric Company.&lt;br /&gt;Meski secara pembawaan dia bukan seorang ilmuwan murni, Edison membikin satu penemuan ilmiah. Di tahun 1882 dia menemukan bahwa dalam keadaan mendekati hampa udara, arus listrik dapat dialirkan diantara dua kawat yang tidak bersentuhan satu sama lain. Fenomena ini --disebut penemuan Edison-- bukan sekedar punya maksud teoritis yang penting, tetapi juga punya arti penggunaan praktis yang bermakna. Ini menuntun ke arah perkembangan tabung hampa udara dan peletakan dasar industri elektronik.&lt;br /&gt;Hampir sepenuh masa hidupnya, Edison menderita pendengaran lemah. Tetapi, meski begitu, dia lebih dari sekedar dapat mengatasi hambatan itu dengan kerja kerasnya yang mengagumkan. Edison kawin dua kali (istri pertamanya mati muda), punya tiga anak dari masing-masing istri. Dia meninggal tahun 1931 di West Orange, New Jersey.&lt;br /&gt;Tak ada perselisihan paham mengenai bakat Edison. Tiap orang sepakat bahwa dialah penemu besar yang genius yang pernah hidup. Barisan penemuan-penemuannya yang amat bermanfaat dianggap menggemparkan dan membikin dengkul menggigil, meskipun mungkin saja sebagiannya dikembangkan oleh orang lain dalam tempo tiga puluh tahun. Namun, bila kita perhatikan penemuan-penemuan pribadinya, akan tampak oleh kita bahwa tak satu pun daripadanya punya arti penting yang bersifat menentukan. Misalnya bola pijar, walaupun digunakan secara luas, bukanlah barang yang tak tergantikan dalam dunia modern. Fakta menunjukkan, penerangan yang berasal dari radiasi dan keluar terpencar dalam bentuk cahaya, yang bekerja atas dasar prinsip-prinsip ilmiah yang sepenuhnya berbeda, juga digunakan orang secara luas, dan dalam kehidupan kita sehari-hari tidaklah ada bedanya apabila kita tidak menggunakan bola lampu pijar samasekali. Sesungguhnya, sebelum penerangan listrik digunakan, lilin, lampu minyak, dan lampu gas sudah secara umum dipandang sebagai kadar penerangan yang memuaskan.&lt;br /&gt;Alat piringan hitam memang suatu penemuan cerdik, tetapi tak seorang pun menganggap alat itu sudah mampu mengubah kehidupan kita sehari-hari seperti halnya peranan yang disuguhkan radio, televisi atau tilpon. Lebih jauh dari itu, dalam tahun-tahun belakangan ini, telah dapat diciptakan alat perekam suara dengan metode yang sama sekali berbeda, seperti misalnya pita magnetik kaset. Dan andaikata tidak ada mesin piringan hitam, rasanya tidak apa-apa. Banyak paten-paten Edison yang berkaitan dengan penyempurnaan alat-alat, sebetulnya sudah ditemukan oleh orang lain lebih dulu, bahkan sudah dalam bentuk yang sudah bisa dimanfaatkan. Penyempurnaan-penyempurnaan ini --meski banyak menolong-- tak bisa dianggap sebagai suatu arti penting dalam rangkaian gerakan sejarah secara umum.&lt;br /&gt;Tetapi, kendati tak satu pun hasil penemuan Edison memiliki arti penting yang menggemparkan, berguna juga untuk diingat bahwa dia tidak cuma menciptakan satu alat, tetapi lebih dari seribu. Atas dasar pertimbangan inilah saya menempatkan Edison lebih tinggi ketimbang penemu termasyhur seperti Guglielmo Marconi dan Alexander Graham Bell.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-462804167603452329?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/462804167603452329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=462804167603452329' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/462804167603452329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/462804167603452329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/thomas-edison-1847-1931.html' title='THOMAS EDISON 1847-1931'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzFTesD3-I/AAAAAAAAAD8/QWPhIoOyNa0/s72-c/24.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-7666836715106776303</id><published>2008-07-27T11:55:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:56:59.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>SIMON BOLIVAR 1783-1830</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzE6mTXnlI/AAAAAAAAAD0/tgnkDzG-wJ8/s1600-h/23.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzE6mTXnlI/AAAAAAAAAD0/tgnkDzG-wJ8/s320/23.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227769778463546962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada George Washington dari benua Amerika belahan utara. Ada George Washington dari benua Amerika belahan selatan. Yang dari selatan itu namanya Simon Bolivar. Apa sebab? Karena sedikit sekali --itu pun kalau ada-- orang yang pegang rol begitu menentukan dalam sebuah benua sepanjang sejarah manusia. Tak kurang dari lima negeri yang dibebaskannya dari belenggu kolonialisme Spanyol: Colombia, Venezuela, Ecuador, Peru, dan Bolovia).&lt;br /&gt;Bolivar sendiri anak Venezuela, lahir di kota Caracas tahun 1783, berasal dari keluarga aristokrat keturunan Spanyol. Baru umur sembilan tahun sudah yatim. Pada tahun-tahun meningkat dewasanya dia teramat sangat terpengaruh oleh ide-ide kaum pembaharu Perancis. Filosof-filosof yang kerap dia baca antara lain John Locke, Rousseau, Voltaire dan Montesqueu.&lt;br /&gt;Selaku remaja, Bolivar berkelana ke beberapa negeri Eropa. Di Roma tahun 1805 di puncak bukit Aventine, Bolivar angkat sumpah, tidak akan duduk berpangku tangan sebelum tanah airnya bebas dari penindasan kolonialisme Spanyol.&lt;br /&gt;Tahun 1808 Napoleon Bonaparte menyerbu Spanyol dan mendudukkan saudaranya menjadi kepala negara Spanyol. Dengan penggeseran famili kerajaan Spanyol dari peranan politik yang efektif, sesungguhnya Napoleon menyuguhkan peluang emas buat daerah jajahan Amerika Latin merebut kemerdekaannya.&lt;br /&gt;Revolusi menghalau kolonialisme Spanyol di Venezuela pecah tahun 1810 tatkala gubernur Spanyol di Venezuela disepak turun dari kursinya. Pernyataan proklamasi kemerdekaan dikumandangkan tahun 1811,dan pada tahun itu juga Bolivar menjadi pemimpin pasukan revolusioner. Tetapi tahun berikutnya pasukan Spanyol menguasai kembali Venezuela. Salah seorang pemuka revolusi, Fransisco Miranda dipenjara dan Bolivar menghilang meninggalkan negeri.&lt;br /&gt;Tahun-tahun berikutnya mencatat serentetan pertempuran hebat, sebentar merebut kemenangan sebentar menderita pukulan berat, tetapi tekad Bolivar tak pernah mengendur. Titik balik terjadi tahun 1819 tatkala Bolivar memimpin pasukan yang campur aduk dan tak beraturan, menyeberang sungai mengambah daratan tinggi, lembah dan pucuk pegunungan Andes untuk menghajar serdadu Spanyol di Columbia. Di sana dia menangkan pertempuran yang sulit di Boyaca (17 Agustus 1819), kemenangan yang betul-betul merupakan mentari terbit kemenangan. Venezuela dibebaskan tahun 1821 dan Ecuador tahun 1822.&lt;br /&gt;Sementara itu, patriot Argentina, Jose de San Martin berhasil membebaskan Argentina dan Chili dari kolonialisme Spanyol dan bertanggung jawab atas pembebasan Peru. Kedua pembebas itu bertemu muka di kota Guayaquil, Ecuador, musim panas tahun 1822. Tetapi, keduanya tak bisa bersepakat menyusun rencana kerjasama dan mengkoordinir perjuangan bersama mengganyang Spanyol. Karena San Martin tidak setuju bergandengan tangan dengan Bolivar yang berapi-api melabrak Spanyol (dan hal ini menguntungkan pihak Spanyol), dia memutuskan undur diri selaku komandan dan menjauh dari Amerika Latin sepenuhnya. Tahun 1824 pasukan Bolivar secara mutlak telah membebaskan daerah yang kini disebut Peru, dan di tahun 1825 pasukan Spanyol di bagian utara Peru (kini bernama Bolivia) dihalau habis.&lt;br /&gt;Sisa tahun-tahun karier Bolivar tidak begitu sukses. Dia terkesan dengan contoh-contoh Amerika Serikat dan menginginkan adanya federasi untuk seluruh negeri Amerika Selatan. Kenyataannya, Venezuela, Colombia dan Ecuador telah melebur diri menjadi Republik Colombia Raya dengan Bolivar selaku presiden. Malangnya, gejala gerak menjauh di Amerika Selatan lebih besar terasa ketimbang di Amerika Utara. Tatkala Bolivar mengundang muktamar negeri-negeri Amerika bebas Spanyol di tahun 1826, cuma. empat negara yang hadir. Sebetulnya lebih banyak negeri yang bergabung dengan Colombia Raya, tetapi republik ini segera berantakan dengan sendirinya. Perang saudara pecah pada tahun 1828 dan ada percobaan membunuh Simon Bolivar. Menjelang 1830 Venezuela dan Ecuador mengundurkan diri. Bolivar, sadar bahwa dia merupakan penghalang buat perdamaian, mengundurkan diri di bulan April tahun 1830. Tatkala dia wafat di bulan Desember 1830, dia dalam rundungan kecewa, miskin terlunta-lunta dan dibuang dari negeri asalnya Venezuela.&lt;br /&gt;Bolivar jelas seorang punya ambisi besar dan atas desakan kondisi dia kadang-kadang menempuh jalan-jalan kediktatoran. Tetapi, jika dia harus memilih, dia siap sedia merelakan ambisinya demi kepentingan umum dan idealisme demokratis, dan dia mencampakkan kediktatorannya. Pernah sekali dia ditawari mahkota kerajaan, tetapi ditolaknya. Tak syak lagi, dia rasa julukan "El Libertador" (Sang Pembebas) yang telah dilekatkan pada dirinya jauh lebih agung ketimbang sekedar sebuah mahkota kerajaan.&lt;br /&gt;Tak perlu diragukan lagi, Bolivar merupakan tokoh dominan dalam gerakan pembebasan Amerika Latin dari telapak kaki imperialisme Spanyol. Dia beri sumbangan ideologi kepemimpinan buat gerakan itu --menulis artikel, menerbitkan surat kabar, berpidato di mana-mana-- dan melakukan surat-menyurat. Tak lelah-lelahnya dia mencari dana buat menunjang perjuangan. Dan dia merupakan seorang tokoh militer utama dalam gerakan revolusioner bersenjata.&lt;br /&gt;Namun, adalah keliru menganggap Bolivar seorang jenderal besar. Tentara yang ditaklukkannya bukanlah tentara berukuran besar dan bukan tentara yang teratur rapi. Bolivar sendiri bukanlah orang yang punya bakat menyusun strategi ataupun taktik. (Memang mengherankan juga jika diingat dia tak pernah dapat pendidikan militer sedikit pun). Tetapi, Bolivar mampu mengatasi semua kekuasaannya itu dengan dia punya tekad tak sudi terkalahkan menghadapi lawannya. Sehabis tiap menderita kekalahan dari Spanyol, tatkala orang-orangnya enggan berkelahi, Bolivar dengan tegas menghimpun kembali pasukan dan kembali maju bertempur.&lt;br /&gt;Menurut penilaian saya, Bolivar merupakan tokoh lebih berpengaruh ketimbang jago-jago kesohor seperti Julius Caesar atau Charlemagne, baik karena perubahan-perubahan yang diperbuatnya selama kariernya dan karena daerah pengaruhnya lebih luas. Namun, Bolivar ditempatkan dalam urutan di bawah Hitler, Alexander Yang Agung dan Napoleon karena banyak hal yang diperbuat oleh ketiga orang ini tak bisa terjadi tanpa adanya mereka. Sedangkan sulit dipercaya bahwa Amerika Selatan tidak bisa memperoleh kemerdekaan walau bagaimana.&lt;br /&gt;Tak seperti Washington, Bolivar membebaskan semua budak-budaknya selama masa hidupnya. Sebagai tambahan, lewat proklamasi dan lewat penyuguhan konstitusi dia aktif mencoba menghapus perbudakan di daerah-daerah yang dimerdekakannya. Namun percobaannya tidak sepenuhnya berhasil dan perbudakan masih ada sesudah dia wafat.&lt;br /&gt;Bolivar berpribadi kompleks, menarik, dramatis, berani, dan romantis. Tampangnya rupawan, dan dengan sendirinya terlibat banyak cerita percintaan. Dia berpandangan idealistis yang jauh, tetapi punya ketrampilan administratif tidak sebanyak Washington serta gemar disanjung. Ambisinya lebih kuat ketimbang Washington, dan ini merugikan daerah-daerah yang dibebaskannya. Di lain pihak, Bolivar samasekali tidak mata duitan. Dia orang berada tatkala mencebur ke dunia politik, dan jadi miskin tatkala berhenti.&lt;br /&gt;Daerah yang dibebaskan Bolivar dari cengkeraman kolonial sedikit lebih besar dari Amerika Serikat yang asli. Tetapi, jelas pula dia merupakan tokoh yang kurang penting jika dibandingkan Washinton, semata-mata karena Amerika Serikat pegang peranan lebih penting dalam sejarah daripada negeri-negeri yang dibebaskan Bolivar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-7666836715106776303?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/7666836715106776303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=7666836715106776303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7666836715106776303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7666836715106776303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/simon-bolivar-1783-1830.html' title='SIMON BOLIVAR 1783-1830'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzE6mTXnlI/AAAAAAAAAD0/tgnkDzG-wJ8/s72-c/23.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-1061127631341726161</id><published>2008-07-27T11:54:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:55:25.487-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>SIGMUND FREUD 1356-1939</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzEkAXnYtI/AAAAAAAAADs/WaZbdypMxVI/s1600-h/22.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzEkAXnYtI/AAAAAAAAADs/WaZbdypMxVI/s320/22.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227769390323688146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sigmund Freud, pemula cikal bakal psikoanalisa, dilahirkan tahun 1856 di kota Freiberg yang kini terletak di Cekoslowakia, tetapi tadinya termasuk wilayah Kerajaan Austria. Tatkala dia berumur empat tahun, keluarganya pindah ke Wina dan di situlah dia menghabiskan hampir seluruh hidupnya. Freud seorang mahasiswa yang jempolan di sekolahnya, meraih gelar sarjana kedokteran dari Universitas Wina tahun 1881. Selama sepuluh tahun berikutnya dia melakukan penyelidikan mendalam di bidang psikologi, membentuk staf klinik psikiatri, melakukan praktek pribadi di bidang neurologi, bekerja di Paris bersama neurolog Perancis kenamaan Jean Charcot dan juga bersama dokter Josef Breuer orang Wina.&lt;br /&gt;Gagasan Freud di bidang psikologi berkembang tingkat demi tingkat. Batu tahun 1895 buku pertamanya Penyelidikan tentang Histeria terbit, bekerja sama dengan Breuer. Buku berikutnya Tafsir Mimpi terbit tahun 1900. Buku ini merupakan salah satu karyanya yang paling orisinal dan sekaligus paling penting, meski pasar penjualannya lambat pada awalnya, tetapi melambungkan nama harumnya. Sesudah itu berhamburan keluar karya-karyanya yang penting-penting, dan pada tahun 1908 tatkala Freud memberi serangkaian ceramah di Amerika Serikat, Freud sudah jadi orang yang betul-betul kesohor. Di tahun 1902 dia mengorganisir kelompok diskusi masalah psikologi di Wina. Salah seorang anggota pertama yang menggabungkan diri adalah Alfred Adler, dan beberapa tahun kemudian ikut pula Carl Yung. Kedua orang itu akhirnya juga menjadi jagoan ilmu psikologi lewat upaya mereka sendiri.&lt;br /&gt;Freud kawin dan beranak enam. Pada saat-saat akhir hidupnya dia kejangkitan kanker pada tulang rahangnya dan sejak tahun 1923 dan selanjutnya dia mengalami pembedahan lebih dari tiga puluh kali dalam rangka memulihkan kondisinya. Meski begitu,dia tetap menemukan kerja dan beberapa karya penting bermunculan pada tahun-tahun berikutnya. Di tahun 1938 Nazi menduduki Austria dan si Sigmund Freud yang sudah berusia 82 tahun dan keturunan Yahudi itu dipaksa pergi ke London dan meninggal dunia di sana setahun sesudahnya.&lt;br /&gt;Sumbangsih Freud dalam bidang teori psikologi begitu luas daya jangkauannya sehingga tidak gampang menyingkatnya. Dia menekankan arti penting yang besar mengenai proses bawah sadar sikap manusia. Dia tunjukkan betapa proses itu mempengaruhi isi mimpi dan menyebabkan omongan-omongan yang meleset atau salah sebut, lupa terhadap nama-nama dan juga menyebabkan penderitaan atas bikinan sendiri serta bahkan penyakit.&lt;br /&gt;Freud mengembangkan teknik psikoanalisa sebagai suatu metode penyembuhan penyakit kejiwaan, dan dia merumuskan teori tentang struktur pribadi manusia dan dia juga mengembangkan atau mempopulerkan teori psikologi yang bersangkutan dengan rasa cemas, mekanisme mempertahankan diri, ihwal pengkhitanan, rasa tertekan, sublimasi dan banyak lagi. Tulisan-tulisannya menggugah kegairahan bidang teori psikologi. Banyak gagasannya yang kontroversial sehingga memancing perdebatan sengit sejak dilontarkannya.&lt;br /&gt;Freud mungkin paling terkenal dalam hal pengusulan gagasan bahwa gairah seksual yang tertekan sering menjadi penyebab penting dalam hal penyakit jiwa atau neurosis. (Sesungguhnya, bukanlah Freud orang pertama yang mengemukakan masalah ini meski tulisan-tulisannya begitu banyak beri dorongan dalam penggunaan lapangan ilmiah). Dia juga menunjukkan bahwa gairah seksual dan nafsu seksual bermula pada saat masa kanak-kanak dan bukannya pada saat dewasa.&lt;br /&gt;Berhubung banyak gagasan Freud masih bertentangan satu sama lain, amatlah sulit menempatkan kedudukannya dalam sejarah. Dia merupakan pelopor serta penggali, dengan bakat serta kecerdasan luar biasa yang menghasilkan pelbagai gagasan. Tetapi, teori-teori Freud (tidak seperti Darwin atau Pasteur) tak pernah berhasil peroleh kesepakatan dari masyarakat ilmuwan dan teramat sulit mengatakan bahwa bagian-bagian mana dari gagasannya yang akhirnya dapat dianggap sebagai suatu kebenaran.&lt;br /&gt;Lepas dari pertentangan yang berkelanjutan terhadap gagasan-gagasannya, tampaknya sedikit sekali yang meragukan bahwa Freud merupakan tokoh menonjol dalam sejarah pemikiran manusia. Pendapat-pendapatnya di bidang psikologi sepenuhnya telah merevolusionerkan konsepsi kita tentang pikiran manusia, dan banyak gagasan serta istilah-istilahnya telah digunakan oleh umum-misalnya: ego, super ego, Oedipus complex dan kecenderungan hasrat mau mati.&lt;br /&gt;Memang betul, psikoanalisa merupakan cara penyembuhan yang teramat mahal dan amat serius dan pula tidak berhasil apa-apa. Tetapi, juga betul teknik itu meraih sukses-sukses besar. Para psikolog di masa depan berkesimpulan bahwa keinginan seksual yang tertekan akan semakin penting peranannya dalam tingkah laku manusia daripada anggapan para penganut faham Freud. Tetapi, gairah ini sudah pasti punya saham besar dari anggapan sebagian psikolog sebelum Freud. Begitu pula, mayoritas psikolog kini yakin bahwa proses mental bawah-sadar memegang peranan yang menentukan dalam tingkah laku manusia, sesuatu hal yang diremehkan orang sebelum Freud.&lt;br /&gt;Freud memang bukan psikolog pertama, dan dalam jangka panjang mungkin tidak akan dianggap orang yang gagasan-gagasannya sebagian besar mendekati kebenaran. Namun, dia sudah jelas tokoh yang paling berpengaruh dan paling penting dalam perkembangan teori psikologi modern dan pandangan-pandangannya yang punya arti sangat besar di bidangnya menyuguhkan kepadanya hak untuk tercantum dalam urutan cukup tinggi dalam daftar buku ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-1061127631341726161?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/1061127631341726161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=1061127631341726161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1061127631341726161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1061127631341726161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/sigmund-freud-1356-1939.html' title='SIGMUND FREUD 1356-1939'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzEkAXnYtI/AAAAAAAAADs/WaZbdypMxVI/s72-c/22.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-1255270170705400176</id><published>2008-07-27T11:53:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T11:53:57.800-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>SHIH HUANG TI 259 SM-210 SM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kaisar Cina yang besar Shih Huang Ti dari tahun 238-210 SM menyatukan Cina dengan kekuatan senjata dan meletakkan dasar perombakan-perombakan. Perombakan ini merupakan faktor utama dalam penyatuan kultural Tiongkok hingga kini.&lt;br /&gt;Shih Huang Ti (juga terkenal dengan julukan Ch'in Shih Huang Ti) dilahirkan tahun 259 SM dan wafat tahun 210 SM. Untuk memahami arti penting pribadinya, kita perlu mengetahui dulu latar belakang historis masanya. Dia lahir di penghujung tahun dinasti Chou yang didirikan sekitar 1100 SM. Berabad sebelum masanya, dinasti Chou sudah kehilangan keampuhannya selaku penguasa, dan Cina terpecah belah menjadi banyak sekali negara-negara feodal.&lt;br /&gt;Pelbagai raja-raja feodal ini tak henti-hentinya bertempur satu sama lain, dan lambat laun beberapa penguasa kecil melenyap. Salah satu dari negeri terkuat yang selalu baku hantam itu Ch'in, di bagian Cina sebelah barat. Pemimpin-pemimpin kerajaan Ch'in menganut mazhab filosofis legalis yang dijadikan dasar negara. Kong Hu-Cu menganjurkan agar penduduk diperintah lewat contoh suri teladan akhlak dari pemimpinnya. Tetapi, menurut mazhab filosofi legalis, rakyat tidak cukup baik diperintah lewat cara yang ditunjukkan Kong Hu-Cu, karena itu tidak mungkin ditrapkan. Mendingan, rakyat itu diawasi ketat lewat aturan-aturan keras dan dipaksa tanpa pandang bulu. Hukum dan aturan digariskan oleh penguasa dan penguasa dapat mengubah kalau dia pandang perlu untuk kepentingan politik masa depan negeri.&lt;br /&gt;Bisa jadi akibat berpegang pada ide legalis, bisa jadi juga karena letak posisi geografisnya, atau bisa jadi berkat kemampuan kepemimpinan Ch'in, negeri itu menjadi negeri paling kuat diantara negeri-negeri kerajaan di Cina pada saat Cheng (keturunan Shih Huang Ti di masa depan) lahir. Secara simbolis Cheng naik tahta pada tahun 246 SM pada umur tigabelas tahun tetapi dalam praktek sebuah dewan memegang pemerintahan hingga Cheng cukup dewasa di tahun 238 SM. Raja baru itu mengangkat jendral-jendral yang berkemampuan dan dengan semangat berkobar-kobar mengganyang negeri-negeri feodal yang masih tinggal. Negeri feodal terakhir rontok tahun 221 SM dan sesudah itu dia bisa memproklamirkan diri selaku Wang (raja) seluruh Cina. Sekedar memberi bobot, dalam rangka usahanya memutus hubungan dengan masa lampau, dia memakai gelar baru dan menyebut dirinya Shih Huang Ti yang maknanya "Kaisar pertama."&lt;br /&gt;Shih Huang Ti segera bergegas melakukan perubahan-perubahan besar. Berdasar tekad mencegah cerai-berainya lagi Cina yang telah merusakkan kerajaan Chou, dia memutuskan menghapus habis seluruh sistem pemerintahan feodal. Wilayah yang dikuasainya dibagi-baginya menjadi 36 propinsi, dan pada tiap propinsi diangkat seorang gubernur sipil yang langsung ditunjuk oleh kaisar. Shih Huang Ti mengeluarkan dekrit bahwa gubernur propinsi tidaklah lagi berdasar keturunan. Akibat dari keputusan ini, terjadilah kebiasaan memindah-mindahkan gubernur dari satu propinsi ke propinsi lain untuk mencegah kemungkinan timbulnya pejabat daerah yang ambisius dan menyusun basis kekuatan untuk kepentingan dirinya sendiri. Tiap propinsi juga punya pimpinan militer, ditunjuk oleh kaisar dan sewaktu-waktu bisa dipindah kapan saja dia berkenan. Di samping itu ditunjuknya pula pejabat ketiga untuk memelihara keseimbangan antara gubernur sipil dan gubernur militer. Dia membangun jalan raya yang panjang dan rapi menghubungkan ibukota dengan kota-kota propinsi. Jalan raya itu dibangun sedemikian rupa --di samping arti ekonomisnya-- juga sewaktu-waktu dapat digunakan untuk gerakan tentara pusat ke daerah-daerah yang kalau-kalau banyak tingkah dan coba-coba bikin ulah yang bisa mengganggu keutuhan dan kestabilan kekuatan pusat. Shih Huang Ti pun tak lupa mengumumkan aturan bagi aristokrat-aristokrat lama yang masih hidup harus menetap di ibukota Hsieng yang dengan maksud supaya mereka dapat dengan mudah diawasi gerak-geriknya.&lt;br /&gt;Tetapi, Shih Huang Ti tidaklah puas hingga di situ. Dia tidak puas hanya sampai urusan persatuan politik dan militer semata, tetapi juga berusaha menggalang kesatuan ekonominya. Dia menentukan norma-norma ukuran baik untuk berat timbangan maupun panjang sesuatu barang. Dia menetapkan standar mata uang, macam-macam peralatan, lebar serta panjang kendaraan dan mengawasi konstruksi jalan raya dan saluran-saluran air. Dan dia juga menetapkan sistem hukum yang seragam untuk seluruh Cina berikut standar bahasa tulisan.&lt;br /&gt;Perbuatan kaisar yang paling termasyhur (atau barangkali yang paling tidak populer) adalah peraturan yang dikeluarkannya tahun 213 SM yang mengharuskan bakar semua buku di Cina, kecuali buku-buku yang berkaitan dengan masalah pertanian, kedokteran, catatan sejarah mengenai negara Ch'in dan buku-buku falsafah yang ditulis oleh pengarang-pengarang penganut faham legalis. Selebihnya --tidak kecuali buku-buku doktrin Kong Hu-Cu-- mesti dimusnahkan. Dengan dikeluarkannya aturan yang kelewatan ini mungkin merupakan contoh pertama adanya sensor besar-besaran dalam sejarah. Dia bermaksud melabrak habis filosofi-filosofi lawannya, khususnya faham Kong Hu-Cu. Tetapi, Shih Huang Ti memerintahkan mengkopi buku-buku yang dilarang dan disimpan di perpustakaan di ibukota.&lt;br /&gt;Politik luar negerinya tak kurang keras serta kuatnya. Dia melakukan penaklukan di bagian selatan Cina, dan daerah-daerah yang ditaklukkan dimasukkan ke dalam wilayah Cina. Juga di utara dan di barat pasukannya berhasil, namun dia tidak mampu menundukkan penduduknya secara permanen. Untuk mencegah jangan sampai mereka menyerang Cina, Shih Huang Ti menghubungkan pelbagai dinding lokal yang memang sudah ada di perbatasan Cina utara sehingga menjadi jalur tembok raksasa. Tembok besar Cina itu masih utuh terdapat hingga kini. Konstruksi proyek ini berikut pertempuran-pertempuran dengan pihak luar, membebankan penduduk dengan pajak tinggi, dan ini membuatnya tidak populer. Karena pemberontakan melawan pemerintahan tangan besinya tidak mungkin, serangkaian perbuatan dilakukan orang untuk menghabiskan nyawanya. Tetapi, tak satu pun usaha pembunuhan ini yang berhasil, dan Shih Huang Ti mati secara wajar tahun 210 SM.&lt;br /&gt;Tembok Besar China&lt;br /&gt;Kaisar digantikan putera keduanya bergelar Erh Shih Huang Ti. Tetapi, sang anak tidak memiliki kemampuan sang ayah, karena itu beberapa pemberontakan pun meletus. Dalam tempo empat tahun dia terbunuh. Perpustakaan kerajaan dibumihangus, dan dinasti Ch'in sepenuhnya ditumbangkan.&lt;br /&gt;Namun, karya usaha Shi Huang Ti yang sudah dirampungkannya bukanlah hal yang percuma. Orang Cina memang bersenang hati pemerintahan tiraninya sudah berakhir, tetapi, ada sebagian kecil yang berhasrat kembali ke suasana anarki seperti masa lampau. Dinasti berikutnya (dinasti Han) meneruskan sistem dasar administratif yang ditegakkan oleh Ch'in Shih Huang Ti. Dan memang dalam kenyataannya, sepanjang dua puluh satu abad kekaisaran Cina melanjutkan garis-garis yang sudah diletakkan. Meskipun sistem hukum Ch'in yang keras segera dilunakkan oleh para kaisar dinasti Han, dan biarpun keseluruh filosofi legalis sudah dijauhi dan Confucianisme menjadi lagi falsafah negara, penyatuan politik dan kultural yang sudah dibangun oleh Shih Huang Ti tidaklah luntur.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, makna penting Shih Huang Ti untuk Cina sudahlah terang benderang. Orang-orang Barat senantiasa terpukau oleh besarnya ukuran Cina, tetapi umumnya sepanjang sejarah sebenarnya tidaklah lebih besar penduduknya ketimbang Eropa. Perbedaannya adalah, Eropa senantiasa terpecah-pecah menjadi negara kecil-kecil sedangkan Cina dipersatukan menjadi sebuah negeri besar. Perbedaan ini tampak berkat faktor-faktor politik dan sosial, bukannya lantaran faktor geografi, misalnya dalam hal jarak panjang pegunungan di Cina tidaklah banyak beda dengan apa yang ada di Eropa. Karuan saja, penyatuan Cina tidaklah bisa dianggap semata-mata kerja Shih Huang Ti seorang. Banyak orang --misalnya Sui Wen Ti-- juga memainkan peranan penting, tetapi tidaklah perlu diragukan lagi Shih Huang Ti yang paling penting dari yang penting. Dialah titik sentralnya.&lt;br /&gt;Berbicara tentang Shih Huang Ti tidaklah tuntas sempurna tanpa menyebut-nyebut perdana menterinya yang cerdas dan hebat, Li Ssu. Memang, begitu pentingnya pengaruh Li Ssu terhadap pengambilan keputusan kaisar sehingga sulit membedakan mana yang lebih menentukan diantara keduanya menyangkut perubahan-perubahan besar yang terjadi. Untuk terhindar dari kesulitan tilik sana tilik sini, saya menetapkan semua jasa-jasa perbuatan gabungan mereka kepada Shih Huang Ti. (Lagi pula, biarpun Li Ssu mengajukan nasehat, kata terakhir ada pada kaisar).&lt;br /&gt;Shih Huang Ti, antara lain akibat perbuatan membakar buku-buku, dikutuk oleh umumnya penulis-penulis berfaham Kong Hu-Cu di belakang hari. Mereka mengutuknya sebagai tiran, kedukun-dukunan, penuh takhyul, jahanam, anak sundal dan berkemampuan kepalang tanggung. Sebaliknya, Cina Komunis umumnya memujanya selaku pemikir progresif. Penulis-penulis Barat kadangkala membandingkan Shih Huang Ti dengan Napoleon. Tetapi, tampaknya dia lebih mirip dengan Augustus Caesar, pendiri kekaisaran Romawi. Empirium yang mereka dirikan sedikit banyak punya kemiripan dalam ukuran luas daerah dan jumlah penduduk. Bedanya, empirium Romawi berdiri jauh lebih singkat dan daerah yang diperintah oleh August Caesar tidak mampu dipersatukan dalam jangka waktu lama. Tidaklah demikian pada Shih Huang Ti. Itu sebabnya Shih Huang Ti lebih punya pengaruh ketimbang Augustus Caesar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-1255270170705400176?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/1255270170705400176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=1255270170705400176' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1255270170705400176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1255270170705400176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/shih-huang-ti-259-sm-210-sm.html' title='SHIH HUANG TI 259 SM-210 SM'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-282870921223203110</id><published>2008-07-27T11:52:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:53:08.661-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>POPE URBAN II 1042-1099</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saja, tak banyak lagi orang yang ingat siapa itu Paus Urban II, walaupun sesungguhnya tidak banyak orang yang punya pengaruh begitu kuat dan langsung dalam sejarah manusia seperti Paus Urban II. Apa sebab? Karena dialah Paus yang menggerakkan orang Kristen berperang merebut kembali tanah suci dari orang-orang Islam. Dari situlah bermula Perang Salib.&lt;br /&gt;Paus Urban --nama aslinya Odo de Lagery-- dilahirkan sekitar tahun 1042 dekat kota Chatillon-sur-Marne di Perancis. Dia berasal dari famili bangsawan Perancis dan peroleh pendidikan yang baik. Selagi muda dia seorang pendeta di kota Rheims. Kemudian, naik setingkat demi setingkat, jadi bishop, lantas akhirnya terpilih jadi Paus tahun 1088.&lt;br /&gt;Dia seorang Paus yang kuat, efektif dan politikus peka menghadapi keadaan yang menguntungkan. Tapi, bukan lantaran itu semua yang membikin namanya tercantum dalam urutan daftar buku ini. Tindakan yang terutama membikin dia dikenang adalah kejadian tanggal 27 Nopember 1095. Dia memprakarsai dan menggerakkan suatu persidangan dewan gereja yang besar di kota Clermont, Perancis. Di sana, di muka beribu-ribu massa Urban mengucapkan pidato yang barangkali paling efektif dalam sejarah, suatu pidato yang mempengaruhi Eropa berabad-abad berikutnya. Dalam pidatonya itu dia memprotes keras terhadap orang Seljuk Turki yang dianggapnya menduduki Tanah Suci, mengotori tempat-tempat keramat orang Kristen dan mengganggu peziarah-peziarah Kristen. Urban berseru kepada seluruh dunia Kristen bersatu gandeng-bergandeng tangan dalam sebuah "perang suci" untuk merebut kembali Tanah Suci orang Kristen. Pidato itu memang brilian. Dia menggugah sentimen agama, dia menggugah hasrat-hasrat manusiawi yang lazim, dia memberi gambaran kebahagiaan bukan saja spiritual melainkan pula material. Dia tunjukkan dalam pidato yang hebat itu betapa Tanah Suci itu merupakan daerah subur dan kaya, jauh lebih subur dan kaya ketimbang negeri-negeri orang Kristen di Eropa. Dan tak lupa Urban menjamin barang siapa yang ikut Perang Salib ini akan terbebas dari hukuman balasan, akan terbebas dari dosa.&lt;br /&gt;Tentu saja, pidato yang begitu memikat ditilik dari segala sudut, mendapat sambutan meriah dan menggemparkan. Motif-motif kepentingan pribadi bergejolak dan mencari pintu pemenuhannya. Sebelum dia mengakhiri pidatonya, massa banyak berteriak, "Deus le Volt!" (Tuhan menghendakinya). Teriakan ini segera menjadi teriakan perang para peserta Perang Salib. Dalam tempo hanya selang beberapa bulan, Perang Salib pertama pun meledak. Ledakan pertama ini diikuti dengan rentetan panjang perang suci (ada delapan perang besar dan banyak perang kecil lainnya) yang memakan waktu sekitar 200 tahunan. Urban sendiri wafat tahun 1099, dua minggu sesudah Perang Salib pertama berhasil merebut Darussalam. Tampaknya, berita itu belum sampai ke telinga Urban. Dia sudah tiada lebih dulu.&lt;br /&gt;Tampaknya kurang begitu perlu menjelaskan arti penting Perang Salib. Seperti halnya tiap perang, perang apa saja, peristiwa itu punya pengaruh langsung terhadap mereka yang terlibat, begitu pula terhadap penduduk sipil yang kena tawan. Bagaimanapun layak dicatat, Perang Salib mendekatkan Eropa dengan Byzantium dan budaya Islam yang saat itu lebih maju ketimbang budaya Eropa. Kontak ini merintis jalan ke arah jaman "Renaissance" yang pada gilirannya lebih menyemarakkan perkembangan peradaban Eropa.&lt;br /&gt;Paus Urban II tercantum di daftar ini bukan semata lantaran arti pentingnya dalam hubungan Perang Salib, tetapi tampaknya perang itu tak akan pecah andaikata Urban tidak pernah hadir di dunia ini dan tanpa inspirasi yang diberikannya. Memang, kondisinya sudah matang. Sebab, kalau kondisinya belum sampai begitu, pidato Urban hanya seperti jatuh ke kuping orang tuli. Tidak akan ada pengaruh apa-apa. Tetapi, memang memulai suatu gerakan di Eropa memerlukan kepemimpinan tokoh sentral. Tak ada raja-raja setempat yang becus melakukan itu. (Taruhlah andaikata seorang kaisar Jerman memaklumkan perang melawan Turki dan menggerakkan Angkatan Bersenjatanya, rasanya boleh diragukan akan banyak pangeran-pangeran Inggris yang menyertainya). Hanya ada satu tokoh di Eropa Barat yang kekuasaan dan wibawanya mampu melangkahi perbatasan negeri. Dan orang itu adalah Paus. Cuma Paus yang mampu mengusulkan rencana yang melibatkan seluruh kerajaan Eropa Barat dengan harapan sebanyak mungkin orang ambil bagian. Tanpa kepemimpinan Paus dan tanpa pidato dramatis yang diucapkannya, gerakan massa yang namanya Perang Salib itu tak akan pernah terjadi.&lt;br /&gt;Begitu juga, andaikata ada Paus lain, kecil kemungkinan dia melangkah ke depan menyuguhkan suatu ide Perang Salib. Sebab, usul macam begini bukanlah suatu sikap praktis. Sebab umumnya pemimpin yang menengok ke kanan dan ke kiri berulang kali sebelum mengambil sikap biasanya enggan menentukan garis langkah yang menyimpang dari kebiasaan, karena konsekuensinya sulit diramalkan. Mengandung keserbatidakpastian. Tetapi, Paus Urban II berani berbuat begitu. Dan dengan langkah itu malahan dia menjadi tokoh yang lebih besar dan memberikan pengaruh jangka panjang kepada sejarah kemanusiaan, lebih melekat ketimbang lain-lain manusia masyhur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-282870921223203110?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/282870921223203110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=282870921223203110' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/282870921223203110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/282870921223203110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/pope-urban-ii-1042-1099.html' title='POPE URBAN II 1042-1099'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-5172275133886631032</id><published>2008-07-27T11:51:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:52:26.514-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>PLATO 427 SM-347 SM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;PLATO 427 SM-347 SM&lt;br /&gt;Filosof Yunani kuno Plato tak pelak lagi cikal bakal filosof politik Barat dan sekaligus dedengkot pemikiran etika dan metafisika mereka. Pendapat-pendapatnya di bidang ini sudah terbaca luas lebih dari 2300 tahun. Tak pelak lagi, Plato berkedudukan bagai bapak moyangnya pemikir Barat,&lt;br /&gt;Plato dilahirkan dari kalangan famili Athena kenamaan sekitar tahun 427 SM. Di masa remaja dia berkenalan dengan filosof kesohor Socrates yang jadi guru sekaligus sahabatnya. Tahun 399 SM, tatkala Socrates berumur tujuh puluh tahun, dia diseret ke pengadilan dengan tuduhan tak berdasar berbuat brengsek dan merusak akhlak angkatan muda Athena. Socrates dikutuk, dihukum mati. Pelaksanaan hukum mati Socrates --yang disebut Plato "orang terbijaksana, terjujur, terbaik dari semua manusia yang saya pernah kenal"-- membikin Plato benci kepada pemerintahan demokratis.&lt;br /&gt;Tak lama sesudah Socrates mati, Plato pergi meninggalkan Athena dan selama sepuluh-duabelas tahun mengembara ke mana kaki membawa.&lt;br /&gt;Sekitar tahun 387 SM dia kembali ke Athena, mendirikan perguruan di sana, sebuah akademi yang berjalan lebih dari 900 tahun. Plato menghabiskan sisa umurnya yang empat puluh tahun di Athena, mengajar dan menulis ihwal filsafat. Muridnya yang masyhur, Aristoteles, yang jadi murid akademi di umur tujuh belas tahun sedangkan Plato waktu itu sudah menginjak umur enam puluh tahun. Plato tutup mata pada usia tujuh puluh.&lt;br /&gt;Plato menulis tak kurang dari tiga puluh enam buku, kebanyakan menyangkut masalah politik dan etika selain metafisika dan teologi. Tentu saja mustahil mengikhtisarkan isi semua buku itu hanya dalam beberapa kalimat. Tetapi, dengan risiko menyederhanakan pikiran-pikirannya, saya mau coba juga meringkas pokok-pokok gagasan politiknya.yang dipaparkan dalam buku yang kesohor, Republik, yang mewakili pikiran-pikirannya tentang bentuk masyarakat yang menurutnya ideal.&lt;br /&gt;Bentuk terbaik dari suatu pemerintahan, usul Plato, adalah pemerintahan yang dipegang oleh kaum aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan lewat pungutan suara penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama. Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut "guardian" harus menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan kualitas.&lt;br /&gt;Plato percaya bahwa bagi semua orang, entah dia lelaki atau perempuan, mesti disediakan kesempatan memperlihatkan kebolehannya selaku anggota "guardian". Plato merupakan filosof utama yang pertama, dan dalam jangka waktu lama nyatanya memang cuma dia, yang mengusulkan persamaan kesempatan tanpa memandang kelamin. Untuk membuktikan persamaan pemberian kesempatannya, Plato menganjurkan agar pertumbuhan dan pendidikan anak-anak dikelola oleh negara. Anak-anak pertama-tama kudu memperoleh latihan fisik yang menyeluruh, tetapi segi musik, matematika dan lain-lain disiplin akademi tidak boleh diabaikan. Pada beberapa tahap, ujian ekstensif harus diadakan. Mereka yang kurang maju harus diaalurkan untuk ikut serta terlibat dalam kegiatan ekonomi masyarakat, sedangkan orang-orang yang maju harus terus melanjutkan dan menerima gemblengan latihan. Penambahan pendidikan ini harus termasuk bukan cuma pada mata pelajaran akademi biasa, tetapi juga mendalami filosofi yang oleh Plato dimaksud menelaah doktrin bentuk ideal faham metafisikanya.&lt;br /&gt;Pada usia tiga puluh lima tahun, orang-orang ini yang memang sudah betul-betul meyakinkan mampu menunjukkan penguasaannya di bidang teori-teori dasar, harus menjalani lagi tambahan latihan selama lima belas tahun, yang mesti termasuk bekerja mencari pengalaman praktek. Hanya orang-orang yang mampu memperlihatkan bahwa mereka bisa merealisir dalam bentuk kerja nyata dari buku-buku yang dipelajarinya dapat digolongkan kedalam "kelas guardian." Lebih dari itu, hanya orang-orang yang dengan jelas bisa. menunjukkan bahwa minat utamanya adalah mengabdi kepada kepentingan masyarakatlah yang bisa diterima ke dalam. "kelas guardian."&lt;br /&gt;Keanggotaan guardian tidak dengan sendirinya menarik perhatian masyarakat. Sebab, jadi guardian tidaklah banyak mendapatkan duit. Mereka hanya dibolehkan memiliki harta pribadi dalam jumlah terbatas dan tak boleh punya tanah buat rumah pribadinya. Mereka menerima gaji tertentu dan tetap (itu pun dalam jumlah yang tak seberapa), dan tidak dibolehkan punya emas atau perak. Anggota guardian tidak diperkenankan punya famili yang terpisah tempatnya, mereka harus makan berbareng, punya pasangan bersama. Imbalan buat pentolan-pentolan filosof ini bukannya kekayaan melainkan kepuasan dalam hal melayani kepentingan umum. Begitulah ringkasnya sebuah republik yang ideal menurut Plato.&lt;br /&gt;Republik terbaca luas selama berabad-abad. Tetapi harus dicatat, sistem politik yang dianjurkan didalamnya belum pernah secara nyata dipraktekkan sebagai model pemerintahan mana pun. Selama masa antara jaman Plato hingga kini, umumnya negara-negara Eropa menganut sistem kerajaan. Di abad-abad belakangan ini beberapa negara menganut bentuk pemerintah demokratis. Ada juga yang menganut sistem pemerintahan militer, atau di bawah tiran demagog seperti misalnya Hitler dan Mussolini. Tak satu pun pemerintahan-pemerintahan ini punya kemiripan dengan republik ideal Plato. Teori Plato tak pernah jadi anutan partai politik mana pun, atau jadi basis gerakan politik seperti halnya terjadi pada ajaran-ajaran Karl Marx, apakah dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hasil karya Plato, kendati diperbincangkan dengan penuh penghargaan, sebenarnya sepenuhnya disisihkan orang dalam praktek? Saya pikir tidak.&lt;br /&gt;Memang benar, tak satu pun pemerintahan sipil di Eropa disandarkan atas model Plato secara langsung. Namun, terdapat persamaan yang mengagumkan antara posisi gereja Katolik di Eropa abad tengah dengan "kelas guardian" Plato. Gereja Katolik abad pertengahan terdiri dari kaum elite yang mempertahankan diri sendiri agar tidak layu dan tersisihkan, yang anggota-anggotanya mendapat latihan-latihan filosofis resmi. Pada prinsipnya, semua pria, tak peduli dari mana asal-usulnya dapat dipilih masuk kependetaan (meski tidak untuk wanita). Juga pada prinsipnya, para pendeta itu tak punya famili dan memang diarahkan semata-mata agar mereka memusatkan perhatian pada kelompok mereka sendiri, bukannya nafsu keagungan disanjung-sanjung.&lt;br /&gt;Peranan partai Komunis di Uni Soviet juga ada yang membandingkannya dengan "kelas guardian" Plato dalam dia punya republik ideal. Di sini pun kita temukan kelompok elite yang kesemuanya terlatih dengan filosofi resmi.&lt;br /&gt;Gagasan Plato juga mempengaruhi struktur pemerintahan Amerika Serikat. Banyak anggota konvensi konstitusi Amerika mengenal dan tak asing dengan gagasan-gagasan politik Plato. Dia maksud, sudah barang tentu, agar Konstitusi Amerika Serikat membuka kemungkinan menggali dan mempengaruhi kehendak rakyat. Dan juga diinginkan sebagai sarana memilih orang-orang yang paling bijak dan paling baik untuk memerintah negara.&lt;br /&gt;Kesulitan menentukan arti penting pengaruh Plato sepanjang masa --meski luas dan menyebar-- adalah ruwet dipaparkan dan bersifat tidak langsung. Sebagai tambahan teori politiknya, diskusinya di bidang etika dan metafisika telah mempengaruhi banyak filosof yang datang belakangan. Apabila Plato ditempatkan pada urutan sedikit lebih rendah ketimbang Aristoteles dalam daftar sekarang ini, hal ini terutama lantaran Aristoteles bukan saja seorang filosof melainkan pula seorang ilmuwan yang penting. Sebaliknya, penempatan Plato lebih tinggi urutannya ketimbang pemikir-pemikir seperti John Locke, Thomas Jefferson dan Voltaire, sebabnya lantaran tulisan-tulisan ihwal politiknya mempengaruhi dunia cuma dalam jangka masa dua atau tiga abad, sedangkan Plato punya daya jangkau lebih dari dua puluh tiga abad.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-5172275133886631032?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/5172275133886631032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=5172275133886631032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/5172275133886631032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/5172275133886631032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/plato-427-sm-347-sm.html' title='PLATO 427 SM-347 SM'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-1719949813575837102</id><published>2008-07-27T11:50:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:51:05.770-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>Peta Pemikiran Karl Marx</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Peta Pemikiran Karl Marx&lt;br /&gt;(Materialisme Dialektis Dan Materialisme Histories)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Peta Pemikiran Karl Marx (Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis)&lt;br /&gt;Pengarang: Andi Muawiyah Ramly&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Sastra LkiS Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun Terbit: Maret 2004&lt;br /&gt;Jumlah Halaman: 196 halaman&lt;br /&gt;Ukuran Buku: 12x18,5 cm&lt;br /&gt;Peresensi: Khairul Anam&lt;br /&gt; .&lt;br /&gt;Materialisme Dialektis&lt;br /&gt; Materialisme dialektis bertitik tolak dari materi yang satu-satunya kenyataan. Karl marx mengartikan dialektika materialisme sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus tanpa ada yang mengantarai. Dari proses itu kemudian timbul kesadaran melalui proses pertentangan, dan  hal ini ada pertentangan antara segi-segi yang berlawanan dan gagasan bahwa segala sesuatu barkembang terus.&lt;br /&gt; Dialektika materialisme pada perkembangannya merupakan jawaban persoalan  filsafat dizamannya. Rumusan Hegel tentang kenyataan misalnya merumuskan bahwa apa yang nyata dapat dipikirkan dan apa yang dapat dipikirkan adalah nyata. Tetapi, Feurbach yang mendasari filsafat materialisme marx tidak setuju dengan rumusan dialektik Hegel, karena kalau dikatakan pikiran merupakan tesis sedangkan penampakan kenyataan (antitesis) pada akhirnya juga berada dalam pikiran, hal demikian tidak menjawab esensi persoalan. Sebab itu, Feurbach mengembalikan kenyataan pada materi.&lt;br /&gt; Akan tetapi menurut Marx, Hegel tidak dapat membebaskan dari alienasi  dengan gambaran bahwa kenyataan materil merupakan cermin dari pikiran  seperti juga Feurbach tidak bebas dari alienasi dengan gambaran bahwa kenyataan materil merupakan cermin kenyataan, namun materialisme tak praktis bertolak dari posisi ini, Marx menyebutkan dalam tesisnya ke-x bahwa “pendirian materialisme lama adalah masyarakat sipil atau masyarakat borjuis sedang materialisme baru seperti yang diusulkan Marx adalah masyarakat yang disosialkan”. Tetapi dalam tesis ke-xi menyatakan bahwa “ia tidak mau berspekulasi secara teoritis seperti yang ia lontarkan pada filosof-filosof sebelumnya, marx juga tidak menghendaki sejumlah teori baru yang tidak bertali marga dengan kondisi zamannya”. Arah filsafat macam ini adalah praksis social revolusioner sebuah arus loncatan dari dialektika ideal (Hegel) dengan materialisme verbalis (Feurbach) menuju dialektika materialis.&lt;br /&gt;Manusia dan Alam&lt;br /&gt; Karakteristik pembicaraan Marx tentang manusia didapatkan dalam rumusan bahwa manusia adalah mahluk yang konkrit. Manusia tidak akan pernah mampu untuk menyatakan kehadirannya diluar alam, bahkan manusia bukanlah roh yang terjun kedalam dunia materi seperti yang terdapat dalam dialektika Hegel. Manusia merupakan bagian integral dari alam dan materi, dengan kata lain manusia tergantung dari alam sekaligus mempunyai sikap aktif terhadap alam. Dari alamlah manusia memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya melalui praksis kerja, karenanya corak manusia dalam wawasan ini diacukkan kearah humanisme proletar yaitu kemanusiaan rakyat murba. Karena pada hakikatnya yang membuat manusia menjadi homo humanus adalah kerja.&lt;br /&gt; Bagi Marx, alam hendaknya dipandang sebagai suatu proses yang dinamis, rumusan ini berangkat dari penolakannya terhadap materialisme lama yang menjadikan mesin sebagai ukuran untuk menerangkan alam, manusia dan binatang. Marx mengakui keberhasilan materialisme mekanistis Feurbach, akan tetapi Feurbach tidak cukup tuntas mendalaminya sehingga menggantikan manusia konkrit dengan suatu wujud khayalan dan abstrak, yaitu manusia sebagai suatu mahluk generic.. Berdasarkan alasan itu, Marx melihat manusia dan alam dari sudut pandang materialisme dialektis, bahwa seluruh kenyataan berkembang secara kualitatif dalam loncatan-loncatan yang menuju kepada perspektif realitas baru.&lt;br /&gt;Materialisme Historis&lt;br /&gt; Dalam materialisme Historis diungkapkan bahwa manusia hanya dapat dipahami selama ia ditempatkan dalam konteks sejarah. Manusia pada hakikatnya adalah insan bersejarah. Dan penafsiran sejarah sebelum Marx beragam macamnya baik itu secara fatalistic, social, politis, ide dan gagasan. Hal itu terjadi tidak lain karena ada penafsiran yang berbeda terhadap realitas sejarah yang terjadi.&lt;br /&gt; Berbeda dengan Marx, dengan materialisme historisnya bertumpu pada dalil bahwa produksi dan distribusi barang serta jasa merupakan dasar unutk membantu manusa untuk mengembangkan eksistensinya. Dengan kata lain, penafsiran sejarah dari aspek ekonomi menempatkan pertukaran barang dan jasa sebagai syarat untuk menata segenap lembaga social yang ada. Karena itu Marx membagi tahap perkembangan sejarah kemanusiaan menjadi lima yaitu: pertama masyarakat komunal primitive, kedua masyarakat perbudakan, ketiga mayarakat feodal, keempat mayarakat kapitalis, kelima masyarakat sosialis. Dari lima tahap tersebut ada dua faktor kunci yang mendasari proses didalamnya. Pertama kekuatan-kekuatan produksi,  kedua hubungan-hubungan produksi.&lt;br /&gt;Pertentangan kelas dan Nilai Lebih&lt;br /&gt; Menurut Marx riwayat dari dari setiap masyarakat adalah sejarah pertentangan kelas. Pertentangan kelas yang berlangsung sejak dahulu hingga kini mengarah pada pertentangan kaya (borjuis) dan pertentangan buruh (proletar). Konsep kelas dan pertentangan kelas ini muncul karena perkembangan pembagian kerja secara social, yaitu munculnya hak milik pribadi atas alat-alat produksi.&lt;br /&gt; Kemudian Marx merumuskan formulasi teoritisnya dalam tiga hukum gerakan ekonomi: pertama hukum akumulasi modal kedua hukum konsentrasi modal ketiga hukum bertambahnya kemelaratan. Ternyata dari tafsiran tersebut diperoleh solusi bahwa masyarakat dalam kritiknya senantiasa mengedepankan faktor manusia dan hubungan manusia yang terlibat di dalam mekanisme produksi, karenanya dalam analisis ekonominya, ketika membahas soal produksi, upah kerja, nilai barang dan pasar sebenarnya  yang menjadi inti perhatian Marx adalah hubungan kemanusiaan yang mendasari dan menjalin proses itu.&lt;br /&gt;Revolusi Dalam Perspektif Sosialisme&lt;br /&gt; Revolusi yang dilukiskan oleh Karl Marx dapat dijabarkan dalam dua tahap. Pertama, revolusi-revolusi yang yang dipelopori golongan feodal kedua revolusi yang dilakukan oleh kelas pekerja dalam upaya meruntuhkan kelas borjuis.&lt;br /&gt; Dalam buku ini telah dijelaskan beberapa teori yang melatar belakangi lahirnya pola pemikiran materialisme dialektis dan materialisme historis dari Karl Marx yang dapat dijadikan acuan dasar bagi para pemula dalam memahami filsafat materialisme, serta pengantar untuk memahami pemikiran Karl Marx yang lebih luas agar kita dalam memahami pola pemikirannya tidak parsial karena Marx sendiri pernah berkata "aku Bukanlah Seorang Marxis".&lt;br /&gt; Tetapi buku ini hanya terbatas sebagai suatu pengantar ke pemikiran Karl Marx. Dan sebagai pengantar tak dikemukakan didalamnya pengembangan lebih lanjut pemikiran Karl Marx oleh banyak kalangan teoritisi sosial mutakhir, yang kemudian dikenal sebagai kalangan revisionis. Demikian pula dengan teori sosialnya yang merasuk ke dalam pemikiran sosial-keagamaan, seperti teologi pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-1719949813575837102?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/1719949813575837102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=1719949813575837102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1719949813575837102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1719949813575837102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/peta-pemikiran-karl-marx.html' title='Peta Pemikiran Karl Marx'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-1955495024454934340</id><published>2008-07-27T11:49:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:50:17.015-07:00</updated><title type='text'>Percah Percah Postmodernisme</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah postmodernisme itu? Bolehkah kita mengajukan pertanyaan ini? Bukankah pertanyaan ini menjurus pada pencarian esensi dari ‘postmodernisme’? Ini berarti berusaha mencari suatu pengertian definitif (definire = membatasi) atau suatu kesatuan representasi atas referent yang kemudian diberi nama ‘postmodernisme’? Bolehkah? Entahlah...!! Jadi, bagaimana......???&lt;br /&gt;Donny Gahral Adian membedakan postmodernisme dari postmodernitas. Postmodernitas, tulisnya, merupakan istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan realitas sosial masyarakat postindustri. Masyarakat postindustri adalah masyarakat yang ekonominya telah bergeser dari ekonomi manufaktur ke ekonomi jasa di mana ilmu pengetahuan memainkan peranan sentral. Postmodernitas ini ditandai dengan fenomena-fenomena : negara bangsa pecah menjadi unit-unit yang lebih kecil atau melebur ke unit yang lebih besar, partai-partai politik besar menurun dan digantikan oleh gerakan-gerakan sosial (LSM-LSM), kelas sosial terfragmentasi dan menyebar ke kelompok-kelompok kepentingan yang memfokuskan diri pada gender-etnisitas-atau orientasi seksual, serta prinsip kesenangan dan dorongan mengkonsumsi yang menggantikan etika kerja yang menekankan disiplin, kerja keras, anti kemalasan, dan panggilan spiritual (kerja = ibadah). Sementara itu postmodernisme dimengertinya sebagai wacana pemikiran baru yang menggantikan modernisme. Postmodernisme meluluhlantakkan konsep-konsep modernisme seperti adanya subyek yang sadar diri dan otonom, adanya representasi istimewa tentang dunia, dan sejarah linier (Adian, 2001: 95-97).&lt;br /&gt;Senada dengan Gahral Adian, Anthony Giddens ternyata juga membedakan postmodernisme (postmodernism) dari postmodernitas (postmodernity). Postmodernisme, jika sungguh-sungguh ada, menurut Giddens sebaiknya diartikan sebagai gaya atau gerakan di dalam sastra, seni lukis, seni plastik, dan arsitektur. Gerakan ini memperhatikan aspek-aspek aesthetic reflection dari modernitas. Sementara itu postmodernitas dimengertinya sebagai tatanan sosial baru yang berbeda dengan institusi-institusi modernitas. Namun, alih-alih menggunakan istilah postmodernitas, Giddens lebih suka menggunakan istilah “modernitas yang teradikalisasi” (radicalized modernity) untuk menggambarkan dunia kita yang mengalami perubahan hebat dan sedang melaju kencang bak Juggernaut yang tak bisa lagi dikendalikan, suatu dunia yang mrucut (runaway world). Alih-alih setuju dengan postmodernitas yang mewartakan berakhirnya epistemologi, Giddens lebih percaya bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah “modernitas yang sadar diri” (Giddens, 1990: 45-53, 150-173).&lt;br /&gt;Sementara itu, Bambang Sugiharto mengatakan bahwa “postmodernisme” memang merupakan istilah yang kontroversial sekaligus ambigu. Postmodernisme itu bagaikan rimba belantara yang dihuni oleh aneka satwa....suatu istilah yang “memayungi” segala aliran pemikiran yang satu sama lain seringkali tak persis saling berkaitan. Namun kiranya cukup jelas, katanya, bahwa dalam postmodernisme gagasan-gagasan seperti “filsafat”, “rasionalitas”, dan “epistemologi” dipertanyakan kembali secara radikal. Problem postmodernisme menurut dia adalah problem keterbatasan bahasa, khususnya keterbatasan fungsi deskriptif bahasa. Dia mengusulkan agar bahasa dilihat fungsi transformatifnya. Muncullah metafor—mula-mula diperkenalkan oleh Ricoeur—yang dapat menjadi titik terang untuk melihat persoalan-persoalan yang diajukan oleh postmodernisme. Metafor tidak menunjukkan suatu kebenaran absolut, melainkan suatu “kebenaran yang bertegangan” (tensional truth) (Bambang Sugiharto, 1996: 16-18).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-1955495024454934340?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/1955495024454934340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=1955495024454934340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1955495024454934340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1955495024454934340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/percah-percah-postmodernisme.html' title='Percah Percah Postmodernisme'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-2340557092917930941</id><published>2008-07-27T11:48:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:49:24.062-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>Jean-Paul Sartre</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pemikiran Jean-Paul Sartre dalam “Existentialism and Humanism”&lt;br /&gt;Dari pihak Katolik, seperti Mlle.Mercier, dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan, yang rendah, yang patut dicela, yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona, keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Lebih jauh lagi, eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. Singkatnya, eksistensialisme itu melulu voluntary. Artinya, bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai.&lt;br /&gt;Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam ke-terisolir-annya. Dan ini, dalam pandangan kaum komunis, dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya, eksistensialisme dengan ego-nya, tidak akan sanggup menjangkau sesamanya, apalagi berpikir tentang tentang solidaritas.&lt;br /&gt;Namun, apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama, ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda, dan radikal sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak punya arti apa-apa lagi[7]. Kedua, guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya, pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Selain itu, eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition[8]. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Ketiga, definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi[9] dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini?&lt;br /&gt;Secara sederhana, Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife).[10] Seorang pembuat pisau kertas, disebut artisan, tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat, kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Esensi dari pisau kertas itu, yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin, mendahului eksistensinya. Dengan kata lain, produksinya mendahului eksistensinya. Di sini, kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Namun, hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan padaNya kualitas “seorang” supernatural artisan. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini, kita selalu mengandaikan bahwa tatkala Allah menciptakan, Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. Dengan begitu,  tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Dengan begitu, manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). Artinya konsepsi tentang esensi dirinya, di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia, entah itu animal rationale (Aristoteles), atau wild man of the woods (Rousseau), man in the state of nature (Thomas Hobbes), dan the bourgeois (Karl Marx).&lt;br /&gt;Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. Bagi Sartre, jika Allah tidak eksis, setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya, sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. Makhluk itu adalah manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-2340557092917930941?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/2340557092917930941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=2340557092917930941' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/2340557092917930941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/2340557092917930941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/jean-paul-sartre.html' title='Jean-Paul Sartre'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-7505495668233303056</id><published>2008-07-27T11:47:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:48:38.783-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>Paul Feyerabend</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Paul Feyerabend (1924-1994) mempelajari sejarah dan sosiologi sebelum memutuskan untuk mendalami fisika. Tesis doktornya diperoleh dalam filsafat di bawah bimbingan Karl Popper. Karya terbesar Feyerabend adalah Against Method yang ditulis pada tahun 1975. Pada awalnya, sebagai murid Popper, Feyerabend mendukung filosofi dan prinsip falsifikasi Popper namun kemudian dia berbalik menjadi salah seorang penentang Popper. Feyerabend berpendapat bahwa prinsip falsifikasi Popper tidak dapat dijalankan sebagai satu-satunya metode ilmiah untuk kemajuan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Menurut Popper, setiap teori harus melalui proses falsifikasi untuk menemukan teori yang benar. Bila suatu teori dapat ditemukan titik lemahnya maka teori tersebut gugur.&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Feyerabend tidaklah demikian. Feyerabend berpendapat bahwa untuk menemukan teori yang benar, suatu teori tidaklah harus dicari kesalahannya (falsifikasi) melainkan mengembangkan teori-teori baru.&lt;br /&gt;Fokus Feyerabend kemudian berpindah ke pluralisme teoritis, yang mengatakan bahwa untuk memperbesar kemungkinan mem-falsifikasi teori yang berlaku, kita harus mengkonstruksi teori-teori baru sebanyak mungkin dan mempertahankannya. Pluralisme ini penting, karena kalau tidak, akan terjadi keseragaman yang akan membatasi pemikiran kritis.&lt;br /&gt;Jika teori baru ini dapat dipertahankan dan lebih baik daripada teori lama maka yang baru akan menggantikan yang lama (yang dinamakan ‘perubahan paradigma’ oleh Thomas Kuhn). Feyerabend menuturkan hal ini dalam artikel ‘On a Recent Critique of Complimentary’.&lt;br /&gt;Menurut Feyerabend, dalam bukunya Against Method, tidak ada satu metode rasional yang dapat diklaim sebagai metode ilmiah yang sempurna. Metode ilmiah yang selama ini diagung-agungkan oleh para ilmuwan hanyalah ilusi semata.&lt;br /&gt;Prinsip dasar mengenai tidak adanya metodologi yang berguna dan tanpa kecuali yang mengatur kemajuan sains disebut olehnya sebagai epistemologi anarkis. Penerapan satu metodologi apa pun, misal metodologi empiris atau Rasionalisme Kritis Popper akan memperlambat atau menghalangi pertumbuhan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Dia mengatakan ‘anything goes’ yang berarti hipotesa apa pun boleh dipergunakan, bahkan yang tidak dapat diterima secara rasional atau berbeda dengan teori yang berlaku atau hasil eksperimen. Sehingga ilmu pengetahuan bisa maju tidak hanya dengan proses induktif sebagaimana halnya sains normal, melainkan juga secara kontrainduktif.&lt;br /&gt;Dalam pengembangan prinsip ini Feyerabend mengakui adanya penerapan prinsip liberalisme John Stuart Mills dalam konteks tertentu (sains) dalam metode sains. Feyerabend menganut liberalisme ini karena menurut dia, tidak ada satu hipotesa apa pun, bahkan yang tidak masuk akal, yang tidak berguna untuk kemajuan sains.&lt;br /&gt;Dengan pegangan ini, Feyerabend mengatakan bahwa sains dan mitos tidak dapat dibedakan dengan satu batas prinsip tertentu. Mitos adalah sains dengan tradisi tertentu dan sebaliknya sains hanyalah sesuatu tradisi mitos. Asumsi bahwa ada batasan antara sains dan mitos akan menimbulkan batasan-batasan yang menghalangi pemikiran kreatif dan kritis.&lt;br /&gt;“Sains itu lebih dekat dengan mitos daripada filsafat sains mau akui. Mitos adalah salah satu bentuk pemikiran yang dibuat manusia, dan belum tentu yang terbaik. …[Mitos] bersifat superior hanya pada yang sudah memihak pada suatu ideologi tertentu, atau yang menerimanya tanpa mempelajari keuntungannya dan batasannya.” (Against Method, hal. 295).&lt;br /&gt;Kriteria yang biasa digunakan untuk menguji kebenaran hipotesa, seperti logika dan hasil eksperimen, bukan sesuatu yang harus dipenuhi. Logika dapat dibantah kalau ada kecurigaan bahwa teori yang berlaku berlandaskan pada asumsi-asumsi tertentu (misalnya, Newton dahulu berasumsi waktu tidak berhubungan dengan ruang, yang kemudian dibantah oleh Einstein). Hasil eksperimen tidak perlu dipenuhi kalau dicurigai adanya kesalahan teori pengamatan.&lt;br /&gt;Dalam Against Method, Feyerabend menulis,&lt;br /&gt;“Selalu ada keadaan di mana itu tidak hanya dianjurkan untuk tidak menghiraukan aturan, tetapi untuk mengadopsi lawannya.&lt;br /&gt;Contohnya, selalu ada keadaan di mana itu dianjurkan untuk memperkenalkan, mengemukakan dan mempertahankan hipotesa ad hoc (untuk suatu tujuan), atau hipotesa yang mengkontradiksi hasil eksperimen yang sudah diterima secara umum, atau hipotesa di mana isinya lebih kecil daripada isi alternatif yang berlaku dan memadai secara empiris, atau hipotesa yang konsisten pada dirinya, dan selanjutnya..”&lt;br /&gt;Menurut Feyerabend, sebuah hipotesa atau teori baru tidak harus memenuhi seluruh elemen dari teori lama karena hal tersebut hanya akan menyebabkan teori lama dipertahankan daripada mencari teori yang benar. Mempertahankan teori lama akan mempersempit pemikiran sehingga tidak bisa membuka lahan teori baru dan mengarahkan ilmu pengetahuan pada subyektivitas, sentimen atau prejudis. Seperti halnya teori kuantum pada awalnya ditentang bahkan oleh Einstein (“God does not play dice”), karena implikasi teori ini menyebabkan ketidakpastian yang sangat mengganggu pikiran.&lt;br /&gt;Teori baru akan selalu muncul dengan sangat sulit, dan akan ditentang dengan fakta-fakta yang memberatkan yang berasal dari teori lama. Padahal teori baru ini merupakan revolusi ilmiah yang sangat penting dan sangat diperlukan untuk kemajuan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Feyerabend mengatakan bahwa dikekang oleh teori sains modern yang sedang berlaku sama saja seperti dikekang oleh ajaran dogmatik jaman pertengahan Eropa. Dalam hal ini, ilmuwan sains modern mempunyai peran yang sama seperti kardinal Gereja jaman dahulu yang menentukan apa yang benar dan apa yang salah.&lt;br /&gt;Prinsip falsifikasi (Popper), menurut Feyerabend, mungkin merupakan metode ilmiah yang pantas digunakan, namun banyak teori baru yang tidak diketahui cara memfalsifikasikannya. Teori-teori yang tidak dapat dilalui proses falsifikasi masih bisa dianggap kebenaran. Hal ini berbeda dengan Popper yang menganggap bahwa semua teori baru harus melewati proses falsifikasi dan bila gagal melaluinya maka teori tersebut tidak ilmiah dan tidak dapat dibenarkan (tidak dapat di-verifikasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALKITAB DAN ILMU PENGETAHUAN&lt;br /&gt;Ir. Stanley I. Sethiadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung diudara dan atas segala binatang yang merayap dibumi". (Kejadian 1:28b).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;FILSUF FEYERABEND DAN TEORI KREASI&lt;br /&gt;     Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.&lt;br /&gt;(Kejadian 1:1-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Scientific American" adalah sebuah majalah ilmiah, yang diterbitkan di-Amerika Serikat dan sudah berusia lebih dari satu abad. Majalah ini sangat populer bukan saja di-Amerika, tetapi juga diseluruh dunia. Pada umumnya, majalah itu adalah pendukung teori evolusi. Tetapi dalam penerbitannya bulan Mei 1993 halaman 16-17 diberitakan pendapat seo rang filsuf yang sangat terkenal ialah Dr Paul Karl Feyerabend (1924-1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feyerabend lahir di-Austria pada tahun 1924. Mula-mula ia belajar fisika, kemudian ia lanjutkan dibidang filsafat. Pada tahun 1951 ia mendapat gelar Doctor dalam filsafat. Pada tahun 1975 ia menulis sebuah buku yang berjudul : "Against Method." Buku ini banyak dibaca oleh para ilmuwan sedunia, dan telah diterjemahkan dalam 16 bahasa. Feyerabend juga menulis buku yang berjudul : "Science in a free society" (1978), dan "Farewell to Reason" (1987).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feyerabend menganjurkan agar kita mempunyai pikiran yang terbuka terhadap metode-metode dan cara hidup baru, biarpun berlainan atau bahkan bertentangan dengan metode-metode dan cara hidup yang telah mapan. Menurut "Scientific American" :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FEYERABEND JUGA MENDUKUNG AGAR TEORI KREASI DIAJARKAN DISEKOLAH-SEKOLAH UMUM, DISAMPING TEORI EVOLUSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori kreasi dikemukakan para ilmuwan kreasionis sejak tahun 1950 dan lebih tegas lagi sejak 1970. Menurut teori kreasi alam semesta ini terma suk umat manusia diciptakan Pencipta menurut penciptaan khusus, dan bukan berevolusi seperti dikatakan para evolusionis. Mula-mula teori ini diejek oleh para evolusionis sebagai : "Agama yang berselubung ilmiah". Para kreasionis menunjukan bahwa : "Kalau teori evolusi adalah ilmu pengetahuan alam, maka teori kreasi adalah juga ilmu pengetahuan alam. Sebaliknya bila kreasionisme adalah agama, maka evolusionisme adalah juga agama. Keduanya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, dalam arti kata percobaan-percobaan dan pengamatan-pengamatan yang dapat diulangi dan diselidiki secara seksama. Keduanya hanya berdasarkan spekulasi-spekulasi metafisis dari benda-benda dan hukum alam yang berlaku masakini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kreasionis sedunia berjuang agar teori kreasi diajarkan disekolah- sekolah, disamping teori evolusi. Usaha ini mendapat tentangan keras dari para evolusionis. Banyak evolusionis mempertahankan mati-matian agar evolusionisme tetap menjadi satu-satunya "agama" resmi disekolah- sekolah dari TK sampai Universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, lepas dari pro atau kontra teori yang satu atau teori yang lain, patutkah murid-murid disekolah hanya disodorkan satu cara pandang saja, kalau memang ada lebih dari satu cara pandang ? Apalagi diajar seolah-olah cara pandang itu mutlak benar ? Dalam abad ke-20 ini, praktis semua ilmuwan yang berbobot mengerti bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak dalam ilmu pengetahuan alam. Patutkah diadakan pengecualian pada sebuah teori tertentu ? Pada teori evolusi umpamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia ilmu pengetahuan alam, untuk menerangkan sebuah kumpul an gejala-gejala alam memang dapat ada dua atau lebih teori. Umpama mengenai cahaya, ada teori yang mengatakan bahwa cahaya adalah partikel-partikel yang bergerak dengan kecepatan tinggi, dan ada teori lain yang mengatakan bahwa cahaya adalah gelombang-gelombang. Sampai sekarang para ilmuwan masih belum dapat tentukan teori mana yang "lebih benar". Keduanya diajarkan kepada para siswa sekolah menengah dan para mahasiswa IPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai teori asal usul alam semesta, ada tiga buah teori ialah:&lt;br /&gt;1. Teori kreasi, ialah bahwa alam semesta ini diciptakan sang Pencipta.&lt;br /&gt;2. Teori evolusi, ialah bahwa alam semesta ini berevolusi dari zat atau materi dasar.&lt;br /&gt;3. Teori bahwa alam semesta ini selamanya ada. Teori ini kini sudah hampir tidak ada pendukungnya lagi. Tetapi dahulu pernah didukung Aristoteles, Ibn Rushd, dan dalam abad ke-20 oleh Vorontzov Velyaminov dan Fred Hoyle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kejujuran kejujuran ilmiah (scientific integrity), saya dukung pendapat Feyerabend agar kedua (atau lebih tepat lagi ketiga) teori-teori diatas diajarkan kepada semua murid sekolah dari TK sampai universitas. Setelah diberi kesempatan penerangan yang fair, biarlah sang murid pilih sendiri teori mana yang ia percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman dahulu, lawan para evolusionis adalah para rokhaniwan. Cara-cara dan metode-metode yang dipakai kedua belah pihak berlainan. Di-Amerika Serikat perdebatan sampai berulangkali dibawa kepengadilan negeri, bah kan sampai tingkat Mahkamah Agung. Karena kedua belah pihak tidak dapat kemukakan bukti-bukti ilmiah yang dapat diulangi dan diselidiki dengan seksama, maka kedua belah pihak menggunakan senjata-senjata non-ilmiah seperti kutukan-kutukan, ejekan-ejekan, cemoohan-cemoohan dan penghinaan-penghinaan. Ini jelas bukan cara-cara yang baik untuk mendapat kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu ilmuwan yang tidak setuju dengan teori evolusi pada umumnya hanya protes sekedarnya, a.l. akhli biologi dan geologi yang sangat terkenal Louis Aggasiz (1807-1873). Tetapi sejak 1970 lawan para ilmu wan evolusionis adalah para ilmuwan kreasionis. Kini ilmuwan lawan ilmuwan. Para ilmuwan evolusionis tetap menggunakan senjata ejekan- ejekan. Belajar dari sejarah, para ilmuwan kreasionis berusaha untuk menghindarkan diri terlibat secara emosional, dan berusaha memberi argumen-argumen rasionil tanpa ejekan-ejekan. Contoh yang sangat baik diberikan oleh para ilmuwan di- "Institute for Creation Research" (ICR) di-Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas ada ialah alam semesta ini. Yang jelas ada ialah batu-batuan, lapisan-lapisan tanah, fosil-fosil, lautan, sungai-sungai, gunung-gunung, planet-planet, bintang-bintang, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan umat manusia termasuk Anda dan saya. Yang jelas ada ialah hukum- hukum fisika, kimia, biologi dan kimia-biologi yang berlaku masakini. Semua ini jelas ada dan tidak dibantah baik oleh kaum kreasionis maupun kaum evolusionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimasalahkan ialah dari mana datangnya semua itu ? Bagaimana kita dapat ada disini ? How do we get here ? Apakah kita ada disini karena diciptakan Allah, atau berevolusi dari zat mati secara kebetulan ? Anda dan saya keturunan Adam dan Hawa historis yang diciptakan Allah menurut peta dan teladanNYA, atau keturunan binatang yang berevolusi secara kebetulan tanpa ada yang recanakan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, ilmu pengetahuan alam yang murni sebaiknya membatasi diri dengan mempelajari alam semesta masakini. Maximaal masa lalu yang ada saksi-saksi berupa tulisan-tulisan manusia. Dengan ilmu penge tahuan alam murni saya maksudkan ilmu positif, ialah ilmu yang dapat diuji dengan pengamatan-pengamatan dan percobaan-percobaan yang dapat diulangi dan diselidiki dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menduga-duga masalalu dan masa akan datang alam semesta ini dalam jangka panjang, sesungguhnya sudah keluar dari bidang ilmu pengetahuan alam. Ilmu pengetahuan alam memang dapat ditunggangi oleh filsafat atau agama tertentu sehingga menjadi spekulasi-spekulasi metafisis yang diarahkan agar mendukung filsafat atau agama tertentu itu. Meta berarti setelah. Jadi metafisika berarti setelah fisika. Sesungguhnya spekulasi- spekulasi metafisis sudah keluar dari bidang fisika dan memasuki bidang metafisika, filsafat atau agama. Kita harus belajar membedakan ilmu positif dengan spekulasi-spekulasi metafisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya bicara dengan beberapa orang Kristen termasuk beberapa pendeta mengenai soal diatas, ada yang jawab dengan ketus : "Itu tidak penting !". Ada yang senyum-senyum secara "simpatik", tetapi tanpa mengambil sikap yang tegas mendukung atau menentang pendapat saya. Kebanyakan lebih suka pilih jalan "aman" dengan berkompromi. Mereka terima suatu theistic evolution yang samar-samar dan/atau disamar- samarkan. Hanya sedikit yang berikan tanggapan positip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, sesungguhnya hal tersebut diatas sangat penting, sangat fundamentil. Mengapa ? Kalau seseorang merasa dirinya ketu runan binatang, maka iapun tidak akan merasa bersalah kalau ia berlaku dan bertindak sebagai binatang. Beberapa bulan yang lalu saya sempat bicara dengan seorang sarjana teknik dari Jepang. Sebagai sarjana teknik ia memang pandai. Tetapi dari sudut moral dan etika, ia penganut free sex. Setelah saya tanya lebih lanjut ia mengaku tidak percaya pada Allah. Saya tanya kepadanya: "Kalau Anda tidak percaya bahwa Allah itu ada, menurut Anda dari mana asal usul manusia termasuk Anda dan saya ?". Ia jawab sambil tertawa terbahak-bahak : "Maybe from the monkeys". (Mungkin dari monyet-monyet). Karena ia merasa dirinya keturunan monyet ia tidak ada perasaan bersalah kalau ia bersikap dan bertindak seperti monyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya menurut para evolusionis manusia dan monyet adalah keturunan primat. Jadi monyet, menurut para evolusionis, adalah "kepo nakan" manusia. Monyetpun ada yang monogami. Tetapi memang ada yang poligami dan "penganut" free sex. Simpanse dianggap para evolu sionis adalah "keponakan" yang paling dekat dengan manusia. Simpanse memang termasuk monyet "penganut" free sex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalau manusia percaya bahwa ia adalah keturunan Adam dan Hawa historis, yang diciptakan Allah menurut peta dan teladan Allah, maka mudah-mudahan ia akan rindu untuk mendapat kembali peta dan teladan Allah ini yang sempat dirusak oleh dosa. Kepercayaannya ini, tentu ada dampak yang sangat besar akan perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kreasionis di-Amerika Serikat, Australia, Eropah, Rusia dll sadar benar akan hal tersebut diatas. Mereka sedang memperjuangkan agar teori kreasi diajarkan bersamaan dengan teori evolusi. Bagaimana kalau kita di-Indonesia juga turut memperjuangkannya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1950 ilmuwan kreasionis masih sangat langka. Pada tahun 1970 sudah ada ratusan. Kini 1993, jumlahnya sudah ribuan tersebar diseluruh dunia. Dengan adanya komentar dari seorang filsuf kenamaan seperti Dr Feyerabend diatas, para evolusionis kini sungguh tidak dapat pandang enteng para kreasionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak dapat merubah dunia dalam waktu sekejap. Tetapi kita selalu dapat sumbangkan iman dan ilmu pengetahuan alam yang benar kepada siapapun yang berhubungan dengan kita. Sedikit-sedikit, lama-lama kan jadi bukit. Himbauan ini saya tujukan kepada semua orang, terutama guru-guru yang beragama Kristen dari denominasi manapun juga, dari TK sampai universitas. Apalagi kepada guru-guru agama disekolah-sekolah Kristen, teristimewa pada guru-guru sekolah Minggu. Lebih teristimewa lagi pada para pendeta dan calon pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Anda dapat yakin dan percaya dengan teguh bahwa banyak ilmuwan kaliber internasional yang percaya kisah Kejadian 1-11 secara harafiah, a.l. Dr A.E. Wilder Smith dari Swiss, Dr Charles Phallagy dari Australia, Prof Enoch dari India, Dr Henry M. Morris dan anaknya Dr John Morris dari Amerika Serikat, Dr Kouznetsov dari Russia dan ribuan ilmuwan lain. Dimasa yang lalu Kepler dan Newton, bapak-bapak ilmu pengetahuan alam modern, juga percaya Kejadian 1-11 secara harafiah. Filsuf Dr Feye rabend, setelah mempelajari pokok persoalan secara objektip mendukung diajarkannya teori kreasi disekolah-sekolah umum diseluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya urusan menyelidiki alam semesta masakini, adalah urusan ilmu pengetahuan alam positif, urusan para ilmuwan. Urusan menyelidiki asal mula dan tujuan akhir dari alam semesta ini adalah urusan meta fisika, filsafat atau agama, urusan para rokhaniwan. Tetapi kini memang timbul kekacauan soal ini. Atau mungkin para rokhaniwan memang harus kerjasama dengan para ilmuwan untuk menjernihkan persoalan ini. Mari kita bantu tanamkan iman dan ilmu yang benar dalam setiap kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Halleluyah !&lt;br /&gt;                                                                                                     Kalau Anda punya pertanyaan atau tanggapan mengenai artikel-artikel diruang "Alkitab dan ilmu pengetahuan" ini atau ada pertanyaan di luar artikel-artikel diruang ini yang ada hubungannya dengan Alkitab dan ilmu pengetahuan, silahkan kirim email ke-saya.  Alamat email saya adalah sethiadi@cbn.net.id&lt;br /&gt;Saya akan berusaha menjawab sebaik mungkin, bahkan mungkin pertanyaan Anda dapat menjadi bahan untuk artikel berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-7505495668233303056?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/7505495668233303056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=7505495668233303056' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7505495668233303056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7505495668233303056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/paul-feyerabend.html' title='Paul Feyerabend'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-6740386280075517235</id><published>2008-07-27T11:42:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T11:47:30.130-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>ORVILLE WRIGHT 1871-1948 &amp; WILBUR WRIGHT 1867-1912</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzCsfJH7aI/AAAAAAAAADk/PMEkhIyEN9U/s1600-h/19-20.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzCsfJH7aI/AAAAAAAAADk/PMEkhIyEN9U/s320/19-20.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227767337000103330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Lantaran hasil karya kedua bersaudara ini saling berkaitan satu sama lain, mereka tercantum berbarengan dalam daftar urutan buku ini dan ihwal keduanya pun akan dipaparkan dalam satu nafas. Wilbur Wright lahir tahun 1867 di kota Millville, Indiana. Orville Wright --adiknya-- lahir tahun 1871 di kota Dayton, Ohio. Kedua anak laki ini duduk di perguruan tinggi tetapi tak satu pun peroleh ijazah.&lt;br /&gt;Keduanya punya bakat di bidang mekanika dan keduanya tertarik dengan masalah menerbangkan manusia ke udara. Di tahun 1892 mereka membuka toko, menjual, membetulkan, dan membikin sepeda. Usaha ini mendatangkan dana untuk melanjutkan niatnya: penyelidikan sektor aeronautik. Kakak-beradik ini asyik menekuni karya-karya peminat aeronautik lain seperti: Otto Lilienthal, Octave Chanute dan Samuel P. Langley. Di tahun 1899 mereka mulai bekerja ke arah penerbangan sendiri. Pada bulan Desember 1903, sesudah kerja keras selama empat tahun lebih sedikit, hasil usahanya berhasil dengan gemilang.&lt;br /&gt;Orang mungkin heran kepada Wright bersaudara mampu menciptakan prestasi yang gagal dilakukan orang-orang lain. Ada beberapa sebab yang membuat mereka berhasil. Pertama, dua kepala tentu lebih efektif dari satu kepala. Wright bersaudara senantiasa bekerja sama dan tunjang-menunjang dengan amat serasi dan sempurna. Kedua, mereka dengan cekatan mengambil keputusan bahwa mereka pertama mempelajari bagaimana cara terbang sebelum mencoba membikin pesawat. Sepintas lalu hal ini rasanya bertentangan menurut ukuran umum: bagaimana bisa belajar terbang jika belum ada pesawat terbang? Jawabnya adalah, Wright bersaudara belajar terbang dengan menggunakan pesawat peluncur. Mula-mula mereka mengamati cara kerja layang-layang, kemudian peluncur. Tahun berikutnya mereka membawa pesawat peluncur ukuran besar ke Kitty Hawk, di Carolina Utara, cukup untuk ditumpangi dan dapat mengangkat seorang manusia. Pesawat ini dicoba. Tampaknya hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Mereka bikin dan coba pesawat peluncur lengkap di tahun 1901 dan disusul dengan pembikinan tahun 1902. Pesawat peluncur ketiga ini merupakan gabungan dari pelbagai penemuan-penemuan penting mereka. Beberapa paten dasar, digunakan tahun 1903, berkaitan dengan pesawat peluncur itu ketimbang pesawat terbang pertama mereka. Mengenai pesawat peluncur ketiga itu mereka telah lebih dari seribu kali mengangkasa dengan berhasil. Kedua bersaudara Wright telah merupakan pilot pesawat peluncur terbaik dan paling berpengalaman di dunia sebelum mereka mulai membikin pesawat udara bermesin.&lt;br /&gt;Pengalaman mengudara dengan pesawat peluncur merupakan inti sukses ketiga mereka yang amat penting. Banyak orang yang sebelumnya sudah pernah mencoba membikin pesawat punya kekhawatiran utama bagaimana hasil ciptaannya tinggal landas. Wright bersaudara dengan tepat menyadari bahwa masalah pokok adalah bagaimana mengawasi pesawat sesudah berada di udara. Karena itu, sebagian besar waktu dan perhatian mereka tumpahkan pada soal bagaimana mencapai kestabilan pesawat ketika sudah terbang. Mereka berhasil menciptakan tiga jenis alat pokok untuk mengawasi pesawat, dan inilah yang membuat mereka berhasil dalam peragaan.&lt;br /&gt;Wright bersaudara juga memberi sumbangan penting dalam hal perancangan sayap. Mereka sadar, data-data sebelumnya yang sudah disiarkan, tidak bisa dijadikan pegangan. Karena itu mereka menciptakan sendiri lorong-lorong angin dan dicoba terhadap lebih dari dua ribu macam bentuk permukaan sayap. Inti utama dari percobaan ini adalah, kedua bersaudara itu mampu membikin bagan sendiri, memaparkan tentang tekanan udara terhadap sayap tergantung pada bentuk sayap itu. Keterangan ini kemudian digunakan dalam tiap pembuatan sayap pesawat terbang.&lt;br /&gt;Disamping semua hasil penemuan mereka, kedua bersaudara Wright ini tak bakal bisa sukses berhasil bilamana mereka tidak tampil pada saat yang tepat dalam sejarah. Percobaan penggunaan penerbangan dengan mesin pada paruh pertama abad ke-19 jelas cenderung ke arah gagal. Mesin uap jelas terlampau berat untuk penggunaan penerbangan. Pada saat kedua bersaudara Wright muncul, mesin pemroses pembakaran sudah diketemukan orang. Tetapi, mesin ini hanya untuk pemakaian secara umum, terlalu berat untuk digunakan dalam penerbangan pesawat. Ketika tak ada satu pabrik pun yang sanggup merancang mesin yang cukup ringan, kedua bersaudara Wright (dengan bantuan seorang ahli mesin) merancang sendiri. Ini menunjukkan kegeniusan mereka karena walaupun dalam tempo relatif singkat toh mereka mampu merancang mesin yang lebih unggul dari hampir semua bikinan pabrik lain. Tambahan pula, Wright bersaudara merancang sendiri baling-baling. Salah satu yang mereka pergunakan di tahun 1903, 66% berhasil.&lt;br /&gt;Pesawat Ganda Wright bersaudara yang asli&lt;br /&gt;Penerbangan pertama dilakukan tanggal 17 Desember tahun 1903 di Kill Devil Hill dekat Kitty Hawk, Carolina Utara. Masing-masing kedua bersaudara itu melakukan dua penerbangan pada hari itu. Penerbangan pertama, yang dilakukan Orville Wright berlangsung 12 detik dan mencapai jarak 120 kaki. Penerbangan terakhir, yang dilakukan Wilbur Wright, berlangsung 59 detik dan mencapai ketinggian 852 kaki. Pesawatnya yang mereka namakan Flyer I (kini terkenal dengan julukan Kitty Hawk) memakan ongkos pembuatan kurang dari 1000 dolar. Pesawat itu punya sayap sepanjang 40 kaki dan bobot sekitar 750 pon, berkekuatan mesin 12 tenaga kuda dengan berat cuma 170 pon. Pesawat asli itu kini tersimpan rapi di Museum Udara dan Ruang Angkasa Washington D.C.&lt;br /&gt;Kendati ada lima saksi mata tatkala penerbangan pertama, relatif sedikit sekali diberitakan oleh koran-koran pada terbitan keesokan harinya (dan itu pun umumnya kurang cermat). Surat kabar kotanya sendiri di Dayton Ohio samasekali menganggap sepi usaha ini. Baru lima tahun sesudah itu dunia umum sadar bahwa penerbangan manusia betul-betul sudah bisa terlaksana.&lt;br /&gt;Setelah penerbangan mereka di Kitty Hawk, Wright bersaudara kembali ke kota asalnya di Dayton. Di sana mereka merancang dan membikin pesawat kedua, Flyer II. Dengan pesawat yang kedua ini mereka melakukan 105 kali penerbangan di tahun 1904 tanpa menarik perhatian umum samasekali. Pesawat Flyer III yang sudah disempurnakan dan lebih praktis dibikin tahun 1905. Meski mereka banyak kali mengudara di dekat kota Dayton, banyak orang tetap tidak percaya bahwa yang namanya pesawat terbang sudah lahir di dunia. Di tahun 1906 --misalnya-- koran The Herald Tribune edisi Paris menurunkan tulisan berjudul Flyer or Liars? (Penerbangan atau pengibulan?).&lt;br /&gt;Di tahun 1908 akhirnya mereka menyapu bersih semua kebimbangan dan ketidakpercayaan umum. Wilbur Wright menerbangkan pesawatnya ke Perancis, bikin demonstrasi akrobatik di udara dan mengorganisir perusahaan untuk memasarkan hasil ciptaannya. Sementara itu, di Amerika Serikat, Orville Wright menyuguhkan pertunjukan serupa. Malangnya, pada tanggal 17 September 1908 pesawatnya jatuh terhempas. Inilah satu-satunya kecelakaan yang pernah dialami oleh mereka berdua. Seorang penumpang tewas, Orville patah kaki dan dua tulang iganya tetapi segera dapat sembuh. Keberhasilan penerbangannya menggugah pemerintah Amerika Serikat menandatangani kontrak untuk membuat pesawat-pesawat buat Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dan di tahun 1909 dengan anggaran belanja pemerintah ada pesanan seharga $30.000 buat keperluan Angkatan Udara.&lt;br /&gt;Pernah ada sengketa hukum menyangkut hak paten antara Wright bersaudara dengan saingan-saingannya, tetapi di tahun 1914 tuntutan mereka itu ditolak pengadilan. Apa hendak dikata, di tahun 1912 Wilbur Wright terserang tipus dan meninggal dunia pada umur empat puluh lima tahun. Orville Wright yang pada tahun 1915 menjual saham-sahamnya ke suatu perusahaan, hidup sampai tahun 1948. Tak seorang pun dari dua bersaudara itu pernah kawin.&lt;br /&gt;Kendati banyak penyelidikan di bidang ini yang mendahuluinya, tak syak lagi Wright bersaudaralah yang bisa dianggap sebagai cikal bakal penemuan pesawat terbang. Dalam hal penentuan urutan dalam daftar buku ini, yang jadi pegangan utama adalah terciptanya pesawat terbang punya arti kurang penting ketimbang penemuan mesin cetak ataupun tenaga uap yang keduanya telah membikin perombakan revolusioner peri kehidupan manusia. Namun, tak bisa dibantah penemuan pesawat terbang merupakan fenomena sejarah yang penting, baik dalam hal penggunaan untuk tujuan-tujuan damai maupun perang. Hanya dalam tempo puluhan tahun sesudah itu, pesawat terbang telah membikin dunia kita ini begitu ciut bahkan ruang angkasa pun rasanya bisa disentuh jari. Dan lebih jauh dari itu, penemuan pesawat terbang bermuatan manusia merupakan pemula dan pembuka jalan bagi penerbangan di angkasa luar.&lt;br /&gt;Berabad lamanya terbang itu sudah menjadi impian manusia. Mereka kepingin melayang di langit dengan permadani terbang seperti dalam dongeng-dongeng Seribu Satu Malam, impian yang berada jauh dalam jangkauan. Si genius Wright bersaudaralah yang telah mewujudkan mimpi itu jadi kenyataan, betul-betul terbang dengan pesawat dan bukannya bersila di atas permadani dongeng sambil mengisap "hoga" yang tiga hasta panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-6740386280075517235?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/6740386280075517235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=6740386280075517235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/6740386280075517235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/6740386280075517235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/orville-wright-1871-1948-wilbur-wright.html' title='ORVILLE WRIGHT 1871-1948 &amp; WILBUR WRIGHT 1867-1912'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzCsfJH7aI/AAAAAAAAADk/PMEkhIyEN9U/s72-c/19-20.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-8811176991233387631</id><published>2008-07-27T11:41:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:42:36.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>OLIVER CROMWELL 1599-1658</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzBhwux07I/AAAAAAAAADc/geYjoU8sbis/s1600-h/18.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzBhwux07I/AAAAAAAAADc/geYjoU8sbis/s320/18.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227766053231252402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oliver Cromwell pemimpin militer yang brilian dan memikat yang mengepalai kekuatan parlementer dan mencapai kemenangan dalam perang saudara Inggris adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap terbentuknya demokrasi parlementer sebagai bentuk pemerintahan Inggris.&lt;br /&gt;Cromwell dilahirkan tahun 1599 di Huntingdon, Inggris. Selaku orang muda dia hidup di Inggris yang tercabik-cabik oleh pertentangan agama dan dipimpin oleh seorang raja yang percaya dan ingin mempraktekkan monarki absolut. Cromwell sendiri seorang petani dan tokoh pedesaan serta seorang puritan yang taat. Di tahun 1628 dia terpilih jadi anggota parlemen. Tetapi, jabatan ini sangat singkat dipegangnya karena pada tahun berikutnya Raja Charles I memutuskan membubarkan parlemen dan memerintah negeri sendirian. Tak sampai tahun 1640 tatkala dia perlu uang untuk melancarkan perang terhadap Skotlandia, raja memanggil lagi parlemen baru. Parlemen baru ini yang Cromwell juga jadi anggotanya, minta jaminan kepastian dan perlindungan terhadap tidak kembalinya kekuasaan raja yang semau-maunya. Tetapi, Charles I keberatan berada di bawah kekuasaan parlemen. Apa daya? Satu-satunya jalan yang tersedia adalah perang, dan pecahlah perang itu tahun 1646, peperangan antara kekuatan antek raja dan yang pro parlemen.&lt;br /&gt;Cromwell berpihak pada yang pro parlemen. Kembali ke kotanya Huntingdon, dia membangun pasukan berkuda untuk menggempur raja. Selama perang yang berlangsung empat tahun, kemampuan militernya mendapat sorotan umum. Cromwell pegang peranan penentu, baik di pertempuran Marston Moor (2 Juli 1644) yang amat kritis dan merupakan titik balik peperangan, maupun dalam pertempuran yang menentukan di Naseby (14 Juni 1645). Di tahun 1646 perang berakhir dan Charles I dipenjara. Cromwell diakui sebagai jendral paling sukses dari pihak golongan pro parlemen.&lt;br /&gt;Tetapi, perdamaian penuh tidak juga datang karena golongan pro parlemen terpecah-pecah dalam fraksi-fraksi yang secara mendasar saling berbeda tujuan. Raja mengetahui perpecahan ini, karena itu dia menghindar dari penyelesaian damai. Dalam tempo setahun, perang saudara kedua pecah lagi disertai segera lolosnya Charles I dan percobaannya menghimpun pasukan pendukungnya. Hasil dari konflik baru ini adalah kekalahan pasukan Raja Charles I oleh gempuran Cromwell, mengikis orang-orang yang berpendirian moderat di parlemen dan menghukum mati Raja Charles I di tahun 1649 bulan Januari.&lt;br /&gt;Inggris kini menjadi republik (disebut "Conmmonwealth"), diperintah untuk sementara oleh Dewan Negara, yang diketuai Cromwell. Tetapi, golongan pro kerajaan segera dapat menguasai Irlandia dan Skotlandia dan beri dukungan kepada putera men diang Raja Charles II di masa depan.&lt;br /&gt;Hasilnya adalah pendudukan yang berhasil atas Irlandia dan Skotlandia oleh pasukan Cromwell. Rangkaian pertempuran yang panjang berakhir tahun 1625 dengan kekalahan mutlak para pendukung raja.&lt;br /&gt;Perang sudah rampung, kini tiba waktunya untuk mendirikan suatu pemerintahan baru. Tetapi, masih ada sisa masalah mengenai bentuk pemerintahan yang konstitusional yang harus dijelmakan. Masalah ini tak pernah terpecahkan selama Cromwell masih hidup. Jendral-jendral puritan telah mampu memimpin pertempuran yang membawa kemenangan bagi mereka yang menentang monarki absolut. Tetapi, baik kekuatan maupun prestisenya tidak cukup trampil menyelesaikan konflik sosial diantara pendukungnya dan tak berhasil mengajak mereka menyepakati konstitusi baru, karena konflik ini telah kait-berkait dengan konflik agama yang memecah penganut Protestan dan golongan lain, juga dengan kaum Katolik Romawi.&lt;br /&gt;Tatkala Cromwell berada diatas tampuk kekuasaan, sisa parlemen tahun 1640 sedikit sekali jumlahnya, tidak representatif, minoritas yang ekstrim yang disebut "Rump." Langkah pertama yang ditempuh Cromwell ialah melakukan penjajagan untuk suatu pemilihan umum baru. Ketika usaha penjajagan itu gagal berantakan, dia membubarkan "Rump" dengan kekerasan (ini terjadi bulan April tahun 1653). Sejak itu hingga wafatnya Cromwell tahun 1658, ada tiga parlemen yang berbeda-beda terbentuk dan dibubarkan. Dua macam konstitusi disepakati, tetapi tak satu pun berfungsi sebagaimana mestinya. Sepanjang periode ini, Cromwell memerintah atas dukungan Angkatan Bersenjata. Akibatnya, dia menjadi diktator militer. Tetapi, percobaannya yang berulang kali melaksanakan praktek-praktek demokratis dan juga penolakannya atas tawaran tahta yang diusulkan buatnya, jelas menunjukkan bahwa kediktatoran bukanlah sesuatu yang dicari dan dikehendakinya. Ini dipaksakan kepadanya oleh ketidakmampuan para pendukungnya dalam hal mendirikan sebuah pemerintahan yang berjalan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Dari tahun 1653 sampai 1658, Cromwell, dengan gelar Lord Protector (Sang Pelindung), jadi penguasa Inggris, Skotlandia dan Irlandia. Selama lima tahun itu, Cromwell membuat Inggris punya pemerintahan yang secara umum baik dan administrasi berjalan sebagaimana mestinya. Dia memperbaiki pelbagai rupa hukum yang tak genah dan dia mendukung sektor memajukan pendidikan. Cromwell seorang yang punya toleransi terhadap agama, dia ijinkan orang-orang Yahudi kembali menetap di Inggris dan mengamalkan ibadat menurut kepercayaannya. (Mereka terusir dari Inggris tiga abad lamanya oleh Raja Edward I). Cromwell juga menjalankan politik luar negeri yang berhasil. Dia meninggal di London tahun 1658 akibat serangan malaria.&lt;br /&gt;Anak sulung Cromwell, Richard Cromwell, menggantikan sang bapak tetapi cuma sebentar memerintah. Tahun 1660 Charles II dinaikkan kembali ke atas tahta. Sisa-sisa pengikut Cromwell dibabat habis dan digantung mati sampai lidahnya terjulur. Tetapi, usaha penumpasan macam apa pun yang dilakukan, upaya balas dendam yang bagaimanapun berkobarnya tidaklah mungkin bisa menutupi fakta bahwa perjuangan mati-matian demi adanya suatu monarki absolut sudah musnah. Charles II menyadari hal ini, karena itu dia tidak mencoba melawan keunggulan parlemen. Tatkala penggantinya, James II, mencoba mengembalikan sistem monarki absolut, dia segera digulingkan lewat revolusi tak berdarah tahun 1688. Hasil yang tampak adalah persis seperti apa yang diinginkan oleh Cromwell di tahun 1640, yaitu suatu monarki konstitusional dimana raja jelas berada di bawah parlemen dan menghormati lembaga itu, serta negara menganut politik bertoleransi terhadap semua agama.&lt;br /&gt;Selang tiga abad sesudah wafatnya, watak Oliver Cromwell telah menjadi bahan perselisihan pendapat. Sejumlah kritikus menyebutnya seorang munafik seraya menunjuk contoh bukti betapa dia senantiasa mendambakan keunggulan parlemen tetapi pada saat berbarengan dia senantiasa menuntut kekuasaan eksekutif di satu tangan. Jadi, pada hakekatnya dia mendirikan suatu sistem diktator militer. Tetapi, sebagian terbesar pandangan melihat bagaimanapun juga pengabdian Cromwell untuk kehidupan demokrasi sangat jujur dan bersungguh-sungguh meski keadaan yang tidak bisa diatasinya memaksa ia untuk bertindak keras dan diktatorial. Telah diamati mereka bahwa Cromwell tidak pernah plintat-plintut, dan juga tak pernah ia menerima tawaran duduk di tahta atau mendirikan kediktatoran yang bersifat permanen. Pemerintahannya senantiasa bersifat moderat dan penuh toleransi.&lt;br /&gt;Bagaimana kita bisa menyimpulkan pengaruh Cromwell secara keseluruhan dalam sejarah? Arti penting utamanya, tak syak lagi, dia seorang pemimpin militer yang brilian, mampu mematahkan kekuatan kerajaan dalam perang saudara Inggris. Sebelum Cromwell tampil di gelanggang, keadaan kekuatan parlemen berada dalam tingkat keburukan yang terendah, karena itu dapatlah dibilang kemenangan terakhir tak akan pernah terjadi tanpa kehadiran Cromwell. Hasil kemenangan Cromwell adalah membikin semakin mapan dan kuatnya pemerintahan demokratis di Inggris.&lt;br /&gt;Ini jangan dianggap sepele. Ini tidak bisa terjadi begitu saja dalam keadaan biasa. Di abad ke- 17, hampir seluruh Eropa bergerak ke arah sistem monarki absolut. Kemenangan demokrasi di Inggris merupakan hal yang berlawanan dengan arus yang sedang deras-derasnya mengalir. Di tahun-tahun sesudahnya, contoh kehidupan demokrasi di Inggris merupakan faktor pendorong bagi gerakan pembaharuan di Perancis dan sekaligus Revolusi Perancis dan berbarengan dengan itu menjelmanya pemerintahan-pemerintahan demokratis di Eropa. Dan tak dapat disangkal, kemenangan kekuatan demokratis di Inggris memegang peranan penting berdirinya sistem pemerintahan demokratis di Amerika Serikat dan lain-lain daerah jajahan Inggris seperti Kanada dan Australia. Kendati Inggris sendiri menduduki hanya sebagian kecil dari daerah dunia, demokrasi menjalin pengaruh ke daerah-daerah lain yang lebih-luas.&lt;br /&gt;Oliver Cromwell bisa ditempatkan lebih tinggi kedudukannya dalam urutan daftar buku ini, kecuali hampir semua penghargaan bagi pendirian sistem demokrasi di Inggris dan Amerika Serikat harus dipersembahkan kepada filosof John Locke. Sedikit sulit menetapkan arti penting relatif buat Cromwell yang pada hakekatnya adalah orang lapangan yang bertindak sedangkan Locke adalah seorang penggagas ide-ide. Tetapi, diukur dari iklim intelektual jaman Locke, ide politik yang serupa akan juga segera muncul meskipun andaikata Locke tidak pernah hidup. Sebaliknya, kalaulah tak ada Cromwell, besar kemungkinan kekuatan parlemen tidak akan mampu mengalahkan kekuatan kerajaan dalam perang saudara Inggris.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-8811176991233387631?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/8811176991233387631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=8811176991233387631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/8811176991233387631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/8811176991233387631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/oliver-cromwell-1599-1658.html' title='OLIVER CROMWELL 1599-1658'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIzBhwux07I/AAAAAAAAADc/geYjoU8sbis/s72-c/18.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-705440108029507066</id><published>2008-07-27T11:40:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T11:40:59.544-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>NICOLAUS COPERNICUS 1473-1543</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Astronom (ahli perbintangan) berkebangsaan Polandia yang bernama Nicolaus Copernicus (nama Polandianya: Mikolaj Kopernik), dilahirkan tahun 1473 di kota Torun di tepi sungai Vistula, Polandia. Dia berasal dari keluarga berada. Sebagai anak muda belia, Copernicus belajar di Universitas Cracow, selaku murid yang menaruh minat besar terhadap ihwal ilmu perbintangan. Pada usia dua puluhan dia pergi melawat ke Italia, belajar kedokteran dan hukum di Universitas Bologna dan Padua yang kemudian dapat gelar Doktor dalam hukum gerejani dari Universitas Ferrara. Copernicus menghabiskan sebagian besar waktunya tatkala dewasa selaku staf pegawai Katedral di Frauenburg (istilah Polandia: Frombork), selaku ahli hukum gerejani yang sesungguhnya Copernicus tak pernah jadi astronom profesional, kerja besarnya yang membikin namanya melangit hanyalah berkat kerja sambilan.&lt;br /&gt;Selama berada di Italia, Copernicus sudah berkenalan dengan ide-ide filosof Yunani Aristarchus dari Samos (abad ke-13 SM). Filosof ini berpendapat bahwa bumi dan planit-planit lain berputar mengitari matahari. Copernicus jadi yakin atas kebenaran hipotesa "heliocentris" ini, dan tatkala dia menginjak usia empat puluh tahun dia mulai mengedarkan buah tulisannya diantara teman-temannya dalam bentuk tulisan-tulisan ringkas, mengedepankan cikal bakal gagasannya sendiri tentang masalah itu. Copernicus memerlukan waktu bertahun-tahun melakukan pengamatan, perhitungan cermat yang diperlukan untuk penyusunan buku besarnya De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-benda Langit), yang melukiskan teorinya secara terperinci dan mengedepankan pembuktian-pembuktiannya.&lt;br /&gt;Di tahun 1533, tatkala usianya menginjak enam puluh tahun, Copernicus mengirim berkas catatan-catatan ceramahnya ke Roma. Di situ dia mengemukakan prinsip-prinsip pokok teorinya tanpa mengakibatkan ketidaksetujuan Paus. Baru tatkala umurnya sudah mendekati tujuh puluhan, Copernicus memutuskan penerbitan bukunya, dan baru tepat pada saat meninggalnya dia dikirimi buku cetakan pertamanya dari si penerbit. Ini tanggal 24 Mei 1543.&lt;br /&gt;Dalam buku itu Copernicus dengan tepat mengatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan bumi, serta planet-planet lain semuanya berputar mengelilingi matahari. Tapi, seperti halnya para pendahulunya, dia membuat perhitungan yang serampangan mengenai skala peredaran planet mengelilingi matahari. Juga, dia membuat kekeliruan besar karena dia yakin betul bahwa orbit mengandung lingkaran-lingkaran. Jadi, bukan saja teori ini ruwet secara matematik, tapi juga tidak betul. Meski begitu, bukunya lekas mendapat perhatian besar. Para astronom lain pun tergugah, terutama astronom berkebangsaan Denmark, Tycho Brahe, yang melakukan pengamatan lebih teliti dan tepat terhadap gerakan-gerakan planet. Dari data-data hasil pengamatan inilah yang membikin Johannes Kepler akhirnya mampu merumuskan hukum-hukum gerak planet yang tepat.&lt;br /&gt;Sistem alam semesta Copernicus&lt;br /&gt;Meski Aristarchus lebih dari tujuh belas abad lamanya sebelum Copernicus sudah mengemukakan persoalan-persoalan menyangkut hipotesa peredaran benda-benda langit, adalah layak menganggap Copernicuslah orang yang memperoleh penghargaan besar. Sebab, betapapun Aristarchus sudah mengedepankan pelbagai masalah yang mengandung inspirasi, namun dia tak pernah merumuskan teori yang cukup terperinci sehingga punya manfaat dari kacamata ilmiah. Tatkala Copernicus menggarap perhitungan matematik hipotesa-hipotesa secara terperinci, dia berhasil mengubahnya menjadi teori ilmiah yang punya arti dan guna. Dapat digunakan untuk dugaan-dugaan, dapat dibuktikan dengan pengamatan astronomis, dapat bermanfaat di banding lain-lain teori yang terdahulu bahwa dunialah yang jadi sentral ruang angkasa.&lt;br /&gt;Jelaslah dengan demikian, teori Copernicus telah merevolusionerkan konsep kita tentang angkasa luar dan sekaligus sudah merombak pandangan filosofis kita. Namun, dalam hal penilaian mengenai arti penting Copernicus, haruslah diingat bahwa astronomi tidaklah mempunyai jangkauan jauh dalam penggunaan praktis sehari-hari seperti halnya fisika kimia dan biologi. Sebab, hakekatnya orang bisa membikin peralatan televisi, mobil, atau pabrik kimia modern tanpa mesti secuwil pun menggunakan teori Copernicus. (Sebaliknya, orang tidak bakal bisa membikin benda-benda itu tanpa menggunakan buah pikiran Faraday, Maxwell, Lavosier atau Newton).&lt;br /&gt;Tetapi, jika semata-mata kita mengarahkan perhatian hanya semata-mata kepada pengaruh langsung Copernicus di bidang teknologi, kita akan kehilangan arti penting Copernicus yang sesungguhnya. Buku Copernicus punya makna yang tampaknya tak memungkinkan baik Galileo maupun Kepler menyelesaikan kerja ilmiahnya. Kesemua mereka adalah pendahulu-pendahulu yang penting dan menentukan bagi Newton, dan penemuan merekalah yang membikin kemungkinan bagi Newton merumuskan hukum-hukum gerak dan gaya beratnya. Secara historis, penerbitan De Revolutionobus Orbium Coelestium merupakan titik tolak astronomi modern. Lebih dari itu, merupakan titik tolak pengetahuan modern.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-705440108029507066?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/705440108029507066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=705440108029507066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/705440108029507066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/705440108029507066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/nicolaus-copernicus-1473-1543.html' title='NICOLAUS COPERNICUS 1473-1543'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-5260934444091900771</id><published>2008-07-27T11:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:38:16.969-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>Nasr Hamid Abu Zayd</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; Pembacaan Ilmiah Terhadap Al-Qur`an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kanak-kanak Nasr Hamid Abu Zayd adalah masa-masa panas dan menegangkan dalam sejarah Mesir, tetapi juga umumnya sejarah negara-negara yang disebut dunia ketiga. Seteleh terlepas secara formal dari jajahan pemerintahan kolonial, negara-negara ini segera dihadapkan pada upaya pemerintahan sendiri dan penentuan format kenegaraan yang hendak diwujudkan. Pada saat itulah muncul berbagai macam ideologi dan pemikiran yang saling berkompetisi, baik yang bercorak keagamaan maupun yang sekuler, tetapi yang dominan kala itu adalah ideologi nasionalisme Arab yang bercorak sekuler yang merupakan ideologi resmi regime Gamal Abdul Nasser yang berkuasa.&lt;br /&gt;Sebagai tandingan dari ideologi negara ini adalah gerakan kalangan Islamis yang terhimpun dalam al-Ikhwanul Muslimun[2]. Mereka ini berjuang untuk mewujudkan suatu sistem pemerintahan yang bisa memenuhi standar pemerintahan yang Islami seperti yang mereka bayangkan, baik dalam bentuk maupun cita-cita ideologisnya. Pada masa-masa inilah Sayyid Qutb mencuat dengan gagasan tentang keadilan sosial menurut Islam, suatu tema yang tentunya tidak lepas dari bayang-bayang ideologi sosialis yang menguasai kebanyakan dunia ketiga saat itu. Ia misalnya telah menulis sebuah buku yang berjudul al-Islam wa Al-`adalah Al-Ijtima`iyyah (Islam dan Keadilan sosial). Nasr Hamid Abu Zayd sendiri juga tidak terlepas dari arus besar ini. Ketika al-Ikhwan al-Muslimun kian menguat dan memiliki banyak cabang di seantero pelosok Mesir, Nasr Hamid Abu Zayd pun turut pula bergAbu ng dalam gerakan ini. Bahkan dalam usianya yang masih belia (12 Tahun) ia telah merasakan tahanan penjara ketika pihak keamanan melakukan serangkaian penangkapan terhadap para aktifis Ikhwan.&lt;br /&gt;Abu Zayd menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Tanta. Ketika ia baru berumur 14 tahun ayahnya meninggal dunia sehingga, sambil bersekolah, ia juga harus bekerja untuk menopang kebutuhan keluarganya. Pada tahun 1960 Abu Zayd berhasil menyelesaikan studinya di Sekolah teknik, setelah itu selama 12 tahun (sampai 1972) ia bekerja sebagai teknisi di Lembaga Komunikasi Nasional. Pada periode inilah Abu Zayd mulai tertarik dengan gerakan sosialisme dan revolusi yang merupakan trend yang dominan di Mesir pada tahun 1960-an. Tulisan ilmiah pertamanya – yang diterbitkan dalam Al-Adab (Oktober 1964) – bahkan mengulas tentang kesusastraan di kalangan para buruh dan petani yang ia tulis ketika baru berumur 21 Tahun. Pada saat itu Nasr Hamid Abu Zayd juga mulai menunjukkan sikap kritisnya terhadap gerakan Ikhwanul Muslimun, meski belum ia tunjukkan dalam tulisan-tulisannya.&lt;br /&gt;Pada tahun 1968, sembari tetap bekerja dilembaga tersebut, Abu Zayd memulai studinya di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Kairo. Studinya ini berhasil diselesaikan pada tahun 1972 dengan memperoleh penghargaan tertinggi. Karena prestasinya yang menonjol ini, pada tahun itu juga ia diangkat sebagai asisten dosen di almamaternya. Semula, sesuai dengan minatnya dari awal, Nasr Hamid ingin menekuni bidang kritik sastra dan bukannya studi Islam. Tetapi pihak jurusan bahasa dan sastra Arab mewajibkan setiap tenaga pengajar yang baru bergAbu ng untuk mengambil spesialisasi dibidang studi Qur`an dan Hadits. Inilah yang membuat Abu Zayd mengubah fokus kajiannya dari bidang linguistik dan kritik sastra murni menjadi menekuni studi Qur`an, meski ia sendiri semula sangat enggan melakukannya[3]. Abu Zayd akhirnya bersedia mengambil spesialisasi studi Al-Qur`an ini tapi ia terlebih dulu mengajukan syarat agar diberi kebebasan untuk memilih pembimbing untuk studi lanjutannya. Abu Zayd kemudian memilih Profesor Abd al-Aziz al-Ahwani. Seperti diakui Abu Zayd, inilah awal perkenalannya secara ilmiah dengan tradisi keagamaan Arab.&lt;br /&gt;Tesis Abu Zayd menelaah tentang konsep metafor yang terdapat dalam ilmu retorika Adab (Balaghah) menurut aliran teologi rasional Mu`tazilah[4]. Setelah selama empat tahun menganalisis dan membandingkannya wacana golongan Mu`tazilah dan para penentangnya, Abu Zayd sampai pada kesimpulannya bahwa penafsiran teks agama dalam Qur`an telah menjadi bagian yang integral dari kerangka kognitif dalam kesadaran Arab-Islam. Setiap konsep intelektual yang dicetuskan berusaha didapatkan legitimasi dan pembenarannya dari Qur`an. Akibatnya, penafsiran Al-Qur`an telah menjadi salah satu perangkat yang digunakan dalam pertarungan intelektual, sosial dan politik. Penelitian disertasi Abu Zayd tentang hermeneutika mistis Muhyiddin ibn al-Arabi juga mendapati hal yang sama dan bahwa semua agama ternyata dipengaruhi oleh faktor-faktor sosio-politis dan kultural semasanya[5].&lt;br /&gt;Lebih jauh, Abu Zayd bahkan juga mendapati bahwa hal yang sama terdapat pula pada fenomena sosial-politik Mesir kontemporer. Ketika itu Anwar Sadat baru saja menggantikan Gamal Abdul Naser. Seiring dengan perubahan tendensi politik dari regime yang baru ini dari ideologi sosialis ke retorika Islam, maka muncul pula corak Islam yang berbeda dalam pentas perpolitikan Mesir. Jika sebelumnya Islam lebih digambarkan sebagai agama keadilan sosial sejalan dengan ideologi sosialisme Nasserian, maka dengan kebijakan ekonomi pintu terbuka (infitah) pada era Sadat ini gambaran tentang Islam juga turut berubah sebagai agama yang melindungi hak kepemilikan pribadi. Jika sebelumnya, untuk menghadapi agresi Israel, Islam cenderung digambarkan sebagai agama jihad, maka kini Islam digambarkan sebagai agama perdamaian karena Sadat justru menjalin perdamaian dengan Israel.&lt;br /&gt;Semenjak masa Sadat ini pula gerakan Islam memperoleh tempat kembali di tengah arena perpolitikan Mesir dan dengan demikian kian mengintensifkan penggunaan jargon-jargon agama dalam menyikapi berbagai isu sosial-politik. Sadat dengan sadar rupanya memanfaatkan sentimen agama ini untuk menhadapi lawan-lawan politiknya, yaitu kelompok Nasseris dan kalangan liberalis lainnya di satu sisi, dan berbagai gerakan radikal Islam di sisi yang berbeda.&lt;br /&gt;Dampak kebijakan ini pada wacana Islam adalah maraknya tema-tema “legitimasi” dalam pemikiran keagamaan dan politik Islam, baik yang diwujudkan untuk mendukung maupun menentang regime penguasa (Panggabean 1991:56). Sementata tema-tema yang bersifat refleksif dan permenungan sama sekali absen dalam wacana itu. Dalam situasi semacam itu, maka Islam dan teks-teks Islam sebenarnya telah menjadi ruang kontestasi ideologis dari berbagai subyek kepentingan, baik individu, kelompok maupun kelas (Hirschjind 1996).&lt;br /&gt;Pada dasarnya, agama dan teks-teksnya bersifat netral, dalam artian merupakan teks yang terbuka untuk berbagai aktualisasi makna. Tetapi kontekstualisasi di kancah pertarungan ideologis yang spesifik sudah barang tentu sangat ditentukan oleh pretensi dan kecenderungan pembacanya.&lt;br /&gt;Menurut Abu Zayd, fenomena demikian mengisyaratkan bahwa teks agama yang berasal dari masa lampau telah dan terus menerus diinterpretasikan mengikuti keprihatinan dan tekanan yang dihadapi pembacanya pada masa kini. Di sinilah Abu Zayd mulai khawatir mengenai apakah teks-teks agama ini cukup terbuka atau tidak untuk menampung limpahan berbagai tipe penafsiran yang berbeda-beda ini. Ini mendorong Abu Zayd untuk menentukan hingga sejauh mana sebetulnya jangkauan tafsir (interpretative scope) yang dapat diberikan teks sehingga ia tidak tereduksi menjadi saluran belaka bagi ideologi-ideologi yang tengah bertarung (Abu Zayd 1996:33-34). Buku Abu Zayd yang membicarakan masalah ini adalah Mafhumu an-Nash: Dirasah fi `Ulum Qur`an (Konsepsi teks: Kajian tentang Ilmu-ilmu Qur`an) yang terbit pada tahun 1990. Seiring dengan ini Abu Zayd juga mulai menyadari tentang perlunya menguakkkan ideologi yang digunakan oleh berbagai wacana tentang Islam ini dan sejauh mana otoritas yang dapat diberikan oleh suatu penafsiran tertentu terhadap teks (Abu Zayd 1997:329). Topik ini kemudian dielaborasi lebih lanjut dalam bukunya yang terbit dua tahun berikutnya (1992) Naqd al-khitab `l dini (Kritik wacana Agama) juga dalam bukunya Al-Imam As-Syafi`i wa Ta`sis `l-aidulujiyyah `l wasatiyyah (Imam Syafi`I dan Pembentukan ideologi Maderatisme) yang terbit pada tahun yang sama. Ketiga buku inilah yang belakangan memicu terjadinya “kasus Abu Zayd” yang menggemparkan: Abu Zayd dikafirkan dan dituntut cerai istrinya, sehingga ia harus mengungsi ke Belanda.&lt;br /&gt;Nasr Hamid Abu Zayd dan Wacana Islam Mesir&lt;br /&gt;Ada dua kecenderungan utama dalam wacana Islam di Mesir, yaitu kecenderungan Islamis (Islamiyyun), baik yang masuk kubu radikal maupun kubu moderat, dan kecenderungan sekularis (`almaniyyun) yang terdiri dari berbagai kelompok mulai dari yang sosialis hingga yang liberal. Kubu Islam radikal diantaranya adalah al-Jihad dan Al-jama`ah Al-Islamiyyah, sementara yang moderat adalah al-Ikhwan al-Muslimun, universitas Al-Azhar dan kelompok-kelompk Islam lain yang menentang penggunaan kekerasan dalam penyebaran Islam. Sedangkan kelompok sekularis adalah kaum progresif independen seperti para intelektual, penulis dan akademisi yang menentang penerapan Syaria`ah dalam kehidupan publik. Seperti juga kalangan Islamis, kelompok yang terakhir ini juga berbeda-beda penekanannya: ada yang mengajukan untuk sekularisme yang moderat dan ada yang radikal.&lt;br /&gt;Selama beberapa dekade setelah perang dunia II, gerakan Islamisme masih lemah dan terbatas saja. Pada masa ini yang dominan adalah gerakan nasionalisme sekuler dan sosialisme sebagai buah dari keberhasilan revolusi Mesir pada tahun 1952. Akan tetapi semenjak masa pemerintahan Sadat yang mulai mencari dukungan dengan memanfaatkan simbol Islam, dan menyusul ini keberhasilan revolusi Iran pada tahun 1979, maka gerakan Islam mengalami kebangkitan yang pesat dan telah membentuk gerakan massa grassroot (Nur Ichwan:22). Semenjak itu, setiap perdebatan sosial, politik dan kebudayaan di dunia Arab secara umum, dan khususnya di Mesir, tidak pernah bisa lepas dari penggunaan simbol-simbol Islam. Bahkan partai-partai politik di Mesir yang nota bene membawakan ideologi sekuler, seperti Wafd, al-`Amal, dan al-Ahrar [6], juga tidak lepas dari kecenderungan yang sama, suatu hal yang disebut Alexander Flores sebagai oportunisme dan akomodasi yang merupakan gejala umum dalam perpolitikan Mesir kontemporer (Flores 1997:90-92).&lt;br /&gt;Pemanfaatan modal simbolis agama semacam ini tidak terbatas pada arena politik semata, namun juga – sejalan dengan klaim syumuliyyah al-nas yang disuarakan kalangan Islamis ini – mencakup semua bidang kehidupan manusia, termasuk bidang ekonomi dan juga intelektual. Di bidang ekonomi, dalih-dalih agama telah dimanfaatkan secara ekstensif untuk mendukung kebijakan infitah pada masa pemerintahan Anwar Sadat dan terus berlanjut untuk memuluskan kegiatan-kegiatan bisnis dan investasi yang digembar-gemborkan sebagai perekonomian Islam. Inilah salah satu point yang dikritik dengan keras oleh Abu Zayd, apalagi ketika kemudian terbongkar skandal perdagangan gelap dan korupsi yang melibatkan beberapa lembaga keuangan publik yang dimiliki kalangan Islamis ini. Sementara itu di bidang intelektual kalangan ini berupaya untuk terus menerus melakukan pembatasan yang kian ketat terhadap kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat dengan dalih untuk melindungi kemurnian ortodoksi agama. Para pemikir dan intelektual yang berlainan pendapat dengan mereka banyak yang dituduh kafir dan memusuhi agama; jadi halal dibunuh. Sudah barang tentu, hal semacam ini merupakan teror yang amat efektif untuk meredam, bahkan mematikan kreativitas intelektual.&lt;br /&gt;Karena itulah, Abu Zayd memandang bahwa tidak ada perbedaan antara kubu radikal dan moderat dalam kelompok Islamis ini. Perbedaan keduanya hanya menyangkut tingkatan semata dan bukannya bersifat kategoris; yang moderat kurang ekstrem ketimbang yang radikal, dan yang terakhir kurang toleran ketimbang yang pertama (Abu Zayd 1992: 13). Kesamaan ini dapat dilihat dari wacana keduanya yang sama-sama berpijak pada landasan tolak yang identik, yang mengutip Abu Zayd, terdiri dari lima poin sebagai berikut.&lt;br /&gt;Identifikasi antara “pemikiran agama” dan “agama” itu sendiri dan pengabaian jarak antara “subyek” dan “obyek”.&lt;br /&gt;1. Penjelasan segala fenomena dengan mereduksinya pada prinsip pertama atau pada sebab tunggal.&lt;br /&gt;2. Ketergantungan pada tirani “masa lampau” atau “tradisi” (turats), dan ini dengan cara menjadikan teks tradisi sekunder menjadi teks primer yang memiliki kadar kesucian yang dalam banyak kasus tidak kurang sucinya dibanding teks primer yaitu (Qur`an).&lt;br /&gt;3. Kepastian mental dan keyakinan intelektual yang absolut yang menolak untuk mengakui perbedaan pendapat yang sama sekali, kecuali dalam hal yang sepele.&lt;br /&gt;4. Penghindaran atau pengabaian dimensi historis yang termanifestasi pada pengagungan masa lampau yang gemilang yang terwujud pada era keemasan Khalifah Harun Ar-Rasyid atau pada kekhalifaan Daulah Utsmani (Abu Zayd 1992:14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kedua corak gerakan Islamis ini sebenarnya sama-sama merupakan bagian dari gejala otoritarianisme (istibdadiyyah) yang ada di Mesir kontemporer; dalam hal ini otoritarianisme agama. Bersama-sama dengan otoritarianisme negara, otoritarianisme agama ini telah mengancam kemandirian dan kreativitas masyarakat sipil. Di sinilah kritik-kritik yang diajukan Nasr Hamid Abu Zayd mengena tepat pada the most important juncture dari wacana Islam dalam konstelasi sosial-politik kontemporer di Mesir, karena mempersoalkan dengan tajam berbagai interest politik dan ekonomi yang tersembunyi dan mengeram di balik semua produksi wacana Islam.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini kita bisa mengerti mengapa reaksi wacana Islam terhadap tulisan-tulisan Abu Zayd sedemikian keras, bahkan berlebihan, sebagaimana yang terungkap dalam apa yang di media massa Mesir disebut “kasus Abu Zayd” (qadiyah Abu Zayd). Kasus ini dipicu oleh penolakan promosi Nasr Hamid Abu Zayd sebagai profesor penuh pada Fakultas Sastra Universitas Kairo, dengan alasan bahwa karya-karya Abu Zayd telah melanggar ortodoksi Islam menyangkut Qur`an, Nabi, para sahabat Nabi, dan makhluk-makhluk gaib. Lebih jauh, karya-karya Abu Zayd dianggap “telah keluar dari kaidah ilmiah dan menghujat agama”. Pada khutbah Jum`atnya di masjid `Amr ibn `Ash pada tanggal 2 April 1993, Dr.`Abd al-SAbu r Syahin, salah satu anggota kamite yang memeriksa karya-karya Abu Zayd, bahkan dengan tegas-tegas menvonis Abu Zayd sebagai telah kafir alias keluar dari agama Islam.&lt;br /&gt;Vonis Syahin ini tak pelak memicu pertikaian sangat sengit antara kubu Islamis dengan kubu liberal-sekuler yang ada di Mesir. Apalagi ketika sejumlah pengacara yang memiliki hubungan dengan Ikhwan kemudian mengajukan tuntutan hukum ke Pengadilan Tingkat Pertama Giza untuk menceraikan Abu Zayd dari istrinya, Dr.Ibtihal Yunis (yang baru dinikahi Abu Zayd pada bulan April 1992). Kendati Pengadilan Tingkat Pertama menolaknya dengan alasan diluar kewenangan yurisdiksi, lagi pula pihak penggugat tidak meiliki kaitan dengan materi perkara, tapi tuntutan itu akhirnya berhasil digolkan pada Pengadilan Tingkat Banding dan bahkan dikukuhkan oleh Pengadilan Tingkat Kasasi. Keputusan ini memaksa Abu Zayd meninggalakan negerinya dan hijrah ke Belanda untuk mengajar sebagai visiting professor di Leiden University.&lt;br /&gt;Bahwa Abu Zayd harus terusir dari negerinya semata-mata karena pemikiran yang dikemukakannya telah membuktikan kebenaran kata-kata Nasr Hamid Abu Zayd sendiri tentang bahaya yang dapat ditimbulkan oleh manipulasi ideologis terhadap teks-teks agama. Tragisnya, bahaya yang ditengarai oleh Abu Zayd ini dampaknya harus ia tanggung dan alami sendiri.&lt;br /&gt;Metodologi dan Pendekatan&lt;br /&gt;Di tengah konteks wacana keagamaan semacam di atas, Abu Zayd menyadari betul sentralitas teks Qur`an dalam kebudayaan Arab-Islam. Justru di sinilah letak kerawanannya, karena teks Qur`an bisa ditarik-tarik oleh subyek-subyek kepentingan ke berbagai posisi ideologis yang saling bertentangan. Rupanya, dalam kebudayaan ini legitimasi teks Qur`an selalu dijadikan sebagai mekanisme produksi dan reproduksi kultural oleh berbagai arus politik dan intelektual yang berkembnag di dalamnya.&lt;br /&gt;Pemahaman yang semacam ini kemudian mendorong Abu Zayd untuk mencurahkan segenap kepedulian ilmiahnya pada upaya-upaya untuk mencapai pembacaan ilmiah terhadap teks-teks agama. Di sisi lain, ia juga berupaya untuk mengajukan kritisisme yang tajam terhadap berbagai kecenderungan ideologis dalam pembacaan teks-teks tersebut, baik yang dilakukan kalangan Islamis maupun liberal-sekuler. Untuk itulah Abu Zayd berusahan untuk merumuskan konsep tentang tekstualitas Qur`an yang menurutnya dapat mengantarkan pada pemahaman yang obyektif terhadap teks Qur`an, disamping dapat meminimalisisr tendensi ideologis di dalam pembacaan teks tersebut. Dalam hal ini Abu Zayd tampaknya banyak memanfaatkan sumbangan-sumbangan metodologis yang diberikan oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang berkembang di Barat.&lt;br /&gt;Secara umum, ada dua ancangan metodologis yang terutama ditekankan oleh Nasr Hamid Abu Zayd di sini, yaitu kritisisme literer (literary criticism) dan kritisisme historis (historical criticism). Dalam ancangan pertama, Abu Zayd sesungguhnya melanjutkan upaya-upaya pembaruan dalam studi Al-Qur`an yang sudah dirintis oleh Amien Al-Khuli sejak beberapa dasawarsa sebelumnya, tepatnya sejak paroh pertama abad yang baru lampau. Pada waktu itu Amin Al-Khuli sudah menyadari bahwa status tekstualitas Qur`an mestilah menjadi titik tolak dalam pembacaan Qur`an. Amin Al-Khuli mengkritik tajam ketergesaan “mengambil petunjuk” (ihtida`) dari teks Qur`an yang umum terdapat dalam wacana Islam, tanpa terlebih dahulu memahami makna “literal” dari teks itu sebagaimana yang dipahami pada masa pewahyuannya. Menurutnya, hal ini dapat dengan mudah menggelincirkan pembacaan Qur`an ke dalam manipulasi yang bersifat ideologis. Inilah yang kemudian mendorong Amien al-Khuli untuk merumuskan metode baru dalam pembacaan teks Al-Qur`an. Amin Al-Khuli menyebut metode yang digagasnya dengan istilah al-manhaj al-adabi fi al-tafsir (metode literer dalam penafsiran); suatu metode yang berusaha untuk menggAbu ngkan teori-teori dalam disiplin ilmu linguistik ke dalam penafsiran Qur`an (Nur ichwan 1999; 37).&lt;br /&gt;Abu Zayd sepenuhnya mengikuti rintisan ilmiah dari Amin Al-Khuli ini dan mengembangkannya lebih jauh lagi dengan memanfaatkan berbagai pendekatan yang berkembang dalam teori dan kritik sastra modern. Jika Amin Al-Khuli mendulang inspirasi terutama dari khazanah linguistik Arab klasik, maka selain dari khazanah ini Abu Zayd juga banayk memanfaatkan berbagai teori modern yang berkembang di Barat, misalnya yang sering ia kutip adalah teori-teori dari Ferdinand de Saussure, Roman Jakobson, dan sebagainya (Lih. Shihibuddin 1999a:60-63). Abu Zayd percaya bahwa satu-satunya cara untuk memahami dan menafsirkan Qur`an secara “obyektif” adalah dengan menerapkan pendekatan-pendekata literer semacam ini. Menurut Abu Zayd, hanya dengan cara inilah dapat dicapai kesadaran yang ilmiah terhadap teks Qur`an, di samping di sisi lain dapat menghindarkan dari kecenderungan manipulasi atas teks-teks agama untuk tujuan-tujuan yang bersifat ideologis (Abu Zayd 1994: 12 dst).&lt;br /&gt;Aspek lain dimana Abu Zayd melanjutkan rintisan ilmiah dari Amin Al-khuli terletak pada penekanan yang sama kuatnya atas kritisisme historis[7]. Abu Zayd menyadari bahwa metode literer semata tidaklah memadai karena ia hanya dapat memberikan kerangka struktural dari teks tanpa memberikan imbangan yang memadai pada aspek historis dan prosesualnya. Dari Amin Al-Khuli, Abu Zayd telah belajar bahwa dalam pembacaan teks dengan menggunakan metode literer seseorang tidak boleh mengabaikan konteks historis dari teks. Sayangnya, al-Khuli tidak mengembangkan lebih jauh lagi prinsip yang amat mendasar ini. Celah inilah yang pada saatnya kemudian dicoba diisi Nasr Hamid Abu Zayd, juga dengan memanfaatkan berbagai pendapat literer yang berkembang dalam teori dan kritik sastra modern. Melalui pendekatan ini, Abu Zayd kemudian berusaha untuk mengintegrasikan aspek historis teks ini ke dalam konsepsinya tentang tekstualitas Qur`an[8]. Ini menghasilkan beberapa konsep kunci dalam pemikiran hermeneutika Abu Zayd, misalnya tentang historisitas teks Qur`an, dialektika teks Al-Qur`an dengan realitas sosial budayanya, pergerakan semantik (al-tahrik `l-dalali) teks Qur`an menurut pergeseran horison pembacanya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POKOK-POKOK PIKIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, studi al-Qur`an yang dilakukan Nasr Hamid Abu Zayd memiliki dua sasaran utama. Pertama adalah untuk menentukan status tekstualitas al-Qur`an. Dan kedua, untuk menentukan suatu pemahaman yang objektif terhadap pemahaman teks tersebut (lih. Abu Zayd 1994 : 18-19). Kedua tujuan ini, bagi Abu Zayd, merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan; ibarat satu sisi dari sekeping mata uang. Karena itu, dalam metodologi Abu Zayd, teori tentang penafsiran tidaklah terpisahkan dari teori tentang teks, sebaliknya ia justru berlandaskan pada yang terakhir ini. Menurut Abu Zayd, hanya setelah menetukan hakikat suatu teks maka penafsiran atas teks itu baru dapat dilakukan. Semua perangkat metodologis yang dimanfaatkan Abu Zayd seperti yang dipaparkan di atas pada dasarnya adalah upaya Abu Zayd untuk mewujudkan kedua sasaran ini.&lt;br /&gt;Di bawah ini akan dikemukakan tiga pokok pikiran Nasr Abu Zayd yang paling sentral menyangkut isu ini, yaitu, pertama, mengenai hakikat tekstualitas al-Qur`an; kedua, dialektika teks Qur`an dengan realitas sosial budayanya; dan ketiga, pergerakan semantik teks Qur`an.&lt;br /&gt;Qur`an sebagai teks&lt;br /&gt;Dalam sebuah artikelnya The Modernization of Islam or The Islamization of Modernity, Abu Zayd menyatakan bahwa sebelum penafsiran dilakukan “seseorang pertama-tama harus mendefinisikan terlebih dahulu hakikat teks dan menemukan hukum-hukm yang mengatur studi atas teks tersebut. Jadi tidak segala penafsiran dimungkinkan”. Adalah berbahaya menurut Abu Zayd untuk membiarkan teks, apalagi teks agama, terbuka bagi segala penafsiran secara bebas, sebab teks agama, khususnya dalam Islam, memiliki pengaruh yang mendasar pada kehidupan sosio-kultural dan politik. Jika teks agama ini ditarik begitu saja pada kepentingan ideologis si penafsir tanpa menentukan terlebih dahulu hakikat teks itu dan batas-batas makna yang dapat diberikannya, maka teks itu terbuka lebar untuk menjadi sasaran segala bentuk penyalahgunaan ideologis (ideological abuse).&lt;br /&gt;Untuk itu, Abu Zayd berulang kali menggarisbawahi betapa pentingnya memahami status tekstualitas Qur`an. Dengan ini ia memaksudkan agar dalam memahami Al-Qur`an seseorang harus melepaskan semua pandangan legal, teologis dan ideologisnya, dan hanya berpijak pada apa yang diberikan teks itu sendiri sebagai tanda-tanda linguistik. Dalam kaitan ini pendekatan literer menurut Nasr Hamid Abu Zayd sangatlah membantu karena pendekatan itu dapat mengeleminir subyektivitas si penafsir. Dengan merujuk pada pernyataan Amien al-Khuli, Abu Zayd menekankan untuk memahami Qur`an pertama-tama sebagai “kitab berbahasa Arab yang paling agung dan warisan kesusastraan yang abadi”; atau dengan kata lain, sebagai karya sastra yang adiluhung, menejelaskan hal ini Abu Zayd menyatakan,&lt;br /&gt;“Qur`an merupakan karya seni Arab yang paling sakral, baik pengamat melihatnya demikian dalam agama maupun tidak. Maka melakukan studi literer atas Qur`an pada tataran estetisnya ini, tanpa memperlihatkan dimensi keagamaannya …….harus merupakan tujuan pertama dan sasaran puncak yang didahulukan dari tujuan dan sasaran maupun yang lainnya. Barulah setelah tujuan ini terpenuhi seseorang bisa berpijak pada Kitab itu untuk mengambil dan menguti darinya apa yang dikehendakinya, dan mengacunya untuk hal-hal yang disukainya, seperti legislasi, teologi, etika, reformasi masyarakat dan sebagainya. Tetapi tujuan-tujuan sekunder ini tidak bisa terwujud kecuali dengan berpijak pada studi literer yang tepat dan menyeleuruh terhadap satu-satunya Kitab Arab yang agung ini” (Abu Zayd 1994:10; cetak miring dari Sf).&lt;br /&gt;Jadi upaya mendekati Kitab Qur`an berdasarkan status tekstualitasnya berarti memandangnya sebagai teks linguistik yang kedudukannya tidak berbeda dengan teks-teks linguistik lainnya. Bahwa teks itu merujuk pada sumber ilahiah, itu tidaklah berarti mengubah sama sekali status tekstualnya sebagai tanda-tanda linguistik yang tunduk pada hukum-hukum yang mengatur sistem tanda linguistik pada umumnya. Salah satu dari hukum-hukum itu yang ditekankan oleh Nasr Hamid Abu Zayd adalah bahwa teks linguistik tersebut tercakup dalam struktur kebudayaan tertentu dalam mana ia terbentuk mengikuti norma-norma kebahasaan dan kebudayaan yang berlaku didalamnya (Abu Zayd 1992 :197-198).&lt;br /&gt;Abu Zayd juga menandaskan bahwa status tekstualitas Qur`an semacam di atas bahkan diteguhkan oleh teks Qur`an sendiri. Pertama, kata wahyu dalam Qur`an secara semantik sepadan dengan firman Allah (kalam Allah) dan bahwa Qur`an merupakan pesan (message, risalah). Sebagai firman dan pesan, maka Qur`an tak ayal mesti diperlakukan sebagai teks. Kedua, susunan surat dan ayat Qur`an berbeda dari urutan kronologis pewahyuannya semula. Urutan pewahyuan Qur`an (tanjim) mencerminkan historisitas teks Qur`an, sementara struktur dan susunannya saat ini mencerminkan tekstualitasnya. Ketiga, Qur`an mencakup ayat-ayat yang jelas (ayat muhkamat) yang merupakan induk dari teks (umm`l kitab), dan ayat-ayat yang ambigu (ayat mutasyabihat) yang harus dipahami dalam kaitannya dengan yang pertama. Keberadaan dua jenis ayat ini mengharuskan pembaca bukan hanya untuk mengidentifikasikan ayat-ayat untuk yang ambigu, namun juga untuk menentukan mana ayat-ayat yang jelas yang merupakan kunci untuk menerangkan dan menjernihkan ayat-ayat yang ambigu. Karena kejelasan/ ambigusitas merupakan karakteristik tekstualitas Qur`an, maka dengan sendirinya hal itu akan menentukan pula corak penafsirannya (Abu Zayd Ttb; bdk. Nur Ichwan 1999: 54-55).&lt;br /&gt;Penekanan bagi status tekstualitas Al-Qur`an ini mempunyai arti yang amat penting dalam kerangka metodologi yang dicoba-rumuskan Abu Zayd. Sebab, ia dapat menggambarkan hubungan timbal balik antara teks Al-Qur`an dengan realitas sosial-budayanya. Penafsiran teks Qur`an menurut Abu Zayd hanya dapat dilakukan melalui pemahaman atas interaksinya dengan sistem sosial-budayanya karena sistem ini merupakan kerangka penafsiran (marja`at-tafsiar) bagi teks tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialektika Teks Qur`an dengan Sistem Budaya dan Realitasnya&lt;br /&gt;Abu Zayd mengkritik keras kecenderungan pengabaian status tekstualitas Qur`an yang biasa terdapat dalam studi keislaman tradisional. Dalam studi semacam ini penekanan umumnya ditujukan pada pihak pengujar teks (Allah SWT), kemudian pihak penerima pertama teks (Nabi Muhammad SAW), dan setelah itu baru berbicara tentang realitas yang melatari teks tersebut di bawah topik-topik semacam asbab al-nuzul, nasikh-mansukh, Makki-madniy, dan sebagainya. Abu Zayd menyebut metode ini “dialektika menurun”, yaitu dialektika yang menolak dari tataran yang abstrak dan ideal menuju yang konkret dan empiris. Menurutnya, studi semacam ini lebih bercorak spekulatif dan idealistik (untuk tidak mengatakan teologis) hingga sulit untuk dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, disamping mudah terpeleset jadi retorika kosong belaka (Abu Zayd 1994:26).&lt;br /&gt;Sebagai ganti dari kecenderungan spekulatif dan idealistis di atas, Abu Zayd menawarkan metode yang berkebalikan dengannya, yaitu mengkaji teks Qur`an dari titik tolak kenyataan-kenyataan dan aksiomatika-aksiomatika (al-haqa`iq wal-badihiyyat) dan dari sini menuju hal-hal yang masih samar dan belum diketahui. Ini berarti, mengkaji teks itu dari konteks sistem budaya dan kenyataan-kenyataan yang melatarinya yang dapat diketahui melalui telaah kesejarahan (Abu Zayd 1994 :26).&lt;br /&gt;Untuk memulainya, Abu Zayd berusaha menegaskan keterkaitan erat teks Qur`an dengan pertama-tama sistem bahasa dan kemudian dengan sistem kebudayaan yang mendasarinya. Di sinilah Abu Zayd memanfaatkan perangkat teoritik yang dipinjamnya dari de Sausssure, yaitu mengenai pembedaan antara langue dan parole. Mengutip pernyataan Abu Zayd, “pembedaan yang dilakukan ahli bahasa de Sausssure antara langue dan parole barangkali dapat membantu kita di sini untuk menjelaskan antara struktur linguistik suatu teks – khususnya teks-teks yang istimewa – dengan sistem kebahasaan-kultural yang menghasilkannya. Langue ialah sistem tanda bagi suatu kelompok dalam totalitas dan keseluruhan tingkatannya (fonetis, morfologis, gramatikal dan semantis); merupakan khazanah yang diacu oleh setiap orang ketika menyusun ujarannya (parole). Dengan demikian parole ini dalam hubungannya dengan langue mencerminkan aspeknya yang konkret dan spesifik; merupakan sistem parsial – atau medium spesifik – di dalam sistem yang menyeluruh yang tersimpan dalam memori kolektif” (Abu Zayd 1992; 193-194).&lt;br /&gt;Pembedaan di atas oleh Abu Zayd kemudian diterapkan untuk menjelaskan hubungan teks Qur`an dengan sistem bahasanya. Dalam hubungannya ini, teks Qur`an merupakan parole yang terbentuk berdasarkan acuan sistem kebahasaannya (langue), yaitu sistem bahasa Arab di Jazirah Arabia pada Abad VII Masehi, tetapi karena sistem bahasa itu sendiri pada dasarnya merupakan sarana kolektif untuk memahami dunia dan susunannya, teks Qur`an pada gilirannya juga terkait dengan sistem budaya dan realitasnya – sejauh teks ini berada dalam kerangka sistem bahasa yang menampilkan kembali sistem budaya dan realitas tersebut dalam bentuk simbol. Dalam pengertian ini, maka teks Qur`an dapat disebut sebagai “produk budaya” (muntaj tsaqafi) karena teks itu – sebagai pengungkapan individual – lahir dalam kerangka sistem bahasa dan sistem budaya tertentu yang melingkupinya dan ia terbentuk atau menstrukturkan diri menurut acuan sistem bahasa dan sistem kebudayaan tersebut (Abu Zayd 1992; 94; bdk 1994:24). Akan tetapi kedudukan teks Qur`an tidaklah bersifat pasif belaka dalam pengungkapannya terhadap struktur kultural melalui sistem kebahasaannya ini. Sebab, teks itu memiliki vitalitas dan efektivitasnya sendiri yang muncul dari kekhususan struktur linguistiknya. Justru segi inilah (yakni keistimewaan struktur linguistik teks Qur`an) yang menegaskan keunggulan teks Qur`an atas teks-teks lain semasanya, seperti teks-teks persajakan dan perdukunan pra-Islam. Sebab, teks-teks yang terakhir ini tidak cukup jenial untuk mengolah kembali unsur-unsur kebahasaan dan kultural yang semula membentuknya. Ukuran keistimewaan suatu teks menurut Abu Zayd mesti diukur dari seberapa jauh tingkat penggarapan linguistiknya ini, karena itu teks-teks yang Cuma menyalin mentah-mentah realitas, atau sekedar mengulang-ulang apa yang sudah baku dalam sistem kebahasaan, sebenarnya tidaklah pantas disebut teks, mengutip kata-kata Abu Zayd,&lt;br /&gt;“Teks-teks semacam ini sebenarnya bukanlah teks dalam pengertian sebenarnya, melainkan langue dari segi stabilitas dan resistensinya terhadap perubahan. Langue, seperti dikemukakan de Saussure, juga menentang perubahan dan mengupayakan pemantapan, karena ia termasuk gejala sosial yang bersifat kolektif (dhahirah ijtimaiyyah jamaiyyah), akan tetapi parole –yaitu penggarapan individual terhadap langue – adalah yang memperbarui dan mengembangkan sistem bahasa itu . Demikianlah, melalui pembedaannya yang kesohor antara langue dan parole (atau antara aspek sosial dan individual dari sistem bahasa), de Sauusure dapat mencermati beberapa unsur pertarungan ideologis dalam kehidupan sosial yang terwujud pada tataran bahasa. Jadi, di situ terdapat teks-teks yang yang diujarkan oleh langue, ialah teks-teks yang disebut demikian secara kiasan dan gampangan saja. Lalu ada pula teks-teks yang memiliki ujarannya sendiri (parole) yang berusaha ia nyatakan melalui sarana langue` (Abu Zayd 1995;86).&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan tingkat keistimewaan teks Qur`an dan kemampuan penggarapan linguistiknya atas unsur-unsur pembentuknya semula, Abu Zayd mengemukakan serangkaian premis sebagai berikut, Pertama, sebagai premis mayor, diketahui bahwa bahasa teks Qur`an acuannya didasarkan pada sistem bahasa (lisan) Arab secara umum dan pada kerangka penggunaan historisnya di Jazirah Arab pra-Islam secara khusus. Kedua, sebagai premis minornya yang diketahui bahwa teks Qur`an telah menciptakan perubahan semantik pada sejumlah kata, yaitu dari makna linguistik-leksikalnya dalam lisan (sistem bahasa Arab) kepada makna baru yang disebut makna syar`i. Ini semisal kata-kata shalat, zakat dan shaum yang oleh Qur`an dilampaui makna linguistiknya (yang berarti do`a, pertumbuhan dan pertambahan, pencegahan diri) untuk menunjukkan syiar-syiar dan kewajiban-kewajiban ritual (Abu Zayd 1995: 214-16; juga Shohibuddin 1999b). Dari kedua premis mayor dan minor di atas Abu Zayd kemudian sampai pada kesimpulan bahwa teks Qur`an, kendati lahir dari rahim sistem bahasa dan budaya yang melingkupinya, telah menciptakan pula medium kebahasaannya yang khas yang mampu mengkonstruksikan ulang unsur-unsur sistem tandanya yang semula ke dalam bentuk yang sama sekali baru. Dan ini dilakukan bukan hanya pada transformasi tataran semantiknya semata, kendati hal ini tidak kurang pula pentingnya, melainkan transformasi sistem bahasa itu sendiri secara keseluruhan “mulai dari level fonetis, morfologis, leksikal, hingga sampai pada pembentukan struktur gramatikal dan semantiknya yang sendiri” (Abu Zayd 1995: 216).&lt;br /&gt;Melalui transformasi kebahasaan ini teks Qur`an sekaligus menciptakan perombakan pada struktur kebudayaannya, yaitu melalui perubahan struktur kesadaran baru yang terejawantahkan lewat konsep-konsep kebahasaannya. Sperti dinyatakan Abu Zayd, bahasa sebagai sistem tanda merupakan sistem yang mengungkapkan segala aspek kebudayaan manusia, termasuk didalamnya pandangan manusia atas dunianya, maka perombakan yang mendasar pada sistem kebahasaan ini pada gilirannya akan menciptakan perubahan yang radikal pula pada struktur kebudayaan dan pandangan dunia pemakai bahasa tersebut (Abu Zayd 1995 : 80-81). Dan ini rupanya juga disadari oleh masyarakat Arab yang hidup pada saat pewahyuan Al-Qur`an. Mereka ini tidaklah menolak fenomena wahyu itu sendiri, sebab mereka mendapatkan pedanannya pada fenomena persajakan dan perdukunan. Akan tetapi penentangan mereka lebih tertuju pada kandungan wahyu itu sendiri ataupun pada pihak yang membawanya.&lt;br /&gt;“Masyarakat pra Islam (jahiliyyah) tampaknya lebih memahami karakter, fungsi dan tujuan teks Qur`an dibandingkan dengan mayoritas kaum agamawan saat ini yang cenderung memecah-mecah teks. Jadi perlawanan yang digalang oleh masyarakat Arab terhadap teks Qur`an sebenarnya adalah perlawanan terhadap kenyataan baru yang diciptakan teks itu pada struktur kebahasaannya untuk pertama kali. Maka ketika mereka menjuluki Muhammad sebagai seorang penyihir, tukang sihir atau dukun, mereka sebenarnya tengah berupaya untuk mengembalikan teks yang baru itu ke dalam kerangka teks-teks yang sudah dikenal sebelumnya, dan di sisi lain untuk “membingkai” seruan dan pesan teks itu ke dalam kerangka fungsi-fungsi sosial dari fenomena perdukunan dan persajakan yang ada dalam realitas saat itu` (Abu Zayd 1994: 141).&lt;br /&gt;Upaya sementara masyarakat Arab itu, seperti diketahui, ternyata gagal. Dan sunnguhpun mereka dengan gigih telah berupaya untuk “memerangkap” teks Qur`an ke dalam acuan tradisi kebahasaan dan kebudayaan yang berlaku saat itu (yaitu teks dan budaya persajakan dan perdukunan), tetapi teks Qur`an terbukti jauh lebih unggul dan bahkan mampu merombak tradisi teks dan budaya itu. Pada tahap ini, teks Qur`an yang semula merupakan “produk budaya” (muntaj tsaqafi) itu kini berubah menjadi “produsen kebudayaan” (muntij tsaqafi). Tetapi Abu Zayd juga mengingatkan bahwa kedua tahapan teks Qur`an ini tidaklah dalam pengertian tahapan yang bersifat kronologis. Sebaliknya keduanya merupakan dua aspek yang saling terkait satu sama lain sebagai bentuk dialektika teks Qur`an dengan realitas sosial-budayanya. Hal ini sebagaimana yang diringkaskan oleh Abu Zayd sebagai berikut ini,&lt;br /&gt;“Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa teks-teks agama bertautan dengan realitas kebahasaan dan kebudayaannya, lalu ia terbentuk (tasyakkul) di dalamnya satu sisi, dan disisi lain menciptakan medium sendiri yang khas yang dengannya ia balik membentuk (tasykil) bahasa dan budayanya tadi. Lalu ada pula wilayah persinggungan diantara kedua sisi tadi yang memungkinkan teks-teks tersebut mampu menjalankan fungsinya dalam struktur kebudayaan pada masa pembentukan teks, artinya yang menjadikan teks-teks itu sebagai penanda yang terpahami oleh masyarakat yang hidup pada masa pembentukannya. Inilah wilayah yang berisikan tanda-tanda yang mengacu langsung pada realitas dan sejarah semasanya. Akhirnya, diluar wilayah persinggungan ini terdapat tanda-tanda yang terbuka dan dapat menerima pembaruan terus menerus sejalan dengan perubahan horison pembacaan yang tergantung pada perkembangan realitas bahasa dan kebudayaannya” (Abu Zayd 1992: 194).&lt;br /&gt;Dari kutipan itu terlihat bahwa teks Qur`an pada waktu yang bersamaan dibentuk oleh sekaligus membentuk realitas sosial-kebudayaannya. Tapi sementara itu, ia tidak bisa melampaui wialyah persinggungan kedua aspek ini karena jika ia melakukannya maka ia menjadi teks yang tak terpahami. Sebagai ilustrasi, teks Qur`an mempunyai visi pembebasan wanita, termasuk dalam hal kesamaan hak waris. Tetapi dalam mewujudkan visi ini, ia tidak bisa terlepas sama sekali dari berbagai hambatan sosial, budaya, ekonomi, dan politik pada masanya. Jika ia mengabaikan batasan-batasan ini, maka teks itu menjadi “tidak terpahami” alias tidak relevan atau tidak kontekstual dalam setting historisnya sendiri. Tetapi terlepas dari batasan-batasan temporer itu ada “makna”, ada significance, yang dapat ditarik daripadanya, yaitu visi tentang kesamaan wanita secara total yang mesti diwujudkan jika hambatan-hambatan tadi sudah tidak dijumpai lagi. Inilah yang disebut Abu Zayd sebagai al-maskut `anhu, segi yang “didiamkan” atau tak dinyatakan secara eksplisit dalam teks tapi yang merupakan konsekuensi dari pergerakan maknanya yang tak terelakkan. Poin yang terakhir ini mengantarkan pada pokok pikiran Abu Zayd lain yang juga penting, yaitu tentang pergerakan pengertian teks Qur`an.&lt;br /&gt;Pergerakan Pengertian Teks Qur`an&lt;br /&gt;Pergerakan pengertian teks Qur`an ini mencerminkan teori penafsiran Abu Zayd yang ia rumuskan berdasarkan konsepsi teks yang ia rmuskan sebelumnya. Ada dua hal yang ingin dicapai Abu Zayd dari teori penafsiran ini, ialah mencapai pemahaman yang obyektif atas teks disatu sisi dan upaya menghindar dari kecondongan ideologis di sisi yang lain.&lt;br /&gt;Menurut Abu Zayd, kecondongan ideologis (ideological inclination) dalam pembacaan teks terjadi ketika seseorang menarik teks begitu saja ke dalam horison masa kini, tanpa menentukan terlebih dahulu pengertian asal dari teks itu atau batas-batas makna yang dapat diberikannya. Ia menyebut pembacaan semacam ini sebagai pembacaan tendensius (qira`ah al-mughridah) karena ia memproyaksikan ke dalam teks itu keprihatinan-keprihatinan kontemporer pembacanya tanpa memperhitungkan terlebih dulu kapasitas “determinasi tekstual” dari teks itu sendiri (Abu Zayd 1992; 113)&lt;br /&gt;Untuk menghindari kecenderungan ideologisasi teks semacam ini maka Abu Zayd melontarkan dua aspek yang harus diperhatikan dalam pembacaan teks.&lt;br /&gt;“Aspek pertama ini adalah aspek historis dalam pengertian sosiologis untuk menempatkan teks dalam konteksnya semula demi memperoleh pengertian yang asli dari teks itu. Termasuk ke dalam aspek ini adalah konteks historis dan, sudah barang tentu, konteks kebahasaan yang spesifik dari teks tersebut. Aspek yang kedua adalah konteks sosio-kultural masa kini yang merupakan landasan yang mendorong untuk melakukan penafsiran – atau tepatnya penafsiran ulang – terhadap teks tersebut” (Abu Zayd 1992 114).&lt;br /&gt;Kedua aspek yang dikemukakan diatas ini mewakili dua kutub pembacaan yang, kendati tidak terpisahkan, secara metodologis harus dipilahkan. Sebab tanpa itu, batas antara masa lampau dan masa kini menjadi lebur dan teks dengan mudah bisa ditundukkan pada prefensi subyektif pihak pembaca tanpa mengindahkan segi obyektifitas yang termuat dalam teks itu sendiri. Keharusan yang serupa juga berlaku dalam pemilahan antara “arti” (dilalah, meaning) teks dan “makna” (magza`, significance) teks. Yang pertama mencerminkan segi historis teks pada konteksnya semula, sedangkan yang kedua mencerminkan segi kontekstual teks pada konteks pembacaannya saat ini (Abu Zayd 1992:115).&lt;br /&gt;Menurut Abu Zayd, gerak pembaca justru harus bermula dari penentuan “arti” teks, yaitu pengertian asli dari teks pada konteks historisnya sendiri. Pengertian teks pada tataran ini harus dicari pada interaksi teks dengan sistem bahasa dan budaya yang melatarinya dalam kedua fasenya yang disebutkan di muka, ialah pada fase saat teks itu menjadi produk sekaligus produsen kebudayaan. Abu Zayd berkeyakinan bahwa penentuan “arti” teks semacam ini memilki arti yang penting dalam gerak pembacaan teks secara keseluruhan. Sebab, ia dapat memberikan landasan obyektivitas pemahaman yang melaluinya arah “baru" pesan sebuah teks dapat dideteksi. Arah inilah yang akan menfasilitasi pergerakan dari “arti” ke “makna” teks kedalam konteks sosio-kultural masa kini. Di sisi lain, ia juga memungkinkan pembaca untuk dapat menentukan secara tepat dan efisien segi “historis” dan “temporal” teks yang tidak bermakna dalam konteks yang sekarang (Abu Zayd Ttb).&lt;br /&gt;Mengambil lagi kasus hak waris, maka “makna” kesetaraan hak waris perempuan justru diperoleh setelah memperhatikan interaksi teks Qur`an dengan konteks sosial dan budayanya semula. Barulah di situ bisa dideteksi visi teks lebih mendasar yang merupakan arah pesan teks, ialah pembelaannya atas kesetaraan hak wanita secara penuh termasuk dalam hal waris. Sementara formulasi teks yang secara literal mendiskriminasikan hak kaum wanita dipandang sebagai bentuk kompromi teks tersebut terhadap paksaan-paksaan kondisi sosial dan budaya saat itu, yang menjadi tidak bermakna lagi ketika kondisi itu telah berubah pada konteks yang ada dan berlaku saat ini.&lt;br /&gt;Kenyataan bahwa “makna” kontemporer teks hanya dapat ditarik berdasarkan “arti” teks dalam interaksinya dengan realitas sosial-budayanya ini membuktikan kebenaran Abu Zayd, bahwa penafsiran adalah segi yang tak terpisahkan dari konsepsi. Hanyalah setelah memahami status tekstualitas Qur`an maka penafsirannya dapat dilakukan. Dalam bahasa Abu Zayd (Ttb), “dengan mengawakodekan teks Qur`an dalam sinaran konteks linguistik, kultural dan historisnya, maka ia dapat dikodekan ulang kedalam sistem kode dari konteks linguistik dan kultural si penafsir”. Inilah yang ia sebut sebagai keistimewaan tekstual (textual pecualiarity). Yaitu keterbukaan teks pada proses pengawakodean terus-menerus seiring dengan perubahan sosio-kulturalnya. Ini memungkinkannya untuk menjadi open text yang dapat berdialog dan diaktualisasikan dengan berbagai setting sosial dan budaya, yang pada gilirannya hal ini akan terus dapat menghasilkan “makna” baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam struktur teks itu sendiri.&lt;br /&gt;Demikianlah, dengan pembedaan antara aspek historis teks dengan konteks sosio-kultural pembacaan disatu sisi, dan sejajar dengan ini pembedaan antara “arti” dan “makna”, maka penafsiran yang valid dan onyektif terhadap teks dapat dilakukan. Penafsiran memang akan terus berbeda-beda sepanjang masa, tetapi ia tidak perlu menjadi penafsiran yang ideologis atau bersifat “semau gue” selama tetap berlandaskan pada poros pengertian teks yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan penutup&lt;br /&gt;Dengan perumusan konsep tekstualitas Qur`an semacam diatas, Abu Zayd pada dasarnya tengah mengusulkan suatu model pembacaan yang ilmiah terhadap teks-teks agama. Agenda semacam ini mendorongnya untuk mencari pijakan teoritis yang memungkinkan pembaca untuk dapat berbuat adil baik terhadap tuntutan determinasi historisnya sendiri maupun terhadap determinasi tekstual dari teks yang dibacanya. Dari sini suatu hermeneutika yang bercorak obyektif menjadi sebuah keniscayaan karena ia memungkinkan pergerakan ganda dari masa kini ke masa lampau dan dari sana balik lagi ke masa kini. Gerak bolak-balik ini dimungkinkan oleh adanya dimensi ganda dari setiap teks –dimensi historis dan dimensi kontekstual- sehingga pergerakan dari “arti” historis teks ke “makna” kontekstualnya menjadi mungkin.&lt;br /&gt;Abu Zayd percaya bahwa dengan kerang teoritis semacam ini pembacaan yang ilmiah atas teks agama menjadi mungkin. Dengan ini ia maksudkan sebagai pembacaan obyektif yang sebisa mungkin menyadari dan meminimalisir muatan-muatan subyektif yang dapat turut membonceng selama proses pembacaan. Bagaimanapun, subyektivitas dalam pembacaan tidak mungkin dihindari sama sekali. Apa yang perlu dilakukan adalah menyadari muatan subyektif itu sekritis mungkin sehingga teks tidak menjadi saluran yang pasif belaka bagi makna yang telah tertentukan sebelumnya. Kritisisme semacam ini – suatu religius criticism – juga diperlukan agar bisa selalu disadari jarak yang memisahkan antara suatu teks dan penafsirannya. Dengan menyadari jarak ini maka dapat dihindarkan kecenderungan pemutlakan dalam wacana agama di satu sisi, sementara di sisi yang lain bisa ditumbuhkan semacam relativisme internal tertentu dalam kehidupan keberagamaan manusia.&lt;br /&gt;Dengan wawasan semacam ini maka kehidupan agama juga bisa belajar dari aspek-aspek kehidupan manusia lainnya. Dalam praktiknya, agama tidak pernah menjadi acuan tunggal. Karena selalu terlibat dalam jaringan sosial yang lebih luas dalam suatu hubungan yang bersifat timbal-balik. Ini terutama relevan dalam konteks sosial politik Mesir di mana agama terlibat didalamnya dengan sangat intens. Keterlibatan agama itu tidak bisa dan tidak boleh lagi secara sederhana sebagai persoalan agama yang harus direspon secara teologis pula. Melainkan merupakan praktik-praktik manusiawi pada umunya yang melibatkan subyek-subyek sosial yang tidak “immun” dari berbagai interes tertentu terlepas dari jargon keagamaan yang disuarakannya.&lt;br /&gt;Di atas segalanya, dengan konsesinya di atas Nasr Hamid Abu Zayd sebenarnya tengah mengadvokasikan suatu corak keagamaan yang rendah hati; suatu kesadaran bahwa dalam beragamapun subyeknya tetaplah menusia biasa yang bisa salah. (Ditulis oleh Siti Faizah)***&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;Uraian biografi selanjutnya sebagian besar mengacu pada Moch. Nur Ichwan, kandidat Doktor kelahiran Ponorogo ini, kecuali jika disebut lain.&lt;br /&gt;2 Kelompok ini semula bekerja sama dengan Gamal Abdul Nasser dalam “Gerakan Perwira Bebas” untuk menumbangkan pemerintahan regime sebelumnya. Tetapi setelah gerakan itu berhasil, keduanya bersimpang jalan dan kelompok Ikhwan akhirnya berdiri pada pihak yang beroposisi yang semakin lama mengambil bentuk yang semakin keras. Sebagai reaksinya, regime Gamal Abdul Nasser juga mengambil tindakan keras dengan menindas gerakan Ikhwan ini dan memenjarakan tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;3 Keengganan ini menurut pengakuan Abu Zayd didasarkan pada peristiwa 25 tahun sebelumnya ketika disertasi Ahmad Khalafullah pada jurusan yang sama (tentang seni narasi dalam Al-qur`an) ditolak dan pembimbingnya, Prof. Amien Al-Khuli dilarang mengajar. Ketika itu pihak Universitas menganggap bahwa penggunaan pendekatan kesusastraan (literer) seperti dilakukan Khalafullah tidak layak diterapkan pada kitab suci Qur`an, Abu Zayd merasa cemas bahwa peristiwa yang serupa dapat terulang pada dirinya jika ia melakukan hal yang sama dalam studi Qur`an (lih. Abu Zayd 1996: 31).&lt;br /&gt;4 Diterbitkan pada tahun 1982 di bawah judul al-ittijah al-`aqli fi-al-tafsir: Dirasah fi Qadiyah `l-majaz fi `l Qur`an `inda `l-Mu`tazilah (tren penafsiran rasional : studi tentang persoalan metafor dalam Qur`an menurut Mu`tazilah).&lt;br /&gt;5 Diterbitkan pada tahun1993 dengan judul Falsafah al-Ta`wi: Dirasah fi Ta`wil al-Qur`an `inda Muhyiddin ibnu al-Arabi (Filsafat Ta`wil: Studi tentang Hermeneutika Qur`an menurut Muhyiddin ibnu `Arabi).&lt;br /&gt;6 Sejak berlangsungnya pemilu 1982, partai-partai ini bahkan ikut-ikutan mencantumkan isu pemberlakuan hukum Islam dalam platform partainya, bahkan menjalin koalisi dengan kelompok Ikhwan al-Muslimun.&lt;br /&gt;7 Karena itu, Nasr Abu Zayd mengkritik ibnu al-Syati` yang sementara mengikuti metode kritisisme literer yang dikemukakan Amin al-Khuli (suaminya sendiri), namun tidak menerapkan metode kritisisme historisnya. Ini membuat kedudukan ibnu al-Syati` lebih dekat pada posisi yang cenderung bersifat konservatif dan anti-modernis.&lt;br /&gt;8 Di sini disebutkan bahwa model komunikasi bahasa dari RomanJakobson membantu Abu Zayd untuk mengintegrasikan aspek historis teks kedalam konsepsinya tentang tekstualitas Qur`an (lih. Shobibuddin 1999c: 4-5; bdk. Abu Zayd 1994: 25).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-5260934444091900771?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/5260934444091900771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=5260934444091900771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/5260934444091900771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/5260934444091900771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/nasr-hamid-abu-zayd.html' title='Nasr Hamid Abu Zayd'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-6762087470771295607</id><published>2008-07-27T11:35:00.002-07:00</published><updated>2008-07-27T11:36:46.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>NAPOLEON BONAPARTE 1769-1821</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jendral dan Kaisar Perancis yang tenar, Napoleon I, keluar dari rahim ibunya di Ajaccio, Corsica, tahun 1769. Nama aslinya Napoleon Bonaparte. Corsica masuk wilayah kekuasaan Perancis cuma lima belas bulan sebelum Napoleon lahir, dan pada saat-saat remajanya Napoleon seorang nasionalis Corsica yang menganggap Perancis itu penindas. Tetapi, Napoleon dikirim masuk akademi militer di Perancis dan tatkala dia tamat tahun 1785 pada umur lima belas tahun dia jadi tentara Perancis berpangkat letnan.&lt;br /&gt;Empat tahun kemudian Revolusi Perancis meledak dan dalam beberapa tahun pemerintah baru Perancis terlibat perang dengan beberapa negara asing. Kesempatan pertama Napoleon menampakkan kebolehannya adalah di tahun 1793, dalam pertempuran di Toulon (Perancis merebut kembali kota itu dari tangan Inggris), tempat Napoleon bertugas di kesatuan artileri. Pada saat itu dia sudah tidak lagi berpegang pada paham nasionalis Corsicanya, melainkan sudah menganggap diri orang Perancis. Sukses-sukses yang diperolehnya di Toulon mengangkat dirinya jadi brigjen dan pada tahun 1796 dia diberi beban tanggung jawab jadi komando tentara Perancis di Itali. Di negeri itu, antara tahun 1796-1797, Napoleon berhasil pula merebut serentetan kemenangan yang membuatnya seorang pahlawan tatkala kembali ke Perancis.&lt;br /&gt;Di tahun 1798 ia memimpin penyerbuan Perancis ke Mesir. Langkah ini ternyata merupakan malapetaka. Di darat, umumnya pasukan Napoleon berhasil, tetapi Angkatan Laut Inggris di bawah pimpinan Lord Nelson dengan mantap mengobrak-abrik armada Perancis, dan di tahun 1799 Napoleon meninggalkan pasukannya di Mesir dan pulang ke Perancis.&lt;br /&gt;Begitu sampai di Perancis, Napoleon yang jeli itu dapat berkesimpulan bahwa rakyat Perancis lebih terkenang dengan kemenangan-kemenangannya di Itali ketimbang kegagalan ekspedisi Perancis ke Mesir. Berpegang pada fakta ini, hanya sebulan sesudah dia menginjak bumi Perancis, Napoleon ambil bagian dalam perebutan kekuasaan bersama Albe Sieyes dan lain-lainnya. Kup ini melahirkan sebuah pemerintah baru yang disebut "Consulate" dan Napoleon menjadi Konsul pertama. Kendati konstitusi sudah disusun dengan cermat dan diterima lewat persetujuan plebisit rakyat, ini cuma kedok belaka untuk menutupi kediktatoran militer Napoleon yang dengan segera mampu menyikut dan melumpuhkan lawan-lawannya.&lt;br /&gt;Naiknya Napoleon ke tahta kekuasaan betul-betul menakjubkan. Tepatnya di bulan Agustus 1793, sebelum pertempuran Toulon, Napoleon samasekali tidak dikenal orang. Dia tak lebih dari seorang perwira rendah berumur dua puluh empat tahun dan bukan sepenuhnya orang Perancis. Tetapi, kurang dari enam tahun kemudian --masih dalam usia tiga puluh tahun-- sudah menjelma jadi penguasa Perancis yang tak bisa dibantah lagi, posisi yang digenggamnya selama lebih dari empat belas tahun.&lt;br /&gt;Di masa tahun-tahun kekuasaannya, Napoleon melakukan perombakan besar-besaran dalam sistem administrasi pemerintahan serta hukum Perancis. Misalnya, dia merombak struktur keuangan dan kehakiman, dia mendirikan Bank Perancis dan Universitas Perancis, serta menyentralisir administrasi. Meskipun tiap perubahan ini punya makna penting, dan dalam beberapa hal punya daya pengaruh jangka lama khususnya untuk Perancis, tidaklah punya pengaruh yang berarti buat negeri lain.&lt;br /&gt;Tetapi salah satu perombakan yang dilakukan oleh Napoleon punya daya pengaruh yang melampaui batas negeri Perancis sendiri. Yaitu, penyusunan apa yang termasyhur dengan sebutan Code Napoleon. Dalam banyak hal, code ini mencerminkan ide-ide Revolusi Perancis. Misalnya, di bawah code ini tidak ada hak-hak istimewa berdasar kelahiran dan asal-usul, semua orang sama derajat di mata hukum. Berbarengan dengan itu code tersebut cukup mendekati hukum-hukum lama dan adat kebiasaan Perancis sehingga diterima oleh rakyat Perancis dan sistem pengadilannya. Secara umum, code itu moderat, terorganisir rapi dan ditulis dengan ringkas, jelas, serta dapat diterima, tambahan pula mudah difahami. Akibatnya, code ini tidak hanya berlaku di Perancis (hukum perdata Perancis yang berlaku sekarang hampir mirip dengan Code Napoleon itu) tetapi juga diterima pula di negeri-negeri lain dengan perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan keperluan setempat.&lt;br /&gt;Politik Napoleon senantiasa menumbuhkan keyakinan bahwa dialah seorang yang membela Revolusi Perancis. Tetapi, di tahun 1804 dia sendiri pula yang memperoklamirkan diri selaku Kaisar Perancis. Tambahan lagi, dia mengangkat tiga saudaranya keatas tahta kerajaan di beberapa negara Eropa. Langkah ini tidak bisa tidak menumbuhkan rasa tidak senang pada sebagian orang-orang Republik Perancis yang menganggap tingkah itu sepenuhnya merupakan pengkhianatan terhadap ide-ide dan tujuan Revolusi Perancis. Tetapi, kesulitan utama yang dihadapi Napoleon adalah peperangan dengan negara-negara asing.&lt;br /&gt;Di tahun 1802, di Amiens, Napoleon menandatangani perjanjian damai dengan Inggris. Ini memberi angin lega kepada Perancis yang dalam tempo sepuluh tahun terus-menerus berada dalam suasana perang. Tetapi, di tahun berikutnya perjanjian damai itu putus dan peperangan lama dengan Inggris dan sekutunya pun mulai lagi. Walaupun pasukan Napoleon berulang kali memenangkan pertempuran di daratan, Inggris tidak bisa dikalahkan kalau saja armada lautnya tak terlumpuhkan. Malangnya untuk Napoleon, dalam pertempuran yang musykil di Trafalgar tahun 1805, armada laut Inggris merebut kemenangan besar. Karena itu, pengawasan dan keampuhan Inggris di lautan tidaklah perlu diragukan lagi. Meskipun kemenangan besar Napoleon (di Austerlitz melawan Austria dan Rusia) terjadi enam minggu sesudah Trafalgar, hal ini sama sekali tidak bisa menghapus kepahitan kekalahan di sektor armada laut.&lt;br /&gt;Di tahun 1808 Napoleon perbuat ketololan besar melibatkan Perancis ke dalam peperangan yang panjang dan tak menentu ujung pangkalnya di Semenanjung Iberia, tempat tentara Perancis tertancap tak bergerak selama bertahun-tahun. Tetapi, kekeliruan terbesar Napoleon adalah serangannya terhadap Rusia. Di tahun 1807 Napoleon bertemu muka dengan Czar, dan dalam perjanjian Tilsit mereka bersepakat menggalang persahabatan abadi. Tetapi, persepakatan dan persekutuan itu lambat laun rusak, dan di tahun 1812 bulan Juni Napoleon memimpin tentara raksasa menginjak-injak bumi Rusia.&lt;br /&gt;Hasil dari perbuatan ini sudah sama diketahui. Tentara Rusia umumnya menghindar dari pertempuran langsung berhadapan dengan tentara Napoleon, karena itu Napoleon dapat maju dengan cepatnya. Di bulan September Napoleon menduduki Moskow. Tetapi, orang Rusia membumihanguskan kota itu dan sebagian besar rata dengan tanah. Sesudah menunggu lima minggu di Moskow (dengan harapan sia-sia Rusia akan menawarkan perdamaian), Napoleon akhirnya memutuskan mundur, tetapi keputusan ini sudah terlambat. Gabungan antara pukulan tentara Rusia dan musim dingin yang kejam, tak memadainya suplai pasukan Perancis mengakibatkan gerakan mundur itu menjadi gerakan mundur yang morat-marit. Kurang dari sepuluh persen tentara raksasa Perancis bisa keluar dari bumi Rusia hidup-hidup.&lt;br /&gt;Negara-negara Eropa lain, seperti Austria dan Prusia, sadar benar mereka punya kesempatan baik menghajar Perancis. Mereka menggabungkan semua kekuatan menghadapi Napoleon,dan pada saat pertempuran di Leipzig bulan Oktober 1813, Napoleon kembali mendapat pukulan pahit hingga sempoyongan. Tahun berikutnya dia berhenti dan dibuang ke Pulau Elba, sebuah pulau kecil di lepas pantai Itali.&lt;br /&gt;Di tahun 1815 dia melarikan diri dari Pulau Elba, kembali ke Perancis, disambut baik dan kembali berkuasa. Kekuatan-kekuatan Eropa segera memaklumkan perang dan seratus hari sehabis duduknya lagi ia di tahta kekuasaan, Napoleon mengalami kekalahan yang mematikan di Waterloo.&lt;br /&gt;Sesudah Waterloo, Napoleon dipenjara oleh orang Inggris di St. Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudera Atlantik. Di sinilah dia menghembuskan nafasnya yang terakhir tahun 1821 akibat serangan kanker.&lt;br /&gt;Karier militer Napoleon menyuguhkan paradoks yang menarik. Kegeniusan gerakan taktiknya amat memukau, dan bila diukur dari segi itu semata, bisa jadi dia bisa dianggap seorang jendral terbesar sepanjang jaman. Tetapi di bidang strategi dasar dia merosot akibat bikin kekeliruan-kekeliruan besar, seperti misalnya penyerbuan ke Mesir dan Rusia. Kesalahan strateginya begitu bego sehingga Napoleon tak layak dijuluki pemimpin militer kelas wahid. Apakah anggapan kedua ini tidak adil? Saya kira tidak. Sesungguhnya, ukuran kebesaran seorang jendral terletak pada kemampuannya mengelak dari berbuat kesalahan-kesalahan yang menuntun kearah kehancuran. Hal semacam itu tak terjadi pada diri Alexander Yang Agung, Jengis Khan dan Tamerlane yang tentaranya tak pernah terkalahkan. Berhubung Napoleon pada akhirnya dapat dikalahkan di tahun 1815, Perancis memiliki daerah lebih kecil ketimbang yang pernah dipunyainya di tahun 1879, saat pecahnya Revolusi.&lt;br /&gt;Napoleon tentu saja seorang "egomaniac" dan sering dianggap semodel dengan Hitler. Tetapi, ada perbedaan yang ruwet diantara keduanya. Jika Hitler bertindak sebagian terbesarnya atas dorongan ideologi yang tersembunyi, Napoleon semata-mata terdorong oleh ambisi yang oportunistis dan dia tak punya selera melakukan penjagalan besar dan gila-gilaan. Dalam masa pemerintahan Napoleon, tidak terdapat semacam kamp konsentrasi seperti yang dipunyai Hitler.&lt;br /&gt;Teramat masyhurnya nama Napoleon amat mudah menjebak orang menganggap dia itu berpengaruh besar secara berlebih-lebihan. Masa pengaruh jangka pendeknya memang besar, mungkin lebih besar dari Alexander Yang Agung walaupun tidak sebesar Hitler. (Menurut taksiran, sekitar 500.000 tentara Perancis mati dalam perang Napoleon, sedang sekitar 800.000 orang Jerman tewas selama Perang Dunia ke-2). Dengan ukuran apa pun, perbuatan pengrusakan Napoleon lebih sedikit ketimbang apa yang diperbuat Hitler.&lt;br /&gt;Dalam kaitan pengaruh jangka panjang, tampaknya Napoleon lebih penting ketimbang Hitler, meski lebih kurang penting dibanding Alexander Yang Agung. Napoleon melakukan perubahan luas dalam tata administrasi Perancis, tetapi penduduk Perancis cuma satu per tujuh puluh penduduk dunia. Dalam tiap kejadian, perubahan administratif macam itu harus ditinjau dari sudut perspektif yang sewajarnya. Pengaruhnya terhadap orang Perancis jauh lebih sedikit ketimbang perubahan-perubahan sejumlah kemajuan teknologi dalam masa dua abad belakangan ini.&lt;br /&gt;Banyak orang bilang, masa Napoleon menyediakan peluang bagi perubahan-perubahan bagi terkonsolidasinya dan semakin mapannya kaum borjuais Perancis. Di tahun 1815, tatkala monarki Perancis akhirnya tersusun kembali, perubahan-perubahan ini ditopang dan dilindungi begitu baiknya sehingga kemungkinan bisa kembalinya pola-pola sosial orde lama suatu hal yang sepenuhnya mustahil. Tetapi, perubahan terpenting sebetulnya terjadi dan tersusun sebelum Napoleon. Pada tahun 1799 ketika Napoleon memegang kendali pemerintahan mungkin setiap jalan ke arah kembalinya ke masa status quo sudah terlambat. Tetapi, lepas dari ambisi Napoleon sendiri yang keraja-rajaan, dia memang pegang peranan penting menyebarnya ide revolusi ke seluruh Eropa.&lt;br /&gt;Napoleon juga membawa akibat timbulnya pengaruh-pengaruh luas dan besar dalam revolusi Amerika Latin. Penyerbuannya ke Spanyol melemahkan pemerintahan Spanyol sehingga cengkraman kolonialnya di daerah-daerah jajahannya juga dengan sendirinya melonggar dan tidak efektif. Dalam situasi de facto otonomi inilah gerakan-gerakan kemerdekaan Amerika Latin mulai meletus.&lt;br /&gt;Napoleon di pertempuran Waterloo.&lt;br /&gt;Dari semua langkah perbuatan Napoleon, yang paling penting dan paling punya pengaruh berjangka panjang justru yang berada di luar rencananya dan tidak ada sangkut pautnya dengan rencana Napoleon sendiri.&lt;br /&gt;Di tahun 1803, Napoleon menjual daerah luas kepada Amerika Serikat. Dia tahu, milik Perancis di Amerika Utara sulit dilindungi menghadapi serangan-serangan Inggris. Selain itu, dia juga perlu duit, penjualan tanah Louisiana itu mungkin merupakan jual-beli tanah secara damai yang terbesar dalam sejarah sekaligus mengubah Amerika Serikat menjadi suatu negara yang berukuran benua. Sukar dibayangkan apa bentuknya Amerika Serikat tanpa Louisiana ini. Pasti akan merupakan negeri yang samasekali berbeda dengan apa yang kita kenal sekarang. Dan pula layak diragukan Amerika Serikat bisa menjadi negeri kuat tanpa jual-beli Louisiana ini.&lt;br /&gt;Napoleon, tentu saja, bukanlah satu-satunya orang yang berperanan dan bertanggung jawab atas penjualan ini. Pemerintah Amerika jelas pegang peranan pula. Tetapi, penawaran Perancis menjual Louisiana diputuskan dalam perundingan oleh satu orang. Dan orang itu Napoleon Bonaparte.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-6762087470771295607?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/6762087470771295607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=6762087470771295607' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/6762087470771295607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/6762087470771295607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/napoleon-bonaparte-1769-1821.html' title='NAPOLEON BONAPARTE 1769-1821'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-7224727744435638193</id><published>2008-07-27T11:35:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T11:35:36.480-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>NABI MUSA ± ABAD KE-13 SM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sekali, tak ada manusia dalam sejarah yang begitu luas dikagumi seperti halnya Nabi Musa, nabi orang Yahudi. Lebih dari itu, selain ketenarannya, juga jumlah pengikut yang memujanya secara pasti terus meningkat sepanjang jaman. Diperkirakan Musa tenar pada abad ke-13 SM, bersamaan sekitar masa Ramses II, dan dianggap pimpinan perpindahan besar-besaran bangsa Israel dari Mesir, wafat tahun 1237 SM. Di masa Musa hidup --seperti dijelaskan dalam buku Exodus-- ada kelompok orang Yahudi yang menentangnya. Tetapi, tak kurang dari lima abad lamanya Musa diagung-agungkan oleh orang-orang Yahudi. Mendekati tahun 400 SM kemasyhuran dan nama baiknya menyebar luas ke seluruh Eropa berbarengan dengan Agama Nasrani. Beberapa abad kemudian Muhammad mengakui Musa sebagai seorang nabi yang sesungguhnya, dan dengan berkembangnya Islam, Musa menjadi pula tokoh yang dikagumi di seluruh dunia Islam (termasuk Mesir). Kini, sesudah tiga puluh dua abad terhitung dari masa hidupnya, Musa dihormati oleh orang Yahudi, Nasrani dan Islam sekaligus, dan bahkan juga oleh kaum yang tak mempercayai Tuhan. Berkat kemajuan komunikasi, dia mungkin lebih terkenal sekarang ketimbang di masa lampau.&lt;br /&gt;Di samping ketenarannya, informasi yang bisa dipercayai menyangkut kehidupan Musa tidaklah banyak. Bahkan ada spekulasi (meski tidak diterima oleh sebagian besar ahli ilmu pengetahuan) bahwa Musa itu sesungguhnya orang Mesir, karena namanya berbau Mesir dan bukan Yahudi. (Nama Musa berarti "anak" atau "anak lelaki," dan banyak digunakan sebagai bagian dari banyak firaun. Kitab Perjanjian Lama berisi cerita-cerita tentang Musa yang hampir tak banyak maknanya karena sudah banyak dijejali dengan serba keajaiban. Kisah-kisah tentang Musa dapat menimbulkan malapetaka,tentang Musa bisa mengubah para pembantunya menjadi ular, merupakan contoh-contoh kejadian yang di luar kelaziman alamiah.&lt;br /&gt;Hal-hal macam ini membebani orang dengan kemustahilan sehingga melempangkan jalan agar orang percaya bagaimana Musa yang sudah berumur delapan puluh tahun saat itu berkesanggupan melakukan exodus, memimpin bangsa Yahudi melintasi padang pasir dalam jangka waktu tak kurang dari empat puluh tahun. Sebetulnya kita ingin tahu persis apa sebetulnya yang sudah berhasil diperbuat Musa sebelum kisah-kisahnya terkubur dalam semak-semak dunia dongeng.&lt;br /&gt;Banyak pihak yang berkeinginan melakukan penafsiran yang wajar dari khazanah kisah Injil, misalnya tentang sepuluh wasiat larangan, tentang penyeberangan Laut Merah. Tetapi, paling disenangi dari cerita-cerita Perjanjian Lama menyangkut perikehidupan Musa adalah dongeng-dongengnya yang bisa disejajarkan dengan kisah-kisah mitologi. Cerita Musa tentang tanaman merambat ke atas tak kunjung berakhir amatlah mirip dengan cerita Babylonia, Sargon dan Akkad, raja besar yang memerintah sekitar tahun 2360-2305 SM.&lt;br /&gt;Pada umumnya, ada tiga hasil besar yang dihubungkan dengan perbuatan Musa. Pertama, dia dianggap tokoh politik yang memimpin orang Yahudi melakukan perpindahan besar-besaran dari Mesir. Dalam hal ini, jelas memang dia layak menerima penghargaan itu. Kedua, dia berhasil sebagai penulis jilid pertama dari Panca Jilid Injil (Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers dan Deuteronomy), yang sering dikaitkan dengan "Lima buku Musa" dan menyusun Torat Yahudi. Buku ini termasuk Kode Musa, serangkaian hukum yang menjadi dasar tingkah laku kaum Yahudi dalam Injil, termasuk dalam "Sepuluh Perintah Keramat" (Ten Commandments). Dari sudut besarnya pengaruh khususnya Torat dan umumnya Ten Commandments, para penulis tak syak lagi dapat digolongkan orang besar yang punya pengaruh langgeng. Tetapi, umumnya sarjana-sarjana Injil bersepakat bahwa Musa bukanlah satu-satunya penulis buku itu. Buku itu tampaknya ditulis oleh beberapa penulis dan sebagian besar isinya tidak ditulis sebelum wafatnya Musa. Ada kemungkinan Musa memainkan beberapa peranan dalam hal penghimpunan adat kebiasaan Yahudi atau bahkan menggariskan hukum-hukum Yahudi, tetapi tak ada bukti pasti sejauh dan sebesar apa peranan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Kemudian, banyak orang menganggap Musa sebagai pendiri monoteisme Yahudi. Rasanya tidak ada alasan kuat yang bisa menunjang anggapan itu. Satu-satunya sumber informasi kita mengenai ihwal Musa adalah Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama jelas-jelas dan tak meragukan berkaitan dengan Ibrahim selaku pendiri monoteisme. Meskipun begitu, memang benar juga monoteisme Yahudi tak bisa tidak sirna tanpa Musa dan tak perlu dipermasalahkan lagi Musa memang pegang peranan yang menentukan dalam hal memelihara dan menyebarkan. Dalam hal ini, tentu saja, terletak arti penting peranannya yang terbesar sesudah Agama Nasrani dan Islam, dua agama terbesar di dunia yang keduanya bersumber pada monotheisme. Gagasan adanya Tuhan Yang Esa, yang dengan sepenuh hati dipercayai Musa, yang akhirnya menyebar ke sebagian besar dunia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-7224727744435638193?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/7224727744435638193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=7224727744435638193' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7224727744435638193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7224727744435638193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/nabi-musa-abad-ke-13-sm.html' title='NABI MUSA ± ABAD KE-13 SM'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-5023544711153764374</id><published>2008-07-27T11:34:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T11:34:47.108-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>NABI MUHAMMAD (570 SM - 632 SM)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.&lt;br /&gt;Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.&lt;br /&gt;Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.&lt;br /&gt;Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.&lt;br /&gt;Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.&lt;br /&gt;Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.&lt;br /&gt;Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.&lt;br /&gt;Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.&lt;br /&gt;Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.&lt;br /&gt;Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.&lt;br /&gt;Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.&lt;br /&gt;Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.&lt;br /&gt;Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.&lt;br /&gt;Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.&lt;br /&gt;Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan&lt;br /&gt;Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.&lt;br /&gt;Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-5023544711153764374?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/5023544711153764374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=5023544711153764374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/5023544711153764374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/5023544711153764374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/nabi-muhammad-570-sm-632-sm.html' title='NABI MUHAMMAD (570 SM - 632 SM)'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-4685119996574728209</id><published>2008-07-27T11:33:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T11:33:59.745-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>NABI ISA (6 SM - 30 M)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Nabi Isa terhadap sejarah kemanusiaan begitu jelas dan begitu besar. Rasanya tak banyak orang yang mempersoalkan apa sebab Nabi Isa berada di tempat hampir teratas dalam daftar buku ini. Malahan, mungkin banyak orang bertanya-tanya kenapa Isa tidak berada di tempat teratas.&lt;br /&gt;Akan halnya kekristenan, tak adalah kiranya masalahnya. Dalam perjalanan sang waktu tak syak lagi agama ini sudah peroleh pemeluk lebih besar dari agama lain yang mana pun juga. Perlu ditegaskan bukanlah perihal pengaruh dari pelbagai agama yang menjadi titik perhitungan di buku ini, melainkan ihwal yang menyangkut pengaruh perorangan. Tidaklah seperti Agama Islam, Agama Nasrani didirikan bukan oleh seorang melainkan dua -- Isa dan St. Paul -- karena itu pengakuan jasa-jasa atas perkembangan agama itu harus dibagi sama antara kedua tokoh itu.&lt;br /&gt;Nabi Isa meletakkan dasar-dasar pokok gagasan etika kekristenan termasuk pandangan spiritual serta ide pokok mengenai tingkah laku.manusia. Sedangkan teologi Kristen dikelola dasar-dasarnya oleh St. Paul. Isa mempersembahkan pesan-pesan spiritual sedangkan St. Paul menambahkannya ke dalam bentuk pemujaan terhadap Isa. Lebih dari itu, St. Paul merupakan penulis bagian-bagian penting Perjanjian Baru dan merupakan penganjur pertama orang-orang agar memeluk Agama Nasrani pada abad pertama lahirnya agama itu.&lt;br /&gt;Isa terhitung berusia muda tatkala "wafat" (lain halnya dengan Buddha atau Muhammad), dan yang ditinggalkannya hanya sejumlah terbatas pengikut. Tatkala Isa mangkat, pengikutnya cuma terdiri dari sejumlah kecil sekte Yahudi. Baru lewat tulisan-tulisan St. Paul dan kegigihan khotbahnya yang tak kenal lelah, sekte kecil itu dirubah menjadi kekuatan dinamis dan merupakan gerakan yang lebih besar, baik terdiri dari orang Yahudi maupun bukan. Dari situlah-akhirnya- tumbuh menjadi salah satu agama besar dunia.&lt;br /&gt;Akibat hal-hal itu sementara orang beranggapan St. Paul-lah dan bukan Isa yang lebih layak dipandang sebagai pendiri Agama Nasrani, karena itu tempatnya dalam daftar urutan buku ini mesti lebih tinggi ketimbang Isa! Biarpun sulit dibayangkan apa wujud kekristenan tanpa St. Paul, tapi sebaliknya juga amatlah jelas: tanpa Nabi Isa, Agama Nasrani tak akan pernah ada samasekali.&lt;br /&gt;Sebaliknya, tampak tak beralasan menganggap Isa bertanggung jawab terhadap semua keadaan seperti penilaian gereja-gereja Kristen serta pribadi-pribadi pemeluk Agama Nasrani kemudian, khusus sejak Isa sendiri tidak setuju dengan sikap-sikap seperti itu. Di antara mereka -misalnya perang agama antar mazhab-mazhab Nasrani, penyembelihan kejam dan pemburuan terhadap orang Yahudi- merupakan kontradiksi dengan sikap dan ajaran Isa. Rasanya tak beralasan menganggap bahwa perbuatan itu disetujui oleh Isa.&lt;br /&gt;Di samping itu walau ilmu pengetahuan modern pertama kali tumbuh di negeri-negeri pemeluk Nasrani di Eropa Barat tapi rasanya tidak kena kalau hal itu dianggap sebagai tanggung jawab Isa. Dengan sendirinya tak seorang pun di antara para pemuka pemeluk Kristen menafsirkan ajaran Isa sebagai suatu seruan untuk melakukan penyelidikan ilmiah terhadap dunia dalam arti fisik. Yang terjadi justru sebaliknya: berbondong-bondongnya masyarakat Romawi memeluk Agama Nasrani mengakibatkan merosotnya baik dasar umum teknologi maupun tingkat umum minat terhadap ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Bahwa ilmu pengetahuan kebetulan tumbuh di Eropa sebenarnya suatu petunjuk adanya kultur yang diwariskan turun-temurun yang selaras dengan jalan pikiran ilmiah. Ini samasekali tak ada sangkut-pautnya dengan ajaran-ajaran Isa tapi berkat pengaruh rasionalisme Yunani yang jelas tercermin dalam karya-karya Aristoteles dan Euclid. Adalah perlu dicatat timbulnya ilmu pengetahuan modern bukanlah di masa jaya-jayanya kekuasaan gerejani dan kesucian Kristen melainkan pada saat mulai menyingsingnya renaissance, saat tatkala Eropa sedang mencoba memperbaharui warisan sebelum Isa.&lt;br /&gt;Kisah kehidupan Isa jika dikaitkan dengan Perjanjian Baru tentulah sudah tidak asing lagi bagi para pembaca, karena itu bisa membosankan jika dikunyah-kunyah lagi. Tapi, ada juga segi-segi yang masih layak dicatat. Pertama, sebagian terbesar informasi yang kita peroleh tentang kehidupan Isa tidak karu-karuan, simpang-siur tak menentu. Bahkan kita tidak tahu siapa nama aslinya. Besar kemungkinan nama aslinya Yehoshua, sebuah nama umum orang Yahudi (orang Inggris menyebutnya Yoshua). Dan tahun kelahirannya pun tidaklah pasti, walaupun tahun 6 sebelum Masehi dapat dijadikan pegangan.&lt;br /&gt;Bahkan tahun wafatnya pun yang mestinya diketahui dengan jelas oleh para pengikutnya, juga belum bisa dipastikan hingga hari ini. Isa sendiri tidak meninggalkan karya tulisan samasekali, sehingga sebetulnya segala sesuatu mengenai peri kehidupannya berpegang pada penjelasan Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;Malangnya, ajaran-ajaran Isa bertentangan satu sama lain dalam banyak pokok masalah. Matthew dan Lukas menyuguhkan versi yang samasekali berbeda mengenai kata-kata akhir yang diucapkan Isa. Kedua versi ini sepintas lalu tampak berasal dari kutipan-kutipan langsung dari Perjanjian Lama.&lt;br /&gt;Sesungguhnya bukanlah barang kebetulan Isa mampu mcngutip dari Perjanjian Lama. Sebab, meskipun Isa pemuka Agama Nasrani, dia sendiri sebetulnya seorang Yahudi yang taat. Sudah sering sekali ditunjukkan bahwa Isa dalam banyak hal teramat mirip dengan nabi-nabi kaum dari Perjanjian Lama dan dia terpengaruh secara mendalam dengan mereka. Seperti halnya nabi-nabi, Isa memiliki pesona personalitas luar biasa yang meninggalkan kesan mendalam dan tak terhapuskan begitu bertemu dengannya. Isa seorang yang mempunyai daya kharisma dalam arti yang sesungguh-sungguhnya .&lt;br /&gt;Berbeda sangat dengan Muhammad yang menggenggam kekuasaan agama dan politik di satu tangan, Isa tidak yunya pengaruh politis di masa hidupnya ataupun di abad berikutnya. (Kedua manusia itu memang punya pengaruh tidak langsung dalam jangka panjang perkembangan politik). Isa menyebar pengaruh sepenuhnya dalam ruang lingkup etika dan merupakan seorang pemimpin spiritual.&lt;br /&gt;Apabila peninggalan Isa semata-rnata dalam kwalitas selaku pemuka spirituaI, tentu saja tepat jika orang mempertanyakan sampai sejauh mana gagasan spiritualnya mempengaruhi dunia. Salah satu sentral ajaran Isa tentu saja Golden Rule-nya. Kini, Golden Rule-nya itu sudah diterima oleh banyak orang, apakah dia itu Nasrani atau bukan sebagai patokan tingkah laku moral. Kita bisa saja berbuat tidak selalu atas dasar patokan itu, tetapi sedikitnya kita mencoba menyelusuri relnya. Jika Isa benar merupakan perumus pertama dari patokan dan petunjuk yang sudah diterima sebagai hampir prinsip yang universal, bisa dipastikan dia layak didudukkan pada urutan pertama daftar ini.&lt;br /&gt;Tapi, fakta menunjukkan yang namanya, Golden Rule itu sebenarnya sudah menjadi patokan yang jadi pegangan Yudaisme, jauh sebetum Isa lahir. Pendeta Hillel, pemuka Yahudi yang hidup satu abad sebelum Masehi secara terang-terangan mengatakan bahwa Golden Rule itu adalah patokan utama Yudaisme.&lt;br /&gt;Hal ini bukan saja diketahui oleh dunia Barat melainkan juga Timur. Filosof Cina Kong Hu-Cu telah mengusulkan konsepsi ini pada tahun 500 sebelum Masehi. Juga kata-kata seperti itu terdapat di dalam Mahabharata, kumpulan puisi Hindu purba. Jadi, kenyataan menunjukkan bahwa filosofi yang terkandung di dalam The Golden Rule diterima oleh hampir tiap kelompok agama besar.&lt;br /&gt;Apakah ini berarti Isa tak punya gagasan etik yang orisinil? Bukan begitu! Pandangan yang bermutu tinggi dan terang benderang di persembahkan dalam Matthew 5:43-44:&lt;br /&gt;Kamu dengar apa yang dikatakan bahwa kamu harus mencintai tetanggamu dan membenci musuhmu. Tapi kukatakan padamu, kasihanilah mereka yang telah mengutukmu, berbuat baiklah kepada mereka yang membencimu, berdoalah buat mereka yang menaruh dendam kepadamu dan menganiayamu.&lt;br /&gt;Dan kalimat sebelumnya berbunyi " ... janganlah melawan kejahatan. Jika mereka tampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu juga."&lt;br /&gt;Kini, pendapat ini bukan merupakan bagian dari Yudaisme di masa Isa dan bukan pula jadi bagian pegangan Agama-agama lain. Sudah dapat dipastikan merupakan yang pernah terdengar. Apabila ide ini dianut secara meluas, saya tidak ragu maupun bimbang sedikit pun menempatkan Yesus dalam urutan pertama dalam daftar.&lt;br /&gt;Tapi, kenyataan menunjukkan anutan ide itu tidaklah meluas benar. Malahan, umumnya takkan bisa diterima. Sebagian besar pemeluk Nasrani rnenganggap perintah "Cintailah musuhmu" hanyalah bisa direalisir dalam dunia sempurna, tapi tidak bisa jalan selaku penuntun tingkah laku di dunia tempat kita semua hidup sekarang ini. Umumnya ajaran itu tidak dilaksanakan, dan pula tidak mengharapkan orang lain melakukannya. Kepada anak-anak pun kita tidak memberi ajaran begitu. Ajaran Isa yang paling nyata adalah tetap merupakan semacam ajaran yang bersifat kelompok dan secara mendasar tak liwat anjuran yang teruji lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-4685119996574728209?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/4685119996574728209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=4685119996574728209' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/4685119996574728209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/4685119996574728209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/nabi-isa-6-sm-30-m.html' title='NABI ISA (6 SM - 30 M)'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-6122402295235131716</id><published>2008-07-27T11:31:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:32:43.948-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>MICHELANGELO 1475-1564</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy_O-RbjiI/AAAAAAAAADU/QNxxX37xZH4/s1600-h/15.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy_O-RbjiI/AAAAAAAAADU/QNxxX37xZH4/s320/15.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227763531425484322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak lagi, tokoh terdepan dalam seni visual dalam sejarah adalah budayawan besar masa "Renaissance," Michelangelo. Bukan kepalang briliannya selaku pelukis, pemahat dan arsitek, meninggalkan hasil karya yang mempesona tiap orang yang melihatnya selama lebih dari empat abad. Karyanya secara mendalam mempengaruhi perkembangan seni lukis dan pahat Eropa sesudahnya.&lt;br /&gt;Lahir di Caprese, Itali tahun 1475, kira-kira empat puluh mil dari Florence. Dari kecil bakatnya sudah tampak jelas, dan di umur tiga belas dia magang pada pelukis kenamaan Shirlandaio di Florence. Setahun sesudah itu dia tinggal di istana Medici milik Lorenzo, penguasa Florence yang bertindak selaku pelindungnya. Sepanjang kariernya bakat besar Michelangelo tak diragukan lagi. Dia sering sekali dipercaya baik oleh para Paus maupun tokoh duniawi merancang dan membuat karya seni. Meski dia tinggal di banyak tempat, sebagian terbesarnya dihabiskan di Roma dan Florence. Meninggal dunia di Roma tahun 1564, tak lama sesudah usianya lewat delapan puluh sembilan tahun. Setua itu, tak sekalipun pernah kawin.&lt;br /&gt;Kendati dia tidak segenius Leonardo da Vinci angkatannya yang lebih tua, keserbabisaan dan kebolehan Michelangelo tetap amat mempesona. Dialah satu-satunya seniman, mungkin satu-satunya orang, yang sanggup mencapai puncak prestasi dalam dua bidang yang berbeda satu sama lain. Selaku pelukis dia berada hampir di puncak, baik dari segi kualitas keindahan karyanya maupun pengaruhnya terhadap pelukis-pelukis yang datang belakangan. Fresko besar yang menghiasi dinding atas gereja Sistine di Roma merupakan --tidak bisa tidak-- kreasi seni terbesar sepanjang jaman. Tetapi, Michelangelo sendiri menganggap dirinya pertama-tama seorang pemahat, dan banyak kritikus yang menganggapnya pemahat terbesar yang pernah hidup. Patung "Daud" dan "Musa"-nya --misalnya-- dan "Pieta" yang mashur merupakan hasil karya seni yang tak terlampaui.&lt;br /&gt;Michelangelo juga seorang arsitek besar. Salah satu hasil kerja besarnya di bidang ini adalah rancangan gereja Medici di Florence. Selama beberapa tahun dia juga jadi kepala arsitek gereja St. Peter di Roma.&lt;br /&gt;Micheangelo banyak membikin sajak selama hidupnya, sekitar 300 sajak dapat ditemukan. Soneta-sonetanya dan sajak-sajak lain diterbitkan sesudah matinya. Kesemua sajak-sajaknya itu mencerminkan jelas corak kepribadiannya, dan Michelangelo memang menunjukkan dirinya penyair berbakat.&lt;br /&gt;"Pieta" di Vatikan Roma&lt;br /&gt;Seperti halnya saya jelaskan dalam artikel tentang Shakespeare, saya percaya bahwa seni dan para seniman pada umumnya tidaklah begitu banyak pengaruhnya kepada sejarah kemanusiaan dan kehidupan mereka sehari-hari.&lt;br /&gt;Atas dasar itulah Michelangelo --tanpa menyisihkan pengakuan atas kehebatannya selaku seniman genius-- tampil dalam daftar urutan buku ini lebih rendah ketimbang para ilmuwan dan penemu, kendati mereka itu tidak begitu masyhur jika dibandingkan Michelangelo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-6122402295235131716?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/6122402295235131716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=6122402295235131716' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/6122402295235131716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/6122402295235131716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/michelangelo-1475-1564.html' title='MICHELANGELO 1475-1564'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy_O-RbjiI/AAAAAAAAADU/QNxxX37xZH4/s72-c/15.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-759035180265419457</id><published>2008-07-27T11:26:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:31:06.360-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>Michel Foucault</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Usaha Mengenal 'Yang Lain'&lt;br /&gt;Banyak pemikiran muncul dan berkembang dilatari oleh kondisi sosio-kultural tempat  sang pemikir hidup. Pemikir adalah anak zamannya, walaupun pemikirannya nanti menembus ruang dan waktu. Pemikir dan pemikirannya adalah bagian dari satu gestalt, bisa berupa sejarah atau peradaban (seperti Barat), bisa juga agama (seperti Islam). Pemikiran Al-Ghazâlî bisa dipahami secara jernih dengan melihat gestalt-nya secara keseluruhan, yakni Islam. Ia adalah bagian dari gestalt, yang berarti diterangkan oleh gestalt tersebut. Begitu juga Michel Foucault, Ia adalah bagian dari suatu gestalt, yakni peradaban Barat, karena itu, Ia diterangkan oleh gestalt-nya. Memahami Foucault, berarti juga harus memahami gestalt-nya, sebagai salah satu unsur pembentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Barat berada dipersimpangan jalan dengan segala deviasi dan distorsi dalam moralitas maupun hal-hal yang dianggap benar (kebenaran). Modernisme adalah ciri peradaban Barat dengan rasionalitas sebagai penunjuk jalannya. Dewasa ini, muncul kritik dan gugatan yang kuat terhadap modernisme—yang dibela mati-matian oleh mulai dari Habermas hingga Smith dan Gellner—yang dilakukan oleh para pemikir dari aliran filsafat kontinental, dimotori oleh pemikir Perancis seperti Derrida, Foucault, Barthes dan  Lyotard. Peradaban Barat dengan modernismenya, yang melahirkan dominasi ilmu pengetahuan yang bercorak positivistik, mereka mereka gugat secara tajam, sambil menawarkan alternatif-altrnatif baru. Gerakan inilah yang disebut sebagai posmodernisme. Secara relatif,  posmodernisme bisa disebut sabagai ‘gestalt minor’(?) dari Foucault. Karena itu, memahami posmodernisme terlebih dahulu tak bisa dihindari agar  Foucault terlihat lebih utuh, sebagai unsur yang membentuk gestalt (posmodernisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang posmodernisme, berarti masuk dalam wilayah yang penuh ambiguitas, ketidakpastian dan disensus. Konsep ini  digunakan untuk mencirikan kecenderungan kontemporer dalam berbagai bidang: sastra, filsafat, arsitektur dan kajian-kajian sosial (terutama antropologi). Secara pasti, tidak ada kepastian ‘setan’ apakah gerangan posmodernisme ini. Bahkan pada tingkat yang paling jelas-pun, posmodernisme tetap tidak jelas; dalam arti absurd. Boleh jadi, absurditas telah menjadi trade mark. Aliran ini muncul dan berkembang ketika manusia (baca: Barat) mencari kepastian dengan menggugat kepastian lama. Namun kemudian, ia dikhianati oleh setiap kepastian baru yang  dipegangya; ia terjebak dalam absurditas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak spiritual posmodernisme-menurut sebagian-adalah Nietzsche (1844-1900 M ), filsuf ‘gila’ kelahiran Jerman; sang destruktif. Dikalangan pendukung modernisme, Ia dianggap tokoh yang paling gila, namun, dikalangan pendukung posmodernisme, Ia adalah inspirator utama. Filsafat Nietzsche penuh dengan nuansa destruksi, bahkan destruksi itulah inti filsafatnya. Ia menggugat seluruh jaminan nilai dan makna yang menjanjikan kepastian. Jaminan kepastian yang utama adalah agama Kristen. Karena itu, Ia memaklumkan, “Tuhan sudah mati! Tuhan terus mati! Kita telah membunuhnya!.” Kemudian, Ia mengucapkan selamat tinggal, “ semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi.” Tak berhenti disini,  Ia juga menghantam segala model Tuhan seperti ilmu pengetahuan, prinsip-prinsip logika, rasio, sejarah dan progress. Tuhan sebagai simbol kepastian dibunuh, maka ketidakpastian telah berubah menajadi kepastian itu sendiri; manusia terjebak dalam kepastian nihilisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Tuhan menjelma menjadi kepastian, yang berlanjut pada runtuhnya seluruh tatanan nilai dan makna. Tuhan disini menunjuk pada  segala bentuk model jaminan kepastian untuk hidup dan dunia. Suatu ketika nanti, boleh jadi akan muncul jaminan kepastian baru—yang berarti posisinya adalah Tuhan--, ini bisa berupa pendapat, kebenaran-kebenaran yang diyakini, dan pandangan-pandangan yang dipertahankan. Namun, bagaimanakah cara membunuhnya, yang berarti membunuh diri sendiri? Disinilah letak ambiguitas dan inkonsistensi kalangan posmodernisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisme Barat dibangun atas dasar rasionalitas yang bercirikan positivisme. Dalam hal ini, yang paling bertanggungjawab adalah cogito-nya Descartes yang menimbulkan implikasi dikotomis subyek-obyek. Selanjutnya, melahirkan pandangan yang disebut subyektif-obyektif berdasarkan rasionalitas. Positivisme begitu mengagungkan obyektifitas; fakta-fakta bisa diamati, diteliti dan dinilai secara obyektif, dengan kebenaran yang bersifat transkultural, karena itu, bisa disebut universal. Dengan kata lain, rasionalitas telah memberikan jaminan kepastian dan totalisasi, karena itu harus di dekonstruksi. Positivisme, dimata pendukung posmodernisme tak lebih dari bentuk kolonialisme, atau kolonialisme adalah bentuk positivisme; atau keduanya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta obyektif tak lebih dari alat dominasi yang dihasilkan dari relasi kuasa. Generalisasi-generalisasi ilmiah adalah bentuk dari positivisme. Karena itu harus digugat. Dimata pendukung posmodernisme,  dunia yang sebenarnya adalah subyektifitas yang mencerminkan kesamaan dan persamaan antarbudaya, terlepas dari konsep pinggir-pusat. Konsep pusat (center) dan pinggir (pheri-pheri) telah melahirkan ‘Pihak Lain’ (The Other). Rasionalitas (dalam hal ini maksudnya Barat) adalah pusat (center), sementara selain Barat dianggap irrasional, tak beradab, karena itu mereka adalah The Other (pheri-pheri). Inilah yang menjadi dasar legitimasi kolonialisme. Karena itu, rasionalitas positivistik adalah kolonialisme dan,  sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kesalahan dalam rasionalitas. Terbukti, sains yang dibangun atas dasar rasionalitas tak mampu menjawab tantangan zaman. Kemiskinan, peperangan dan kerusakan lingkungan hidup adalah sedikit contoh kegagalan sains. Karena itu, rasionalitas modernisme tak lebih dari rasionalisasi, yang menghasilkan Kebenaran (dengan ‘K’ besar) dan bersifat transkultural. Sementara posmodernisme hanya mengakui kebenaran (dengan ‘k’ kecil) yang bersifat lokal dan subyektif; artinya, ada pluralitas kebenaran. Disini, posmodernisme adalah sejenis histeria subyektifitas yang mendestruksi segala bentuk obyektifitas (baca: Kebenaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian sederhana diatas telah membawa kita untuk masuk lebih jauh dalam ambiguitas, disensus dan absurditas posmodernisme. Ada sisi absurditas yang lain: yaitu makna terminologis. Apakah ‘post’ disini menyiratkan makna keterputusan (rupture; infishâl) atau ketersambungan (continuity; istimrâr) dengan modernisme; Pemahaman yang lain menyebutkan makna post sebagai kritik dan reformasi atas modernisme; bahkan ada yang mengkombinasikan antara rupture dan continuity; yang terakhir mengatakannya sebagai dialektika antara keduanya. Terlepas dari disensus makna diatas, yang jelas, hal ini semakin menambah absurditas pemahaman kita tentang posmodernisme. Semua pakar memahaminya sesuai dengan persepsi masing-masing. Mana yang paling benar? Lupakanlah pertanyaan tersebut, karena posmodernisme tidak membutuhkan klaim kebenaran; ada pluralitas kebenaran. Semua arti diatas bisa dikatakan mengandung kebenaran (‘k’ kecil), atau, boleh jadi, semuanya tidak mengandung kebenaran, dan itulah kebenaran yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara nyata, posmodernisme menolak segala jaminan kepastian, klaim kebenaran universal yang dibangun atas dasar rasionalitas dan, apapun namanya yang berlagak universal. Fakta-fakta bukanlah kesatuan yang utuh yang bisa digeneralisasi, tapi merupakan fragmentasi yang berdiri sendiri, mengandung kebenaran lokal dan subyektif. Rasionalitas cenderung pada  totalisasi, karena itu harus ditentang. Sementara fragmentasi adalah kebenaran, karena menghargai adanya keragaman narasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugatan ini  dilanjutkan dengan dekontruksi, yakni pembongkaran cara berpikir yang logis, atau cara berpikir yang kita anggap benar karena rasional. Dekontruksi membongkar unsur-unsur ketidaksadaran dari proses pemikiran—sehingga amat terpengaruh dengan psikoanalisa Freud. Di antara unsur ketidaksadaran tersebut adalah  pengaruh kekuasaan yang muncul dalam kesadaran. Dekontruksi menolak pemikiran dominan karena tak lebih produk relasi pengetahuan-kuasa. Selanjutnya, yang dijadikan pilihan adalah pemikiran-pemikiran marginal; pemikiran tentang ‘mereka yang ditolak’. Dari sinilah kita menemukan posisi pemikiran Foucault sebagai bagian dari gestalt-nya. Foucault menggugat konsep kebenaran, pemahaman Barat terhadap sejarah, obyektifitas dan pemikiran dominan. Ia lebih memilih kegilaan daripada normalitas, kemudian menawarkan arkeologi dan genealogi pengetahuan untuk memahami sejarah pemikiran dan, selanjutnya, mengumumkan kematian manusia sebagai implikasi lansung matinya Tuhan. “Man is an invention of recent date,” katanya. Kematian manusia berarti  hilangnya dikotomi subyek-obyek (dzat-mawdhu’). Dikotomi ini adalah produk modernisme yang melahirkan humanisme (al-nuz‘ah al-insânîyah; humanism), berarati humanisme juga ikut dibunuh. Dalam tulisan berikut, penulis hanya akan membahas tentang pengertian epistema, arkeologi, genealogi dan diskursus (wacana) secara ringkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foucault lahir di Poitiers, 15 Oktober 1926. Pendidikan akademisnya dilalui di Ecole Normale  Superiuere (Paris) bidang filsafat dan psikologi. Tugas akademis yang pernah Ia emban adalah Direktur Departemen Filsafat di University of Clermont-Ferrand dan University of Vincennes (1960). Ia juga pernah menjadi professor bidang Sejarah Sistem Pemikiran di College de France. Juga pernah mengajar selama bertahun-tahun di negara Arab Maghrib (terutama Tunisia). Pada 25 Juni 1984, Ia meninggal dunia di Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengikuti pemikiran Foucault, kita akan menemukan terminologi epistema (episteme). Apa sebenarnya yang dimaksud dengan epistema  tersebut? Sebagaimana ciri khas  diskursus pemikiran kalangan posmodernisme yang dikenal sulit dan berbelit, pemikiran Foucault juga begitu. Untuk mendefinisikan epistema memang agak sulit, karena kalangan posmodernisme menolak segala bentuk definisi. Di mata mereka, definisi memiliki sifat reduksi yang mengandaikan adanya  kebenaran tunggal, sehingga membatasi interpretasi dan pemahaman.&lt;br /&gt;Secara relatif, bisa dikatakan bahawa epistema adalah sistem. Dalam satu periode sejarah, hanya  terdapat satu epistema. Epistema disini bisa juga dipahami sebagai korelasi epistemologis yang dalam, diantara berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa dan kurun  tertentu. Kaitannya dengan empat abad terakhir sejarah pemikiran Eropa, Foucault membaginya ke dalam tiga macam epistema, yaitu: epistema Abad Tengah, epistema Klasik dan epistema Modern. Setiap penggalan (rupture) dari epistema tesebut memiliki sistem pemikiran tersendiri yang berbeda satu sama lain, sekurangnya dalam konsep dan metode. Disinilah lapangan arkeologi pengetahuan; ia bertugas mengungkap unsur-unsur terdalam  dan tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epistema (boleh jadi) merupakan kumpulan relasi yang menghubungkan antara praktek-praktek lisan dengan pengetahuan dalam berbagai bentuknya pada periode sejarah tertentu. Epistema adalah sitem tersembunyi dibalik pengetahuan yang dominan pada masa tertentu. Sistem tersembunyi ini dianggap sebagai pemersatu, dalam realitasnya yang paling dalam, pada  peradaban tertentu  dan, periode  tertentu. Epistema adalah prasyarat munculnya pengetahuan dan teori. Jadi, ia adalah latar tersembunyi dibelakang pengetahuan; epistema adalah struktur  dasar yang berada diluar sejarah. Ringkasnya, ia adalah struktur pengetahuan global, dengan cirinya yang holistik. Ia dianggap sebagai jaringan dasar hukum-hukum yang mengatur pengetahuan, metode, pemahaman, dan metode analisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang berbicara (subyek) dalam epistema? Yang jelas, bukan Tuhan dan manusia. Tuhan telah mati, dan manusia tak lebih dari mitos; ia hanyalah invention of recent date. Lalu siapa? Jawabannya adalah bahasa. Melalui dan mengggunakan bahasa, epistema mengetahui dirinya. Jadi, epistema adalah obyek dan bahasa adalah subyek—walaupun kalangan posmodernis menolak pembagian dikotomis ini, namun  realitanya, mereka tak bisa menghindarkan diri. Manusia  sebagai subyek sudah ditinggalkan, karena itu, Foucault selanjutnya mengumumkan kematian manusia, sebagai implikasi logis kematian Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI&lt;br /&gt;Ada kesamaan antara Foucault dengan J. Lacan berkenaan dengan bahasa. Foucault mengatakan bahwa yang berbicara bukanlah subyek, tapi struktur linguistik dan sistem bahasa. Sementara Lacan menegaskan bahwa jalan yang telah dirintis oleh Freud tak memiliki makna selain bahwa, alam bawah-sadar adalah bahasa. Mereka tampaknya memahami bahasa secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Signifikansi bahasa dalam studi Foucault tampak dalam karyanya Madness and Civilization, yang meneliti tentang simbol-simbol yang diciptakan oleh relasi kuasa dengan pengetahuan. Praktek sosial menyediakan mekanisme yang memungkinkan relasi kuasa beroperasi.  Kuasa ada dimana-mana, karena itu, ia bisa ditemukan dalam segala bidang interaksi manusia: keluarga, politik, ekonomi, sosial, agama dan sebagainya. Penelitiannya tentang  sejarah orang-orang gila; yakni tentang mereka yang ditolak,  berhasil mengungkap formasi-formasi bahasa dan diskursus yang telah menciptakan  konsep ‘Pihak Lain’. Untuk hal ini, Ia menggunakan deskripsi genealogis. Genealogi bukanlah teori, tapi lebih merupakan cara pandang atau model perspektif   untuk menempatkan diskursus, praktek sosial dan diri kita sendiri dalam wilayah relasi kuasa. Genealogi merupakan kelanjutan  dari arkeologi. Kalau arkeologi lebih difokuskan untuk  menyingkap suatu wilayah praktek diskursusif; untuk menemukan fenomena-fenomena keterputusan dan keberbedaan, tanpa dikorelasikan dengan kemajuan, maka genealogi lebih merupakan usaha untuk mendeskripsikan sejarah formasi-formasi sosial; sejarah tentang asal suatu pemikiran untuk menemukan titik tolak pemberangkatan, tanpa menghubungkannya dengan hakekat (substansi) ataupun identitas-identitas yang  hilang. Tujuannya hanyalah untuk membongkar pemikiran-pemikiran asali, center dan substansi. Segala sesuatu tidak memiliki mahiyah (inti; substansi). Segala substansi tak lebih dari buatan manusia, karena itu harus di dekontruksi dan dikeping-keping. Dengan ini, Foucault mampu membuktikan bahwa sejarah selama ini adalah sejarah yang terdistorsi; bukan sejarah bahasa dan makna, tapi sejarah relasi kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh tentang arkeologi, Foucault menulis, “Aku menggunakan terminologi arkeologi secara metaforis untuk menunjuk pada sesuatu yang disebut arsip. Bukan untuk menemukan awal sesuatu ataupun untuk menghidupkan masa lalu yang telah mati.” Lebih lanjut, Ia menerangkan tentang apa yang di maksud dengan arsip, “apa yang kumaksud dengan arsip bukanlah kumpulan teks-teks yang dijaga oleh peradaban tertentu, bukan pula kumpulan peninggalan arkeologis yang mungkin untuk dijaga dari kehancuran, tapi merupakan kumpulan prinsip-prinsip (aturan-aturan) yang menentukan bagi muncul dan hilangnya suatu diskursus; ketersambungan (continuity) ataupun keterputusan (rupture) diskursus tersebut pada peradaban tertentu.” Dengan arkeologi, ia bermaksud untuk membahas tentang sejarah pemikiran, membebaskannya dari ikatan-ikatan antropologi, sekaligus mengungkap bagaimana ikatan-ikatan tesebut terbentuk. Dengan kata lain, arkeologi hanyalah bertugas untuk menganalisa formasi konsep tanpa mengkorelasikannya dengan horison idealitas dan kemajuan empirik  suatu pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan sejarah kegilaan, Foucault menunjukkan bahwa predikat ‘gila’ bukanlah sekedar masalah empiris atau medis semata, tapi juga berkenaan dengan norma-norma sosial dan bentuk-bentuk diskursus tertentu. Dalam arti, pengertian tentang kegilaan adalah hasil ciptaan manusia. Karena itu kategori gila terus berubah sesuai dengan zaman. Pada Abad Tengah, orang gila adalah yang tidak berintegrasi dengan masyarakat. Menurut versi gereja, orang gila adalah yang tidak memiliki loyalitas pada gereja. Demikian seterusnya … pengertian gila terus berubah sesuai dengan perspektif dan kepentingan pemegang kuasa.  Dalam proses penciptaan, ikut terlibat para dokter, politisi, ahli hukum dan unsur-unsur yang dominan dalam masyarakat. Yang paling dominan peranannya adalah para dokter yang menciptakan bahasa simbol dan tanda-tanda. Selanjutnya, struktur bahasa inilah yang sangat berpengaruh dalam menilai ‘gila’ atau ‘waras’nya seseorang.  Analisa genealogis adalah kritik terhadap ilmu pengetahuan modern, dalam hal ini ilmu pengetahuan sejarah. Ilmu pengetahuan sejarah modern lebih merupakan pembungkaman terhadap The Others, sehingga banyak lapisan-lapisan yang sebenarnya bagian dari wacana ilmiah luput dari perhatian ilmuwan, apalagi kita. Kegilaan adalah aspek yang terlupakan (baca: yang terbungkam; yang terpinggirkan), namun sebenarnya bagian dari wacana ilmiah. Kegilaan sebenarnya banyak mengandung hikmah dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitiannya, Foucault berhasil menyimpulkan bahwa kegilaan merupakan kebutuhan masyarakat akan formasi sosial yang dikehendaki, hingga menjadi kebutuhan sosial tertentu. Dari sini tercipta mereka ‘Pihak Lain’. “Kamu gila” berarti “kamu bukan golongan kami.” Foucault membuktikan bahwa kode-kode pengetahuan (dalam konteks ini: kedokteran) banyak mempengaruhi struktur bawah-sadar masyarakat. Dengan genealogi, Foucault ingin men-delegitimasi masa sekarang dari  masa lampau; ada rupture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan  lain Foucault  yang terpenting, berkenaan dengan wacana (discourse). Dalam discourse, bahasa adalah mediator. Wacana adalah ucapan yang dengannya pembicara menyampaikan segala sesuatu kepada pendengar. Unsur terkecil dari wacana adalah kalimat. Wacana yang diperkuat dengan tulisan disebut teks. Wacana merupakan kumpulan pernyataan-pernyataan (statement) yang berbeda dengan ungkapan (utterance) maupun proposisi (proposition). Yang dimaksud Foucault disini bukanlah sekedar perbincangan sehari-hari, tapi perbincangan yang serius (serious speech-act). Serius tidaknya suatu perbincangan diukur berdasar intensitas keterlibatan unsur relasi kuasa dengan pengetahuan yang melahirkan wacana  tersebut. Ungkapan dikalangan mahasiswa bahwa “staf KBRI sering berfoya-foya” adalah speech-act, namun belum bisa dianggap serius karena  ketidakmampuannya membentuk makna dan kebenaran. Namun, ketika yang berbicara adalah pejabat di Departemen Luar Negeri, hal ini menjadi serious speech-act, karena Deplu memiliki kuasa, selanjutnya bisa membentuk makna dan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, mungkin timbul pertanyaan, apa urgensinya pemikiran-pemikiran Foucault  bagi kita? Banyak yang bisa diambil, diantaranya manfaat analisis arkeologis-genealogis dengan metode dekontruksi untuk memahami realitas sosial-keagamaan; sejauh mana relasi-relasi kuasa beroperasi dalam kehidupan umat Islam, sehingga bisa ditemukan mereka ‘yang lain’, mereka yang ditolak, namun sebenarnya adalah bagian dari umat yang membentuk suatu gestalt. Bukan untuk menemukan kesatuan diskursus umat Islam, tapi untuk menemukan keragaman pemahaman dan kebenaran. Sehingga terjadi proses decentering yang berarti keterbukaan terhadap yang lain; yang juga berarti runtuhnya dominasi dalam interpretasi maupun klaim-klaim kebenaran. Selanjutnya tercipta iklim yang inklusif. Mudah-mudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Abd Al-Razzâq Al-Daway, Mawt Al-Insan fi Al-Khithâb Al-Falsafî Al-Mu'âshir, Dar Al-Thalî'ah, Beirut, cet. I, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Sahal, Agama dan Tantangan Pascamodernisme, dalam Islamika, no. II (Oktober-Desember 1993), Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Zawawî Baghûrah, Michel Foucault fi Al-Dirasat Al-'Arabîyah, dalam Falsafah wa al-'Ashr, edisi I, th. 1999, Al-Majelis Al-A'la li Al-Tsaqâfah, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ernest Gellner, Menolak Posmodernisme: Antara Fundamentalisme Nasionalis dan Fundamentalisme Religius, (terjemah Hendro P. dan Nurul Agustina), Mizan, Bandung, cet. I, th. 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ishâm Abdu'lLah, Al-Judzûr Al-Nitsyîwîyah li mâ Ba'da Al-Hadatsah, dalam Al-Falsafah wa Al-'Ashr, edisi I, th. 1999, Al-Majlis Al-A'lâ li Al-Tsaqâfah, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luthfi Asysyaukanie, Islam Dalam Konteks Pemikiran Pasca-modernisme: Pendekatan Menuju Kritik Akal Islam, dalam Ulumul Qur'an, no I, vol. V, th. 1994, LSAF dan ICMI, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudy Harisyah Alam, Perspektif Pasca-modernisme Dalam Kajian Agama, dalam Ulumul Qur'an, no. I, Vol. V, th. 1993. LSAF dan ICMI, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;St. Sunardi, Nietzsche, LKiS, Yogyakarta, cet. II, th. 1999.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-759035180265419457?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/759035180265419457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=759035180265419457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/759035180265419457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/759035180265419457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/michel-foucault.html' title='Michel Foucault'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-7224586066457855813</id><published>2008-07-27T11:23:00.002-07:00</published><updated>2008-07-27T11:26:07.235-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>MICHAEL FARADAY 1791-1867</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy9sePGDwI/AAAAAAAAADM/Rdn8fnOJ25c/s1600-h/14.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy9sePGDwI/AAAAAAAAADM/Rdn8fnOJ25c/s320/14.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227761839198572290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Abad ini abad listrik. Memang, ada yang bilang abad ruang angkasa, ada yang bilang abad atom, tetapi kesemuanya ini --betapapun pentingya-- relatif sedikit pengaruhnya kepada kehidupan sehari-hari. Lain halnya dengan listrik. Tak terbayangkan rasanya hidup bisa jalan baik tanpa listrik. Tak habis-habisnya dari pagi hingga pagi kita mengambil manfaat dari listrik. Fakta menunjukkan, tak ada jenis teknologi yang begitu luas tersebar ketimbang penggunaan listrik.&lt;br /&gt;Banyak tokoh penyumbang dalam hal kelistrikan: Charles Augustine de Coulomb, Count Alessandro Volta, Hans Christian Oersted dan Andre Marie Ampere. Mereka-mereka ini diantara jago-jago terbaik di bidang listrik. Namun, puncak bin puncak dari semuanya adalah ilmuwan Inggris Michael Faraday dan James Clerk Maxwell. Walaupun kerja kedua orang itu berkaitan satu sama lain dan saling lengkap-melengkapi, tetapi mereka bukan berada dalam satu tim, masing-masing mencipta secara pribadi, karena itu kedua-duanya dapat tempat terhormat di dalam daftar urutan buku ini.&lt;br /&gt;Michael Faraday lahir tahun 1791 di Newington, Inggris. Berasal-usul dari keluarga tak berpunya dan umumnya belajar sendiri. Di usia empat belas tahun dia magang jadi tukang jilid dan jual buku, dan kesempatan inilah yang digunakannya banyak baca buku seperti orang kesetanan. Tatkala umurnya menginjak dua puluh tahun, dia mengunjungi ceramah-ceramah yang diberikan oleh ilmuwan Inggris kenamaan Sir Humphry Davy. Faraday terpesona dan ternganga-nganga. Ditulisnya surat kepada Davy dan pendek ceritera untung baik diterima sebagai asistennya. Hanya dalam tempo beberapa tahun, Faraday sudah bisa membikin penemuan-penemuan baru atas hasil kreasinya sendiri. Meski dia tidak punya latar belakang yang memadai di bidang matematika, selaku ahli ilmu alam dia tak terlawankan.&lt;br /&gt;Penemuan Faraday pertama yang penting di bidang listrik terjadi tahun 1821. Dua tahun sebelumnya Oersted telah menemukan bahwa jarum magnit kompas biasa dapat beringsut jika arus listrik dialirkan dalam kawat yang tidak berjauhan. Ini membikin Faraday berkesimpulan, jika magnit diketatkan, yang bergerak justru kawatnya. Bekerja atas dasar dugaan ini, dia berhasil membuat suatu skema yang jelas dimana kawat akan terus-menerus berputar berdekatan dengan magnit sepanjang arus listrik dialirkan ke kawat. Sesungguhnya dalam hal ini Faraday sudah menemukan motor listrik pertama, suatu skema pertama penggunaan arus listrik untuk membuat sesuatu benda bergerak. Betapapun primitifnya, penemuan Faraday ini merupakan "nenek moyang" dari semua motor listrik yang digunakan dunia sekarang ini.&lt;br /&gt;Ini merupakan pembuka jalan yang luar biasa. Tetapi, faedah kegunaan praktisnya terbatas, sepanjang tidak ada metode untuk menggerakkan arus listrik selain dari baterei kimiawi sederhana pada saat itu. Faraday yakin, mesti ada suatu cara penggunaan magnit untuk menggerakkan listrik, dan dia terus-menerus mencari jalan bagaimana menemukan metode itu. Kini, magnit yang tak berpindah-pindah tidak mempengaruhi arus listrik yang berdekatan dengan kawat. Tetapi di tahun 1831, Faraday menemukan bahwa bilamana magnit dilalui lewat sepotong kawat, arus akan mengalir di kawat sedangkan magnit bergerak. Keadaan ini disebut "pengaruh elektro magnetik," dan penemuan ini disebut "Hukum Faraday" dan pada umumnya dianggap penemuan Faraday yang terpenting dan terbesar.&lt;br /&gt;Ini merupakan penemuan yang monumental, dengan dua alasan. Pertama, "Hukum Faraday" mempunyai arti penting yang mendasar dalam hubungan dengan pengertian teoritis kita tentang elektro magnetik. Kedua, elektro magnetik dapat digunakan untuk menggerakkan secara terus-menerus arus aliran listrik seperti diperagakan sendiri oleh Faraday lewat pembuatan dinamo listrik pertama. Meski generator tenaga pembangkit listrik kita untuk mensuplai kota dan pabrik dewasa ini jauh lebih sempurna ketimbang apa yang diperbuat Faraday, tetapi kesemuanya berdasar pada prinsip serupa dengan pengaruh elektro magnetik.&lt;br /&gt;Faraday juga memberi sumbangan di bidang kimia. Dia membuat rencana mengubah gas jadi cairan, dia menemukan pelbagai jenis kimiawi termasuk benzene. Karya lebih penting lagi adalah usahanya di bidang elektro kimia (penyelidikan tentang akibat kimia terhadap arus listrik). Penyelidikan Faraday dengan ketelitian tinggi menghasilkan dua hukum "elektrolysis" yang penyebutannya dirangkaikan dengan namanya yang merupakan dasar dari elektro kimia. Dia juga mempopulerkan banyak sekali istilah yang digunakan dalam bidang itu seperti: anode, cathode, electrode dan ion.&lt;br /&gt;Dan adalah Faraday jua yang memperkenalkan ke dunia fisika gagasan penting tentang garis magnetik dan garis kekuatan listrik. Dengan penekanan bahwa bukan magnit sendiri melainkan medan diantaranya, dia menolong mempersiapkan jalan untuk pelbagai macam kemajuan di bidang fisika modern, termasuk pernyataan Maxwell tentang persamaan antara dua ekspresi lewat tanda (=) seperti 2x + 5 = 10. Faraday juga menemukan, jika perpaduan dua cahaya dilewatkan melalui bidang magnit, perpaduannya akan mengalami perubahan. Penemuan ini punya makna penting khusus, karena ini merupakan petunjuk pertama bahwa ada hubungan antara cahaya dengan magnit.&lt;br /&gt;Faraday bukan cuma cerdas tetapi juga tampan dan punya gaya sebagai penceramah. Tetapi, dia sederhana, tak ambil peduli dalam hal kemasyhuran, duit dan sanjungan. Dia menolak diberi gelar kebangsawanan dan juga menolak jadi ketua British Royal Society. Hidup perkawinannya panjang dan berbahagia, cuma tak punya anak. Dia tutup usia tahun 1867 di dekat kota London.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-7224586066457855813?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/7224586066457855813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=7224586066457855813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7224586066457855813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7224586066457855813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/michael-faraday-1791-1867.html' title='MICHAEL FARADAY 1791-1867'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy9sePGDwI/AAAAAAAAADM/Rdn8fnOJ25c/s72-c/14.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-4312257098660543367</id><published>2008-07-27T11:23:00.001-07:00</published><updated>2008-07-27T11:23:39.196-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>MAX WEBER DAN MASALAH RASIONALITAS</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebegitu jauh kita sudah memusatkan perhatian pada tema-tema budaya yang bersifat luas (Comte dan Sorokin) dan struktur ekonomi atau sosial (Marx, Durkheim). Dengan Weber, masalah-masalah motivasi individu dan arti subyektif menjadi penting. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk menganalisa hubungan yang penting antara pola-pola motivasi subyektif dan pola-pola institusional yang besar dalam masyarakat. Minat Weber dalam bidang institusi sosial (atau struktur sosial) dan perubahan sosial sama dengan Durkheim, namun keduanya berbeda dalam titik tolaknya.&lt;br /&gt;Setiap ahli teori yang mau mendasarkan analisanya mengenai pola-pola institusional dalam masyarakat pada orientasi-orientasi subyektif individu atau pola-pola motivasional, akan langsung menghadapi masalah yang bermacam-macam dan kompleks. Di mana orang harus mulai? Aspek apa dari orientasi dan motivasi subyektif individual itu yang akan sangat berguna dalam memahami dinamika-dinamika institusi sosial.&lt;br /&gt;Weber memilih konsep rasionalitas sebagai titik pusat perhatiannya yang utama; konsep ini sama pentingnya dengan konsep solidaritas untuk Durkheim, konflik kelas Marx, tahap-tahap perkembangan intelektual bagi Comte, dan mentalitas budaya untuk Sorokin. Weber melihat perkembangan masyarakat Barat yang modern sebagai suatu hal yang menyangkut peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas. Peningkatan ini tercermin dalam tindakan ekonomi individu setiap hari dan dalam bentuk-bentuk organisasi sosial; juga terungkapkan dalam evolusi musik Barat. Meskipun musik sering dilihat sebagai bahasa emosi, Weber memperlihatkan bahwa musik juga tunduk pada kecenderungan rasionalisasi yang merembes pada perkembangan kebudayaan Barat yang modern.&lt;br /&gt;Karena kriteria rasionalitas merupakan suatu kerangka acuan, maka masalah keunikan orientasi subyektif individu serta motivasinya sebagiannya dapat diatasi. Juga menurut perspektif ilmiah, kriteria rasionalitas merupakan suatu dasar yang logis dan obyektif untuk mendirikan suatu ilmu pengetahuan mengenai tindakan sosial serta institusi sosial, dan sementara itu membantu menegakkan hubungannya dengan arti subyektif.&lt;br /&gt;Beberapa masalah akan kita hadapi dalam menganalisa tindakan sosial menurut titik pandangan ini. Para ahli filsafat sosial, pujangga, dan pengamat sosial lainnya berbeda secara mendalam dalam memberikan prioritas pada pikiran, intelek, dan logika (kegiatan otak) atau pada hati (seperti perasaan, sentimen, emosi) kalau menjelaskan perilaku manusia. Sejauh mana perilaku manusia itu bersifat rasional? Tak seorangpun berbuat sesuatu tanpa pikiran, tetapi pikiran mungkin hanya sekedar keinginan untuk menyatakan suatu perasaan, dan bukan suatu perhitungan  yang sadar atau logis.&lt;br /&gt;Kebanyakan kita heran mengapa kadang-kadang pikiran kita tidak mampu membangkitkan motivasi atau mendorong kita untuk bertindak. Kadang-kadang mungkin juga kita berpikir bahwa tindakan orang lain itu sama sekali tidak masuk akal, hanya menjadi berarti apabila orang itu menjelaskan alasan bagi tindakan itu—mesipun kriteria yang kita gunakan untuk penilaian seperti itu mungkin agak longgar. Misalnya, mungkin kelihatannya masuk akal bahwa seseorang membayar dengan sangat mahal sebuah mobil besar yang kurang cepat apabila kita mengetahui bahwa ada temannya yang mati ketika mengendarai mobil kecil yang kurang bertenaga. Tetapi apabila orang-orang lalu memberikan pembenaran-pembenaran seperti itu, kita sepertinya heran kalau pembenaran seperti itu sebenarnya merupakan rasionalisasi yang bersifat ex post facto tentang tindakan, yang diberikan dengan alasan-alasan yag sangat berbeda. Pareto, misalnya, melihat kebanyakan tindakan itu bersifat nonlogis (muncul dari perasaan), dan yang lalu dirasionalisasikan menurut motif-motif yang dapat diterima secara sosial.&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sehubungan dengan rasionalitas malah menjadi lebih kompleks apabila kita melihat perannya dalam institusi-institusi sosial. Sejauh mana institusi sosial dan organisasi mencerminkan tipe rasionalitas? Salah satu sumbangan Weber yang paling masyhur terhadap sosiologi adalah analisa klasiknya mengenai birokrasi modern sebagai satu bentuk organisasi sosial yang paling rasional (secara teknis bersifat efesien) dirancangkan. Dalam pengertian apa suatu birokratis itu merupakan tipe organisasi sosial yang rasional? Dalam masyarakat modern yang dikendalikan secara birokratis ini, kita sering mengalami aspek-aspek tertentu dalam birokrasi yang tidak rasional, khususnya kalau kita dipaksa untuk berinteraksi dengan nasabah atau para langganan. Apa yang membatasi rasionalitas? Apakah rasionalitas suatu organisasi sosial merupakan suatu tipe yang berbeda atau berada pada tingkat yang berbeda dari yang bersifat individual.&lt;br /&gt;Kita tahu, misalnya, bahwa individu dalam posisi yang rendah dalam satu organisasi birokratis malah tidak sadar bagaimana sumbangannya yang khusus itu dihubungkan dengan yang dari ratusan orang lainnya dalam suatu sistem kegiatan yang saling tergantung dan sangat terkoordinasi secara rasional. Rasionalitas di tingkat individual dan di tingkat organisasi mungkin mencerminkan kriteria yang berbeda di mana keduanya tidak saling mengimplisit.&lt;br /&gt;Jawaban yang hanya “ya” atau “tidak” terhadap pertanyaan apakah tindakan manusia bersifat rasional atau tidak, adalah tidak mungkin. Tentu ada aspek rasional atau intelektual dalam kebanyakan perilaku manusia. Penggunaan teori implisit dalam menggambarkan pengalaman seseorang di masa lampau, dan dalam mengembangkan rencana untuk masa depan (seperti didiskusikan dalam Bab I) jelas merupakan suatu proses intelektual. Tetapi ada yang lebih lagi dalam perilaku manusia. Suatu aspek perasaan juga tercakup dalam tindakan, seperti nilai dan tujuan yang berada di luar kriteria perhitungan rasional. Analisa mengenai tempat rasionalitas dalam tindakan manusia menuntut kita untuk mendefinisikan apa yang dimaksudkan dengan rasionalitas khususnya, dan tingkatannya baik secara individual maupun institusional di mana istilah ini diterapkan. Sebelum mendiskusikan sumbangan Weber terhadap teori sosiologi, kita akan melihat sepintas kilas kehidupan Weber serta konteks intelektual dan sosial di mana dia hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. RIWAYAT HIDUP WEBER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Weber lahir di Erfurt, Thuringia tahun 1864, tetapi di besarkan di Berlin di mana keluarganya pindah ketika dia berumur lima tahun. Keluarganya adalah orang Protestan kelas-menengah-atas, sangat termakan oleh kebudayaan borjuis. Ayahnya adalah seorang hakim di Erfurt dan ketika keluarganya pindah ke Berlin, dia menjadi seorang penasihat di pemerintahan kota dan kemudian menjadi anggota Prussian House of Deputies dan German Reichhstag. Dia juga terlibat dalam Partai Liberal Nasional; dia sering bergaul dengan kalangan intelektual dan politisi di Berlin. Pendirian politiknya sudah kuat di masa Bismarck, tetapi dia tidak bersedia berkurban untuk tujuan-tujuan idealistik. Jelas, tanpa keyakinan yang mendalam atau ideal yang tinggi, ayah Weber nampaknya senang dengan kompromi politik dan kesenangan borjuis.&lt;br /&gt;Ibu Weber, Helene Fallenstein Weber, memiliki watak yang sangat berbeda. Keyakinan agamanya serta perasaan saleh Calvinis jauh lebih besar daipada suaminya. Ketegangan keluarga muncul dari perkawinan antara seorang ibu yang sangat saleh dan penuh tanggung jawab dengan seorang politisi yang suka senang-senang dan mudah kompromi yang mengendalikan keluarganya dengan tangan besi, malah sampai menganiaya istrinya. Latar belakang ini mungkin merupakan satu elemen dalam konflik batin yang diderita Weber selama hampir seluruh kehidupan dewasanya; hal ini pasti mengundang suatu analisa psikoanalitis seperti yang kita dapati dalam biografi yang ditulis oleh Mitzmann.&lt;br /&gt;Ketika masih kecil, Weber adalah seorang pemalu dan sering sakit, tetapi dia sangat jenius; dia membaca dan menulis sesuatu secara ilmiah ketika dia masih remaja. Dia memberontak terhadap otoritas guru-gurunya, dan berpendapat bahwa sekolah yang rutin itu membosankan dan minat intelektual dari teman-teman sebayanya sangat tidak karuan. Pada usia delapan belas tahun Weber mulai mempelajari hukum di Universitas Heidelberg. Pada waktu itu dia kelihatannya memiliki identifikasi yang kuat terhadap ayahnya.&lt;br /&gt;Studinya di Heidelberg terganggu karena tugas militer di Strasbourg selama satu tahun, di mana dia menjalin hubungan erat dengan pamannya bernama Hemann Baumgarten dan tantenya dari pihak ibu bernama Ida. Hermann Baumgarten tidak mengubah liberalisme politik di masa mudanya demi kepentingan politik. Ida, seperti saudaranya, adalah seorang saleh, memiliki perasaan tanggung jawab dan sangat humanis; namun dia lebih mampu mengungkapkan nilai-nilai ini dalam kehidupannya secara efektif daripada ibu Weber. Baik dalam ideologi maupun dalam watak, keluarga Baumgarten kelihatannya jauh lebih rukun satu sama lain daripada orang tua Weber sendiri. Idealisme Hermann Baumgarten sendiri, dibarengi dengan sikap hormat yang dia tunjukkan kepada isterinya yang saleh itu, memperlihatkan kepada Weber bahwa sukses yang praktis tidak harus menuntut seluruh pengorbanan prinsi-prinsip kesadaran. Keluarga Baumgarten memperlakukan Max Weber dengan suatu sikap hormat intelektual, kehangatan emosional, dan barangkali karena suasana yang mendukung ini, Weber sangat dipengaruhi mereka. Sebagai akibatnya antara lain, Weber lebih banyak mengikuti ibunya.&lt;br /&gt;Perhatian Weber kemudian dalam bidang teori mengenai pengaruh ide-ide (atau ideal-ideal) dan kepentingan dalam mengendalikan perilaku manusia tergambar dalam keluarganya. Ayahnya memberikan prioritas pada kepentingan politik dan ekonomi, sedangkan ibunya dan keluarga Baumgarten memberikan prioritas kepada ideal-ideal etika Protestantisme. Akhirnya Weber menolak sikap ayahnya yang bersifat amoral dan mengarahkan perilakunya sesuai dengan ibunya.&lt;br /&gt;Weber meneruskan studi akademisnya di Berlin, dan mulai membantu dalam pengadilan hukum di sana sementara tinggal dengan orang tuanya. Pada tahun 1889 dia menyelesaikan tesis doktoralnya (“History of Commercial Societies of the Middle Ages”). Sesudah merampungkan tesis post-doktoral (yang diminta untuk bisa mengajar di universitas), mengenai sejarah agraria Roma, dia mulai mengajar di Universitas Berlin, dan sementara itu masih bekerja sebagai pengacara. Beban pekerjaannya selama tahun-tahun ini berat, dan dia menjadi orang yang teliti dan metodis; langkah ini mungkin merupakan suatu cara untuk mengalihkan perhatiannya dari sikapnya yang negatif terhadap ayahnya. Bagaimanapun juga, dia terus hidup bersama kelarganya sampai tahun 1893, saat dia menikahi Marianne Schnizer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gangguan dalam Karir Akademisnya&lt;br /&gt;Weber mulai membaktikan seluruh waktunya untuk kehidupan akademisnya ketika dia menerima kedudukan sebagai profesor ekonomi di Universitas Freiburg tahun 1894. dua tahun kemudian dia kembali ke Universitas Heidelberg sebagai profesor ekonomi. Produktivitas ilmiahnya sangat banyak selama awal karir akademisnya.&lt;br /&gt;Awal yang penuh meyakinkan ini harus terputus. Tahun 1897 orang tuanya datang mengunjunginya di Heidelberg, dan selama itu ayah dan anak itu terlibat dalam suatu perdebatan yang sengit. Max Weber menuduh ayahnya terlampau kasar memperlakukan ibunya, dan mengusir ayahnya dari rumah. Kurang lebih sebulan kemudian, ayahnya meninggal. Tragedi ini jelas membuat Weber merasa demikian bersalahnya sehingga kesehatan fisik dan psikologisnya menjadi terganggu selama bertahun-tahun; tahun1899 dia harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa minggu lamanya. Walaupun dia mendapat kelonggaran sementara untuk tidak kerja terlampau keras, dia tidak dapat meneruskan pemberian kuliah secara teratur. (Untunglah, kebijaksanaan universitas tidak sampai memecatnya). Meskipun berulangkali dia berusaha, baru pada tahun 1918 Weber dapat memberikan kuliah satu semester penuh di Universitas Wina.&lt;br /&gt;Namun selama masa-masa genting itu, Weber bukanlah tidak aktif. Dia membuat perjalanan ke Italia dan tempat-tempat lainnya, dan tahun 1903 dia bergabung dengan Sombart dalam menerbitkan Aschiv Füer Sozialwissenschaft und Sozialpolitik, yang menjadi jurnal ilmu sosial yang terkemuka di Jerman. Tahun 1904 dia menerbitkan bagian pertama dari bukunya yang berjudul Protestant and the Spirit of Capitalism, dan juga bertolak menuju Amerika Serikat untuk menyampaikan sebuah paper yang sangat baik dalam suatu Kongres Seni dan Ilmu Pengetahuan di St. Louis. Kemudian dia berjalan-jalan di Amerika selama tiga bulan, sambil mengamati pengaruh sekte Protestan, peranan birokrasi dalam suatu masyarakat demokratis, dan pola perserikatan yang bebas. Tahun 1910 dia bekerja dengan Tonnies dan Simmel dalam mendirikan German Sosiolocal Society.&lt;br /&gt;Sebagai seorang nasionalis tulen yang mengagumi tujuan Bismarck untuk mengembangkan suatu Jerman yang kuat dan bersatu. Weber mengkritik Bismarck yang tidak toleran terhadap pemimpin-pemimpin yang berpikiran bebas, dan karena tidak memperhatikan petani-petani Jerman Timur yang terlantar karena pertumbuhan daerah-daerah yang Junker. (Dia memperhatikan terutama pada kebijaksanaan Junker yang mengandalkan pekerja musiman dari Polando, akan merusakkan persatuan Jerman.) Akhirnya, dia bergeser ke kiri dari Partai Liberal Nasional ayahnya ke Demokrat Sosial, namun selama hidupnya dia tetap tidak memihak satu partai atau ideologi apa pun. Selama krisis politik dan kebijaksaan luar negeri yang mendahului Perang Dunia I, Weber menjadi semakin putus asa atas keadaan dan nasib bangsa dan akan ketidakmampuan yang buta dan ceroboh dalam kepemimpinan dan struktur administratif.&lt;br /&gt;Namun, ketika perang mulai, Weber adalah seorang pendukung pertama yang antusias, dengan menyebutnya “suatu perang besar dan mengagumkan”. Malah dia menjadi sukarelawan (walaupun dia sudah berusia lima puluh tahun ) dan sebagai seorang perwira cadangan, dia diserahi memegang pimpinan untuk sembilan rumah sakit militer, suatu posisi yang memberikannya suatu pemahaman dari dalam mengenai birokrasi. Pada suatu ketika, Weber menentang meluasnya peperangan, khususnya di laut, karena dia melihat Amerika terlibat dan Jerman akan dikalahkan. Dia berusaha matia-matian, namun tidak berhasil untuk mendesakkan pengaruh politiknya.&lt;br /&gt;Sesudah pensiun dengan hormat dari pangkat perwira cadangannya, dia terus berproduksi. Seri monografnya mengenai perbandingan agama diterbitkan tidak lama sesudah dia pensiun dari kegiatan militernya, dan terus melanjutkan karya utamanya, Wirtschaft und Gesselschaft Economy and Society), yang sudah dimulainya lebih dulu. Namun kasihan, Weber tidak sempat menyelesaikan karyanya ini. 24 Juni 1920 dia meninggal karena menderita penemoni; sebagian besar karirnya tidak selesai.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Iklim Sosial dan Politik&lt;br /&gt;Struktur sosial dan politik di Jerman pada masa Weber sangatlah tegang dan penuh dengan kontradiksi, seperti halnya dengan kehidupan keluarganya. Karena kepentingan politik yang mendalam dan semangat nasional, ketegangan dan kontradiksi ini pasti juga mempengaruhi perjuangan batin Weber. Jerman mengalami masa damai selama 43 tahun sebelum pecahnya Perang Dunia I tahun 1914, meskipun perdamaian itu bersifat goyah. Sesudah pemerintahan Bismarck berakhir, kebijaksanaan luar negeri Jerman memburuk, menjadi tidak menentu dan condong ke kebijaksanaan kolonial dan ekspansi militer. Meskipun nasionalismenya kuat, Weber menentang ekspansi yang tidak realistik seperti itu, kadang-kadang mengalami putus asa karena kebijaksanaan Jerman.&lt;br /&gt;Iklim sosial dan politik di Jerman pada masa Weber, sebagiannya merupakan akibat dari kenyataan bahwa Revolusi Industri dan perubahan yang berhubungan dengan revolusi itu di dalam bidang ekonomi terjadi lebih kemudian di Jerman daripada di Inggris atau Prancis. Walaupun demikian, selama masa muda Weber dan di tahap-tahap awal karirnya, industrialisasi sedang mulai dengan kecepatan yang cukup tinggi. Inggris merupakan model suatu masyarakat industri yang kuat dengan perhatian kolonial ke penjuru dunia; adalah wajar kalau struktur kekuasaan politik di Jerman berjuang untuk membuktikan bahwa Jerman merupakan suatu kekuasaan dunia yang tidak kalah pentingnya. Perkembangan kekuasaan di Jerman dianggap penting untuk mencegah dominasi politik-budaya Inggris dan Rusia.&lt;br /&gt;Kalau perkembangan industri dan kekuasaan ekonomi borjuis meluas dengan pesat di belahan barat Jerman, maka di bagian timurnya masih didominasi oleh pola feodal tradisional di mana nilai gaya hidup aristokratik hidup. Jerman belum mengalami suatu revolusi yang menyeluruh dan menentukan seperti Revolusi Prancis; karena itu sistem nilai tradisional masih sangat berpengaruh. Struktur politik, khususnya pelayanan umum, masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai konservatif ini. Banyak dari kelas borjuis yang naik dengan pesat mengharapkan bahwa mereka atau keturunannya sekali kelak akan masuk ke jenjang aristokrasi atau sekurang-kurangnya menikmati status serupa itu.&lt;br /&gt;Tetapi dasar ekonomi bagi gaya hidup aristokrasi ini sangat cepat goyah, sebagiannya karena dominasi ekonomi kaum borjuis yang semakin besar serta pola-pola perdagangan luar negeri yang sedang mengalami perubahan. Jadi struktur sosial dan politik di Jerman ditandai oleh suatu perpecahan yang tajam antara struktur ekonominya dan struktur politik serta sistem nilainya. Struktur ekonomi semakin dikuasai oleh sistem industri dan kaum borjuis, sedangkan sistem nilai budaya dan struktur politik masih didominasi oleh nilai-nilai semifeodal yang tradisional dan konservatisme birokratis.&lt;br /&gt;Di atas kontradiksi internal yang mendasar ini, terdapat tekanan nasionalisme yang kuat dari para pemimpin politik yang dimungkinkan terutama oleh birokrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata yang teratur, baik yang didominasi oleh konservatisme Prusia maupun kesetiaan pada kewajiban. Dalam sistem administratif Prusia dan angkatan bersenjatanya serta dalam organisasi perusahaan industri, Weber banyak mengamati banyak mengamati karateristik birokrasi (yang dianalisanya) dan pengaruh-pengaruhnya yang melemahkan kepribadian individu (yang ditakutinya). Pada suatu tingkat yang lebih abstrak, Kontradiksi dasar dalam masyarakat Jerman antara munculnya sistem ekonomi baru, sistem nilai, dan struktur politik memberikan kepada Weber satu ilustrasi mengenai pandangannya tentang perbedaan antara kelas, status, dan kekuasaan, sebagai dasar-dasar alternatif untuk stratifikasi sosial, yang demikian pentingnya bagi strudi-studi sejarahnya.&lt;br /&gt;Peranan kaum intelektual di Jerman juga patut kita sebut. Profesor-profesor di universitas suka akan penghargaan yang tinggi dan bayaran yang baik serta biasanya merasa tidak terlalu perlu untuk bersifat sangat kritis terhadap status-quo dalam bidang politik. Kaum akademisi yang sudah mantap ini cenderung menganut ideologi politik dari struktur kekuasaan dan mendukung tujuan politik untuk suatu Jerman yang kuat, satu, dan dominan dalam bidang kebudayaan. Meskipun beberapa sarjana tetap jauh dari politik, sambutan mereka umumnya terhadap status-quo, dalam kenyataannya merupakan dukungan bagi mereka yang terlibat secara aktif. Ada lingkungan-lingkungan intelektual yang secara resmi tidak berhubungan dengan universitas dari mana muncul pemikiran-pemikiran kritis. Kelompok ini antara lain mereka yang dalam universitas termasuk dalam jenjang bawah, yang tidak memiliki pengaruh politik yang nyata dan tidak mampu untuk menantang pengaruh politik dari profesor-profesor universitas yang memiliki prestise yang tinggi. Tidak seperti situasi di Prancis, kehidupan sosial politik tidak terlampau bergejolak oleh kritik-kritik dari kaum intelektual.&lt;br /&gt;Minat Weber dalam bidang politik menjadi moderat karena pendiriannya yang kuat pada obyektivitas intelektual. Walaupun demikian, baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam tulisannya ada suatu perasaan yang tajam akan pentingnya untuk menolak atau mengesampingkan politik praktis. Kalau kita mengikuti keterlibatannya yang sebentar itu dalam gerakan Sosial-Kristen, Weber menjadi seorang pendukung yang kuat terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan demokratis. Salah satu dari alasan-alasan utamanya adalah kepercayaan akan suatu sistem politik demokratis yang dapat merangsang munculnya pemimpin-pemimpin politik yang kuat, yang dapat meningkatkan kesatuan nasional. Dia terkesan oleh political machines yang kuat dalam sistem politik di Amerika.&lt;br /&gt;Meskipun Weber simpatik terhadap masalah-masalah kelas pekerja di kota, perhatian utamanya adalah bahwa kelas pekerja itu (dan semua kelompok kepentingan utama) harus terlibat dalam mendukung tujuan nasionalisme Jerman. Namun dia tidak terlalu yakin bahwa partai Demokrat Sosial merupakan partai yang meningkatkan kepentingan kaum proletar. Di masa-masa menjelang kematiannya dia membantu mengorganisasi Partai Demokrat Sosial Jerman, suatu partai kaum borjuis liberal. Dia juga menjadi anggota komisi yang merancangkan Konstitusi Weimar. Kalau dia hidup lebih lama mungkin dia sangat terlibat dalam politik di Jermamn sesudah perang.&lt;br /&gt;Sosiologi Weber harus dimengerti dalam konteks latar belakang sosial politik masyarakat Jerman, suatu masyarakat yang berada dalam transisi yang pesat dan penuh dengan Kontradiksi internal. Selagi Weber hidup, Jerman mengalami transisi dari suatu masyarakat yang sangat bersifat agraris ke masyarakat yang sangat bersifat industri dan perkotaan. Transisi ini disertai oleh rasionalisasi yang semakin bertambah dalam semua bidang kehiduan politik dan ekonomi.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. TINDAKAN INDIVIDU DAN ARTI SUBYEKTIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weber sangat tertarik pada masalah-masalah sosiologi yang luas mengenai strutur sosial dan kebudayaan, tetapi dia melihat bahwa kenyataan sosial secara mendasar terdiri dari individu-individu dan tindakan-tindakan sosialnya yang berarti. Dia mendefinisikan sosiologi sebagai:&lt;br /&gt;Suatu ilmu pengetahuan yang berusaha memperoleh pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial agar dengan demikian bisa sampai ke suatu penjelasan kausal mengenai arah dan akibat-akibatnya. Dengan”tindakan” dimaksudkan semua perilaku manusia, apabila atau sepanjang individu yang bertindak itu memberikan arti subyektif kepada tindakan itu….. tindakan disebut sosial karena arti subyektif tadi dihubungkan dengannya oleh individu yang bertindak…..memperhitungkan perilaku orang lain dan karena itu diarahkan ke tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gambaran Weber tentang Kenyataan Sosial Versus Durkheim&lt;br /&gt;Tekanan dalam definisi Weber itu berbeda dari pendirian Durkheim bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial yang bersifat eksternal, memaksa individu, dan bahwa fakta sosial harus dijelaskan dengan fakta sosial lainnya. Durkheim melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang mengatasi individu, berada pada suatu tingtkat yang bebas; Weber melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan tindakan-tindakan sosial.&lt;br /&gt;Perbedaan antara Durkheim dan Weber berhubungan dengan suatu pembedaan dasar antara dua gambaran mengenai kenyatan sosial yang berlawanan. Durkheim memiliki posisi yang umumnya berhubungan dengan realisme social. Artinya, masyarakat dilihat sebagai sesuatu yang riil, berada secara terlepas dari individu-individu yang kebetulan termasuk di dalamnya dan bekerja menurut prinsip-prinsipnya sendiri yang khas, yang tidak harus mencerminkan maksud-maksud individu secara sadar. Posisi realis itu tercermin dalam pelbagai teori organik mengenai masyarakat. Teori-teori seperti itu membandingkan masyarakat dengan organisme biologis dalam pengertian bahwa masyarakat itu merupakan suatu kenyataan yang lebih daripada sekedar jumlah bagian-bagiannya.&lt;br /&gt;Sebaliknya, posisi Weber berhubungan dengan posisi nominalis. Kaum nominalis berpendirian bahwa hanya individu-individulah yang riil sercara obyektif, dan bahwa masyarakat hanyalah satu nama yang menunjuk pada sekumpulan individu-individu. Konsep struktur sosial atau tipe-tipe fakta sosial lainnya yang lebih daripada individu dan perilakunya serta transaksinya dianggap sebagai suatu abstraksi spekulatif tanpa suatu dasar apa pun dalam dunia empiris. Posisi seperti ini kelihatannya sejalan dengan pandangan individualistik mengenai struktur sosial. Individualisme yang dianut oleh kaum ekonomi politik di Inggris serta utilitarianisme dapat dilihat sebagai satu contoh; dalam pandangan mereka, masyarakat dan institusi sosial merupakan hasil dari persetujuan kontraktual antara individu-individu yang mereka sepakati, untuk mengejar kepentingan-kepentingan mereka. Ide bahwa ada hukum-hukum umum yang mengendalikan masyarakat terlepas dari individu-individu yang membentuk masyarakat merupakan gagasan yang sama sekali tidak masuk akal menurut pandangan ini.&lt;br /&gt;Analisa subtantif Weber tidak mencerminkan suatu posisi individualistik yang demikian ekstremnya. Dia mengakui pentingnya dinamika-dinamika kecenderungan sejarah yang besar dan pengaruhnya terhadap individu. Namun demikian, semua pernyataan umum yang berhubungan dengan kecenderungan sejarah itu, dalam analisa akhirnya, merupakan pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan kecenderungan-kecenderungan atau pola-pola tindakan atau interaksi individu. Posisi Weber dapat dilihat sebagai suatu yang behubungan dengan individualisme metodologis. Artinya, data ilmiah bagi ilmu sosial akhirnya berhubungan dengan tindakan-tindakan individu.&lt;br /&gt;Perbedaan penting lainnya antara Durkheim dan Weber adalah pandangannya mengenai proses-proses subyetkif. Tekanan Durkheim pada fakta sosial sebagi benda mencerminkan suatu usaha untuk bersifat obyektif dan berlandaskan pada kenyataan, dan karena itu juga untuk menghilangkan orientasi-orientasi subyektif dari analisa sebanyak mungkin, kecuali dalam hal di mana orienatasi-orientasi ini mencerminkan fakta obyektif yang dimiliki bersama seluruh lingkungan sosial itu. Sebaliknya, arti-arti subyektif sangat penting dalam definisi Weber. Dia justru bertekad untuk memiliki sikap ilmiah seprti Durkheim, tetapi ada perbedaan di antara keduanya karena mereka memiliki latar belakang intelektual yang berlainan.&lt;br /&gt;Posisi Weber jelas dalam kutipan berikut ini:&lt;br /&gt;Sosiologi interpretatif memandang individu dan tindakannya sebagai satuan dasar, sebagai “atom”-nya……. Dalam pendekatan ini, individu juga yang paling penting dan satu-satunya yang melaksanakan tindakan yang berarti itu….. umumnya bagi sosiologi, konse-konsep tertentu dalam interaksi manusia. Karena itu adalah tugas sosiologi untuk mereduksikan konsep-konsep ini ke tindakan “yang dapat dimengerti”, artinya, tanpa terkecuali, ke tindakan orang-orang yang berpartisipasi secara individual.&lt;br /&gt;Tujuan Weber adalah untuk masuk ke arti-arti subyektif yang berhubungan dengan pelbagai “katagori interaksi manusia”, untuk menggunakannya dalam membedakan antara tipe-tipe struktur sosial dan untuk memahami arah perubahan sosial yang besar dalam masyarakat-masyarakat Barat.&lt;br /&gt;Mengapa Weber menekankan individu dan arti subyektif dalam tindakan yang sedang dilaksanakan oleh manusia? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diingat bahwa latar belakang intelektual di masa Weber hidup sangat menekankan idealisme dan historisisme. (Tulisan-tulisan Marx menolak posisi idealistik, namun secara intelektual masih penting). Tekanan ini misalnya dinyatakan dalam pandangan Hegel yang mengatakan bahwa roh akal budi yang bersifat universal sedang direalisasikan terus-menerus dalam kemajuan sejarah. Pandangan serupa itu harus berpusat pada dunia budaya—pada ideal-ideal manusia, nilai-nilai, dan realisasi kemajuannya dalam sejarah.&lt;br /&gt;Dunia budaya tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang sesuai dengan yang dimengerti menurut hukum-hukum ilmu alam saja, yang menyatakan hubungan keharusan kausal; dunia budaya dilihat sebagai suatu dunia kebebasan dan dalam hubungannya dengan pengalaman dan pemahaman internal di mana arti-arti subyektif itu ditangkap. Pengetahuan yang obyektif melulu mengenai tipe yang dicari dalam ilmu-ilmu alam tidaklah cukup. Pandangan mengenai sifat khususnya ilmu-ilmu sosial dan budaya dikembangkan oleh pembimbing Weber, seorang sejarawan budaya benama Wilhelm Ditthey, dan dimasukkan dalam pendekatan Weber. Jelas hal ini berbeda dari positivisme Prancis seperti yang tercermin dalam usaha Comte dan Durkheim untuk memperoleh hukum-hukum ilmiah yang universal yang mengatur perilaku manusia dalam satu pengertian yang obyektif atau yang bersifat eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjelaskan Tindakan Sosial melalui Pemahaman Subyektif&lt;br /&gt;Mungkin aspek pemikiran Weber yang paling terkenal yang mencerminkan tradisi idealis adalah tekanannya pada verstehen (pemahaman subyektif) sebagai metoda untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai arti-arti subyektif tindakan sosial. Bagi Weber, istilah ini tidak hanya sekedar merupakan introspeksi. Introspeksi bisa memberikan seseorang pemahaman akan motifnya sendiri atau arti-arti subyektif, tetapi tidak cukup untuk memahami arti-arti subyektif dalam tindakan-tindakan orang lain. Sebaliknya, apa yang diminta adalah empati—kemampuan untuk menempatkan diri dalam kerangka berpikir orang lain yang prilakunya mau dijelaskan dan situasi serta tujuan-tujuannya mau melihat menurut perspektif itu. Proses itu menunjuk pada konsep “mengambil peran” yang terdapat dalam interaksionisme simbol.&lt;br /&gt;Kegagalan teoritisi sosial memperhitungkan arti-arti subyektif individu serta orientasinya, dapat membuatnya memasukkan perspektif dan nilainya sendiri dalam memahami perilaku orang lain. Hasilnya mungkin berupa suatu filsafat sosial yang sangat mendalam atau suatu interpretasi keliru mengenai perilaku manusia; namun pastilah bahwa itu tidak merupakan sosiologi ilmiah yang didasarkan pada data empirik. Filsafat sosial dari kelompok idealis seperti Hegel, yang menginterpretasikan semua sejarah Barat sebagai suatu ungkapan dari roh akal budi, didasarkan pada tipe semua sejarah Barat sebagai ungkapan dari roh akal budi, didasarkan pada tipe introspeksi nonempirik ini. Bagi dia, karena semua manusia memiliki roh universal ini, orang dapat memahami orang lain dengan tepat melalui introspeksi.&lt;br /&gt;Sebaliknya Weber berpendirian bahwa sosiologi haruslah merupakan suatu ilmu empirik; sosiologi haruslah menganalisa perilaku aktual manusia individual menurut orientasi subyektif mereka sendiri. Tekanan yang diberikan Weber bersama dengan kaum historis Jerman, berlawanan dengan strategi idealistik yang hanya menginterpretasi individu atau perkembangan sejarah suatu  masyarakat menurut asumsi-asumsi apriori yang luas. Tekanan yang bersifat empirik ini sejalan dengan positivisme; tetapi itu tidak berarti menghilangkan aspek-aspek subyektif dan hanya memperhatikan aspek-aspek obyektif yang nyata (overt). Memperhatikan elemen-elemen perilaku yang bersifat subyektif sangat penting untuk menghindari bias dalam interpretasi yang akan muncul kalau seorang ahli teori hanya penilaiannya sendiri pada perilaku orang lain.&lt;br /&gt;Weber maju setapak lebih jauh dalam memisahkan nilai-nilai dari analisa ilmiah. Selain waspada terhadap bias dengan metoda verstehen-nya, Weber juga mempertahankan bahwa pengetahuan ilmiah tidak pernah dapat merupakan suatu dasar untuk memberikan pertimbangan nilai. Ilmu pengetahuan bersifat netral dalam hubungannya dengan menilai posisi-posisi moral yang bertentangan. Dalam hal ini Weber berbeda dari kaum positivis Prancis seperti Comte dan Durkheim di mana mereka percaya sekali bahwa pengetahuan empirik yang memadai mengenai hukum-hukum masyarakat dapat merupakan suatu dasar bagi rekonstruksi moral dan pendidikan. Weber mengakui bahwa nilai-nilai mempengaruhi karya ilmiah, khususnya dalam penentuan gejala yang dianalisa atau permasalahan-permasalahan yang akan diteliti. (Minat Weber sendiri dalam bidang politik dipengaruhi oleh nasionalismenya yang bernyala-nyala). Tetapi, sekali kenyataan-kenyataan itu masuk menjadi permasalahan tertentu, kenyataan-kenyataan itu tidak dapat digunakan untuk menjadi bukti yang meyakinkan mengenai legitimasi akan suatu posisi moral tertentu. Obyektivitas dan netralitas nilai masih diakui sebagai bagian dari warisan Weber untuk sosiologi masa kini.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Analisa Tipe: dari Peristiwa Unik ke Proposisi Umum&lt;br /&gt;Di samping idealisme, aliran historis Jerman juga mempengaruhi pemikiran sosial Jerman. Dalam ekonomi, misalnya, kaum sejarawan menolak ekonomi klasik Inggris (dengan asumsinya yang bersifat umum mengenai sifat-sifat “manusia ekonomi” yang universal, dari mana proposisi-proposisi yang diterapkan secara universal mengenai perilaku ekonomi dapat kiranya ditarik). Bagi kaum sejarawan Jerman, proposisi semacam ini tidak berlaku untuk pelbagai faktor sosial budaya yang membatasi rasionalitas ekonomi. Mereka menekankan situasi institusional tertentu dalam perilaku ekonomi. Juga mereka percaya bahwa semua institusi sosial hanya dapat dimengerti dalam hubungannya dengan latar belakang historis tertentu yang unik dan kebudayaan suatu masyarakat tertentu. Weber setuju dengan pendapat bahwa perilaku sosial ekonomi harus dihubungkan dengan situasi institusionalnya. Tetapi bagi seorang sejarawan, tekanan pada keunikan institusional membuat orang sibuk dengan data historis yang memukau, dengan hanya sedikit memperhatikan generalisasi teoritis yang melampaui suatu periode historis tertentu atau masyarakat tertentu. Berlawanan dengan pendekatan ini, Weber mengembangkan tipe ideal sebagai suatu cara untuk memungkinkan perbandingan dan generalisasi empirik.&lt;br /&gt;Para ahli ilmu sosial yang lebih dulu sudah menggunakan analisa tipe ideal ini secara implisit. Penjelasan formal mengenai tipe ideal itui sebagai suatu teknik metodologis yang dirancangkan, merupakan salah satu dari sumbangan Weber yang paling penting dalam bidang metodologi. Dalam konteks teori keseluruhannya, tipe ideal ini harus dilihat dari suatu pengimbangan terhadap tekanannya pada individu, yang merupakan kunci untuk mengadakan generalisasi ke satuan-satuan sosial yang lebih besar yang ada di belakang tingkat individual itu.&lt;br /&gt;Penggunaan tipe-tipe ideal merupakan hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita berbicara tentang warga yang tipikal atau khas, politisi yang khas, mahasiswa yang khas, dan seterusnya, apabila kita mau menggambarkan karakteristik-karateristik yang umum daripada yang unik mengenai orang-orang itu dalam suatu kategori tertentu.&lt;br /&gt;Weber mengemukakan bahwa “suatu tipe ideal dibentuk dengan suatu penekanan yang berat sebelah mengenai satu pokok pandangan atau lebih, atau dengan sintesa dari gejala-gejala individual kongkret, yang sangat tersebar, memiliki sifatnya sendiri-sendiri, yang kurang lebih ada dan kadang-kadang tidak ada, yang diatur menurut titik pandangan yang diberi tekanan secara berat sebelah ke dalam suatu konstruk analitis yang terpadu”.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, si penganalisa memilih aspek-aspek suatu gejala yang kelihatannya sama dengan konsistensi logis dan mengkonstruksikan suatu keseluruhan dari aspek-aspek itu yang terpadu dan kompak. Konstruk intelektual ini mungkin mengabaikan atau menyimpang dari aspek-aspek tertentu yang terdapat dalam gejala empirik, namun hal ini tidak dapat dihindarkan, karena kenyataan sosial adalah sangat kompeks untuk dapat dimengerti dalam semua kompleksitasnya itu. Sekali tipe ideal itu dikonstruksikan, dia dapat dipergunakan sebagi tonggak pengukur untuk menilai seberapa jauh gejala itu sesuai dengan tipe ideal itu, dan sebagai konsep teoritis dalam mengembangkan hipotesa-hipotesa penelitian.&lt;br /&gt;Konstruksi tipe-tipe ideal tidak mengandung pertimbangan nilai mengenai gejala yang sedang kita amati itu. Orang dapat mengembangkan suatu tipe ideal mengenai seorang jahat dan dia juga bisa mengkonstruksikan tipe ideal untuk orang kudus. Tipe ideal dipergunakan untuk analisa, bukan untuk evaluasi.&lt;br /&gt;Mungkin tipe ideal yang paling terkenal dari Weber adalah birokrasi. Pelbagai karakteristik birokrasi—pembagian kerja dan spesialisasi, hirarki otoritas, penerimaan pegawai berdasarkan keahlian teknis, tekanan pada pertaruran formal dan impersonal—membentuk tipe ideal suatu organisasi birokratis.&lt;br /&gt;Tipe ideal dapat dikonstruksikan menurut tingkat-tingkat yang berbeda-beda dan dengan tingkat generalitas yang berbeda-beda pula. Orang dapat mengembangkan tipe ideal mengenai pola-pola personalitas, hubungan sosial, kelompok atau kolektivitas yang lebih besar. Sama halnya, orang dapat mengembangkan suatu tipe ideal yang berlaku untuk suatu situasi historis tertentu, atau yang berlaku untuk suatu pola yang lebih luas sifatnya, misalnya “ manusia ekonomi”. Apa yang menentukan tingkat dan derajat generalitas merupakan sesuatu yang berhubungan dengan minat analitis seorang ahli teori. Tentu pantas untuk menganalisa suatu peristiwa individual yang unik atau peristiwa sejarah yang unik yang mempunyai relevansi sosiologisnya, kalau orang memutuskan untuk melaksanakannya. Juga pantas untuk menggeneralisasi, untuk menentukan uniformitas dalam sejumlah situasi, dan hal ini dapat dilaksanakan dengan metoda tipe ideal.&lt;br /&gt;Dengan menerima pendekatan-pendekatan itu sebagai sahih (valid), Weber tidak sependapat dengan para ahli filsafat neo-Kantian seperti Rickert dan Windelband. Mereka membedakan antara ilmu pengetahuan idiografis yang memusatkan perhatiannya pada penggambaran mengenai peristiwa-peristiwa unik, dan ilmu pengetahuan nomotetik,yang berusaha menegakkan hukum-hukum umum atau universal, dan mengemukakan bahwa kebudayaan dan sejarah manusia termasuk dalam kategori idiografis.&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga tipe ideal memungkinkan si ahli teori untuk mengabaikan karateristik-karateristik yang unik dari suatu gejala sosial, dan memusatkan perhatiannya pada karateristik-karateristik yang khas. Dengan cara ini Weber dapat mempelajari satuan-stuan yang lebih besar, yang didasarkan pada tindakan-tindakan yang khas, dari individu-individu yang khas, dalam situasi-situasi social yang khas pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. TIPE-TIPE TINDAKAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tindakan sosial itu harus dimengerti dalam hubungannya dengan arti subyektif yang terkandung di dalamnya, orang perlu mengembangkan suatu metoda untuk mengetahui arti subyektif ini secara obyektif dan analitis. Dalam keadaan tidak ada metoda seperti itu, kritik-kritik terhadap pelbagai pendekatan subyektif benar yang mengatakan bahwa aspek-aspek pengalaman individu yang tidak dapat diamati tidak dapat dimasukkan dalam suatu analisa ilmiah mengenai perilaku manusia. Namun bagi Weber, konsep rasionalitas merupakan kunci bagi suatu analisa obyektif mengenai arti-arti subyektif dan juga merupakan kunci bagi suatu analisa obyektif mengenai arti-arti subyektif dan merupakan dasar perbandingan mengenai jenis-jenis tindakan sosial yang berbeda.&lt;br /&gt;Dalam melihat konflik tradisional antara kaum obyektivis dan subyektivis, “analisa obyektif mengenai arti subyektif” mungkin kelihatannya merupakan suatu kontradiksi dalam istilah-istilah itu sendiri. Asumsi yang biasanya mendasari debat ini adalah bahwa pendekatan “obyektif” hanya berhubungan dengan gejala yang dapat diamati (benda fisik atau perilaku nyata), sedangkan pendekatan “subyektif” berusaha untuk memperhatikan juga gejala-gejala yang sukar ditangkap dan tidak dapat diamati seprti perasaan individu, pikirannya, dan motif-motifnya. Cara lain untuk melihat perbedaan antara obyektif dan subyektif adalah dalam hubungannya dengan hal di mana pengalaman subyektif yang pribadi seseorang dimiliki bersama oleh suatu kelompok sosial. Suatu pengalaman subyektif yang dapat dimengerti karena dialami bersama secara meluas, dapat dilihat sebagai obyektif, sedangkan suatu pengalaman subyektif yang tidak dapat dikomunikasikan atau dimengerti, tetap tidak dapat ditangkap sebagai suatu pengalaman pribadi yang benar-benar subyektif, meskipun sangat riil bagi orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Rasionalitas dan peraturan yang biasa mengenai logika merupakan suatu kerangka acuan bersama secara luas di mana aspek-aspek subyektif perilaku dapat dinilai secara obyektif. Misalnya, apabila seseorang memilih yang kurang mahal dari dua produk yang sama, kita mengerti perilaku itu sebagai yang rasional karena sesuai dengan kriteria rasionalitas obyektif yang kita terima. Tidak semua perilaku dapat dimengerti sebagai suatu manifestasi rasionalitas. Penderitaan-penderitaan seperti kemarahan atau cinta atau ketakutan mungkin diungkapkan dalam perilaku nyata dalam bentuk yang sepintas lalu kelihatannya tidak rasional. Tetapi orang dapat mengerti (verstehen) perilaku seperti kalau orang tahu emosi yang mendasar yang sedang diungkapnya.&lt;br /&gt;Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial. Pembedaan pokok yang diberikan adalah antara tindakan rasional dan yang nonrasional. Singkatnya, tindakan rasional (menurut Weber) berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Di dalam kedua kategori utama mengenai tindakan rasional dan nonrasional itu, ada dua bagian yang berbeda satu sama lain.&lt;br /&gt;1. Rasionalitas Instrumental&lt;br /&gt;Tingkat rasionalitas paling tinggi ini meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Individu dilihat sebagai memiliki macam-macam tujuan yang mungkin diinginkannya, dan atas dasar suatu kriterium menentukan satu pilihan di antara tujuan-tujuan yang saling bersaingan ini. Individu itu lalu menilai alat yang mungkin dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan yang dipilih tadi. Hal ini mungkin mencakup pengumpulan informasi, mencatat kemungkinan-kemkungkinan serta hambatan-hambatan yang terdapat dalam lingkungan, dan mencoba untuk meramalklan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dari beberapa alternatif tindakan itu. Akhirnya suatu pilihan dibuat atas alat yang dipergunakan yang kiranya mencerminkan pertimbangan individu atas efisiensi dan efektivitasnya. Sesudah tindakan itu dilaksanakan, orang itu dapat menentukan secara obyektif sesuatu yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai. Weber menjelaskan:&lt;br /&gt;Tindakan diarahkan secara rasional ke suatu sistem dari tujuan-tujuan individu yang memiliki sifat-sifatnya sendiri (zweckrational) apabila tujuan itu, alat dan akibat-akibat sekundernya diperhitungkan dan dipertimbangkan semuanya secara rasional. Hal ini mencakup pertimbangan rasional atas alat alternatif untuk mencapai tujuan itu, pertimbangan mengenai hubungan-hubungan tujuan itu dengan hasil-hasil yang mungkin dari penggunaan alat tertentu apa saja, dan akhirnya pertimbangan mengenai pentingnya tujuan-tujuan yang mungkin berbeda secara relatif.&lt;br /&gt;Tindakan ekonomi dalam sistem pasar yang bersifat impersonal mungkin merupakan bentuk dasar rasionalitas instrumental ini. Tipe tindakan ini juga tercermin dalam organisasi birokratis. Weber melihat sistem pasar yang impersonal dan organisasi birokratis sedang berkembang dalam dunia Barat modern.&lt;br /&gt;2. Orientasi yang Berorientasi Nilai&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan rasionalitas instrumental, sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang sadar; tujuan-tujuannya ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau berupakan nilai akhir baginya. Nilai-nilai akhir bersifat nonrasional dalam hal di mana seseorang tidak dapat memperhitungkan secara obyektif mengenai tujuan-tujuan mana yang harus dipilih. Lebih lagi, komitmen terhadap nilai-nilai ini adalah sedemikian sehingga pertimbangan-pertimbangan rasional mengenai kegunaan, efisiensi, dan sebagainya tidak relevan. Juga orang tidak memperhitungkannya (kalau nilai-nilai itu bersifat absolut) dibandingkan dengan nilai-nilai alternatif. Individu mempertimbangkan alat untuk mencapai nilai-nilai seperti itu, tetapi nilai-nilail itu sendiri sudah ada.&lt;br /&gt;Tindakan religius mungkin merupakan bentuk dasar dari rasionalitas yang berorientasi nilai ini. Orang yang beragama mungkin menilai pengalaman subyektif mengenai kehadiran Allah bersamanya atau perasaan damai dalam hati atau dengan manusia seluruhnya suatu nilai akhir di mana dalam perbandingannya nilai-nilai lain menjadi tidak penting. Nilainya sudah ada, individu memilih alat seperti meditasi, doa, menghadiri upacara di gereja untuk memperoleh pengalaman religius. Apakah nilai itu dicapai secara efektif, tidak dapat “dibuktikan”secara obyektif dengan cara yang sama seperti kita membuktikan keberhasilan dalam mencapai tujuan dalam tindakan instrumental.&lt;br /&gt;3. Tindakan Tradisional&lt;br /&gt;Tindakan tradisional merupakan tipe tindakan sosial yang bersifat nonrasional. Kalau seorang individu memperlihatkan perilaku karena kebiasaan, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan, perilaku itu digolongkan sebagai tindakan tradisional. Individu itu akan membenarkan atau menjelaskan tindakan itu, kalau diminta, dengan hanya mengatakan bahwa dia selalau bertindak dengan cara seprti itu atau perilaku seperti itu merupakan kebiasaaan baginya. Apabila kelompok-kelompok atau seluruh masyarakat didominasi oleh orientasi ini, maka kebiasaan dan institusi mereka diabsahkan atau didukung oleh kebiasaan atau tradisi yang sudah lama mapan sebagai kerangka acuannya, yang diterima begitu saja tanpa persoalan. Satu-satunya pembenaran yang perlu adalah bahwa, “ inilah cara yang sudah dilaksanakan oleh nenek moyang kami, dan begitu juga nenek moyang mereka sebelumnya; ini adalah cara yang sudah begini dan akan selalu begini terus”. Weber melihat bahwa tipe tindakan ini sedang hilang lenyap karena meningkatnya rasionalitas instumental.&lt;br /&gt;4. Tindakan Afektif&lt;br /&gt;Tipe tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Seseorang yang sedang mengalami perasaan meluap-meluap seperti cinta, kemarahan, ketakutan atau kegembiraan, dan secara spontan mengungkapkan perasaan itu tanpa refleksi, berarti sedang memperlihatkan tindakan afektfif. Tindakan itu benar-benar tidak rasional karena kurangnya pertimbangan logis, ideologi, atau kriteria rasionalitas lainnya.&lt;br /&gt;Keempat tipe tindakan sosial yang baru kita diskusikan itu harus dilihat sebagai tipe-tipe ideal. Weber mengakui bahwa tidak banyak tindakan, kalau ada yang seluruhnya sesuai dengan salah satu tipe ideal ini. Misalnya, tindakan tradisional mungkin mencerminkan suatu kepercayaan yang sadar akan nilai sakral tradisi-tradisi dalam suatu masyarakat, dan itu berarti bahwa tindakan itu mengundang rasionalitas yang berorientasi pada nilai. Atau juga dia mencerminkan suatu penilaian yang sadar akan altarnatif-alternatif dan juga mencerminkan suatu keputusan bahwa tradisi-tradisi yang sudah mapan merupakan cara yang paling baik untuk suatu tujuan yang dipilih secara sadar di antara tujuan-tujuan lainnya. Sama halnya, orang mungkin merancangkan dengan sadar akan cara yang paling baik untuk mengungkapkan perasaannya, seperti seorang pria yang jatuh cinta berusaha untuk mencari hadiah yang paling tepat untuk kekasihnya. Rancangan ini berarti bahwa tindakan itu bersifat rasional; dalam hal ini, mungkin merupakan suatu nilai absolut yang tidak dinilai dengan membandingkannya dengan tujuan-tujuan lain. Tetapi, bagi kebanyakan tindakan, hal itu harus memperlihatkan kemungkinan untuk mengidentifikasi mana dari orientasi-orientasi subyektif terdahulu itu yang bersifat primer. Membuat pembedaan antara tipe-tipe tindakan yang berbeda atas dasar ini penting untuk memahami pendekatan Weber terhadap organisasi sosial dan perubahan sosial.&lt;br /&gt;Pola perilaku khusus yang sama mungkin bisa sesuai dengan kategori-kategori tindakan sosial yang berbeda dalam situasi-situasi yang berbeda, tergantung pada orientasi subyektif dari individu yang terlibat. Jabat tangan mungkin merupakan suatu ungkapan persahabatan yang spontan, mungkin mencerminkan suatu kebiasaan, atau mungkin menunjukkan persetujuan usaha dagang antara orang-orang yang tidak mempunyai hubungan sosial lainnya. Tindakan sosial dapat dimengerti hanya menurut arti subyektif dan pola-pola motivasional yang berkaitan dengan itu. Untuk tindakan rasional, arti subyektif itu dapat ditangkap dengan skema alat tujuan (means-ends schema).       &lt;br /&gt;IV. TINDAKAN SOSIAL DAN STRUKTUR SOSIAL&lt;br /&gt;Meskipun tulisan-tulisan Weber secara metodologis menekankan pentingnya arti-arti subyektif dan pola-pola motivasional, karya substantifnya meliputi suatu analisa struktural dan fungsional yang luas jangkauannya. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam modelnya tentang stratifikasi yang memililki tiga dimensi, studinya mengenai dominasi birokratik dan pengaruhnya dalam masyarakat modern, serta ramalannya yang berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi jangka panjang dari pengaruh etika Protestan.&lt;br /&gt;Struktur sosial dalam perspektif Weber didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan emipirik yang ada terlepas dari individu-individu. Jadi misalnya, suatu “hubungan sosial seluruhnya dan secara ekslusif terjadi karena adanya probabilitas di mana akan ada suatu arah tindakan sosial dalam suatu pengertian yang dapat dimengerti secara berarti”. Suatu kelas ekonomi menunjuk pada suatu kategori orang-orang yang memiliki kesempatan hidup yang sama seperti ditentukan oleh sumber-sumber ekonomi yang dapat dipasarkan. Suatu keteraturan yang absah didasarkan pada kemungkinan bahwa seperangkat hubungan sosial akan diarahkan ke suatu kepercayaan akan validitas keteraturan itu. Dalam semua hal ini, realitas akhir yang menjadi dasar satuan-satuan sosial yang lebih ini adalah tindakan sosial individu dengan arti-arti subyektifnya. Karena orientasi subyektif individu mencakup kesadaran (tepat atau tidak) akan tindakan yang mungkin dan reaksi-reaksi yang mungkin dari orang lain, maka probabilitas-probabilitas ini mempunyai pengaruh yang benar-benar terhadap tindakan sosial, baik sebagai sesuatu yang bersifat memaksa maupaun sebagai satu alat untuk mempermudah satu jenis tindakan daripada yang lainnya.&lt;br /&gt;1. Stratifikasi: Ekonomi, Budaya, dan Politik&lt;br /&gt;Pengaturan orang-orang secara hirarkis dalam suatu sistem stratifikasi sosial merupakan satu segi yang sangat mendasar dalam pandangan Weber mengenai struktur sosial. Weber sependapat dengan Marx mengenai pokok pikiran ini, dan memperluas tekanan Marx pada dasar ekonomi untuk kelas sosial, dengan mengembangkan suatu gambaran yang lebih komprehensip mengenai paling kurang tiga dasar pokok stratifikasi yang berbeda secara analitis. Marx melihat ekonomi sebagai dasar struktur sosial, dan posisi-posisi orang dalam struktur ini ditentukan terutama oleh apakah dia memiliki alat produksi atau tidak. Kalau ini diperluas, pemilikan benda atau kekayaan menjadi dasar utama stratifikasi. Pembagian yang sangat fundamental dalam struktur sosial adalah antara yang “memiliki” dan yang “tidak memiliki”, meskipun tentunya masih dapat dibagi lagi dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan kriteria sekunder mungkin muncul dan menyelubungi pemisahan fundamental tadi.&lt;br /&gt;Weber juga mengakui pentingnya stratifikasi ekonomi sebagai dasar yang fundamental untuk kelas. Bagi dia, kelas sosial terdiri dari semua mereka yang memiliki kesempatan hidup yang sama dalam bidang ekonomi. “Kita bisa berbicara tentang suatu ’kelas’ apabila (1) sejumlah orang sama-sama memiliki suatu komponen tertentu yang merupakan sumber dalam kesempatan-kesempatan hidup mereka, sejauh (2) komponen ini secara eksklusif tercermin dalam kepentingan ekonomi berupa pemilikan benda-benda dan kesempatan-kesempatan untuk memperoleh pendapatan, dan (3) hal itu terlihat dalam kondisi-kondisi komoditi atau pasar tenaga kerja”.&lt;br /&gt;Butir terakhir ini menjelaskan bahwa kelas-kelas sosial berlandaskan pada dasar stratifikasi yang bersifat impersonal dan obyektif. Para anggota dari kelas yang sama mungkin menjadi sadar akan kepentingan mereka bersama dalam bidang ekonomi, dan terlibat dalam tindakan ekonomi atau politik yang terorganisasi untuk memperjuangkannya, seperti dikemukakan Marx dalam pandangannya mengenai kesadaran kelas. Apakah kesadaran subyektif mengenai kepentingan kelas atau kesadaran kelas ada atau tidak ada, posisi kelas ditentukan (menurut Marx dan menurut Weber) oleh kriteria obyektif yang berhubungan dengan kesempatan-kesempatan hidup dalam dunia ekonomi.&lt;br /&gt;Orang juga digolongkan dalam lapisan-lapisan berdasarkan kehormatan atau prestise, seperti yang dinyatakan dalam gaya hidup bersama. Hasilnya adalah pengaturan orang dalam kelompok-kelompok status. Marx tidak memngupas dimensi stratifikasi ini secara khusus, tetapi perspektif Marxis akan melihat status itu sebagai cerminan belaka dari kepentingan ekonomi dan kesedaran kelas. Weber tidak sependapat dengan mengemukakan bahwa stratifikasi menurut status secara analitis berbeda dari stratifikasi menurut ekonomi. Meskipun posisi ekonomi dan kedudukan status mencerminkan dinamikanya tersendiri, dan orang yang secara ekonomis dominan, mungkin dengan sengaja berusaha dengan pelbagai cara yang berbeda untuk meningkatkan prestisenya.&lt;br /&gt;Tidak seperti kelas-kelas ekonomi, kelompok-kelompok status berlandaskan pada ikatan subyektif antara para anggotannya, yang terikat menjadi satu karena gaya hidup yang sama, nilai serta kebiasaan yang sama, dan sering pula oleh perkawinan di dalam kelompok itu sendiri, serta oleh perasaan-perasaan akan jarak sosial dan kelompok-kelompok status lainnya. Mereka saling mengenal dan saling menyebut masing-masingnya sebagai “orang kita” dan berjuang untuk mempertahankan perasaan superioritas terhadap mereka yang tidak termasuk dalam lingkaran sosialnya. Pembedaan antara kelas ekonomi dan kelompok status diperlihatkan secara kontras antara kekayaan “baru” yang dimiliki seorang pengusaha yang berhasil dan kekayaan “lama” yang dimiliki oleh keluarga-keluarga yang sudah lama mapan dan berprestise tinggi. Semua orang tahu bahwa uang saja tidak cukup diterima di kalangan kelompok status yang berprestise tinggi. Latar belakang keluarga dan sejarah juga penting. Sebagai contoh, seorang pemilik ranch di Texas yang baru saja menjadi kaya setelah menemukan minyak, akan menemukan dirinya dikucilkan dari lingkaran kehidupan 400 keluarga top di Boston, jika dia nekat memasuki lingkaran tersebut. Alasannya terletak pada struktur prestise, tidak semata-mata pada posisi kelas ekonomi.&lt;br /&gt;Hal ini berlaku juga untuk mereka yang berada pada lapisan prestise yang paling bawah. Mereka merasa terikat karena adanya perasaan bersama bahwa mereka dikucilkan dan dianggap rendah, dan karena adanya keharusan melaksanakan peran yang memperlihatkan kepatuhan kepada atasannya. Dengan kata lain, mereka “mengetahui tempatnya” meskipun mereka mungkin berusaha mengubahnya. Mungkin juga mereka mengembangkan sistem kedudukannya sendiri di mana mereka memandang dirinya lebih pantas daripada mereka yang berkedudukan lebih tinggi. Hal ini biasa terjadi dalam sekte-sekte agama kelas bawah, di mana kesetiaan pada standar moral yang kaku memungkinkan para anggotanya untuk melihat dirinya sendiri lebih tinggi secara moral di depan mata Allah daripada mereka yang lebih tinggi kedudukannya yang memiliki standar etis duniawi atau yang bersifat kompromis.&lt;br /&gt;Selain posisi ekonomis dan kehormatan kelompok status, dasar yang lain untuk stratifikasi sosial adalah kekuasaan politik. Dimensi ini bisa juga tumpang-tindih dengan salah satu atau keduanya dalam banyak situasi, namun secara analitis berbeda dan bisa berdiri sendiri. Bagi Weber, kekuasaan adalah kemampuan untuk memaksakan kehendak seseorang meskipun mendapat tantangan dari orang lain. Orang mungkin berjuang untuk memperoleh kekuasaan saja, atau kekuasaan sebagai alat untuk meningkatkan posisi ekonomi atau statusnya. Partai politik merupakan tipe organisasi di mana perjuangan untuk memperoleh atau menggunakan kekuasaan dinyatakan paling jelas di tingkat organisasi rasional. Tetapi semua organisasi memiliki segi politisnya; pelbagai kelompok yang menjadi komponennya bersaing atau berembuk satu sama lain untuk memperoleh kemampuan mengontrol organisasi dan menentukan tujuan serta prosedurnya.&lt;br /&gt;Struktur sosial tidak harus setara dengan struktur otoritas. Otoritas adalah kemungkinan di mana seseorang akan ditaati atas dasar suatu kepercayaan akan legitimasi haknya untuk mempengaruhi; kekuasaan adalah kemampuan untuk mengatasi perlawanan dari orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan seseorang, khususnya dalam mempengaruhi perilaku mereka. Perampok bank yang bersenjata mungkin menggunakan kekuasaan terhadap pegawai bank, tetapi dia tidak memiliki otoritas apa pun. Sebaliknya, para pemimpin perserikatan sukarela yang dipilih oleh para anggotanya dapat berpengaruh karena mereka percaya bahwa pemimpin itu mempunyai hak untuk mempengaruhi.&lt;br /&gt;Mereka yang berusaha menggunakan kekuasaan secara terus-menerus biasanya berusaha untuk menanamkan suatu kepercayaan akan haknya untuk berbuat demikian; artinya, mereka berusaha untuk menegakkan legitimasi kekuasaan mereka. Hal ini jelas misalnya, apabila para pemimpin gerakan politik revolusioner yang berhasil, menguasai media massa dan berusaha untuk meninjau kembali ideologi politik yang dominan sedemikian rupa sehingga bisa membenarkan revolusi dan kelangsungan posisi kekuasaan mereka. Namun demikian, dinamika perjuangan untuk memperoleh kekuasaan saja berbeda dari dinamika penggunaan otoritas yang sudah mapan, meskipun orang-orang dengan otoritasnya bisa memiliki kekuasaan yang besar sebagai akibatnya. Dalam organisasi birokratis modern, kekuasaan dan otoritas yang dilaksanakan oleh pegawai-pegawai yang diberi gaji mungkin merupakan satu dimensi yang lebih penting dalam kedudukan mereka dalam keseluruhan sistem stratifikasi masyarakat, daripada kelas ekonomi atau keanggotaan kelompok statusnya.&lt;br /&gt;Analisa-analisa masa kini mengenai stratifikasi sosial sangat bertalian dengan analisa Weber. Perbedaan antara status sebagai satu dimensi stratifikasi dan posisi ekonomi sudah menjadi patokan standar dalam teori stratifikasi dan penelitian masa kini Gusfield, misalnya, mempelajari sejarah Women’s Christian Temperance Union, suatu organisasi antiminuman keras yang kegiatan politiknya memuncak dengan suatu amandemen terhadap konstitusi mengenai larangan yang hanya berlaku sebentar saja, merupakan satu contoh politik status. Dalam hal ini, gaya hidup dan sistem nilai orang Protestan yang sudah mapan di desa atau di kota kecil, dilihat sebagai suatu yang terancam oleh ekspansi yang pesat dari imigran Katolik ke daerah-daerah kota. Pada masa sekarang, keterlibatan banyak wanita kelas menengah dan kelas menengah atas dalam gerakan pembebasan wanita mungkin harus dilihat sebagai cerminan status dan minat orang dalam bidang kekuasaan, yang paling tidak sama pentingnya dengan faktor-faktor ekonomi. Jadi studi mengenai organisasi di masa kini mencerminkan betapa dimensi kekuasaan dan otoritas itu amat diperhatikan dalam proses-proses organisasi.&lt;br /&gt;Pendekatan multidimensional terhadap stratifikasi sosial sudah sedemikian kuatnya dalam tradisi sosiologi sehingga menghasilkan suatu perspektif baru yang mencukupi masalah inkonsistensi status. (“Status” dipergunakan dalam pengertian yang lebih luas daripada yang terhadap dalam teori Weber.) Konsistensi status menunjuk pada tingkat di mana pelbagai dimensi posisi seseorang dalam sistem stratifikasi sejajar dengan yang lainnya. Beberapa dari penelitian yang menggunakan konsep ini mengemukakan bahwa tingkat dan tipe inkonsistensi berkaitan dengan ideologi politik. Implikasinya adalah bahwa selain keseluruhan posisi seseorang dalam sistem stratifikasi itu penting, tingkat di mana posisi-posisi di dalam beberapa sistem stratifikasi yang berbeda itu sistem konsisten sama lain, juga penting.     &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-4312257098660543367?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/4312257098660543367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=4312257098660543367' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/4312257098660543367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/4312257098660543367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/max-weber-dan-masalah-rasionalitas.html' title='MAX WEBER DAN MASALAH RASIONALITAS'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-1425595534014873468</id><published>2008-07-27T11:20:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:22:57.189-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>MAX PLANCK 1858-1947</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy82CWANII/AAAAAAAAADE/GUuGMiTMbF0/s1600-h/13.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy82CWANII/AAAAAAAAADE/GUuGMiTMbF0/s320/13.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227760903998420098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bulannya Desember, tahunnya 1900. Dunia ilmu terperanjat dan terlompat dari tempat duduknya. Apa yang terjadi? Seorang ahli fisika Jerman, Max Planck, umumkan dia punya hipotesa yang berani. Dia bilang radiant energi (energi gelombang cahaya) tidaklah mengalir dalam arus yang kontinyu, tetapi terdiri dari potongan-potongan yang disebutnya quanta. Hipotesa Planck yang bertentangan dengan teori klasik tentang cahaya dan elektro magnetik ini merupakan titik mula dari teori kuantum yang sejak itu merevolusionerkan bidang fisika dan menyuguhkan kita pengertian yang lebih mendalam tentang alam benda dan radiasi.&lt;br /&gt;Dilahirkan tahun 1858 di kota Kiel, Jerman, dia belajar di Universitas Berlin dan Munich, peroleh gelar Doktor dalam ilmu fisika dengan summa cum laude dari Universitas Munich selagi berumur baru dua puluh satu tahun. Sebentar dia mengajar di Universitas Munich, kemudian di Universitas Kiel. Di tahun 1889 dia jadi mahaguru Univeristas Berlin sampai pensiunnya tiba tatkala usianya mencapai tujuh puluh. Itu tahun 1928.&lt;br /&gt;Planck, seperti halnya ilmuwan lain, tertarik dengan "radiasi kuantitas gelap," julukan buat radiasi elektromagnetik dikeluarkan oleh obyek gelap sempurna apabila dipanaskan. (Suatu obyek gelap sempurna dijelaskan sebagai sesuatu yang tidak memantulkan cahaya, tetapi sepenuhnya menyerap semua cahaya yang jatuh di atasnya). Percobaan-percobaan para ahli fisika telah membuat ukuran yang hati-hati perihal radiasi yang dikeluarkan oleh obyek itu bahkan sebelum Planck bekerja dalam masalah itu. Hasil karya Planck pertama adalah penemuannya dalam hal formula secara aljabar yang ruwet yang dengan tepat menggambarkan "radiasi kuantitas gelap." Formula ini yang kerap digunakan dalam teori fisika sekarang dengan rapi meringkas data-data percobaan. Tetapi ada satu masalah: hukum fisika yang sudah diterima meramalkan adanya suatu formula yang samasekali berbeda.&lt;br /&gt;Planck berkecimpung dalam-dalam terhadap soal ini dan akhirnya tampil dengan teori baru yang radikal: energi radiant cuma keluar pada pergandaan yang tepat dari unit elementer yang disebut Planck "kuantum". Menurut teori Planck, ukuran kuantum cahaya tergantung pada frekuensi cahaya (misalnya pada warnanya), dan juga berimbang dengan kuantitas fisik yang oleh Planck diringkas dengan "h", tetapi sekarang disebut "patokan Planck." Hipotesa Planck amatlah berlawanan dengan apa yang jadi konsep umum fisika. Tetapi, dengan penggunaan ini dia mampu menemukan keaslian teoritis yang tepat daripada formula yang benar tentang "radiasi kuantitas gelap."&lt;br /&gt;Teori Planck begitu revolusioner, yang tak syak lagi bisa dianggap suatu gagasan eksentrik kalau saja Planck bukan seorang ahli fisika yang mantap dan konservatif. Kendati hipotesanya terdengar aneh, dalam soal khusus ini jelas merupakan penuntun ke arah formula yang benar.&lt;br /&gt;Pada mulanya, umumnya ahli fisika (termasuk Planck sendiri) melihat hipotesanya sebagai tak lain dari sebuah fiksi matematik yang cocok. Sesudah beberapa tahun, hal itu berubah sehingga konsepsi Planck tentang kuantum dapat digunakan untuk pelbagai fenomena fisik selain untuk "radiasi kuantitas gelap." Einstein menggunakan konsep ini di tahun 1905 dalam rangka menjelaskan efek fotoelektrika, dan Niels Bohr menggunakannya di tahun 1913 dalam teorinya tentang struktur atom. Menjelang tahun 1918 tatkala Planck peroleh Hadiah Nobel, jelaslah sudah bahwa hipotesanya pada dasarnya benar dan itu mempunyai arti penting yang fundamental dalam teori fisika.&lt;br /&gt;Sikap anti Nazi Planck yang keras membuat kedudukannya berabe di masa pemerintahan Hitler. Anak laki-lakinya dihukum mati di awal tahun 1945 akibat peranannya dalam komplotan para perwira yang punya rencana membunuh Hitler. Planck sendiri mati tahun 1947, pada umur delapan puluh sembilan tahun.&lt;br /&gt;Perkembangan mekanika kuantum mungkin yang paling penting dari perkembangan ilmu pengetahuan dalam abad ke-20, lebih penting ketimbang teori relativitas Einstein. Patokan "h" Planck memegang peranan penting dalam teori fisika dan sekarang dihimpun jadi dua atau tiga patokan fisika paling dasar. Patokan itu muncul dalam teori struktur atom, dalam prinsip "ketidakpastian" Heisenberg, dalam teori radiasi dan dalam banyak lagi formula ilmiah. Perkiraan pertama Planck mengenai nilai jumlah adalah dalam batas perhitungan 2% yang diterima sekarang.&lt;br /&gt;Planck umumnya dianggap bapak mekanika kuantum. Kendati dia memainkan peranan tak seberapa dalam perkembangan teori selanjutnya, adalah keliru mengecilkan arti Planck. Jalan mula yang disuguhkannya sungguh penting. Dia membebaskan pikiran orang dari anggapan-anggapan keliru yang ada sebelumnya, dan dia memungkinkan orang-orang sesudahnya menyusun teori yang jauh lebih jernih daripada yang sekarang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-1425595534014873468?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/1425595534014873468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=1425595534014873468' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1425595534014873468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/1425595534014873468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/max-planck-1858-1947.html' title='MAX PLANCK 1858-1947'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy82CWANII/AAAAAAAAADE/GUuGMiTMbF0/s72-c/13.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-7573028246981854747</id><published>2008-07-27T11:15:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:20:25.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>Marxian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; Transformasi Konsep-Konsep Bentuk-Bentuk Realitas Dan Pikiran Titik Pangkal Teori Dan Sejarah Derivasi Dialektikal Hubungan- Hubungan Kausal Matematika Dalam Analisis Rupa Dan Esensi Analisis Dan Sintesis Dalam Penyajian Marx Analisis Struktural-Genetik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban-jawaban Marx atas pertanyaan-pertanyaan mengenai tujuan analisis teoretikal yang dipergunakan dalam CAPITAL, jika dikemukakan secara terpisah-pisah satu dari lainnya, pada pengelihatan pertama berbeda, dan kadang-kala bahkan saling bertentangan satu sama lainnya.&lt;br /&gt;Tujuan analisis dalam CAPITAL, menurut Marx, adalah memberikan analisis mengenai modal dalam struktur dasarnya, menyajikan organisasi inti dari cara produksi kapitalis, bahkan dalam gaya idealnya.1) Di lain tempat Marx juga merumuskan tujuan analisis teoretikalnya mengenai kapitalisme itu dalam perumusan yang terkenal: '.....menjadi tujuan pokok karya ini untuk mengungkapkan hukum gerak ekonomi dari masyarakat modern.....'2) Ini berarti menerangkan hukum-hukum istimewa yang menentukan asal- usul, keberadaan, perkembangan dan kematian suatu organisme sosial tertentu dan pergantiannya oleh suatu organisasi sosial lain yang lebih tinggi' 3) Tekanan lebih dulu diletakkan atas organisasi inti, struktur dasar, kemudian atas hukum-hukum gerak, hukum-hukum perkembangan. Bagi Marx, suatu analisis struktural dan genetik tidak mengandung pertentangan, dan tidak menghasilkan suatu penanganan paralell atau beruntun. Yang menjadi perhatian Marx adalah menyajikan cara produksi kapitalis itu sebagai suatu struktur yang berkembang-sendiri, lahir-sendiri dan hancur-sendiri. Analisis teoretikal yang mengarah pada tujuan ini adalah suatu analisis struktural-genetik yang terpadu.&lt;br /&gt;Dalam pengertian yang sama sebagaimana Marx berbicara tentang struktur dasar, ia juga merujuk pada hubungan-hubungan yang bersesuaian dengan konsep modal, tipe umum dari hubungan kapitalis.4) Maka dalam hubungan-arti itu memahami secara ilmiah bagi Marx berarti penyajian karakteristik-karakteristik dari suatu tipe, organisme atau keutuhan tertentu yang berkembang- sendiri.....melakukan suatu analisis struktural-genetik.&lt;br /&gt;Originalitas prosedur Marx dapat didemonstrasikan dengan membandingkannya dengan yang oleh pendahulu-pendahulunya, teristiwa Ricardo, dalam ekonomi politik teoretikal diartikan dengan penjelasan ilmiah, dengan batasan bahwa mereka memaparkan tafsiran- tafsiran mereka mengenai penjelasan ilmiah itu hanya secara implisit (Ricardo) atau secara implisit dan eksplisit (Adam Smith).5)&lt;br /&gt;Ada keterbatasan-keterbatasan dalam suatu analisis perbandingan seperti itu. Perbandingan-perbandingan dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara: secara supra-historikal dan kontinjen......dalam hal mana perbandingan itu bukannya mendekatkan, melainkan bahkan menjauhkan kita dari suatu pemahaman yang benar, atau cara merujuk pada asal-mula asal-mula: dalam hal ini maka penerapan metode perbandingan itu, spesifikasi dari perbedaan- perbedaan atau persamaan-persamaan, menjadi perkiraan- perkiraan dan alat bagi pengumpulan material untuk penanganan lebih lanjut, akan suatu pemahaman secara materialis-dialektikal mengenai gejala dalam keharusan pekembangannya. Kita lakukan analisis perbandingan dalam pengertian yang kedua. Di antara sistem-sistem ekonomi Ricardo dan Marx terdapat suatu hubungan genetik langsung. Dua tipe penjelasan ilmiah yang berbeda terkandung dalam sistem- sistem ilmiah yang meliput subjek yang sama. Karenanya terdapat titik tolak yang menguntungkan bagi penafsiran originalitas konsep Marx mengenai penjelasan ilmiah, yaitu tipe logikal dari pemikiran ilmiah Marx pada tahap pertama perkembangannya. Namun, aku tidak mempersoalkan di sini aspek-aspek pertanyaan lebih luas mengenai bagaimana konsep metode ilmiah Ricardo--yaitu yang termasuk pada tipe logikal Locke--diklasifikasikan dalam tatanan historikalnya yang luas, kedudukan apa yang ditempatinya, dan hubungan apa yang dipunyainya dengan tipe-tipe metode ilmiah lainnya dalam ilmu modern, dsb.6) Analisis perbandingan awal yang kulakukan bagaimanapun tidak mempermasalahkan perbedaan antara konsepsi Marx dan suatu tipe penjelasan ilmiah pra-Marxis yang penting, sebagaimana yang dikembangkan dalam filsafat klasik Jerman, teristimewa oleh Hegel. Penggarapan konsekuensi-konsekuensi analisis perbandinganku yang bersifat pengantar tentu saja tidak mungkin dilakukan dalam bab-bab berikutnya tanpa meneliti peranan Hegel dalam perkembangan tipe logika Marx dan menerangkan originalitas konsep Marx dalam hubungannya dengan Hegel.&lt;br /&gt;Dalam analisis Ricardo mengenai kapitalisme terkandung suatu konsep penjelasan ilmiah yang dapat dikarakterisasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;(a) Ia membedakan permukaan empirikal dari hakekat (esensi).&lt;br /&gt;(b) Hakekat itu difahami sebagai sesuatu yang tidak dapat berubah, sesuatu yang sudah ada dan untuk selama-lamanya, jadi analog dengan hukum-hukum Newton. Bentuk-bentuk empirikal dari gejala-gejala dianggap sebagai bentuk-bentuk fenomenal langsung dari suatu esensi yang tetap, yang sebagian diteliti dan kemudian ditetapkan, dan sebagian lagi diterima sebagai suatu perkiraan yang berdiri sendiri. Bentuk-bentuk empirikal dari gejala-gejala adalah tetap karena sifat a-historikalnya dan bersamaan dengan itu bersifat variabel dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan kuantitatif.&lt;br /&gt;(c) Persoalan-persoalan mengenai sasaran seluruh analisis itu muncul dalam suatu bentuk yang lebih dijabarkan:&lt;br /&gt;i. perubahan-perubahan kuantitatif apakah yang terjadi pada bentuk-bentuk empirikal itu jika itu bergantung pada perubahan- perubahan dalam esensinya;&lt;br /&gt;ii. Perubahan-perubahan kuantitatif apakah yang terjadi pada bentuk-bentuk empirikal itu jika bentuk-bentuk empirikal tertentu yang berada dalam suatu hubungan timbal-balik berbeda secara kuantitif?&lt;br /&gt;Jumlah kerja yang diperlukan untuk produksi suatu barang dagangan jelaslah menjadi esensi tetap yang menjadikan mungkin--demikian menurut Ricardo--difahaminya secara asasi semua gejala ekonomi kapitalis dan untuk menetapkan hukum-hukum yang mengatur distribusi ini..... di antara tiga klas dalam masyarakat, yaitu pemilik tanah, pemilik saham atau modal.... dan kaum buruh....7) yang, menurut Ricardo, menjadi tugas pokok ekonomi politik.Perbedaan asali antara gejala empirikal dan esensi mula-mula muncul pada Ricardo dalam bentuk sebuah pertanyaan: apakah sebenarnya dasar nilai tukar semua barang?8) Jika kita meneliti kedalam struktur penyajian kapitalisme oleh Ricardo, setelah penentuan azas bahwa kerja adalah substansi nilai-tukar, maka yang kita dapatkan dalam kenyataannya adalah suatu pembagian bab-bab yang agak tidak logikal yang bercirikan pertanyaan- pertanyaan yang diajukan secara beruntun oleh Ricartdo. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah yang berikut ini:&lt;br /&gt;Apakah yang menjadi sebab utama dari perubahan-perubahan dalam nilai-nilai nisbi (relatif) suatu barang dagangan?&lt;br /&gt;Apakah adanya kualitas-kualitas kerja yang berbeda menjadi sebab perubahan-perubahan dalam nilai nisbi suatu barang dagangan?&lt;br /&gt;Apakah penggunaan modal konstan yang lebih besar atau yang lebih kecil mempengaruhi perubahan dalam nilai nisbi suatu barang dagangan?&lt;br /&gt;Apakah naiknya atau turunnya upah-upah mempengaruhi salah satu perubahan dalam nilai nisbi suatu barang dagangan?&lt;br /&gt;Akibat-akibat apakah yang timbul dari perubahan-perubahan dalam nilai uang atau dari perubahan-perubahan dalam nilai barang-barang dagangan yang ditukarkan dengan uang?&lt;br /&gt;Apakah pemilikan atas tanah dan perkembangan sewa yang dihasilkan olehnya, mempengaruhi nilai nisbi barang-barang dagangan, secara tidak tergantung pada jumlah kerja yang diperlukan untuk produksi barang-barang dagangan?&lt;br /&gt;Apakah yang menjadi sebab perubahan terus-menerus dalam laba dan tingkat bunga yang dihasilkan olehnya?&lt;br /&gt;Secara keseluruhan kita meneliti perubahan-perubahan dalam nilai-tukar (suatu hubungan kuantitatif) dengan perkiraan bahwa kerja menjadi dasar nilai-tukar dan bahwa ia bergantung pada perubahan-perubahan kuantitatif pada faktor-faktor dan bentuk-bentuk empirikal yang berbeda dari ekonomi kapitalis.&lt;br /&gt;Menamakan penelitian Ricardo sebagai suatu kuantitativisme berarti mengabaikan kenyataan bahwa ia tidak bekerja dengan suatu reduksi lengkap dari ciri-ciri kualitatif pada ciri-ciri kuantitatif. Ia juga tidak sampai pada mekanika klasikal dan materialisme mekanikal.9) Dalam penyajian-penyajiannya memang terdapat determinasi-determinasi kualitatif, tetapi analisis teoretikal Ricardo tidak memperlakukan itu sebagai determinasi-determinasi kualitatif, karena--bertentangan dengan sifat determinasi-determinasi kualitatif--itu semua ditarik secara tidak kritikal dari permunculan-permunculan, dari dunia empirikal, sebagai tetap, tidak dapat berubah, langsung. Maka, misalnya upah, laba dan bunga adalah bentuk-bentuk pendapatan dalam kapitalisme yang secara kualitatif dibeda-bedakan. Ricardo tidak meneliti itu semua, namun, dalam hubungan kualitas-kualitas khasnya, melainkan menganggap itu sebagai tiga sumber alamiah yang konstan dari tiga klas alamiah yang konstan dari kependudukan dan mengabdikan seluruh penelitiannya pada masalah perbedaan-perbedaan dalam hubungan-hubungan kuantitatif yang berbeda di antara ketiga bentuk pendapatan itu, teristimewa antara faktor-faktor yang berbeda dalam cara produksi kapitalis dan bentuk-bentuk pendapatan itu.10) Ini menunjukkan betapa pendirian kuantitatif yang berat-sebelah itu menyertai pendirian a-historikal.&lt;br /&gt;Pendirian kuantitatif juga terdapat dalam karya Ricardo dengan masuknya perbedaan dasar antara nilai-tukar dan esensinya, sebagaimana disebut di atas. Ricardo tidak selalu konsisten dalam pembedaan itu. Sekalipun lebih sering dibedakannya antara hubungan-hubungan kuantitatif (dalam hubungan soal ini nilai relatif) dan yang dapat orang sebut nilai mutlak yang muncul dalam hubungan kuantitatif itu, Ricardo kadang-kadang mengacaukan persoalan-persoalan, yang di kemudian hari dibikin terang oleh Marx dengan membedakan antara nilai (substansi-nilai) dan nilai-tukar (bentuk nilai). Pada umumnya, Ricardo tidak mengembangkan perbedaan ini, padahal ini diperlukan agar memahami dasar sesungguhnya dari nilai-tukar dan untuk memusatkan analisis secara tepat pada penelitian atas perubahan-perubahan kuantitatif dalam nilai-nilai tukar.&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1. Karl Marx, Capital, Vol.3, Progress, Moscow, 1971, hal. 267, 837. (Selanjutnya disebut Capital, vol.3)&lt;br /&gt;2. Karl Marx, Capital, Vol.1, Allen &amp;amp; Unwin, London, 1957, hal.xix. (Selanjutnya disebut Capital vol.1)&lt;br /&gt;3. Ibid, hal. 102&lt;br /&gt;4. Capital, vol.3, hal. 143&lt;br /&gt;5. Lihat Adam smith, Essays on Philosophical Subjects, Basel, 1799, hal. xix. (Selanjutnya disebut Smith, Essays.)&lt;br /&gt;6. Lihat V. Filkorn, dalam Metoda vedy, Bratislava, 1956, hal. 6, 60, 139, 142, 160, dsb.; dan R. Lenoble, "Types d'explication et type logiques au cours de l'histoire des sciences", dalam Actes du XIieme Congres International de Philosophie, Amsterdam dan Louvain, 1953, hal. 10-15; dan lihat di bawah, Bagian III, Bab. 18&lt;br /&gt;7. David Ricardo, Principles of Political Economy and Taxation, Ed. ke-3, ed. R.M. Hartwell, Penguin, Harmondsworth, hal.49. (Selanjutnya disebut Ricardo, Principles.)&lt;br /&gt;8. Ibid., hal 57, dan lihat juga hal. 55-71, passim.&lt;br /&gt;9. Pendirian kuantitatif Ricardo yang berat-sebelah dibedakan dari positivisme, yang memisahkan hubungan rupa dan esensi dari penjelasan ilmiah dan menurunkan pengetahuan ilmiah menjadi hubungan-hubungan matematikal pada tingkat rupa.&lt;br /&gt;10. Lihat pemaparan Ricardo mengenai sifat modal dan sifat sewa dalam Principles, passim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;160 Tahun Tulisan Marx: Tesis-tesis tentang Feurbach&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Suar Suroso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas Tesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1845, tiga tahun sebelum diumumkannya Manifes Partai Komunis, Marx menulis 11 Tesis Tentang Feurbach. Tulisan ini mempunyai arti historis dalam perkembangan filsafat materialisme. Dengan tesis-tesis ini, Marx mengkritik dan mengembangkan materialisme Feurbach. Justru dewasa ini, menguasai dan menggunakan materialisme—yaitu cara berpikir yang ilmiah—adalah cara untuk mengenal dan memahami kenyataan, membedakan yang benar dan yang salah, melawan kepalsuan, melawan pembodohan, melawan jahiliah, melawan keedanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengkritik Feurbach, Marx mengubah materialisme yang pasif, yang kontemplatif, yang bersifat renungan, yang hanya untuk tafakur, menjadi materialisme militan, menjadi alat berpikir yang aktif. Menjadikannya senjata ampuh perjuangan klas, yaitu materialisme dialektis. Itu tidak hanya punya arti teoretis, tapi bahkan punya arti praktis, yaitu membimbing pikiran manusia untuk bertindak maju. Dalam tesis-tesisnya itu Marx mengkritik Feurbach dengan menyatakan bahwa “kekurangan utama materialisme yang ada sampai sekarang—termasuk materialisme Feurbach—adalah bahwa benda, kenyataan, kesan pancaindera dipahami hanya dalam bentuk objek atau pandangan, hasil renungan, tetapi tidak sebagai aktivitas alat perasa panca-indera manusia, yaitu praktik....” Dengan mengangkat tinggi arti praktik, dalam tesis itu Marx menyatakan bahwa Feurbach “tidak mencengkram arti penting aktivitas yang ‘revolusioner’, aktivitas yang ‘praktis-kritis’ ”. Dalam tesis-tesis tersebut Marx juga menulis bahwa “masalah apakah kebenaran objektif terdapat pada pikiran manusia adalah bukan satu masalah teori, tetapi satu masalah praktik. Dalam praktiklah orang harus membuktikan kebenaran pikirannya, yaitu bahwa pikirannya adalah kenyataan dan kekuatan; adalah bersifat duniawi”. Di samping itu Marx menulis bahwa “terjadinya secara bersamaan perubahan lingkungan dan perubahan aktivitas manusia hanyalah dapat dipahami secara rasional sebagai praktik revolusioner.” Selanjutnya Marx menulis bahwa “Feurbach bertolak dari kenyataan swa-alienasi keagamaan, yaitu dari terbagi duanya dunia menjadi dunia keagamaan, dunia khayal dan dunia nyata. Dia berkarya tentang meleburnya dunia keagamaan ke dalam dasarnya yang sekular. Dia tidak mencatat kenyataan bahwa sesudah karyanya selesai, masalah yang utama masih harus dikerjakan, yaitu kenyataan bahwa dasar sekular memisahkan dirinya dari dirinya sendiri dan membawa dirinya ke dalam awan sebagai kerajaan yang bebas, hanya dapat dijelaskan dengan swa-alienasi dan swa-berkontradiksi dari dasar sekular ini. Yang terakhir ini harus difahami dalam kontradiksinya dan kemudian direvolusionerkan dalam praktik dengan pelenyapan kontradiksi. Jadi misalnya, begitu keluarga duniawi ditemukan sebagai rahasia dari seluruh keluarga suci, maka keluarga duniawi itu harus dikritik dalam teori dan direvolusionerkan dalam praktik.” Lagi-lagi dengan mengangkat arti penting praktik, selanjutnya, Marx menulis, bahwa “Tidak puas dengan pemikiran abstrak, Feurbach berpaling pada renungan yang dapat dirasakan; tetapi dia tidak menganggap sesuatunya yang dapat dirasakan itu sebagai hal praktis, sebagai aktivitas perasaan manusia”. Lebih lanjut Marx menulis, bahwa “Pada akhirnya, Feurbach tidak melihat bahwa ‘perasaan keagamaan’ itu sendiri adalah produk kemasyarakatan dan bahwa perseorangan yang abstrak, yang dia analisis terdapat pada kenyataan bentuk masyarakat yang khusus”. Lagi-lagi dengan mengangkat arti penting praktik, Marx menulis, bahwa “Penghidupan kemasyarakatan pada pokoknya adalah praktis. Semua keajaiban yang menyesatkan teori menjadi mistisisme mendapatkan pemecahan yang rasional dalam praktik kemanusiaan dan dalam praktik yang dapat dipahami”. Seterusnya Marx menulis bahwa “Puncak yang tercapai oleh materialisme kontemplatif (materialisme renungan, materialisme tafakur), yaitu materialisme yang tidak memahami bahwa perasaan adalah aktivitas praktik, adalah renungan seorang individu dalam ‘masyarakat madani’.” Selanjutnya ditulis Marx bahwa “Titik tolak materialisme kuno adalah masyarakat ‘madani’, titik tolak materrialisme baru adalah masyarakat manusia yang baru, atau kemanusiaan yang dimasyarakatkan”. Paling akhir, dalam tesis ke-sebelas, Marx menulis bahwa “Para filosof hanyalah menginterpretasi dunia dengan berbagai caranya, akan tetapi masalahnya adalah mengubah dunia itu”. Tesis terakhir ini mempunyai arti menjungkir-balikkan tugas filsafat. Menjungkir-balikkan materialisme kontemplatif, materialisme renungan, materialisme tafakur menjadi materialisme militan untuk mengubah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengubah Dunia! Tiga tahun kemudian, tahun 1848, Marx dan Engels memaparkan gagasan mengubah dunia itu dalam Manifes Partai Komunis. Dunia ketika itu sedang dikuasai oleh feodalisme dan burjuasi pemilik kapital yang baru berkembang. Dunia dengan penghisapan feodal yang sudah mencapai puncaknya, dan penghisapan kapital yang sedang berkembang pesat, akan diubah menjadi dunia tanpa penghisapan oleh manusia atas manusia. Sungguh satu gagasan raksasa. Ini berarti dilenyapkannya penghisapan feodal dan penghisapan kapital. Disinilah arti historis Tesis-Tesis Tentang Feurbach yang ditulis Marx 160 tahun yang lalu. Maka selanjutnya, materialisme pun berkembang menjadi materialisme historis, yaitu penerapan materialisme dialektis dalam ilmu kemasyarakatan. Inilah alat berpikir, senjata perjuangan bagi manusia untuk mengubah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Feurbach&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ludwig Feurbach (1804-1872) berjasa mengembangkan tradisi revolusioner materialisme abad ke-XVII dan abad ke-XVIII. Yang dimaksudkan dengan filsafat antropologis oleh Feurbach adalah filsafat yang mengutamakan manusia. Prinsip antropologis dinyatakan oleh Feurbach dengan mengutamakan kesatuan alam kemanusiaan. Menurut Feurbach manusia adalah produk alam dan bagian dari alam. Alam, materi adalah satu-satunya substansi, dan adalah substansi sejati, yang berada di luar manusia, dan yang menciptakan manusia. Feurbach berpendapat, bahwa filsafat baru harus mengubah manusia serta alam sebagai basis manusia, menjadi sasaran satu-satunya yang universal dan paling tinggi dalam filsafat. Karena itu, antropologi, termasuk fisiologi, baginya menjadi ilmu yang universal. Feurbach memandang masalah ruang dan waktu secara materialis. Ruang dan waktu adalah syarat-syarat dasar, adalah bentuk-bentuk dan perwujudan substansi. Materi bukan hanya ada, tetapi juga bergerak dan berkembang. Tanpa ruang dan waktu, maka gerak dan perkembangan adalah tidak mungkin. Tanpa ruang dan waktu tak mungkin ada materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, dinyatakannya bahwa alam itu kongkrit, bersifat material, dapat diraba dan dirasa. Materi tak dapat dibasmi, selalu ada, akan tetap ada, yaitu adalah abadi, tanpa awal dan tanpa akhir, adalah tak berhingga. Dengan mengikuti Spinoza, Feurbach menyatakan, bahwa alam adalah sebab-musabab itu sendiri. Materi adalah primer, ide adalah sekunder. Pandangan ini adalah bertolak belakang dengan pandangan Hegel yang menjadikan ide absolut sebagai yang utama, sebagai sumber segala-galanya. Dengan demikian, mengenai masalah terpokok dalam filsafat, yaitu masalah hubungan antara ide dan materi, dipecahkan oleh Feurbach secara materialis, ..... dengan mengutamakan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Feurbach, alam adalah banyak segi. Manusia mengenalnya liwat syaraf perasa, hingga mengenal air, api, listrik, sinar, magnetisme, tumbuh-tumbuhan, dunia dan seterusnya. Itulah sebahagian dari substansi dengan berbagai kwalitas. Substansi tanpa kwalitas adalah omong kosong. Kwalitas tak terpisahkan dari substansi sesuatunya. Alam, materi adalah satu-satunya substansi dan adalah hakekat substansi yang terdapat di luar manusia, dan yang melahirkan manusia. Satu-satunya dasar manusia adalah jasmani. Ambillah dari manusia jasmaninya, akan terambil jiwanya, terambil semangatnya. Jasmani adalah bahagian dari dunia objektif dan adanya jiwa adalah tergantung pada jasmani. Ini adalah pandangan monisme antropologis, yang berlawanan dengan pandangan dualisme. Pandangan dualisme mensetarakan jasmani dan jiwa – jasmani adalah dari alam material, dan jiwa adalah dari alam spiritual. Pandangan monisme antropologis dari Feurbach ini adalah pandangan materialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berakarnya pandangan Feurbach pada manusia ditunjukkan oleh tulisannya: “Pandang dan renungkanlah alam, pandang dan renungkanlah manusia! Di sini, di depan matamu terdapat keajaiban filsafat !” Lebih lanjut dinyatakannya, bahwa dasar materialismenya adalah manusia. Kebenaran bukanlah materialisme atau idealisme, tetapi adalah antropologi”. Karena itu, materialisme Feurbach disebut materialisme antropologis, materialisme manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feurbach membawa maju ajaran materialis dalam teori pengenalan, dalam epistemologi. Feurbach menyatakan, bahwa “perasaan saya adalah subjektif, tetapi dasarnya, sebab-musababnya adalah objektif”. Sejarah pengenalan menunjukkan pada kaum materialis Jerman, bahwa batas-batas pengenalan manusia selalu bertambah luas; bahwa dalam perkembangannya, akal manusia memungkinkan kita untuk menemukan rahasia-rahasia alam. Kaum agnostisis berpendapat, bahwa alam terbentuk sedemikian rupa hingga tak mungkin manusia mengenal sesungguhnya alam itu. Berlawanan dengan kaum agnostisis, Feurbach menyatakan, bahwa “apa yang belum kita ketahui sekarang, akan diketahui oleh anak-cucu kita di kemudian hari”. Dengan demikian, Feurbach secara tajam menentang agnostisisme Kant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feurbach menjadikan perasaan sebagai titik-tolak pengenalan. Menurut dia, “adalah sepenuhnya tepat, bahwa empirisisme memandang sumber-sumber ide-ide kita pada perasaan”. “Saya berpikir dengan bantuan perasaan, terutama dengan bantuan pandangan, -- saya mendasarkan dalil, kesimpulan saya pada sesuatunya yang material, yang kita tangkap (serap) liwat alat perasa bahagian luar. Bukannya benda berasal dari pikiran, tetapi pikiran berasal dari benda. Dan benda pun adalah tak lain dan tak bukan apa yang terdapat di luar kepala saya”. Maka materi, alam bukan saja adalah dasar dari jiwa, tetapi bahkan dasar prinsip dari semua pengetahuan dari filsafat. Benda, materi adalah tak lain dan tak bukan sesuatu yang secara nyata ada di luar kita, sedangkan pikiran mengenai benda itu adalah pencerminan (bayangannya) dalam kepala manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feurbach membuktikan, bahwa jika tidak ada materi yang terdapat secara objektif di luar kita, maka syaraf perasa kita tidak akan tersentuh. Oleh karena itu, materi, alam, -- bukan hanya adalah basis dari jiwa, tapi juga dasar permulaan dari semua pengenalan dan filsafat. Menurut Feurbach, perasaan bukanlah memisahkan manusia dari dunia luar, tetapi menghubungkannya, karena perasaan adalah hasil pengaruh benda-benda luar terhadap alat perasa manusia. Pengenalan ilmiah dimulai dengan pengamatan dan cita-rasa. Dia menyatakan, bahwa “tak ada perasaan tanpa kepala, tanpa akal dan pemikiran” Manusia harus bertolak dari “perasaan sebagai sesuatunya yang paling sederhana, yang jelas-jemelas dan tak disangsikan lagi”, kemudian memasuki masalah “objek-objek yang rumit dan jauh dari mata”. Menurut Feurbach, peranan akal adalah menghubungkan pengenalan cita-rasa dari pengalaman yang sepotong-sepotong dengan bahagian lain dari kenyataan di luar pengalaman. Sebagaimana halnya hubungan antara kata-kata menjadi pikiran, demikian pula data-data yang ditangkap perasaan hanya dapat difahami jika ia dihubungkan, disusun dengan bantuan akal. “Dengan perasaan, kita membaca bukunya alam, tetapi memahaminya bukanlah dengan perasaan”. Dengan bantuan akal, kita menghubungkan sebab dan akibat, sebab-sebab dan tindak tanduk antara gejala-gejala, hanyalah karena mereka “menurut kenyataannya, secara materiil, secara kenyataan terdapat tepat dalam hubungan sedemikian antara sesamanya”. Feurbach juga menyatakan, bahwa “hanya pikiran yang riil, yang objektif yang memastikan dan membikin tepat renungan perasaan, hanyalah dalam keadaan yang demikian, pemikiran adalah pemikiran objektif dan kebenaran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feurbach membuang dualisme antara renungan cita-rasa dan pertimbangan akal, yang merupakan ciri dari epistemologi Kant. Menurut Feurbach, pertimbangan akal, bukanlah sumber yang berdiri sendiri dari pengenalan. Semua prinsip dan kategori-kategorinya bukanlah ditimbanya dari dirinya sendiri tetapi dari perasaan berdasarkan pengalaman. Kant mencari ukuran kebenaran pada pemikiran yang murni. Sebaliknya, Feurbach menemukan kebenaran dalam kehidupan, dalam kenyataan, dalam praktik. “Sesuatunya yang disangsikan yang tak dapat selesai dan dikerjakan oleh teori, akan diselesaikan oleh praktik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Feurbach tidak sampai memahami praktik menurut pemahaman materialis tentang praktik kemasyarakatan manusia. Hubungan antara sesama manusia hanya difahami Feurbach sebagai hubungan dalam “gens”, yaitu hubungan kemasyarakatan yang bersumber pada hubungan keluarga, hubungan fisiologis. Gens, puak, suku adalah organisasi kemasyarakatan dasar dalam susunan masyarakat komune-primitif, organisasi yang merupakan kesatuan dari pada keluarga-keluarga seketurunan. Asal mulanya diorganisasi secara keibuan, -- secara matriarchaat, kemudian berubah menjadi patriarchaat dalam proses berkembangnya masyarakat komune-primitif. Gens memiliki seorang kepala, mendiami suatu daerah tertentu dan mempunyai nama tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feurbach memahami praktik manusia sebagai “makan dan minum”, bukanlah praktik berproduksi, bukanlah tindakan-tindakan revolusioner. Dalam pemahaman Feurbach tentang praktik terkandung antropologisme dan naturalisme. Ukuran kebenaran dia lihat dalam “gens”. Dia menyatakan, bahwa “jika saya berpikir sesuai dengan patokan-patokan gens, berarti saya adalah berpikir sebagaimana manusia umumnya. .... Kebenaran adalah apa yang sesuai dengan hakekat gens, palsu adalah apa yang bertentangan dengan itu. Hukum lain dari kebenaran tidak ada” Demikianlah, Feurbach tidak bisa melangkah lebih jauh dari pemahamannya yang abstrak dan pasif tentang praktik kemasyarakatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seluruh karyanya, pada pokoknya Feurbach menempatkan masalah agama dalam pusat perhatiannya. Dia menulis, bahwa dalam semua karyanya, dia tidak pernah “melepaskan masalah agama dan teologi dari pandangan”, bahkan menjadikan “agama dan teologi sebagai tema pokok pikiran serta kehidupannya.” Feurbach berusaha mengangkat obor akal, supaya manusia akhirnya dapat mengubah permainan kekuatan-kekuatan yang fantastis, yang dipergunakan penguasa agama untuk menindas manusia. Pikirannya selalu terlibat dalam hal, supaya mengubah manusia dari serba percaya menjadi manusia yang berpikir, dari serba hidup sembahyang menjadi kaum pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Feurbach, alam, kenyataan hanyalah memberikan materi, kebendaan bagi adanya ide tentang Tuhan; tetapi bentuk yang diberikan oleh benda itu menjadi hakekat Tuhan, adalah dilahirkan oleh fantasi, oleh daya pembayangan. Oleh karena itu, fantasi, daya pembayangan adalah “sebab-sebab teoretis atau adalah sumber dari agama”. “Manusia adalah permulaan, adalah bahagian tengah dan adalah akhir dari agama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feurbach mencatat bahwa peranan alam dalam hidup manusia adalah sangat besar. Alam adalah sebab-musabab, adalah dasar, sumber eksistensi manusia. Alam mengharuskan lahir dan hidupnya manusia. Manusia – bahagian dari alam, dan hanya bisa terdapat dalam alam, adalah berkat alam. Alam adalah ibu kandung manusia. Feurbach menyatakan, bahwa arti alam yang demikian bagi manusia adalah menjadi sebab, hingga alam menjadi objek pertama dari agama, menjadi Tuhan pertama dari manusia. Agama tertua dari manusia – adalah agama yang memuja alam, agama “alamiah”. Bagi manusia-manusia purba, hanyalah alam yang menjadi subjek pemujaan keagamaan. Agama zaman purbakala menunjukkan manusia dan satunya manusia dengan alam, menunjukkan ketergantungan manusia pada alam. Perasaan ketergantungan adalah dasar dari agama. Manusia semenjak kelahirannya dalam sejarah, selalu dalam syarat-syarat tertentu berada dalam ketergantungan bukan dari alam secara umum, tetapi dari alam tertentu, dari alam negerinya, dan tempat kelahirannya. Manusia-manusia purba, oleh karena itu menjadikan alam kongkrit yang mengitarinya sebagai objek agamanya. Manusia-manusia purba memuja dalam agama mereka syarat-syarat alam dan gejala-gejala alam dari mana kehidupan mereka tergantung. Maka oleh karena itu, Feurbach menyatakan, bahwa menurut kenyataan sejarah, manusia-manusia purba memuja sungai, gunung dan laut tanah-airnya. Orang Mesir purbakala berpendapat, bahwa asal-usul semua kehidupan, termasuk manusia adalah sungai Nil. Rakyat Yunani purba percaya, bahwa semua sumber sungai, danau, laut terdapat di samudera raya. Rakyat Persia purba menganggap, bahwa semua gunung berasal dari gunung Alborda. Manusia Meksiko purba memuja Tuhan dari garam. Demikianlah, bagi manusia-manusia purba, Tuhan mereka berasal dari alam sekitar atau iklim yang mengitarinya. Feurbach menyatakan, bahwa manusia yang masih kurang pengalaman dan kurang pendidikan bahkan menganggap negerinya itulah dunia, atau pusat bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feurbach menyatakan, bahwa bagi kaum budak, tanpa tuan budak, dalam masyarakat tidak ada tata tertib, dan tanpa kaisar tidak ada ketenteraman dalam negeri. Oleh karena itu mereka tunduk dan menyembah tuan-budak serta kaisar. Feurbach menarik kesimpulan, bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusia yang hidup dalam masyarakat menciptakan Tuhannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan-pandangan Feurbach mempunyai arti besar dalam hal memasukkan pengertian antropologis manusia dalam ajaran tentang moral. Feurbach mencatat, bahwa semua usaha manusia adalah menuju kebahagiaan. Bahagia atau sengsara, sukacita atau duka nestapa diketahui liwat perasaan. Bagi Feurbach, perasaan adalah syarat pertama bagi moral. Di mana tidak ada perasaan, di sana tidak ada perbedaan bahagia dan sengsara, antara kebaikan dan kejelekan, antara suka dan duka, di sana tidak ada moral. Ajaran tentang moral merupakan puncak ajaran Feurbach tentang masyarakat. Dalam hal inilah terletak keterbatasan filsafat Feurbach. Prinsip dasar moral dari Feurbach adalah kecenderungan hati manusia terhadap sesamanya, yang dimiliki sebagai sifat alamiah dari manusia, yaitu sifat menginginkan kebahagiaan. Menurut Feurbach, supaya manusia jadi bahagia, mereka harus saling mencintai. Kata ‘cinta’ bagi Feurbach adalah azimat sakti, bahan ramuan mujarab mengobati semua penyakit. Feurbach mengajarkan cinta yang menyeluruh dalam masyarakat yang terbagi dalam berbagai klas yang antagonistik. Cinta sesama manusia adalah puncak ajaran moral Feurbach. Di samping itu, dalam berbagai kesempatan secara tepat Feurbach menulis, bahwa “orang di dalam istana berpikiran lain daripada yang di dalam gubuk”. Tetapi dia salah menilai orang yang melarat dengan menyatakan lebih lanjut, bahwa “jika karena kelaparan, karena kesengsaraan, orang tidak mempunyai isi di dalam tubuhnya, akan begitu juga dia tidak mempunyai isi untuk moral di dalam kepalanya, di dalam jiwanya maupun hatinya”. Moral Feurbach adalah moral burjuasi, yang mengajarkan perdamaian klas, yang menutup-nutupi kontradiksi kepentingan-kepentingan klas, yang memadamkan dan menegasi perjuangan klas. Karena itu, materialisme Feurbach adalah materialisme yang tidak berjuang, materialisme yang pasif. Inilah yang disebut materialisme kontemplatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah materialisme Feurbach, materialisme antropologis dan kontemplatif, yang mengabaikan praktik kemasyarakatan manusia, yang menentang agama dan berpaling pada ‘cinta’ sesama manusia dan lari dari perjuangan klas, yang mengkritik idealisme Hegel, menentang agnostisisme Kant serta yang tidak memahami arti penting perjuangan politik. Walaupun pandangannya materialis, Feurbach tidak menggunakan metodologi dialektika, tidak menggunakan hukum pokok dialektika—kesatuan dan perjuangan dari segi-segi yang berlawanan. Materialisme Feurbach adalah materialisme metafisis. Keterbatasan materialisme Feurbach tidaklah mengurangi akan arti historisnya. Materialisme Feurbach memberikan pengaruh yang mendalam atas Marx dan Engels pada masa pembentukan pandangan-pandangan filsafatnya. Marx dan Engels mengambil dari materialisme Feurbach hanya “inti pokoknya”, mengembangkannya lebih lanjut menjadi filsafat ilmiah materialisme dialektis dan membuang lapisannya yang bersifat idealis dan metafisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan dan Kemenangan Materialisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebelas Tesis Marx tentang Feurbach, materialisme jadi berkembang. Lebih setengah abad sesudah Marx menulis tesis itu, tahun 1908, Lenin menulis karya filsafat: Materialisme Dan Empiriokritisisme. Karya Lenin ini lebih mengembangkan lagi materialisme. Lebih diperdalam pengertian tentang kenyataan dan pikiran, tentang hubungan materi dan pikiran, tentang perasaan, tentang ruang dan waktu, tentang kebenaran relatif dan kebenaran absolut, tentang kausalitas. Dinyatakan, bahwa “materi adalah kategori filsafat untuk menamakan kenyataan objektif.”. Lenin menulis, bahwa “pemecahan masalah filsafat secara materialis hanyalah mungkin atas dasar titik tolak dialektis terhadap perasaan”. “Sifat perasaan yang dialektis adalah kesatuan subjektif dan objektif, hakekatnya ..... perasaan adalah gambaran (rupa, wajah) subjektif dari dunia objektif” Dalam karyanya ini, Lenin juga mengungkap masalah pemahaman tentang kebenaran. Materialisme dialektis mengakui adanya kebenaran absolut. “Pengakuan akan kebenaran objektif yang tidak tergantung pada manusia dan kemanusiaan, berarti mengakui kebenaran absolut” Tapi pengakuan akan kebenaran absolut terjadi (terwujud) tidaklah secara sekali gus, tidak segera lengkap menyeluruh, bukannya tidak bersyarat; tetapi setapak demi setapak, setingkat demi setingkat, berangsur-angsur, secara relatif, yaitu kebenaran absolut tampil dalam bentuk kebenaran relatif. Walaupun demikian, meskipun kebenaran itu relatif, tak terelakkan didalamnya ada unsur keabsolutan. Bagi materialisme dialektis tidak terdapat batas yang tak terseberangi antara kebenaran relatif dan kebenaran absolut. Lenin meneliti saling hubungan antara kebenaran relatif dengan kebenaran absolut. Lenin merumuskan salah satu hukum dasar ajaran tentang kebenaran: kebenaran absolut terbentuk dari jumlah himpunan kebenaran-kebenaran relatif; setiap tingkat dalam perkembangan pengetahuan bertambah butir baru pada jumlah kebenaran absolut itu. Lenin memaparkan, bahwa materialisme sebelum Marx adalah metafisis atau relativisme. Materialisme metafisis tidak memahami saling hubungan antara keabsolutan dan kerelatifan. Relativisme mempertentangkan kebenaran relatif dengan kebenaran absolut. Lenin mengungkap masalah gerak yang tak terpisahkan dari materi. Materi secara keharusan terdapat dalam semua gerak. Gerak materi tak mungkin terdapat tanpa ruang dan waktu. Siapa yang mengakui eksistensi realitas objektif, maka tak bisa lain harus mengakui juga realitas objektif dari waktu dan ruang. Lenin mengungkap pemahaman filosofis hakekat ruang dan waktu, dan tafsiran filosofis tentang kausalitas (pertalian antara sebab dan akibat). Penyangkalan (penegasian) atas realitas objektif ruang dan waktu, tak bisa lain akan menghasilkan penyelewengan dari pendirian materialisme dalam masalah kausalitas. Demikian pula pemahaman yang tidak benar, yang subjektif tentang kausalitas akan menghasilkan kesimpulan yang tidak benar, yang idealistis mengenai masalah dasar filsafat. Materialisme Dan Empiriokritisisme karya Lenin ini memperkaya ajaran Marxis tentang peranan praktik dalam teori pengenalan (epistemologi). Dikemukakan masalah hubungan tak terpisahkannya teori pengenalan materialisme dialektis dengan praktik. Digaris-bawahinya bahwa praktik haruslah yang pertama dan merupakan titik-pandangan dasar dari teori pengenalan, bahwa kriteria praktik haruslah termasuk kedalam dasar teori pengenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih seperempat abad sesudah Lenin menulis Materialisme Dan Empiriokritisisme, tahun 1937, pemahaman tentang pentingnya arti praktik, arti mencari kebenaran dari kenyataan itu dijabarkan secara rinci oleh Mao Zedong dalam karya filsafatnya TENTANG PRAKTIK. Dengan populer Mao Zedong memaparkan tentang proses perkembangan pengetahuan manusia, mulai dari adanya kontak dengan hal-ihwal dunia luar, melakukan sintese dari bahan-bahan tanggapan pancaindera, sampai membentuk konsepsi. Mao Zedong menulis, “pengetahuan mulai dari pengalaman”. Diajukannya bahwa filsafat Marxis materialisme dialektis mempunyai dua ciri yang paling menonjol. Yang satu ialah watak klasnya – ia secara terang-terangan mengabdi kepada proletariat. Yang lainnya ialah sifat kepraktikannya – ia menekankan ketergantung teori pada praktik, menekankan bahwa dasar teori adalah praktik dan teori pada gilirannya mengabdi pada praktik. Untuk sepenuhnya mencerminkan sesuatu dalam keseluruhannya, untuk mencerminkan hakekatnya, mencerminkan hukum-hukum internya, adalah perlu melalui pemikiran, menyusun kembali dan mengolah bahan-bahan tanggapan pancaindera yang kaya itu dengan membuang ampasnya dan mengambil sarinya, menyisihkan yang palsu dan mempertahankan yang benar, bertolak dari segi yang satu ke segi yang lain dan dari bagian luar ke bagian dalam, guna membentuk suatu sistim konsepsi dan teori – adalah perlu membuat suatu lompatan dari pengetahuan persepsi ke pengetahuan rasional. Menggaris-bawahi tesis kesebelas Marx tentang Feurbach, Mao Zedong menulis, bahwa masalah yang terpenting tidak terletak pada pengertian akan hukum-hukum dunia objektif dan karena itu sanggup menerangkan dunia, melainkan terletak pada pentrapan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif itu untuk secara aktif mengubah dunia. Menurut Marxisme, teori adalah penting, dan pentingnya teori itu dinyatakan sepenuhnya dalam perkataan Lenin: “Tanpa teori revolusioner, tak mungkin ada gerakan revolusioner”. Dengan demikian, Mao Zedong kian mempertegas ajaran Marx, bahwa pengenalan atas dunia adalah untuk mengubahnya. Inilah materialisme dialektis, cara berpikir, senjata perjuangan, yang diperlukan bagi manusia yang berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berlalu lebih satu setengah abad, semenjak Tesis-Tesis Tentang Feurbach ini ditulis Marx. Materialisme kian menunjukkan keunggulan dalam filsafat. Kebenaran filsafat materialisme telah mengalami ujian dalam sejarah. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, mulai dari penemuan-penemuan dalam astronomi, fisika, kimiah, biologi, ilmu kedokteran, penemuan dan penggunaan energi nuklir, penjelajahan ruang angkasa, ilmu dan tekhnologi informatika, ilmu genetika dan lain-lain telah mendemonstrasikan kemenangan-kemenangan materialisme atas agnostisisme dan idealisme. Berkat materialisme, manusia kian mengenal dan menguasai hukum-hukum alam. Kian bisa mengolah dan mengubah alam demi kepentingan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu setengah abad ini, masyarakat manusia di dunia juga telah mengalami perubahan drastis. Hampir seperempat abad sesudah Manifes Partai Komunis diumumkan, lahirlah Komune Paris. Inilah usaha mempraktikkan gagasan Manifes Partai Komunis dalam praktik. Komune Paris tahun 1871 gagal, karena kaum Komunar dibasmi pakai penindasan bersenjata oleh burjuasi Perancis. Hampir setengah abad kemudian, belajar dari kegagalan Komune Paris, pada tahun 1917, partai klas pekerja yang dibimbing oleh filsafat materialisme historis dibawah pimpinan Lenin, memelopori Revolusi Oktober Russia. Revolusi mencapai kemenangan dengan didirikannya negara sosialis pertama di dunia, yaitu Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis – URSS --. Kekuasaan klas pekerja yang digagaskan dalam Manifes Partai Komunis untuk pertama kali terwujud. Musuh-musuh sosialisme tidak rela akan eksistensi negara sosialis, URSS. Perang dunia kedua yang dilancarkan persekutuan fasis Jerman, Itali dan Jepang dengan Pakta Anti-Komintern adalah bertujuan melenyapkan URSS, melenyapkan Bolsyewisme dan sosialisme. Perang berakhir dengan kekalahan fasisme. URSS tidak terbasmi. Malah tampil sebagai pemenang-perang bersama negara-negara Sekutu. Ini disusul dengan munculnya negara-negara sosialis baru di Jerman Timur, Bulgaria, Rumania, Albania, Polandia, Cekoslowakia. Juga di Tiongkok, Korea dan Vietnam. Semuanya ini terjadi dibawah bimbingan filsafat materialisme historis untuk mewujudkan sosialisme yang digagaskan dalam Manifes Partai Komunis. Inilah manifestasi kemenangan bersejarah dari Marxisme, kemenangan filsafat materialisme dialektis pada paro pertama abad ke-XX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Dunia Kedua usai dengan kekalahan fasisme. Sosialisme bukannya terbasmi, malah kian berkembang biak. Usaha burjuasi internasional untuk melenyapkan sosialisme tidaklah berhenti. Burjuasi berpendirian bahwa eksistensi sosialisme berarti ancaman bagi kelangsungan hidup sistim kapitalisme. Karena itu, semenjak zaman Truman dan Churchill usaha membasmi sosialisme berlanjut dengan dilancarkannya the policy of containment, politik membendung komunisme sejagat dibawah komando Amerika Serikat. Inilah yang dinamakan PERANG DINGIN. PERANG DINGIN, usaha membasmi komunis dimana saja di muka bumi, melanda dunia mulai pertengahan abad ke-XX. Eksistensi negara-negara sosialis dan gerakan komunis dianggap ancaman bagi kelangsungan hidup kapitalisme, mengancam way of life Amerika. Karena itu pembasmian komunisme merupakan strategi global Amerika Serikat. Realisasi strategi global ini dilakukan dibawah komando National Security Council (NSC) – “Politbiro PERANG DINGIN”, yang diketuai Presiden, beranggotakan antara lain Menteri Pertahanan, Menteri Luarnegeri, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, tokoh-tokoh politik pilihan. Tahun 1947 didirikanlah CIA yang bekerja secara terbuka dan rahasia, demi membasmi komunisme. Dilaksanakan Plan Marshall untuk membendung meluasnya pengaruh Uni Sovyet di Eropa. Dibangun pakta-pakta militer NATO, CENTO, SEATO, ANZUS mengepung negeri-negeri sosialis. Tahun 1947-1948 berlangsunglah penyingkiran dan pembendungan wakil-wakil komunis dalam pemerintahan Perancis dan Itali; terjadi pembasmian pimpinan utama Partai Komunis Indonesia dengan “Peristiwa Madiun 1948” ; disusul Perang Korea 1950-1953 demi membendung kemajuan komunisme di Asia Timur; dikobarkan Perang Vietnam 1954-1975 untuk membendung kemajuan komunisme di Asia Tenggara; berlangsung pembasmian Patrice Lumumba di Konggo; terjadi invasi bersenjata yang dikendalikan CIA di Playa Giron tahun 1961 untuk menggulingkan pemerintah Kuba yang dipimpin Fidel Castro; berlangsung pembantaian kaum komunis dan Sukarnois di Indonesia tahun 1965-1966 sampai berdirinya kekuasaan orba selama 32 tahun, dilakukan blokade terhadap Kuba hampir selama setengah abad, berlangsung berbagai usaha membunuh Fidel Castro dan menggulingkan pemerintahan Kuba yang revolusioner, ...... sampai-sampai penggulingan pemerintah dan pembunuhan Salvador Allende di Chili, dan berkobar penggalakan subversi untuk “perubahan secara damai” di semua negara sosialis. Demikianlah perwujudan PERANG DINGIN, realisasi the policy of containment yang dilancarkan Amerika Serikat untuk membasmi komunisme demi menguasai dunia. Dunia pun jadi penuh ketegangan dengan berlangsungnya perlombaan persenjataan besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak semula, Lenin mempunyai gagasan untuk memenangkan sosialisme liwat perlombaan damai dengan kapitalisme, yaitu menempuh jalan koeksistensi secara damai antara sosialisme dengan kapitalisme. Gagasan ini dihadang PERANG DINGIN yang menggelora. Pengeluaran besar-besaran dalam perlombaan persenjataan telah mendatangkan beban besar di pundak URSS. Ini merupakan salah satu sebab utama terpukul dan terlantarnya pembangunan perekonomian Uni Sovyet di ujung abad ke-XX.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembasmian kaum komunis Indonesia 1965-1966 hanyalah merupakan satu mata-rantai, merupakan bagian kecil dari rencana global pembasmian komunisme sejagat. Pembantaian manusia ini lebih mengerikan dan lebih terkutuk dari Perang Korea maupun Perang Vietnam. Dalam perang Korea dan Perang Vietnam, Amerika Serikat mengerahkan pasukannya memerangi rakyat Korea dan rakyat Vietnam, hingga di Korea jatuh korban 57.120 tentara Amerika mati dan luka-luka, di Vietnam jatuh korban 40.000 tentara Amerika mati dan hampir 4000 pesawat terbang musnah, dengan pengeluaran sampai 136 milyar dollar. Sedangkan genosida di Indonesia berlangsung dengan mengadu orang Indonesia membunuh orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komando pembasmian komunisme sejagat berada di tangan NSC Amerika Serikat—Politbiro PERANG DINGIN. Untuk pelaksanaan keputusan-keputusannya, NSC mempunyai aparat-aparat yang canggih. Ada Korps Diplomatik AS yang tersebar di semua negeri di seluruh dunia. Ada CIA dan FBI. CIA mempunyai agen-agen di banyak negeri. Ada tiga Angkatan Bersenjata dengan Armada Ke-VII yang bisa merondai semua pelosok samudera di dunia. Ada sejumlah Akademi Militer Amerika yang bisa mendidik perwira-perwira terpilih dari banyak negeri. Hasil didikan akademi militer ini, sadar atau tidak sadar, dapat menjadi alat pelaksana the policy of containment. CIA menggunakan berbagai lembaga riset seperti RAND Corporation, Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Carnegie Corporation, yang bisa mengucurkan dana buat merekrut sarjana-sarjana berbagai negeri untuk melakukan riset dan melakukan penulisan yang mengabdi pada realisasi the policy of containment, terdapat sejumlah universitas yang membangun lembaga-lembaga studi dan pusat penelitian seperti universitas Berkeley, Harvard, Princeton, Columbia, Chicago, Pennsylvania, MIT, John Hopkins, yang memberikan beasiswa pada mahasiswa untuk dididik dan melakukan riset. Untuk mengimbangi teori ekonomi komunisme, Walt W.Rostow, salah seorang pakar dari MIT Center for International Studies menghasilkan karya terkenal STAGES OF ECONOMIC GROWTH—a Non-communist Manifesto—yang memaparkan teori tentang lepas landas dalam ekonomi. Tak sedikit tokoh orba yang jadi pengikut Rostow, menguar-uarkan bahwa Indonesia akan berlepas landas pada tahun 2000. Di samping itu, dibangun dan digalakkan pemancar Radio Svoboda—Radio Free Europe, Radio Free Asia—untuk mensubversi negeri-negeri sosialis, dengan mengobarkan histeria anti-komunisme. Terhadap Indonesia, usaha subversi sudah digalakkan dengan CIA membantu PRRI-Permesta mendirikan negara tandingan melawan Republik Indonesia. Kegagalan dalam membantu PRRI-Permesta tidaklah menyebabkan berhentinya usaha Amerika Serikat menggulingkan Bung Karno. Dikala Perang Vietnam sedang memuncak, NSC pun memutuskan untuk menyingkirkan Sukarno. Dalam bulan Maret 1965, Komite 303 dari NSC menyetujui program aksi CIA-Kementerian Luar Negeri AS untuk mengurangi pengaruh PKI dan Tiongkok serta mendukung unsur-unsur non-komunis di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Indonesia tahun 1965 adalah peristiwa politik. Intinya adalah peristiwa penggulingan Bung Karno. Pembunuhan besar-besaran atas kaum komunis dan Sukarnois adalah jalan untuk menggulingkan Bung Karno. Ini adalah pelaksanaan keputusan NSC yang sudah menetapkan untuk menyingkirkan Sukarno. Oleh karena itu, walaupun badan-badan intel Inggris, Australia, Malaysia ikut terlibat, dalang dari pembunuhan besar-besaran di Indonesia tahun 1965-1966 adalah National Security Council Amerika. Soeharto dan kaum kanan Angkatan Darat Indonesia adalah eksekutor, adalah pelaksana belaka dari gagasan NSC Amerika Serikat. Tentu, Soeharto yang punya ambisi untuk berkuasa, telah menggunakan kaum kanan Angkatan Darat untuk berkuasa. Soeharto yang tangannya berlumuran darah adalah bertanggungjawab atas pembantaian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyingkiran Sukarno sudah menimbulkan korban besar. Korbannya bukan hanya Bung Karno dan kaum komunis, tetapi juga massa pendukung Bung Karno, bahkan jutaan rakyat Indonesia yang tak bersalah. Dibunuh, disiksa, dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru, dipecat dari pekerjaan, dilarang jadi pegawai negeri; warga negara suku Tionghoa didiskriminasi dan dikucilkan, dibangkitkan kebencian pada suku Tionghoa. Demikianlah akibat realisisasi the policy of containment Amerika Serikat ini. Jelas sekali bahwa dalang dari dalangnya peristiwa 1965 Indonesia adalah NSC Amerika Serikat, yaitu Politbiro PERANG DINGIN, yang telah memutuskan keharusan menggulingkan Sukarno. Penggulingan Bung Karno adalah salah satu mata rantai, hanya satu bagian dari realisasi the policy of containment pelaksanaan PERANG DINGIN yang dikobarkan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata-rantai penting lainnya dari PERANG DINGIN adalah ofensif “perubahan secara damai” untuk membasmi URSS, menggalakkan perlombaan persenjataan besar-besaran. Ofensif ini menimbulkan pukulan dasyat secara ekonomi dan politik bagi Uni Sovyet. Timbul dan berkembang pula kontradiksi-kontradiksi antarnegara-negara sosialis yang tak terpecahkan secara tepat. Pakta Warsawa yang anggota-anggotanya terdiri dari negara-negara sosialis Eropa, yang dibentuk untuk menghadapi NATO dibubarkan; sedangkan NATO memperkuat dan memperluas diri. Seiring dengan itu, muncul dan merajalelalah kontradiksi antaretnis dalam URSS, Yugoslavia dan berbagai negara sosialis lainnya. “Tembok Berlin” yang dimaksudkan untuk membentengi ibu-kota Republik Demokrasi Jerman dari intervensi kekuatan anti-sosialisme dari Barat dirobohkan tahun 1989. Tak tertahankan, penyatuan Jerman membuat ambruknya Republik Demokrasi Jerman ditelan Republik Federal Jerman. Pyeryestroika dan Novoye Mishlyeniye (Perestroika dan Pemikiran Baru) yang digalakkan Gorbacyov membuat hancur Uni Sovyet. Sesudah berkibar hampir selama tiga perempat abad, bendera merah berpalu arit dikerek turun dari puncak istana Kremlin. Dengan demikian, URSS pun lenyap dari peta politik dunia. Presiden George Bush dalam pedato kenegaraannya awal 1992 memproklamirkan usainya PERANG DINGIN dan mampusnya komunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum itu, semua negeri sosialis lainnya pun sudah jadi sasaran. Pergolakan di Polandia menggulingkan sistim sosialis mendapat dukungan penuh bahkan dengan campur tangan Amerika Serikat. Ini menjalar ke Hongaria, Rumania, Jerman Timur sampai rontoknya “Tembok Berlin”. Bahkan Tiongkok pun kecipratan, hingga terjadi Peristiwa Tian An Men tahun 1989, yang oleh sementara pengamat Barat dinyatakan sebagai gerakan demokratis. Sesungguhnya, hakekat peristiwa ini adalah usaha untuk menggulingkan sistim sosialis. Karena keteguhan PKT membela sosialisme, dibawah pimpinan Deng Xiaoping, usaha ini dapat digagalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa besar ini adalah demonstrasi pukulan dan kemunduran bagi gerakan sosialisme dan komunisme dunia di ujung abad ke-XX. Francis Fukuyama, pembela tangguh kapitalisme, tampil dengan karyanya THE END OF HISTORY AND THE LAST MAN dengan kesimpulan bahwa dunia sudah sampai pada “akhir sejarah”, “komunisme sudah diungguli oleh demokrasi liberal”. Sesudah itu, Samuel P. Huntington pakar terkemuka pembela politik penguasa Amerika Serikat tampil dengan karyanya THE CLASH OF CIVILIZATIONS AND THE REMAKING OF WORLD ORDER. Huntington menyangsikan kebenaran tesis Fukuyama, bahwa komunisme sudah diungguli oleh demokrasi liberal. Tapi dengan menganalisa usainya PERANG DINGIN, Huntington menilai, bahwa kini di dunia terdapat berbagai bentuk otoritarianisme, nasionalisme, korporatisme dan komunisme pasar seperti di Tiongkok. Pembagian umat manusia oleh PERANG DINGIN sudah selesai. Kini pembagian yang lebih fundamental umat manusia tetap ada dalam bentuk etnisitas, keagamaan dan peradaban-peradaban, dan akan menelorkan konflik-konflik baru. Dunia akan terjerumus ke dalam benturan peradaban-peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataan, memang demokrasi liberal tidaklah berhasil menunjukkan keunggulannya sebagai pengganti sistim sosialisme di berbagai negara sosialis yang sudah ambruk. Dan sosialisme tidaklah punah di muka bumi. Tiongkok dengan rakyat seperlima penduduk dunia secara mengagumkan bangkit membangun sosialisme berkepribadian Tiongkok. Betapa pun adanya sementara orang yang menyatakan, bahwa Partai Komunis Tiongkok sudah mencampakkan komunisme, bahwa Tiongkok telah jadi negara kapitalis, tapi Tiongkok telah mengagumkan lawan dan kawan dengan pertumbuhan ekonominya lebih dari 9 % setahun selama dua dasawarsa. Dan dalam kenyataan, kekuasaan politik di Tiongkok adalah satu varian dari diktatur proletariat, yaitu kediktatoran demokrasi rakyat, kekuasaan politik dengan sistim kerjasama multi-partai dibawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok. Ajaran komunisme tidak dicampakkan. Dalam Konstitusi Partai Komunis Tiongkok dinyatakan bahwa ideologi pembimbing Partai adalah Marxisme-Leninisme, Pikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping dan pikiran penting “Tiga Mewakili”. Undang Undang Dasar negara Republik Rakyat Tiongkok tahun 2004 mencantumkan bahwa tugas utama bangsa Tionghoa di tahun-tahun mendatang adalah memusatkan usaha untuk modernisasi sosialis. Di bawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok dan bimbingan Marxisme-Leninisme, Pikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping dan pikiran penting “Tiga Mewakili”, rakyat Tiongkok akan melanjutkan berpegang pada kediktatoran demokrasi rakyat dan menempuh jalan sosialis, dengan teguh menyempurnakan lembaga-lembaga sosialis, mengembangkan demokrasi sosialis, menyempurnakan sistim hukum sosialis dan bekerja keras serta berdiri di atas kaki sendiri untuk memodernisasi industri, pertanian, pertahanan nasional dan ilmu serta tekhnologi setapak demi setapak untuk mengubah Tiongkok menjadi negeri sosialis dengan kebudayaan dan demokrasi yang tinggi. Perkembangan ekonomi Tiongkok yang menakjubkan terjadi sebagai hasil realisasi isi Undang Undang Dasar tersebut. Rakyat Tiongkok yang rajin lagi cerdas, di bawah pimpinan yang tepat secara mengagumkan telah berhasil membangun bendungan Tiga Ngarai di Sungai Yangtze, bendungan pembangkit tenaga listrik terbesar di dunia, berhasil membangun jalan kereta api yang tertinggi dari permukaan laut meliwati dataran tinggi Tibet sampai ke ibukota Tibet, Lhasa; untuk kedua kalinya berhasil membangun dan mengorbitkan pesawat ruang angkasa dengan dua orang antariksawan Nie Haisheng dan Fei Junlong. Kini mulai berjalan penghapusan semua pajak terhadap kaum tani. Penghidupan rakyat meningkat terus dengan sangat nyata. Inilah manifestasi suksesnya pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok dalam kenyataan. Tahun 2005 perkembangan ekonomi Tiongkok mencapai PDB per kapita sebesar 1000 dollar Amerika. Untuk menghadapi masa selanjutnya, baru saja berlangsung sidang Pleno ke-V CC PKT ke-XVI yang merumuskan usul untuk rencana Rencana Lima Tahun Ke-XI. Kenyataan ini membantah pendapat yang menyatakan Tiongkok telah mencampakkan ekonomi berencana. Kini Tiongkok siap untuk maju melaksanakan Rencana Lima Tahun ke-XI. Sidang pleno ke-V Komite Sentral ke-XVI PKT, 12-10-2005, telah menerima baik "Usul Komite Sentral PKT Tentang Penyusunan Rencana 5 Tahun Ke-XI Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional". Direncanakan bahwa selama periode Repelita ke-XI, Tiongkok akan memelihara perkembangan ekonomi dengan mantap dan relatif cepat, akan mempercepat perubahan cara pertumbuhan ekonomi, akan meningkatkan kemampuan mandiri dan pembaruan, akan mendorong perkembangan selaras daerah kota dan desa, akan membangun desa-desa sosialis baru, akan mengintensifkan pembangunan masyarakat harmonis dan akan terus memperdalam reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar. Sesuai dengan tuntutan Kongres Nasional Ke-XVI PKT mengenai pembangunan masyarakat cukup sejahtera dalam 20 tahun pertama pada abad ini, sidang pleno ke-V CC ke-XVI PKT telah mengemukakan target utama pembangunan ekonomi dan sosial selama periode Repelita ke-XI, yaitu pada tahun 2010, merealisasi peningkatan 100% produk domestik bruto per kapita dari tahun 2000 di atas dasar mengoptimalkan struktur, meningkatkan hasil guna ekonomi dan menurunkan pengausan. Gerak raksasa pembangunan ekonomi besar-besaran sedang menggelora dalam pembangunan sosialisme di Tiongkok. Dalam pedatonya di depan konferensi ke-VII Menteri-Menteri Keuangan dan Gubernur-Gubernur Bank Sentral 20 negara di Beijing 15 Oktober 2005, Presiden Hu Jintao menyatakan, bahwa “Tiongkok semenjak melakukan reform dan menjalankan politik terbuka terhadap dunia luar semenjak 27 tahun yang lalu, sudah meletakkan sistim pendahuluan dari ekonomi pasar sosialis dan satu dasar struktur keterbukaan dalam semua dimensinya. Perekonomian tumbuh secara berkesinambungan dengan pesat, dan rakyat mengalami hidup yang menyenangkan. Akan tetapi, kami mengetahui dengan jelas, bahwa Tiongkok masih tetap adalah negeri sedang berkembang yang terbesar di dunia dengan jumlah penduduk sangat besar, dengan dasar ekonomi yang lemah, perkembangan yang tidak merata dan tekanan berat masalah lingkungan hidup serta tingkat hidup rakyat masih belum begitu tinggi. Karena itu, modernisasi di Tiongkok masih merupakan jalan jauh yang menanjak yang membutuhkan kerja keras untuk waktu panjang. Tiongkok sudah menetapkan tujuan membangun masyarakat yang cukup sejahtera secara menyeluruh. Tiongkok bermaksud meningkatkan Pendapatan Bruto Nasional mencapai 4 trilyun dollar Amerika atau PDB per kapita sekitar 3000 dollar Amerika dalam tempo limabelas tahun”.  Disamping gagasan mengenai perkembangan perekonomian Tiongkok, kini Tiongkok maju pula dalam pembangunan sistim demokrasi sosialis. Demokrasi politik sosialis Tiongkok mempunyai ciri kepribadian Tiongkok. Ciri-cirinya adalah: demokrasi Tiongkok adalah demokrasi rakyat dibawah pimpinan Partai Komunis; demokrasi Tiongkok adalah adalah demokrasi dengan mayoritas mutlak rakyat bertindak sebagai tuan dari urusan negara; demokrasi Tiongkok adalah demokrasi yang dijamin oleh kediktatoran demokrasi rakyat; demokrasi Tiongkok adalah demokrasi dengan sentralisme demokratis sebagai prinsip organisasi dan cara pelaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping Tiongkok, masih terdapat Republik Sosialis Vietnam, Republik Rakyat Demokrasi Korea dan Kuba yang dengan syarat yang berbeda-beda mempertahankan sistim diktatur proletariat. Maka jelas sekali, sosialisme tidaklah punah di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materialisme Alat Melawan Pembodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu setengah abad semenjak Marx menulis Tesis-Tesis Tentang Feurbach dan semenjak Manifes Partai Komunis diumumkan, materialisme dialektis telah menunjukkan keunggulan atas agnostisisme dan idealisme. Dari pandangan materialisme historis, perkembangan sejarah satu setengah abad ini adalah masa kebangkrutan feodalisme dan kemerosotan burjuasi. Burjuasi berada dalam kedudukan defensif, membela diri terhadap ofensif gagasan sosialisme yang baru tampil. Kehancuran Komune Paris, dan keambrukan URSS serta berbagai negara sosialis lainnya di Eropa, dibantainya kaum komunis Indonesia tahun 1965-1966 adalah kegagalan sementara dari gerakan sosialisme dan komunisme dunia. Ini bukanlah menunjukkan bangkrutnya gagasan mengubah dunia yang dipaparkan Manifes Partai Komunis, bukanlah bangkrutnya materialisme historis yang jadi filsafat Marxisme. Lahirnya berbagai negara nasional di Asia dan Afrika sehabis Perang Dunia kedua telah menunjukkan ambruknya sistim imperialisme. Kekalahan Amerika dalam Perang Korea yang mengorbankan 57.120 pasukan AS terbunuh dan luka-luka dan Perang Vietnam yang mengorbankan 40.000 tentara AS terbunuh dan hampir 4000 kapal terbang AS musnah dengan menelan biaya 136 milyar dollar AS menunjukkan bahwa kekuatan militer yang canggih pun tak bisa membendung perkembangan komunisme di Asia Timur dan Asia Tenggara. Invasi bersenjata dikomandoi CIA di Playa Giron tahun 1961 menunjukkan kegagalan memalukan dari operasi CIA. Blokade selama hampir setengah abad terhadap Kuba yang dijalankan Amerika Serikat mendemonstrasikan kegagalan politik Amerika membasmi pemerintah revolusioner Kuba. Merosotnya kejayaan Inggris Raya dari imperium yang menguasai dunia sampai awal abad ke-XX yang kini tinggal kekuasaan United Kingdom di pulau England menunjukkan kebangkrutan sistim imperialisme Inggris. Dalam satu setengah abad, jelas sekali dunia sudah berubah banyak. Tapi perubahan ini masih jauh dari tuntas. Imperialisme yang merajai dunia sampai pertengahan abad ke-XX kini berubah jadi neo-kolonialisme. Neo-kolonialisme lebih jahat dibanding imperialisme, karena penghisapan dijalankan liwat tangan penguasa-penguasa setempat, hingga rakyat yang ditindas tidak berhadapan langsung dengan burjuasi asing, tetapi dengan burjuasi negerinya sendiri. Neo-kolonialisme yang dikomandoi Amerika Serikatlah yang memainkan peranan dalam menggulingkan Bung Karno dan terjadinya pembantaian di Indonesia tahun 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usainya PERANG DINGIN bukanlah menunjukkan sistim demokrasi liberal lebih unggul dari sosialisme. Sosialisme tidaklah punah di muka bumi. Tiongkok bersama Vietnam, Korea Utara dan Kuba bertahan membela sistim sosialisme. Tiongkok dengan tegas berkali-kali menyatakan bahwa pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok dilakukan dengan jalan damai, Tiongkok membutuhkan perdamaian dunia demi pembangunan ekonominya. Boleh dikatakan, kini gagasan Lenin memenangkan sosialisme atas kapitalisme lewat perlombaan secara damai, sedang berlangsung dan berada dalam ujian. Berkenankah borjuasi internasional yang dikepalai Amerika Serikat menempuh jalan damai, berlomba dan bersaing dengan gagasan sosialisme dalam koeksistensi secara damai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang sudah empat dasawarsa dikuasai kediktatoran militeris orba, jadi dirundung malapetaka pembodohan, hingga kita kini hidup di Zaman Edan, zaman jahiliyah. Begitu edannya zaman kita, hingga terjadilah “sang pembunuh dengan bangga menyatakan memberi maaf kepada si terbunuh”, “sang pengkhianat Pancasila menuduh lawannya mengkhianati Pancasila”! Jelas sekali, jargon-jargon politik orba adalah jargon-jargon yang anti demokrasi, yang fasistis. Menjadikan Pancasila “satu-satunya asas bernegara, berbangsa dan bermasyarakat “, menjadikan Pancasila “sumber dari segala sumber” adalah bertentangan dengan ajaran Bung Karno, bahwa Pancasila adalah dasar negara. Putusan-putusan seminar ke-II Angkatan Darat yang melahirkan gagasan Dwi-fungsi ABRI yang anti-demokrasi, yang mengharuskan penggantian istilah Tionghoa dengan Cina bertujuan membangkitkan kebencian atas warga negara suku Tionghoa, pembantaian dan pemenjaraan jutaan warganegara tak bersalah tanpa diadili adalah pelanggaran hak-hak asasi manusia yang tak ada bandingannya dalam sejarah. Sesudah ambruknya URSS, anti Tiongkok merupakan benang merah dari the policy of containment Amerika. Dalam strateginya membendung komunisme dunia, kaum kanan Amerika Serikat secara tangguh sampai kini masih menggalakkan terus gagasan adanya “ancaman Tiongkok”. Inilah mentalitas PERANG DINGIN yang masih gentayangan, walaupun PERANG DINGIN dinyatakan sudah usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik orba terhadap Tiongkok di bawah kekuasaan Soeharto adalah sesungguhnya mengabdi pada realisasi the policy of containment di Indonesia, realisasi politik pembendungan komunisme, adalah pelaksanaan strategi PERANG DINGIN. Kebijaksanaan orba berkembang sampai melarang penggunaan bahasa dan aksara Tionghoa, mengharuskan mengganti istilah Tionghoa dengan kata Cina demi membangkitkan kebencian pada suku Tionghoa, melarang sekolah-sekolah dan surat-surat kabar berbahasa Tionghoa, melarang rakyat melangsungkan pesta Hari Raya Imlek, bahkan menggalakkan penggantian nama Tionghoa dengan nama Indonesia. Tak bisa diartikan lain, bahwa ini adalah politik rasialis anti demokrasi yang fasistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melaksanakan pembasmian kaum komunis dan Sukarnois, Soeharto dan kaum kanan Angkatan Darat telah menjadi eksekutor, pelaksana tangguh dari the policy of containment di Indonesia. Di bawah kekuasaan orba Soeharto terbinalah zaman jahiliyah, zaman pembodohan, ZAMAN EDAN. Dengan cara pembodohan, cara propaganda a la Goebels, berlangsung pemalsuan sejarah. Panca Sila bukan lagi jadi alat pemersatu bangsa, tapi jadi alat pentungan membasmi lawan politik orba dengan menggunakan tuduhan “anti-Panca Sila” atau “pengkhianatan atas Panca Sila”. Yang melawan rezim orba dituduh ”anti-Panca Sila” atau “mengkhianati Panca Sila”. Semboyan ancaman tentang “bahaya laten komunisme” pun digalakkan. “Pengkhianatan atas Panca Sila” dan “awas bahaya laten komunisme” adalah senjata orba membangkitkan histeria anti-komunisme. Walaupun Soeharto sudah lengser, mentalitas PERANG DINGIN itu kini masih bersimaharajalela. Dan kita kian terjerumus kedalam zaman jahiliah, ZAMAN EDAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bisa berlangsung pembodohan dalam waktu sekian lama ? Kuncinya adalah: dicabutnya kebebasan rakyat untuk berpikir dan bersuara. Disamping itu telah dipaksakan cara berpikir yang tak ilmiah. Kebenaran tidak didasarkan pada kenyataan, pada hasil pemikiran rakyat, tapi didasarkan pada pandangan penguasa. Penguasa orba lah yang menguasai kebenaran. Hitam atau putih tergantung pada kemauan penguasa orba. Selama berkuasanya rezim orba, berkumandanglah ucapan-ucapan yang tidak masuk akal seperti: “Bung Karno adalah dalang G30S”, “Bung Karno adalah Gestapu Agung”, “Bung Karno menyelewengkan Panca Sila dengan gagasan Nasakom”, “Panca Sila bukanlah hasil galian Bung Karno”, karena itu peringatan 1 Juni sebagai hari lahirnya Panca Sila adalah dilarang, Panca Sila dikeramatkan hingga ada “Hari kesaktian Panca Sila”, “PKI adalah dalang G30S”, “PKI memberontak menggulingkan pemerintah”, “para anggota Gerwani berpesta-pora menyiksa para jenderal korban G30S”, “mata jenderal dicungkil, kemaluannya dipotong”..... dan sebagainya. Semua ini menjadi bahasa kekuasaan, yang membangkitkan histeria anti-komunisme. Pendapat yang menentang kebohongan ini, dinyatakan “anti Panca Sila”. Sejarah pun ditentukan berdasarkan pandangan orba. Kediktatoran orba memaksa rakyat menerima segala yang ditetapkan penguasa. Pandangan yang berbeda dengan pandangan orba dihukum sebagai “menentang Panca Sila”. Dan sebentar-sebentar didengungkan semboyan “bahaya laten komunisme sedang mengancam”. Rakyat hidup dalam suasana ketakutan dan terus-menerus terancam. Tak diperbolehkan bersuara yang berbeda dengan suara orba. Maka pembodohan dan jahiliyah melanda bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode berpikir yang salah ikut menyumbang bagi menjalarnya pembodohan. Banyak terjadi orang berpikir bagaikan “meributkan ranting tanpa meneliti pohon”, “meributkan pohon tanpa meneliti hutan”, “meributkan Aidit tanpa meneliti NSC AS – Politbiro PERANG DINGIN – yang sudah memutuskan untuk menyingkirkan Sukarno”. Metode berpikir seperti ini pada hakekatnya adalah eklektisisme. Menggunakan eklektisisme berarti berpikir dengan bergumul pada satu kenyataan yang merupakan bahagian dari satu objek yang besar, merangkai-rangkai berbagai kenyataan, tapi melupakan kenyataan pokok yang hakiki, terus mengambil kesimpulan sesuai dengan selera si penyimpul. Eklektisisme yang menyesatkan itu sering terdapat dalam banyak hal, terutama dalam meneliti peristiwa Indonesia 1965. Peristiwa Indonesia 1965 adalah peristiwa politik. Inti masalah dalam peristiwa Indonesia tahun 1965 adalah soal penggulingan Bung Karno, sebagaimana diputuskan oleh NSC Amerika Serikat. Pemusatan riset seharusnya ditujukan pada NSC Amerika Serikat, tentang tindak tanduknya terhadap Indonesia, terutama terhadap Bung Karno. Pembantaian sekian banyak manusia Indonesia yang merupakan pelanggaran hak-hak asasi manusia yang paling biadab dalam sejarah adalah akibat dari keputusan NSC itu. Dengan eklektisisme tidaklah mungkin dicapai pembongkaran dalang kejahatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eklektisisme berguna untuk pemutar-balikkan kenyataan, untuk pembohongan, yang bermuara pada hasutan dan fitnah. Pakai eklektisisme sering disebarkan tuduhan, bahwa PKI telah mengkhianati bangsa dengan tiga kali melakukan pemberontakan. Tuduhan ini muncul dengan pembeberan sejumlah fakta tanpa hubungan dialektis, dan berakhir dengan fitnah tersebut. Walaupun banyak tulisan membantahnya, masih sering diuar-uarkan fitnah ini. Pemberontakan tahun 1926 adalah terhadap kolonialisme Belanda. Tak ada sedikit pun berbau mengkhianati bangsa. Justru ini adalah sikap patriotik, memelopori pembelaan terhadap bangsa Indonesia yang dijajah, memelopori perjuangan kemerdekaan bangsa. Peristiwa Madiun tahun 1948 bukanlah pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia. Latar belakangnya adalah Red Drive Proposals yang didalangi Amerika Serikat untuk menyingkirkan kekuatan kiri terutama komunis dari pemerintah Indonesia. Dalam peristiwa ini hampir semua pimpinan utama PKI terbunuh, termasuk Musso dan mantan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin. Ini adalah permulaan Perang Dingin melanda Indonesia. PKI telah jadi korban perdana Perang Dingin. Peristiwa tahun 1965 tidak bisa dinyatakan sebagai pemberontakan PKI terhadap negara Indonesia. PKI mendukung, bahkan ikut dalam pemerintahan Sukarno. Justru PKI lah yang menginginkan berlangsungnya pemilihan umum, tetapi dijegal oleh kekuatan kanan Angkatan Darat dengan dipelopori A.H.Nasution. Untuk maju ke kedudukan memerintah, PKI tidak berkepentingan menggulingkan Pemerintah Sukarno, lebih-lebih lagi melakukan pemberontakan. Ketakutan akan menangnya PKI jika berlangsung pemilihan umum mendorong Amerika Serikat untuk lebih cepat menggulingkan Bung Karno. Dalam Buku Putih Koptamtib tahun 1978, dideretkan fakta-fakta sejarah yang sengaja dipilih, dengan meninggalkan fakta-fakta Amerika Serikat berusaha menggulingkan Bung Karno. Ini adalah contoh penggunaan eklektisisme untuk memfitnah PKI sebagai dalang G30S dalam rangka merebut kekuasaan negara. Dengan metodologi eklektisisme yang menyesatkan itu pula Nugroho Notosusanto menerangkan, bahwa Panca Sila bukanlah hasil galian Bung Karno. Dengan demikian, Panca Sila bisa dipisahkan dari Bung Karno. Pancasila jadi bisa diinterpretasi menurut kemauan rezim orba. Fitnah yang lebih tidak masuk akal lagi adalah tuduhan PKI mengkhianati Panca Sila yang termasuk sering diuar-uarkan penguasa orba untuk mengobarkan histeria anti komunis. Dalam sejarah, justru PKI lah, bersama dengan PNI yang dengan tangguh membela Panca Sila sebagai dasar negara, sampai berlangsunngnya dua kali pemungutan suara dalam sidang Konstituante di Bandung. Demikian edannya zaman orba, hingga mereka yang menentang Panca Sila dalam Konstituante ini jadi penyangga kekuasaan orba, dan menuduh PKI anti Pancasila. Demikianlah, Indonesia dilanda pembodohan, dilanda jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi sesudah lengsernya Soeharto menghasilkan kebebasan menulis. Mulut yang selama ini dirajut jadi terbuka. Bermunculanlah tulisan-tulisan membela hak-hak asasi manusia, mengutuk kebiadaban rezim orba. Tapi operasi intel yang merupakan salah satu ciri kediktatoran militer giat beraksi membela orba. Perang syaraf, rekayasa-rekayasa yang dikobarkan operasi intel menghasilkan desinformasi dalam masyarakat. Intrig dan fitnah berkembang biak. Untuk memalsu sejarah, ditampilkan secara rekayasa berbagai saksi yang orang dan ucapannya sulit dicek kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sejarah yang selama ini dipalsukan orba, jadi sasaran kritik. Sebaliknya, banyak pula muncul tulisan-tulisan yang tidak pasti kebenarannya, yang tidak berdasarkan kenyataan, memanipulasi peristiwa sejarah. Sementara penulis memanipulasi sejarah dengan berselimut kata-kata agaknya, barangkali, bukan tidak mungkin, siapa tahu, ada perkiraan, kira-kira, bisa dipercaya, ada yang mengatakan, diduga keras, boleh jadi, sudah bisa ditebak, tampaknya, entah benar entah tidak.. Dengan didahului kata-kata “entah benar entah tidak”, menghadapi Peristiwa Madiun Hatta sebagai Perdana Menteri sudah secara kongkrit menyatakan, bahwa di Madiun telah didirikan Negara Sovyet. Betapa pun jelas jemelasnya pembohongan, sang penulis atau pembicara bisa terlindung jadi tak bersalah, karena bertudung kata-kata bersayap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek moyang kita mengajarkan, bahwa “Pikir itu Pelita Hati”. Artinya, dengan berpikir hati pun terang. Tanpa berpikir, gelaplah dunia. Dalam kegelapan berlangsunglah pembodohan. Terbinalah zaman jahiliyah. Untuk melawan pembodohan, haruslah merebut dan membela kebebasan berpikir. Lenyapkan kebiasaan yang serba gampang percaya. Otak harus digunakan untuk berpikir. Untuk bisa berpikir tepat, diperlukan sikap kritis serta cara berpikir yang tepat. Inilah satu-satunya jalan untuk melawan pembodohan. Maka diperlukan penggalakan cara berpikir yang ilmiah, yaitu mencari kebenaran dari kenyataan, segala-galanya bertolak dari kenyataan. Dan berpikir bukanlah hanya untuk mengenal serta memahami keadaan atau dunia. Tapi yang lebih penting adalah untuk mengubah keadaan dan mengubah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran tepat yang dikuasai rakyat akan melahirkan kekuatan yang mampu mengubah keadaan. Mampu mengubah keadaan dan mengubah dunia! Disinilah letak arti pentingnya memperingati TESIS-TESIS TENTANG FEURBACH yang ditulis Marx 160 tahun yang lalu.(rumahkiri.net)22-10-2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materalisme Dialektis&lt;br /&gt;   By John Pickard&lt;br /&gt;  Tuesday, 04 April 2000&lt;br /&gt;JIKA kita membahas metode Marxisme, maka kita sedang bergelut dengan ide-ide yang memberikan basis bagi aktivitas-aktivitas kita dalam gerakan buruh, argumen-argumen yang kita kemukakan ketika kita mengikuti berbagai diskusi, dan artikel-artikel yang kita tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah secara umum diterima bahwa Marxisme mengambil bentuknya dari tiga akar pokok. Salah satu dari akar itu ialah analisis Marx tentang politik Prancis, khususnya revolusi borjuis di Prancis tahun 1790an, dan perjuangan-perjuangan kelas berikutnya selama awal abad ke-19. Akar lain dari Marxisme adalah apa yang disebut 'ekonomi Inggris', yaitu analisis Marx tentang sistem kapitalis seperti yang berkembang di Inggris. Akar ketiga dari Marxisme, yang menurut sejarahnya merupakan titik permulaan Marxisme, adalah 'filsafat Jerman', dan aspek filsafat inilah yang ingin saya bahas di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memulainya, kita katakan bahwa basis Marxisme adalah materialisme. Maksudnya, Marxisme dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan bahwa materi membentuk akal, dan bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, pikiran dan segala sesuatu yang dikatakan berasal dari pikiran – misalnya ide-ide tentang seni, hukum, politik, moralitas, dan sebagainya – hal-hal ini pada kenyataannya berasal dari dunia material. 'Akal', yaitu pikiran dan proses berpikir, adalah sebuah produk dari otak; dan otak itu sendiri, yang berarti juga ide-ide, muncul pada suatu tahap tertentu dari perkembangan materi hidup. Jadi, akal adalah produk dari dunia material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan masyarakat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx sendiri, persoalannya adalah "bukan berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau dibayangkan oleh manusia… agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk seperti sekarang; melainkan berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan berdasarkan basis proses-kehidupan riil manusia yang menunjukkan perkembangan refleks-refleks dan gaungan-gaungan ideologis dari proses kehidupan ini. Bayangan-bayangan yang terbentuk dalam otak manusia adalah juga gambaran-gambaran dari proses-kehidupan material, yang secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya dan terikat pada premis-premis(dalil) material. Jadi, moralitas, agama, metafisika, dan segala macam ideologi serta bentuk-bentuk kesadaran yang berhubungan (serupa) dengan itu, tidaklah independent (bebas). Moralitas, agama, metafisika, dan segala macam bentuk ideologi itu tidak memiliki sejarah, tidak memiliki perkembangan; tetapi manusia, yang mengembangkan produksi material dan hubungan material mereka, mengubah – seiring dengan eksistensi riil mereka – pemikiran dan produk-produk pemikiran mereka. Kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan. Dalam metode pendekatan pertama (non materialis), titik mulanya adalah kesadaran yang dianggap sebagai individu hidup; dalam metode pendekatan kedua (materialis), yang menyesuaikan diri (terhadap keadaanmaterial) adalah individu-individu hidup riil itu sendiri, sedangkan kesadaran dianggap hanya sebagai kesadaran mereka." (Ideologi Jerman, Bab Satu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, seorang materialis selalu berusaha mencari penjelasan bukan hanya tentang ide-ide, melainkan juga tentang gejala-gejala material itu sendiri, dalam hal sebab-sebab material, dan bukan campur tangan supranatural oleh Tuhan, Dewa, atau yang semacam itu. Dan ini adalah aspek yang sangat penting dari Marxisme, yang secara tegas menolak metode-metode pemikiran dan logika yang telah mapan dalam masyarakat kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pemikiran ilmiah di negeri-negeri Eropa pada abad ke-17 dan 18 menunjukkan ciri-ciri yang sangat kontradiktif (bertentangan), yang masih tetap khas (serupa) dengan pendekatan para teoritisi borjuis masa kini. Di satu sisi, terdapat perkembangan ke arah metode materialis. Para ilmuwan mencari sebab-sebab. Mereka tidak semata-mata menerima gejala-gejala alam sebagai keajaiban Tuhan, melainkan mencari penjelasan atas gejala-gejala itu. Namun seiring dengan itu, para ilmuwan ini tidak memiliki pemahaman materialis yang konsisten dan menyeluruh; dan sering kali, di balik penjelasan-penjelasan tentang gejala alam, ujung-ujungnya mereka masih mencari kaitannya dengan campur tangan Tuhan dalam proses itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan seperti itu berarti menerima, atau setidaknya membuka kemungkinan, bahwa dunia material yang kita diami ini dibentuk oleh keuatan dari luar dunia, dan bahwa kesadaran atau ide-ide muncul lebih dahulu, yaitu dalam hal bahwa kesadaran atau ide-ide bisa eksis (ada) secara independent (tidak terikat) pada dunia riil. Pendekatan ini, yang merupakan lawan filosofis dari materialisme, kita sebut 'idealisme'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendekatan idealis ini, perkembangan umat manusia dan masyarakat – baik seni, ilmu pengetahuan, dll. – ditentukan bukan oleh proses material, melainkan oleh perkembangan ide-ide, oleh penyempurnaan atau turun-temurunnya pemikiran manusia. Dan bukanlah kebetulan belaka bahwa pendekatan umum ini, dinyatakan atau tidak, ternyata menyelubungi semua filsafat kapitalisme. Para filsuf dan sejarawan borjuis secara umum menerima sistem yang ada sekarang secara apa adanya. Mereka menerima bahwa kapitalisme adalah suatu sistem yang telah lengkap dan tuntas, yang tidak bisa digantikandengan sebuah sistem yang baru dan lebih maju. Dan mereka berusaha untuk menjelaskan semua sejarah masa lalu sebagai usaha dari umat manusia yang belum maju untuk mencapai semacam 'masyarakat yang sempurna', yang mereka yakin bahwa kapitalisme telah mencapainya atau bisa mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika mempelajari karya dari beberapa ilmuwan atau pemikir besar borjuis di masa lalu atau bahkan sekarang, kita dapat melihat betapa mereka cenderung untuk mencampur-adukkan ide-ide materialis dan ide-ide idealis dalam pikiran mereka. Isaac Newton misalnya, yang telah meneliti hukum-hukum mekanik, gerakan planet, dan benda-benda planet, tidak percaya bahwa proses-proses ini ditentukan oleh akal atau pikiran. Namun apa yang dia percaya ialah bahwa tenaga penggerak awal diberikan kepada semua materi, dan bahwa dorongan awal ini ditentukan oleh semacam kekuatan supranatural, yaitu oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang serupa, adalah mungkin bagi banyak ahli biologi saat ini untuk menerima ide bahwa species tumbuhan dan hewan berevolusi dari satu jenis menjadi jenis lainnya, dan bahwa manusia sendiri adalah hasil perkembangan dari species terdahulu. Namun demikian, banyak di antara mereka yang terpaku pada gagasan bahwa terdapat suatu perbedaan kualitatif antara akal manusia dengan akal hewan, yaitu bahwa ada 'jiwa yang abadi' yang meninggalkan tubuh manusia setelah kematiannya. Bahkan beberapa di antara ilmuwan yang paling termahsyur juga mencampuradukkan metode materialis dengan ide-ide idealis seperti ini, yang – kalau kita bicara secara ilmiah – ini sungguh-sungguh terbelakang, serta lebih dekat kepada magic dan takhayul daripada kepada ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Marxisme mewakili pertentangan yang sistematis dan fundamental dengan idealisme dalam segala bentuknya, dan perkembangan Marxisme mencerminkan suatu pemahaman materialis tentang apa yang tengah terjadi dalam realitas (kenyataan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIALEKTIKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialektika secara sederhana adalah logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para aktivis dalam gerakan. Kita semua tahu bahwa benda-benda tidaklah diam; dan benda-benda itu berubah. Akan tetapi, ada suatu bentuk logika lain yang bertentangan dengan dialektika, yang kita sebut 'logika formal', yang sekali lagi juga melekat dalam masyarakat kapitalis. Barangkali perlu untuk mulai menjelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan metode ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika formal didasarkan pada apa yang dikenal sebagai 'hukum identitas', yang menyatakan bahwa 'A' sama dengan 'A' – yaitu bahwa benda-benda adalah seperti itu apa adanya, dan bahwa benda itu berposisi pada hubungan yang tertentu (pasti) satu sama lain. Ada hukum-hukum turunan lain yang didasarkan pada hukum identitas; yaitu misalnya, jika 'A' sama dengan 'A', maka 'A' tidak mungkin sama dengan 'B' atau 'C'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sekilas, metode pemikiran ini nampak seperti pemahaman umum; dan pada kenyataannya, logika formal telah menjadi alat yang sangat penting, sarana yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan revolusi industri, yang membentuk masyarakat sekarang ini. Perkembangan matematika dan aritmatika dasar, misalnya, adalah didasarkan pada logika formal. Anda tidak bisa mengajarkan tabel perkalian atau penjumlahan kepada seorang anak tanpa menggunakan logika formal. Satu ditambah satu sama dengan dua, bukan tiga. Hal yang sama, metode logika formal juga merupakan basis bagi perkembangan ilmu mekanika, kimia, biologi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, pada abad ke-18 ahli biologi Skandinavia, Linnaeus, mengembangkan sebuah sistem klasifikasi untuk semua tumbuhan dan hewan yang dikenal. Linnaeus membagi semua benda hidup ke dalam kelas-kelas, ordO-ordo, dan keluarga; misalnya dalam ordo primata, keluarga hominid, genus homo, dan mewakili species homo sapiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem klasifikasi merupakan sebuah langkah maju besar dalam biologi. Untuk pertama kalinya, sistem ini memungkinkan dilakukannya studi mengenai tumbuhan dan hewan yang betul-betul sistematis, untuk membandingkan dan membedakan species hewan dan tumbuhan. Tetapi sistem ini didasarkan pada logika formal. Sistem ini didasarkan pada pernyataan bahwa homo sapiens sama dengan homo sapiens; bahwa musca domestica (lalat) sama dengan musca domestica; bahwa cacing tanah sama dengan cacing tanah; dst. Dengan kata lain, sistem klasifikasi ini adalah sistem yang kaku dan pasti. Menurut sistem ini, tidak mungkin suatu species sama dengan species lain. Atau, jika bisa sama, berarti sistem klasifikasi ini akan gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama diterapkan dalam bidang kimia, dimana teori atom Dalton merupakan langkah maju yang sangat besar. Teori Dalton didasarkan pada ide bahwa materi tersusun atas atom-atom, dan bahwa masing-masing tipe atom sama sekali khusus dan khas untuk tipe itu sendiri – bahwa bentuk dan berat suatu atom adalah khusus untuk unsur tertentu itu, dan tidak sama dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Dalton, juga ada sebuah sistem klasifikasi unsur-unsur yang hampir sama kaku-nya dengan sistem Dalton, yang kembali didasarkan pada logika formal yang kaku, yang mengatakan bahwa sebuah atom hidrogen adalah sebuah atom hidrogen; sebuah atom karbon adalah sebuah atom karbon; dsb. Dan jika sebuah atom bisa menjadi atom lainnya, maka keseluruhan sistem klasifikasi ini, yang telah membentuk basis bagi ilmu kimia modern, akan gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini penting bagi kita untuk melihat bahwa terdapat keterbatasan-keterbatasan dalam metode logika formal. Logika formal adalah metode sehari-hari yang sangat bermanfaat, dan memungkinkan kita untuk mempunyai perhitungan-perhitungan dalam mengidentifikasi benda-benda. Misalnya, sistem klasifikasi Linnaean masih berguna bagi ahli-ahli biologi; tetapi, terutama sejak munculnya karya Charles Darwin, kita juga jadi bisa melihat kelemahan-kelemahan dalam sistem klasifikasi itu. Sebagai contoh, Darwin menunjukkan bahwa dalam sistem Linnaean, tipe-tipe tumbuhan diberi nama-nama tersendiri sebagai species khusus, namun sebenarnya tipe-tipe tumbuhan itu sangat mirip satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bahkan di masa Darwin, sudah mungkin untuk melihat sistem klasifikasi Linnaean, dan mengatakan, 'Oh, ternyata ada yang salah'. Dan tentu saja, karya Darwin sendiri memberikan basis yang sistematis untuk teori evolusi, yang untuk pertama kalinya mengatakan adalah mungkin bagi satu species untuk berubah (bertransformasi) menjadi species lainnya. Dan ini menunjukkan adanya lobang besar dalam sistem Linnaean. Sebelum Darwin, orang menganggap bahwa jumlah species di planet ini tepat sama dengan jumlah species yang diciptakan oleh Tuhan dalam masa enam hari proses penciptaan – kecuali, tentu saja, species-species yang musnah akibat Banjir Besar – dan bahwa species-species itu tetap tidak berubah selama berjuta-juta tahun. Namun Darwin menghasilkan ide perubahan species, sehingga tidak bisa dihindari lagi, metode klasifikasi juga harus diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang berlaku di bidang biologi juga berlaku di bidang kimia. Di akhir abad ke-19, para pakar kimia menjadi sadar bahwa adalah mungkin bagi satu unsur atom untuk berubah menjadi unsur lainnya. Dengan kata lain, atom tidaklah mutlak bersifat khusus dan tertentu saja pada unsurnya sendiri. Kini kita mengetahui bahwa banyak atom, banyak unsur kimia yang tidak stabil. Sebagai contoh, uranium dan atom-atom radioaktif lainnya akan pecah dalam proses perjalanan waktu, dan menghasilkan atom-atom yang sama sekali berbeda, dan dengan kandungan serta berat kimia yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita bisa melihat bahwa metode logika formal mulai gugur dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Akan tetapi, metode dialektika-lah yang menyebabkan bisa ditariknya kesimpulan-kesimpulan dari penemuan-penemuan faktual ini, dan menunjukkan bahwa tidak ada kategori yang mutlak atau pasti, baik di alam ataupun di masyarakat. Sementara seorang yang mengatakan logika formal mengatakan 'A' sama dengan 'A', maka seorang yang dialektis akan mengatakan bahwa 'A' belum tentu sama dengan 'A'. Atau ambillah contoh praktis yang digunakan Trotsky dalam tulisan-tulisannya tentang hal ini: satu ons gula pasir tidak akan tepat sama dengan satu ons gula pasir lainnya. Adalah hal yang baik jika Anda menggunakan patokan takaran seperti itu untuk membeli gula pasir di toko, tetapi jika Anda lihat secara teliti, akan kelihatan bahwa takaran itu tidak tepat sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita perlu memiliki suatu bentuk pemahaman, suatu bentuk logika, yang menjelaskan kenyataan bahwa benda-benda, kehidupan, dan masyarakat, berada dalam keadaan pergerakan dan perubahan yang konstan. Dan bentuk logika itu, tentu saja adalah: dialektika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, di sisi lain, adalah salah jika kita berpikir bahwa, dialektika menyatakan bahwa proses di alam semesta adalah setara (genap) dan perlahan (gradual). Hukum-hukum dialektika – dan perlu dicatat: konsep-konsep ini kedengaran lebih rumit daripada kenyataan sesungguhnya – hukum-hukum dialektika menjelaskan cara dimana proses-proses perubahan dalam realitas terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUANTITAS MENJADI KUALITAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita mulai dengan hukum transformasi dari kuantitas menjadi kualitas. Hukum ini menyatakan bahwa proses-proses perubahan – gerak di alam semesta – tidaklah perlahan (gradual), dan juga tidak setara. Periode-periode perubahan yang relatif gradual atau perubahan kecil selalu diselingi dengan periode-periode perubahan yang sangat cepat – perubahan semacam ini tidak bisa diukur dengan kuantitas, melainkan hanya bisa diukur dengan kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kembali kita ambil dari ilmu alam, coba kita bayangkan saat kita memanaskan air. Anda hanya bisa betul-betul mengukur ("melakukan kuantifikasi") dalam hal derajat temperatur/suhu, yaitu perubahan ketika Anda menambahkan panas terhadap air itu. Katakanlah, dari 10 derajat Celcius (ini adalah temperatur normal air keran) menjadi sekitar 98 derajat Celcius, maka perubahan itu akan tetap kuantitatif, yaitu air akan tetap berupa air, walaupun menjadi lebih panas. Tetapi kemudian akan sampai suatu tahap dimana perubahan itu menjadi kualitatif, dan air pun berubah menjadi uap. Anda tidak bisa lagi menjelaskan perubahan itu hanya secara kuantitatif ketika air itu dipanaskan dari 98 derajat menjadi 102 derajat Celcius. Kita harus mengatakan bahwa suatu perubahan kualitatif (air menjadi uap) telah terjadi akibat akumulasi perubahan kuantitatif (menambahkan panas terus-menerus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah yang dimaksud oleh Marx dan Engels ketika mereka menyebutkan transformasi dari kuantitas menjadi kualitas. Hal yang sama dapat dilihat pada perkembangan species. Jika kita melihat ke sekeliling, kita akan mendapati tingkat varitas dari homo sapiens. Varitas itu dapat diukur secara kuantitatif, misalnya tinggi badan, berat badan, warna kulit, panjang hidung, dll. Namun jika perubahan-perubahan evolusioner bergerak maju sampai suatu tahap, dibawah pengaruh perubahan-perubahan lingkungan, maka perubahan-perubahan kuantitatif akan berakumulasi menjadi suatu perubahan kualitatif. Dengan kata lain, Anda tidak akan lagi bisa menandai perubahan pada suatu species hewan atau tumbuhan itu hanya dengan detail-detail (rincian) kuantitatif. Species tersebut akan jadi berbeda secara kualitatif. Sebagai contoh, kita, sebagai suatu species, secara kualitatif berbeda dengan simpanse atau gorila, dan mereka ini pun secara kualitatif berbeda dengan species mamalia lainnya. Dan perbedaan-perbedaan kualitatif itu, lompatan-lompatan evolusioner itu, terjadi akibat perubahan-perubahan kuantitatif di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide Marxisme ialah bahwa akan selalu terdapat periode-periode perubahan gradual yang diselingi dengan periode-periode perubahan tiba-tiba. Dalam kehamilan, misalnya, ada suatu periode perkembangan yang gradual, dan kemudian suatu periode perkembangan yang sangat mendadak di penghujung kehamilan itu. Sangat sering kaum Marxis menggunakan analogi (perbandingan) kehamilan untuk menggambarkan perkembangan perang dan revolusi. Hal tersebut menunjukkan lompatan-lompatan kualitatif dalam perkembangan sosial; tetapi perubahan itu muncul sebagai akibat akumulasi kontradiksi-kontradiksi kuantitatif dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEGASI DARI NEGASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum kedua dari dialektika adalah 'hukum negasi dari negasi', dan sekali lagi, ini kedengaran lebih rumit daripada yang sebenarnya. 'Negasi' dalam hal ini secara sederhana berarti gugurnya sesuatu, kematian suatu benda karena ia bertransformasi (berubah) menjadi benda yang lain. Sebagai contoh, perkembangan masyarakat kelas dalam sejarah kemanusiaan menunjukkan negasi (gugurnya) masyarakat sebelumnya yang tanpa-kelas. Dan di masa yang akan datang, dengan adanya perkembangan komunisme, kita akan mendapati suatu masyarakat tanpa-kelas yang lain, yang ini akan berarti negasi terhadap semua masyarakat kelas yang ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hukum negasi dari negasi secara sederhana menyatakan bahwa seiring munculnya suatu sistem (menjadi ada/eksis), maka ia akan memaksa sistem lainnya untuk sirna (mati). Tetapi, ini bukan berarti bahwa sistem yang kedua ini bersifat permanen atau tak bisa berubah. Sistem yang kedua itu sendiri, menjadi ter-negasi-kan akibat perkembangan-perkembangan lebih lanjut dan proses-proses perubahandalam masyarakat. Karena masyarakat kelas telah menjadi negasi dari masyarakat tanpa-kelas, maka masyarakat komunis akan menjadi negasi dari masyarakat kelas – negasi dari negasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep lainnya dari dialektika adalah hukum 'interpenetration of opposites' (saling-menerobos dari hal-hal yang bertentangan). Hukum ini secara cukup sederhana menyatakan bahwa proses-proses perubahan terjadi karena adanya kontradiksi-kontradiksi – karena konflik-konflik yang terjadi di antara elemen-elemen yang berbeda, yang melekat dalam semua proses alam maupun sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali contoh paling tepat dari 'interpenetration of opposites' dalam ilmu pengetahuan alam adalah 'teori quantum'. Teori ini didasarkan atas konsep bahwa energi memiliki karakter ganda – yaitu untuk beberapa tujuan, menurut beberapa eksperimen, energi eksis dalam bentuk gelombang, misalnya gelombang elektro magnetik. Tetapi untuk tujuan-tujuan lain, energi mewujudkan diri sebagai partikel. Dengan kata lain, sama sekali diterima di kalangan ilmuwan bahwa materidan energi sebetulnya bisa eksis dalam dua bentuk yang berbeda pada satu waktu yang sama – di satu sisi, sebagai sejenis gelombang yang tak kelihatan, dan di sisi lain, sebagai sebuah partikel dengan 'quantum' (jumlah) energi tertentu yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, basis dari teori quantum dalam ilmu fisika modern adalah kontradiksi. Namun ada banyak lagi kontradiksi yang dikenal dalam ilmu pengetahuan. Energi elektromagnetik, misalnya, menjadi bergerak akibat dorongan positif dan negatif atas satu sama lain. Magnetisme tergantung pada eksistensi kutub utara dan kutub selatan. Hal-hal ini tidak bisa eksis secara terpisah (sendiri-sendiri). Mereka eksis dan beroperasi justru akibat kekuatan-kekuatan yang bertentangan, yang ada dalam sistem yang satu dan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang serupa, setiap masyarakat saat ini terdiri atas elemen-elemen berbeda yang bertentangan, yang bergabung bersama dalam satu sistem, yang membuat mustahil bagi masyarakat apapun, di negeri manapun untuk tetap stabil dan tak berubah. Metode dialektis – bertentangan dengan metode logika formal – melatih kita untuk mengidentifikasi (mengenali) kontradiksi-kontradiksi ini, dan dengan demikian berarti mempelajari secara mendalam perubahan yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Marxis tidak merasa malu untuk mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen yang bertentangan dalam setiap proses sosial. Sebaliknya, justru dengan mengenali dan memahami kepentingan-kepentingan yang bertentangan, yang terdapat dalam proses yang sama itu, maka kita akan mampu untuk mengarahkan perubahan yang diinginkan, dan konsekuensinya juga berusaha untuk mengidentifikasi maksud dan tujuan yang perlu dan mungkin dalam situasi seperti itu untuk dirumuskan dari sudut pandang kelas-buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, Marxisme tidaklah mengabaikan logika formal sama sekali. Akan tetapi, adalah penting untuk melihat – dari sudut pandang pemahaman terhadap perkembangan-perkembangan sosial – bahwa logika formal haruslah ditempatkan pada posisi kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua menggunakan logika formal untuk keperluan sehari-hari. Logika formal memberikan perhitungan-perhitungan yang berguna bagi kita untuk komunikasi dan melaksanakan aktivitas sehari-hari. Kita tidak akan bisa menjalani kehidupan normal tanpa berbasa-basi menggunakan logika formal, tanpa menggunakan perhitungan bahwa satu sama dengan satu. Akan tetapi, di sisi lain, kita harus melihat keterbatasan-keterbatasan logika formal – keterbatasan-keterbatasan yang menjadi jelas dalam ilmu pengetahuan jika kita mempelajari proses-proses secara mendalam dan mendetail, dan juga ketika kita mempelajari proses-proses sosial dan politik dengan lebih teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialektika sangat jarang diterima oleh para ilmuwan. Beberapa ilmuwan dialektis, tetapi mayoritas, bahkan sampai saat ini, selalu mencampur-adukkan pendekatan materialis dengan segala macam ide-ide formal dan idealistik. Kalau seperti itu yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan alam, maka di bidang ilmu pengetahuan sosial adalah jauh lebih parah. Penyebabnya cukup jelas. Jika Anda mencoba meneliti masyarakat dan proses-proses sosial dari sudut pandang ilmiah, maka Anda tidak bisa menghindari untuk sampai pada kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat kapitalis, dan kebutuhan untuk transformasi sosial masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perguruan-perguruan tinggi, yang seharusnya menjadi pusatstudi dan penelitian, dibawah sistem kapitalis ini jauh dari independent terhadap kelas yang berkuasa dan negara. Itulah sebabnya mengapa ilmu pengetahuan alam masih memiliki suatu metode ilmiah yang cenderung kepada materialisme dialektis; tetapi ketikasampai pada ilmu pengetahuan sosial, maka Anda akan mendapati di sekolah tinggi dan politeknik, serta universitas-universitas, formalisme dan idealisme yang paling parah. Hal ini bukannya tidak berhubungan dengan kepentingan-kepentingan tertentu dari para profesor dan akademisi yang digaji tinggi. Adalah jelas dan tak bisa dihindari bahwa posisi istimewa mereka di mata masyarakat akan memiliki beberapa cerminan dan pengaruh pada apa yang harus mereka ajarkan. Pandangan dan prasangka-prasangka subyektif mereka sendiri akan disertakan dalam 'pengetahuan' yang mereka sampaikan kepada mahasiswa mereka, dan begitu seterusnya sampai ke tingkat sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan borjuis, khususnya, adalah di antara ilmuwan-ilmuwan sosial yang paling berpandangan sempit. Berapa banyak kita telah melihat contoh-contoh sejarawan borjuis yang membayangkan bahwa sejarah berakhir kemarin! Di sini, di Inggris, mereka semua nampaknya mengakui masa-masa mengerikan sewaktu imperialisme Inggris abad ke-17, 18, sampai abad ke-19; bahwa Inggris terlibat dalam lalu lintas perdagangan budak; bahwa Inggris juga bertanggung jawab terhadap penaklukan rakyat di tanah-tanah jajahan yang paling berdarah; bahwa Inggris juga harus bertanggung jawab terhadap eksploitasi paling buruk terhadap buruh Inggris, termasuk wanita dan anak-anak di tambang-tambang batu bara, di pabrik-pabrik pemintalan kapas, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan menerima kenyataan adanya kekejaman dan ketidakadilan ini, tetapi hanya sampai kemarin. Namun jika kita bicara tentang masa sekarang, tentu saja, mereka akan menganggap bahwa imperialisme Inggris tiba-tiba jadi demokratis dan progressif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan hal tersebut sepenuhnya cuma satu sisi saja, satu cara pandang yang sepenuhnya berat sebelah dalam melihat sejarah, yang secara diametris berlawanan dengan metode Marxisme. Marx dan Engels terbiasa untuk memandang proses-proses sosial dari sudut pandang dialektis yang sama sebagaimana mereka memandang alam - yaitu memandangnya dari sudut pandang proses-proses itu sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam berbagai diskusi dan debat kita sehari-hari di dalam gerakan buruh, kita akan seringkali menjumpai orang-orang yanf formalis. Bahkan banyak orang kiri akan memandang berbagai hal dalam cara yang kaku dan formal, tanpa pemahaman akan arah yand di dalamnya hal-hal tersebut tadi bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap kanan di dalam gerakan buruh, dan juga beberapa orang di sayap kiri, percaya bahwa teori Marxis adalah dogma, yakni, mereka percaya bahwa "teori" itu selayaknya beban seberat 600 pound (1 pound = 2,2 kg) di atas pundak seorang aktivis, dan semakin cepat si aktivis itu membuang beban tersebut, maka ia akan bisa makin aktiv dan efektif jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun itu adalah konsepsi yang sepenuhnya keliru mengenai keseluruhan sifat teori Marxis. pada kenyataan yang sesungguhnya, Marxisme adalah lawan dari dogma. Marxisme setepat-tepatnya adalah metode untuk memahami sepenuhnya proses-proses perubahan yang terjadi di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satupu hal yang ajeg, dan tiada pula sesuatupun yang tetap tak berubah. adalah kaum formalis yang melihat masyarakat sebagai foto yang tak bergerak, mereka dikuasai oleh situasi-situasi yang mereka hadapi sebab mereka tidak mampu melihat bagaimana dan mengapa berbagai hal akan berubah. pendekatan macam beginilah yang dapat dengan mudah menggiring orang pada penerimaan yang dogmatis dari adanya berbagai hal sebagaimanan hal itu ada ataupun telah ada sebagai benda yang ajeg, tanpa pemahaman tentang ketidakmungkinannya perubahan untuk dielakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu teori Marxis adalah sepenuhnya merupakan sebuah alat esensial bagi aktivitas apapun di dalam gerakan buruh. Kita mesti secara sadar awas terhadap keuatan-kekuatan kontradiktif dalam kerja-kerja kita di dalam perjuangan kelas, agar kita dapat mengorientasikan diri kita ke dalam cara yang di dalamnya berbagai hal tengah berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, tidaklah senantiasa mudah untuk membebaskan diri kita dari kerangka pikir yang masih mendominasi di dalam masyarakat kapitalis dan menyerap metode Marxis. sebagaimana dikatakan Karl Marx, tidak ada jalan mulus untuk menuju ilmu pengetahuan. Kadang kala kita harus menempuh jalan berliku yang keras dalam usaha menggapai ide-ide politik yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tetaplah diskusi dan mempelajari teori Marxis adalah sebuah bagian yang sepenuhnya esensial bagi setiap aktivis. Hanyalah teori yang dapat melengkapi kawan-kawan dengan kompas dan peta di tengah-tengah segala rupa kompleksitas perjuangan. sungguh bagus untuk menjadi seorang aktivis, namun tanpa pemahaman yang sadar mengenai proses-proses di mana kita terlibat di dalamnya, kita tidak akan lebih efektif daripada seorang penjelajah tanpa peta dan kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika kita coba untuk menjelajah tanpa bantuan sains, kita dapat menjadi seenergik yang kita mau tetapi cepat atau lambat akan terjerembab masuk jurang dalam atau pasir hisap dan lalu hilang begitu saja, sebagaimana hal itu terjadi pada banyak aktivis selama tahun-tahun yang sudah berlalu tanpa keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide memiliki kompas dan peta adalah untuk memastikan posisi kita setepatnya. kita dapat menerka di mana kita berada pada satu saat tertentu, ke mana kita akan melangkah, dan di mana kita akan beradaa. dan itulah alasan fundamental mengapa kita perlu menggenggam teori Marxis. sebab ia membekali kita dengan sebuah panduan yang sama sekali tak ternilai harganya dalam menuntun aksi dan tindakan seajauh mana perhatian kita adalah untuk gerakan kelas buruh.(marxist.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Ekonomi dan Sosialisme&lt;br /&gt;Kemenangan terbesar gerakan proletarian yang sedang berkembang adalah ditemukannya landasan yang mendukung bagi perwujudan sosialisme pada kondisi ekonomi masyarakat kapitalis. Berkat penemuan ini, sosialisme berubah dari impian ?ideal? oleh umat manusia selama ribuan tahun, menjadi sesuatu yang merupakan kebutuhan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernstein menolak adanya syarat-syarat ekonomi bagi sosialisme pada masyarakat masa sekarang. Dalam hal ini, penalarannya telah mengalami suatu evolusi yang menarik. Pertama-tama, di Neue Zeit Bernstein membantah pesatnya proses konsentrasi yang terjadi dalam industri. Dia mendasarkan sikapnya atas sebuah perbandingan statistik tentang pekerjaan di Jerman tahun 1882 dan 1895. Untuk menggunakan angka-angka ini bagi tujuannya, Bernstein terpaksa harus bergerak dalam suatu model yang sama sekali bersifat ringkasan dan mekanis. Dalam hal yang paling mendukung sekalipun, Bernstein bahkan tidak bisa -dengan menunjukkan kegigihan perusahaan-perusahaan berskala menengah- sedikitpun melemahkan analisis marxian, karena analisis marxian tidak menganggap suatu tingkat konsentrasi industri yang pasti (yakni penundaan tertentu terhadap realisasi sosialisme) ataupun, sebagaimana telah kita tunjukkan, melenyapnya modal-modal kecil secara mutlak yang biasanya digambarkan sebagai melenyapnya borjuasi kecil, sebagai sebuah syarat untuk mewujudkan sosialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun perkembangan terakhir ide-idenya, Bernstein melengkapi kita -dalam bukunya- dengan sebuah kumpulan bukti-bukti baru: statistik mengenai masyarakat-masyarakat pemegang saham. Statistik ini digunakan untuk membuktikan bahwa jumlah para pemegang saham meningkat secara konstan, dan akibatnya kelas kapitalis tidak bertambah kecil, melainkan tumbuh semakin besar. Mengagetkan bahwa Bernstein hanya memiliki sedikit sekali pengetahuan tentang materinya. Dan menakjubkan, betapa buruknya cara ia menggunakan data yang ada untuk kepentingannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dia ingin menyanggah hukum marxian tentang perkembangan industri dengan mengacu pada masyarakat-masyarakat pemegang saham, maka seharusnya dia mengambil angka-angka yang sama sekali berbeda. Siapapun yang faham tentang sejarah masyarakat pemegang saham di Jerman mengetahui bahwa modal pondasi rata-rata masyarakat tersebut telah menurun nyaris secara konstan. Jadi, walaupun sebelum tahun 1871 kapital pondasi rata-rata mereka mencapai angka 10,8 juta mark, namun pada 1871 jumlahnya hanya sebesar 4,01 juta mark; 3,8 juta mark pada 1873; kurang dari satu juta sejak 1882 sampai 1887; 0,52 juta pada 1891; dan hanya 0,62 juta mark pada 1892. Setelah tahun ini, angka-angka berkisar di antara 1 juta mark, kemudian mencapai 1,78 juta pada 1895 dan 1,19 juta selama kurun paruh pertama tahun 1897. (Van de Borght: Handwoerterbuch der Staatsswissenschaften, 1.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah angka-angka yang mengagetkan. Dengan menggunakan angka-angka tersebut, Bernstein berharap untuk menunjukkan adanya suatu kecenderungan kontra-marxian bagi retransformasi bisnis-bisnis besar menjadi bisnis-bisnis kecil. Jawaban jelas terhadap upayanya itu adalah sebagai berikut. Jika anda hendak membuktikan apapun dengan sarana statistik anda, maka pertama-tama anda harus menunjukkan bahwa statistik itu mengacu pada cabang-cabang industri yang sama. Anda harus menunjukkan bahwa bisnis-bisnis kecil betul-betul menggantikan yang besar; bukan sebaliknya, bahwa bisnis-bisnis besar itu hanya muncul jika yang berlaku sebelumnya adalah bisnis-bisnis kecil atau bahkan industri kerajinan. Maka, bagaimanapun juga, anda tidak bisa merujuknya sebagai fakta yang benar. Proses perjalanan masyarakat-masyarakat pemegang saham yang luas menjadi bisnis-bisnis berskala menengah dan kecil, bisa dijelaskan hanya dengan mengacu pada fakta bahwa sistem masyarakat pemegang saham tersebut terus menerobos cabang-cabang produksi baru. Sebelumnya, hanya sejumlah kecil bisnis besar yang terorganisir sebagai masyarakat-masyarakat pemegang saham. Secara perlahan, organisasi pemegang saham telah memenangkan bisnis berskala menengah, dan bahkan bisnis berskala kecil. Sekarang ini, kita bisa mengamati adanya masyarakat-masyarakat pemegang saham dengan modal di bawah 1.000 mark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa signifikansi ekonomi dari perluasan sistem masyarakat pemegang saham? Secara ekonomis, penyebaran masyarakat pemegang saham berarti sosialisasi produksi yang kian meningkat dalam bentuk kapitalis - sosialisasi bukan hanya produksi berskala besar, melainkan juga produksi berskala menengah dan kecil. Karena itu, perluasan pemegang saham tidaklah bertentangan dengan teori marxis; sebaliknya, justru menegaskan teori marxis secara empatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya makna dari fenomena ekonomi tentang masyarakat pemegang saham? Fenomena ini merepresentasikan, di satu sisi, penyatuan sejumlah keuntungan kecil menjadi suatu modal besar produksi. Di sisi lain, fenomena ini menunjukkan pemisahan produksi dari kepemilikan kapitalis. Yakni, ia menunjukkan bahwa sebuah kemenangan ganda dimenangkan terhadap corak produksi kapitalis - namun masih berdasarkan basis kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa makna statistik yang disebutkan oleh Bernstein, yang menyatakan bahwa sejumlah pemegang saham, yang lebih besar daripada sebelumnya, kini berpartisipasi dalam bisnis-bisnis kapitalis? Memang statistik ini terus berusaha menunjukkan hal-hal sebagai berikut: di masa sekarang, sebuah bisnis kapitalis tidak bisa diidentikkan -sebagaimana sebelumnya- dengan seorang proprietor tunggal dari modal, melainkan dengan sejumlah kapitalis. Konsekuensinya, gagasan ekonomi tentang ?kapitalis? tidak lagi menandakan seorang individu yang terisolasi. Kapitalis industri sekarang ini adalah sesosok pribadi kolektif yang terdiri dari ratusan dan bahkan ribuan individu. Kategori yang dimiliki kapitalis sendiri kini menjadi suatu kategori sosial. Ia telah menjadi ?tersosialisasi? - dalam kerangka masyarakat kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal itu, bagaimana kita akan menjelaskan keyakinan Bernstein bahwa fenomena masyarakat pemegang saham menunjukkan persebaran, dan bukannya konsentrasi modal? Mengapa dia melihat adanya perluasan kepemilikan kapitalis, padahal Marx justru melihat peniadaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah suatu kesalahan ekonomi yang sederhana. Dengan ?kapitalis?, Bernsten tidak memaknainya sebagai suatu kategori produksi, melainkan hak atas kepemilikan. Baginya, ?kapitalis? bukanlah sebuah satuan ekonomi, melainkan satuan fiskal. Dan ?modal? bagi Bernstein bukanlah suatu faktor produksi, melainkan hanya kuantitas tertentu dari uang. Itulah mengapa dalam trust benang jahit Inggris-nya, dia tidak melihat adanya penggabungan 12.300 orang dengan uang menjadi sebuat unit kapitalis tunggal, melainkan 12.300 kapitalis yang berbeda. Itulah mengapa insinyur Schulze, yang mas kawin istrinya memberinya sejumlah besar bagian kepemilikan saham Mueller, adalah juga seorang kapitalis bagi Bernstein. Itulah mengapa bagi Bernstein, seluruh dunia nampak dipenuhi oleh para kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini juga, basis teoritis dari kesalahan ekonomi Bernstein adalah ?popularisasi?nya tentang sosialisme. Karena inilah yang dia lakukan. Dengan mentransportasikan konsep kapitalisme dari relasi-relasi produktifnya menjadi relasi-relasi kepemilikan, dan dengan hanya membicarakan individu-individu, bukannya para pengusaha, maka dia memindahkan persoalan sosialisme dari ranah produksi ke ranah relasi-relasi kekayaan - yakni dari hubungan antara modal dan kerja, menjadi hubungan antara yang miskin dan yang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara ini, dengan sukaria kita digiring dari Marx dan Engels, kepada penulis Pengabar Injil Sang Nelayan Miskin. Bagaimanapun juga, tentu ada perbedaannya. Weitling, dengan naluri proletarian yang penuh keyakinan, melihat -pada pertentangan antara yang miskin dan yang kaya- adanya pertentangan kelas dalam bentuknya yang paling primitif, dan ingin menjadikan pertentangan-pertentangan ini sebagai pendongkrak gerakan untuk mewujudkan sosialisme. Di sisi lain, Bernstein menempatkan realisasi sosialisme di dalam kemungkinan untuk membuat yang miskin menjadi kaya. Yaitu, dia menempatkannya pada peredaan pertentangan kelas, dan berarti menempatkannya pada borjuasi kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa Bernstein memang tidak membatasi diri hanya pada statistik tentang pendapatan. Dia juga menyediakan statistik tentang bisnis ekonomi, terutama di negeri-negeri berikut: Jerman, Perancis, Inggris, Swiss, Austria dan Amerika Serikat. Akan tetapi, statistik-statistik ini bukanlah angka-angka komparatif dari periode-periode berbeda di masing-masing negeri, melainkan dari masing-masing periode di negeri-negeri yang berbeda. Karena itu, kita tidak disodori -dengan kekecualian, yakni Jerman di mana dia mengulangi kekontrasan lama antara 1895 dan 1882- sebuah perbandingan statistik dari bisnis-bisnis di suatu negeri tertentu pada masa-masa yang berbeda, melainkan angka-angka absolut untuk negeri-negeri yang berbeda: Inggris pada 1891, Perancis pada 1894, Amerika Serikat pada 1890, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernstein mencapai kesimpulan berikut ini: ?Meskipun benar bahwa eksploitasi besar telah menjadi yang utama dalam industri sekarang ini, namun ia hanya merepresentasikan- termasuk bisnis-bisnis yang bergantung pada eksploitasi besar, bahkan di sebuah negeri yang telah maju seperti Prussia- separuh dari penduduknya yang terlibat dalam produksi.? Ini juga berlaku untuk Jerman, Inggris, Belgia, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebetulnya ia buktikan di sini? Dia tidaklah membuktikan eksistensi kecenderungan -atau memang kecenderungan- perkembangan ekonomi seperti itu, melainkan hanya hubungan absolut dari kekuatan-kekuatan bentuk bisnis yang berbeda. Atau dengan kata lain, hubungan-hubungan absolut dari berbagai kelas di masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, jika seseorang ingin membuktikan -dengan cara ini- mustahilnya realisasi sosialisme, maka penalaran orang itu haruslah bersandar pada teori yang sesuai dengan hitungan kekuatan-kekuatan material dari elemen-elemen dalam perjuangan, yakni oleh faktor kekerasan. Dengan kata lain, Bernstein yang selalu bergemuruh menentang blanquisme justru terjerumus ke dalam kesalahan blanquis yang paling kasar. Namun demikian, ada perbedaannya. Bagi kaum blanquis, yang mewakili suatu kecenderungan sosialis dan revolusioner, kemungkinan bagi realisasi ekonomi sosialisme nampak cukup alami. Berdasarkan kemungkinan ini, mereka membangun peluang untuk sebuah revolusi dengan kekerasan - meskipun hanya dilakukan oleh suatu minoritas kecil. Sebaliknya, karena tidak memadainya secara jumlah suatu mayoritas sosialis, maka Bernstein pun menarik kesimpulan tentang mustahilnya realisasi ekonomi sosialisme. Bagaimanapun juga, sosial-demokrasi tidak berharap untuk mencapai tujuannya, baik sebagai hasil dari kemenangan kekerasan suatu minoritas, ataupun melalui keunggulan jumlah suatu mayoritas. Sosial-demokrasi memandang bahwa sosialisme muncul sebagai akibat dari kebutuhan ekonomi -dan pemahaman akan kebutuhan itu- yang menuju pada penggulingan kapitalisme oleh massa pekerja. Dan kebutuhan ini manifes sendiri, khususnya dalam anarki kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sikap Bernstein mengenai persoalan yang menentukan, yakni tentang anarki dalam ekonomi kapitalis? Dia hanya menolak krisis-krisis umum yang besar. Dia tidak menyangkal krisis parsial dan krisis nasional. Dengan kata lain, dia menolak untuk melihat sejumlah besar anarki kapitalisme; dia hanya melihat sebagian kecilnya. Dia adalah -menggunakan ilustrasi Marx- seperti perawan dungu yang memiliki seorang anak ?yang masih sangat kecil.? Tetapi, malangnya ialah bahwa dalam persoalan-persoalan seperti anarki ekonomi, sedikit dan banyak adalah sama buruknya. Jika Bernstein mengakui eksistensi sebagian kecil dari anarki ini, maka kita bisa menunjukkan kepadanya bahwa, dengan mekanisme ekonomi pasar, yang sebagian kecil dari anarki ini akan diperluas sampai pada proporsi-proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya, sampai berujung pada keruntuhan. Akan tetapi, apabila Bernstein -sembari mempertahankan sistem produksi komoditas- berharap untuk secara perlahan mentransformasikan konsepnya tentang sebagian kecil dari anarki ini menjadi tatanan dan harmoni, maka kembali ia terjerumus ke dalam salah satu dari kesalahan-kesalahan fundamental ekonomi-politik borjuis, yang berdasarkan itu corak pertukaran tidak terikat pada corak produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pada tempatnya di sini untuk menunjukkan secara panjang-lebar tentang kebingungan Bernstein yang mengagetkan mengenai prinsip-prinsip paling elementer dari ekonomi-politik. Tetapi ada satu poin -hal mana kita diarahkan oleh persoalan-persoalan fundamental mengenai anarki kapitalis- yang harus segera diklarifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernstein menyatakan bahwa hukum Marx tentang nilai-lebih hanyalah suatu abstraksi sederhana. Dalam ekonomi-politik, pernyataan semacam ini jelas adalah suatu penghinaan. Namun, apabila nilai-lebih memang hanya merupakan suatu abstraksi sederhana, apabila ia hanya khayalan pikiran saja, maka setiap warganegara yang normal, yang telah melakukan tugas militer dan membayar pajak tepat waktu, tentunya memiliki hak yang sama dengan Karl Marx untuk membuat model absurditasnya sendiri, untuk membuat hukumnya sendiri tentang nilai-lebih. ?Marx memiliki hak yang sama untuk mengabaikan kualitas komoditas hingga tak lebih sekedar penjelmaan dari kuantitas kerja manusia, sebagaimana hak yang dimiliki ekonom-ekonom dari mazhab Boehm-Jevons untuk membuat suatu abstraksi tentang semua kualitas komoditas di luar kegunaannya.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu, bahwa bagi Bernstein, konsep Marx tentang kerja sosial dan konsep Menger tentang kegunaan abstrak adalah cukup serupa - murni adalah abstraksi-abstraksi. Bernstein lupa bahwa abstraksi Marx itu bukanlah sebuah karangan. Ia adalah suatu pengungkapan (discovery). Abstraksi itu tidak eksis di kepala Marx, melainkan dalam ekonomi pasar. Ia tidak memiliki eksistensi imajiner, melainkan eksistensi sosial yang nyata; begitu nyata sehingga bisa dipotong, ditempa, ditimbang dan diletakkan dalam bentuk uang. Kerja manusia yang abstrak, yang diungkap oleh Marx, dalam bentuknya yang telah maju tak lain adalah uang. Itulah memang yang merupakan salah satu dari temuan-temuan besar Marx. Sedangkan bagi semua ekonom-politik borjuis, sejak masa pertama kaum mercantilist sampai tahap terakhir Romawi dan Yunani Kuno, esensi uang tetap merupakan sebuah teka-teki mistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep mazhab Boehm-Jevons tentang kegunaan abstrak, pada kenyataannya adalah suatu kesombongan pemikiran. Atau bila dinyatakan secara lebih tepat, konsep itu merupakan representasi dari kehampaan intelektual, sebuah absurditas privat, yang mana baik kapitalisme, ataupun masyarakat apapun, tak bisa dipersalahkan atas lahirnya konsep tersebut, selain dari ekonomi borjuis yang vulgar itu sendiri. Dengan mendekap erat gagasannya itu, Bernstein, Boehm dan Jevons serta seluruh kelompoknya yang subyektif itu bisa terus-menerus kebingungan selama duapuluh tahun atau lebih mengenai misteri uang, tanpa sampai pada suatu kesimpulan yang berbeda dengan yang dicapai oleh tukang sepatu, yakni bahwa uang juga adalah sesuatu ?yang berguna?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernstein telah kehilangan semua pemahaman tentang hukum nilai-lebih Marx. Siapapun yang memiliki sedikit saja pemahaman tentang ekonomi marxian bisa melihat bahwa tanpa adanya hukum nilai-lebih, doktrin Marx tak bisa dipahami. Atau lebih konkretnya, bagi siapapun yang tidak memahami sifat komoditas dan pertukarannya, keseluruhan ekonomi kapitalisme dengan semua rentetannya, pastilah tetap merupakan sebuah teka-teki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang merupakan kunci, yang memungkinkan Marx membuka pintu rahasia dari fenomena kapitalis, dan memecahkan -seolah sambil bermain- permasalahan-permasalahan yang bahkan tidak pernah dicurigai oleh pemikiran-pemikiran terbesar dalam ekonomi borjuis klasik? Sesuatu itu adalah konsepsi Marx tentang ekonomi kapitalis sebagai sebuah fenomena historis, bukan hanya dalam makna hal-hal yang dengan paling baik diakui oleh para ekonom klasik -yakni ketika ia berkenaan dengan masa lalu kapitalisme yang bersifat feodal- melainkan juga sejauh ia berkenaan dengan masa depan sosialis dunia. Rahasia teori Marx tentang nilai, analisisnya tentang permasalahan uang, teorinya tentang modal, teorinya mengenai tingkat keuntungan, dan konsekuensinya juga tentang keseluruhan sistem ekonomi yang kini ada, didapati pada karakter peralihan dari ekonomi kapitalis, tak terhindarkannya keruntuhan ekonomi kapitalis yang menuju -dan ini hanyalah suatu aspek lain dari fenomena yang sama- kepada sosialisme. Itu semata-mata karena Marx melihat kapitalisme dari sudut pandang sosialis, yakni dari sudut pandang historis, maka dia menjadi mampu menguraikan seluk-beluk ekonomi kapitalis. Dan memang karena Marx mengambil sudut pandang sosialis sebagai batu pijakan bagi analisisnya tentang masyarakat borjuis, maka dia berada dalam posisi untuk memberikan basis ilmiah bagi gerakan sosialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ukuran bagi kita untuk mengevaluasi ucapan-ucapan Bernstein. Dia mengeluhkan ?dualisme? yang ditemukan di sana-sini dalam karya monumental Marx, Kapital. ?Karya tersebut diharapkan menjadi suatu kajian ilmiah, dan sekaligus membuktikan sebuah tesis yang telah secara lengkap dielaborasi lama sebelum penyuntingan buku itu. Buku itu didasarkan atas suatu skema yang telah mengandung hasil yang ingin diarahkan oleh Marx. Kembalinya ke Manifesto Komunis (yakni tujuan sosialis! - R.L.) membuktikan adanya sisa-sisa utopianisme dalam doktrin Marx.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, apa itu ?dualisme? Marx, kalau bukan dualisme antara masa depan sosialis dan masa kini kapitalis? Ia adalah dualisme antara kapitalisme dan kerja, dualisme antara borjuasi dan proletariat. Ia adalah refleksi ilmiah tentang dualisme yang ada dalam masyarakat borjuis, dualisme pertentangan kelas yang menggeliat di dalam tatanan sosial kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman Bernstein tentang dualisme teoritis dalam pemikiran Marx ini sebagai ?bertahan hidupnya utopianisme? sungguh-sungguh adalah pengakuan yang naif bahwa dirinya menolak adanya pertentangan kelas dalam kapitalisme. Itu adalah pengakuannya, bahwa sosialisme baginya hanya sekedar ?bertahan hidupnya utopianisme?. Apa yang merupakan "monisme" Bernstein -kesatuan Bernstein- selain dari kesatuan abadi rejim kapitalis, kesatuan dari mantan sosialis yang telah menanggalkan tujuannya, dan memutuskan untuk menemukan dalam masyarakat borjuis, satu dan selamanya, tujuan dari perkembangan manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernstein tidak melihat dalam struktur kapitalisme adanya perkembangan yang menuju pada sosialisme. Namun, untuk melestarikan program sosialisnya, setidaknya dalam bentuknya, dia terpaksa mencari perlindungan dalam suatu konstruksi idealis yang ditempatkan di luar semua perkembangan ekonomi. Dia terpaksa mentransformasikan sosialisme itu sendiri dari suatu fase sejarah yang pasti dalam perkembangan sosial, menjadi suatu "prinsip" yang abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa "prinsip koperasi" -sedikit tuangan sosialisme, yang dengan itu Bernstein berharap bisa mewarnai ekonomi kapitalis- muncul sebagai suatu konsesi yang dilakukan bukan demi masa depan masyarakat sosialis, melainkan demi masa lalu sosialis Bernstein sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-7573028246981854747?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/7573028246981854747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=7573028246981854747' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7573028246981854747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/7573028246981854747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/marxian.html' title='Marxian'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-5107214618402507734</id><published>2008-07-27T11:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:15:32.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>Karya-karya Marx dan Engels (1883)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kata-Pengantar Lama Pada Anti-Dühring.&lt;br /&gt;Tentang Dialektika&lt;br /&gt;Karya berikut ini sama sekali tidak berasal dari suatu "dorongan kalbu". Sebaliknya, temanku Liebknecht dapat bersaksi akan usahanya yang keras untuk membujuk diriku mengarahkan sorotan kritik pada teori paling baru Herr Dühring mengenai sosialisme. Sekali kuputuskan untuk melakukan hal itu, aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyelidiki teori ini, yang mengklaim merupakan buah praktikal terakhir dari suatu sistem filosofikal baru, dalam kaitannya dengan sistem ini, dan dengan demikian memeriksa sistem itu sendiri. Karenanya aku terpaksa mengikuti Herr Dühring ke dalam wilayah yang sangat luas, di mana ia berbicara mengenai segala hal yang mungkin dan mengenai hal-hal lain pula. Itulah menjadi asal-usul serentetan karangan yang muncul dalam Vorwärts Leipzig dari awal tahun 1877 dan seterusnya dan disajikan di sini sebagai suatu kesatuan yang berangkaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila, karena sifat hal-ikhwalnya, kritik atas sebuah sistem, yang begitu sangat tidak berarti sekalipun segala puji-pujian diri, disajikan dengan begitu terinci, maka ada dua keadaan boleh disebutkan sebagai permaafan. Di satu pihak kritik ini memberikan kesempatan padaku untuk menguraikan --dalam bentuk positif-- pandanganku di berbagai bidang mengenai masalah-masalah kontroversial yang dewasa ini mempunyai makna ilmiah yang sangat umum atau praktikal. Dan, sekali sedikitpun tidak terpikirkan olehku sebuah sistem lain sebagai sebuah alternatif pada sistem Herr Dühring, diharapkan bahwa, sekalipun beraneka-ragam bahan yang telah kuperiksa, para pembaca tidak akan luput melihat antar-kaitan yang juga terkandung dalam pandangan-pandangan yang telah kuajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, Herr Dühring yang "pencipta-sistem" sama sekali bukanlah sebuah gejala terisolasi dalam Jerman masa-kini. Sudah beberapa lamanya di negeri itu, sistem-sistem filosofikal, terutama natural-filosofikal telah bermunculan berlusin-lusin bagaikan jamur di musim hujan, belum lagi kita sebutkan sistem-sistem baru yang tak terhitung banyaknya mengenai politik, ekonomi, dsb. Presis seperti di negara modern, dianggap bahwa setiap warganegara berkemampuan menjatuhkan keputusan akan segala permasalahan yang mengenainya ia dipanggil untuk memberikan suaranya; dan presis seperti itu dalam ekonomi dianggaplah bahwa setiap pembeli adalah seorang ahli mengenai semua barang-dagangan yang bertepatan dibelinya untuk kepentingannya sendiri--anggapan-anggapan serupa itulah kini mesti diputuskan dalam ilmu-pengetahuan. Setiap orang dapat menulis mengenai segala hal dan "kebebasan ilmu" justru terdiri atas orang-orang yang dengan sengaja menulis mengenai hal-hal yang tidak mereka pelajari dan mengemukakannya sebagai satu-satunya metode yang benar-benar ilmiah. Namun Herr Dühring adalah salah satu tipe paling karakteristik dari ilmu-semu yang penuh-sok ini, yang di Jerman dewasa ini di mana-mana mendesakkan dirinya ke depan dan menenggelamkan segala sesuatu dengan omong-kosong muluk-muluk yang gegap-gempita. Omong-kosong sublim dalam puitri, dalam filsafat, dalam ekonomi, dalam historiografi; omong-kosong muluk-muluk yang mengklaim suatu keunggulan dan kedalaman pemikiran dalam membedakannya dari omong-kosong pasaran yang sederhana dari bangsa-bangsa lain; omong-kosong muluk-muluk, produk massal paling karakteristik dari industri intelektual Jerman --murah tapi buruk-- persis seperti barang-barang buatan-Jerman lainnya, hanya ia, malangnya, tidak dipamerkan bersama-sama di Philadelphia. Bahkan sosialisme Jerman akhir-akhir ini, teristimewa sejak contoh bagus dari Herr Dühring, telah gemar melakukan sejumlah besar omong-kosong muluk-muluk; kenyataan bahwa gerakan praktikal Sosial-Demokratik begitu pelit memmbiarkan dirinya disesatkan oleh omong-kosong muluk-muluk ini merupakan sebuah bukti lagi mengenai keadaan kesehatan yang luar biasa dari klas pekerja kita di sebuah negeri di mana, kecuali ilmu-pengetahuan alam, hampir segala sesuatu pada waktu sekarang sedang berpenyakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nägeli, dalam pidatonya pada pertemuan para sarjana ilmu- alam di Munich, menyarakan gagasan bahwa pengetahuan manusia tidak akan pernah memperoleh watak kemaha-tahuan, ia pasti tidak mengetahui mengenai prestasi-prestasi Herr Dühring. Prestasi-prestasi ini telah memaksa diriku mengikutinya ke dalam sejumlah bidang di mana aku paling-paling dapat bergerak dalam kapasitas seorang diletante (pemerhati tetapi belum ahli). Ini terutama berlaku bagi berbagai cabang ilmu-pengetahuan alam, di mana hingga kini seringkali dianggap sebagai kepongahan bagi seseorang "awam" untuk ikut mengatakan sesuatu. Namun, aku sedikit banyak diberanikan, oleh sebuah ungkapan yang diucapkan --juga di Munich-- oleh Herr Virchow dan di tempat lain didiskusikan secara lebih terinci, bahwa di luar bidang keahliannya sendiri, setiap sarjana alam hanyhalah seorang setengah-pemula,vulgo: awam. Tepat sebagaimana seorang ahli seperti itu dapat dan mesti memberanikan diri kadang-kadang melanggar bidang-bidang bertetangga, dan diberi kelonggaran di sana oleh para ahli bersangkutan dalam hal kekurang-cermatan kekurang-cermatan kecil dan kecanggungan dalam pengungkapan, maka telah kuberanikan diriku mengutib/menyitat proses-proses alamiah dan hukum-hukum alam sebagai contoh-contoh untuk membuktikan pandangan-pandangan teoretikalku secara umum, dan aku berharap bahwa diriku memperoleh kelonggaran-kelonggaran serupa. Hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu pengetahuan alam modern memaksakan diri pada setiap orang yang berurusan dengan masalah-masalah teoretikal dengan kekuatan tak-terelakkan yang sama yang mendorong ilmuwan alam dewasa ini mau-tak-mau pada kesimpulan-kesimpulan teoretikal umum. Dan di sini terjadilah suatu kompensasi tertentu. Apabila para ahli teori merupakan setengah-pemula di bidang ilmu pengetahuan alam, maka para sarjana alam dewasa ini sesungguhnya sama setengah-pemulanya di bidang teori, dalam bidang yang hingga kini disebut filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap kurun, dan karenanya juga dalam kurun kita, pikiran teoretikal merupakan sebuah produk historikal, yang pada waktu-waktu berlainan mengambil bentuk-bentuk yang sangat berbeda dan, dengan begitu, isi/kandungan yang sangat berbeda pula. Ilmu mengenai pikiran karenanya, seperti semua ilmu lainnya, adalah suatu ilmu-pengetahuan historikal, ilmu-pengetahuan mengenai perkembangan historikal pikiran manusia. Dan ini juga penting sekali bagi penerapan pikiran secara praktikal di bidang-bidang empirikal. Karena, pertama-tama, teori hukum-hukum pikiran sama sekali bukanlah sebuah "kebenaran abadi" yang ditegakkan sekali dan untuk selamanya, sebagaimana penalaran filistine memba-yangkannya dengan kata "logika." Logika formal itu sendiri telah menjadi medan kontroversi yang sengit dari zaman Aristoteles hingga sekarang. Dan dialektika sejauh ini telah diteliti secara cukup mendalam hanya oleh dua pemikir, Aristoteles dan Hegel. Adalah justru dialektika itu yang merupakan bentuk pemikiran yang paling penting bagi ilmu pengetahuan-alam masa kini, karena hanya dialektika itulah menawarkan analogi bagi, dan dengan demikian metode penjelasan dari proses-proses evolusioner yang terjadi dalam alam, antar-kaitan antar-kaitan pada umumnya, dan transisi-transisi dari satu bidang penelitian ke bidang penelitian lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, suatu pengenalan dengan jalannya evolusi pikiran manusia secara historikal, dengan pandangan-pandangan mengenai antar-kaitan antar-kaitan umumnya di dunia eksternal yang diungkapkan pada berbagai waktu, diperlukan/disyaratkan oleh ilmu-pengetahun alam secara teoretikal karena alasan tambahan bahwa ia memenuhi sebuah kaidah mengenai teori-teori yang dikemukakan oleh ilmu itu sendiri. Namun, di sini kurangnya pengenalan sejarah filsafat cukup sering dan secara mencolok dipamerkan. Proposisi-proposisi yang diajukan dalam filsafat berabad-abad yang lalu, yang acapkali telah lama dikesampingkan secara filosofikal, seringkali dikemukakan oleh para ilmuwan alam yang berteori sebagai kearifan baru-"gres" dan bahkan telah menjadi mode untuk beberapa waktu lamanya. Memang suatu prestasi besar dari teori mekanikal tentang panas yang telah memperkuat azas mengenai konservasi energi dengan pengajuan bukti-bukti segar dan pengedepanannya kembali secara menonjol; tetapi mungkinkah azas ini muncul ke permukaan sebagai sesuatu yang mutlak baru jika para ahli fisika yang terhormat itu teringat kembali bahwa hal itu telah sudah dirumuskan oleh Descartes? Karena fisika dan kimia sekali lagi beroperasi nyaris secara ekslusif dengan molekul-molekul dan atom-atom, maka mau tidak mau filsafat atomik Yunani kuno telah tampil kembali ke depan. Namun betapa dangkalnya itu diperlakukan oleh yang terbaik di antara mereka! Demikianlah Kekulé berkata pada kita (Ziele und Leistungen der Chemie) bahwa Democritus, yang semestinya Leucippus, yang melahirkannya, dan ia berkukuh bahwa Dalton ialah yang paling pertama menyatakan keberadaan (eksistensi) atom-atom elementer yang secara kualitatif berbeda-beda dan adalah yang pertama pula menjulukkan pada atom-atom itu berat-bobot berbeda-beda yang menjadi sifat berbagai unsur. Padahal, setiap orang dapat membaca dalam Diogenes Laertius (X, §§ 43-44 dan 61) bahwa Epicurus sudah menyatakan pada atom- atom itu perbedaan-perbedaan --tidak saja mengenai kebesaran (magnitude) dan bentuk, melainkan juga mengenai "berat," yaitu, ia dengan caranya sendiri sudah mengenal berat atomik dan volume atomik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1848, yang sebenarnya tidak membawa apapun hingga suatu ketuntasan di Jerman, di Jerman sana hanya menghasilkan sebuah revolusi di bidang filsafat. Dengan terjun ke dalam bidang yang praktikal, dengan mendirikan permulaan-permulaan industri modern dan pengecohan, dengan memprakarsai kemajuan perkasa yang dialami ilmu-pengetahuan alam di Jerman dan yang dilantik oleh para pengkhotbah keliling yang seperti-karikatur, yaitu Vogt, Büchner, dan sebagainya, bangsa Jerman itu dengan tegas membalikkan dirinya dari filsafat klasik Jerman yang telah tersesat di padang pasir Hegelianisme-Lama Berlin. Hegelianisme-Lama Berlin memang layak menerima (perlakuan)itu. Tetapi suatu bangsa (nasion) yang berniat mencapai puncak-puncak ilmu-pengetahuan tidak mungkin berhasil tanpa pikiran teoretikal. Tidak hanya Hegelianisme, tetapi juga dialektika dibuang ke laut --dan itu justru pada saat sifat dialektikal dari proses-proses alamiah tanpa dapat ditahan memaksakan dirinya pada pikiran, manakala--karenanya--hanya dialektika dapat membantu ilmu-pengetahuan alam dalam menyeberangi bergunung-gunung teori-- maka itu timbullah suatu kelengangan tak-berdaya dalam metafisika-lama. Yang berlaku di kalangan umum sejak itu yalah, di satu pihak, refleksi-refleksi hambar akan Schopenhauer, yang digayakan bagi kesesuaian kaum filistin, dan kemudian bahkan bagi Hartmann; dan di pihak lainnya, materialisme vulgar pengkhotbah-keliling dari seorang Vogt dan seorang Büchner. Di universitas-universitas, varitas-varitas eklektisisme yang paling beraneka-ragam bersaing satu sama lain dan hanya memiliki satu kesamaan, yaitu, bahwa kesemuanya itu hanya diramu dari sisa-sisa filsafat-filsafat lama dan bahwa kesemuanya itu sama-sama metafisikal. Segala yang diselamatkan dari sisa-sisa filsafat klasik adalah suatu neo-Kantianisme tertentu, yang kata-akhirnya yalah "benda-dalam-dirinya-sendiri" (thing-in-itself) yang selama-lamanya tidak-dapat-diketahui, yaitu, sekeping dari Kant yang paling tidak layak dilestarikan. Hasil akhirnya yalah inkoherensi (kengawuran/kekacauan) dan kebingungan pikiran teoretikal yang kini berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang nyaris tidak dapat memungut sebuah buku teori mengenai ilmu-pengetahuan alam tanpa memperoleh kesan bahwa para sarjana alam itu sendiri merasa betapa mereka itu dikuasai oleh kekacauan dan kebingungan itu, dan bahwa apa yang dinamakan filsafat yang kini beredar, sama sekali tidak menawarkan suatu jalan keluar kepada mereka. Dan di sini memang benar-benar tidak ada jalan keluar, tidak ada kemungkinan untuk mencapai kejelasan, kecuali dengan berbalik, dengan suatu atau lain bentuk, dari pemikiran metafisika kepada pemikiran dialektikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik pada pemikiran dialektikal ini dapat berlangsung dalam berbagai cara. Ia dapat terjadi secara spontan, semata-mata karena kekuatan penemuan-penemuan ilmu-alam itu sendiri, yang menolak untuk membiarkan dirinya dipaksa ke dalam alas metafisika Procrustean lama. Tetapi itu suatu proses berkepanjangan yang menyita banyak tenaga, yang selama itu disertai sejumlah sangat banyak pergesekan tak-perlu yang mesti ditanggulangi. Sampai batas yang jauh proses itu sudah berlangsung, terutama dalam biologi. Ia dapat sangat dipersingkat jika para ahli teori di bidang ilmu-pengetahuan alam lebih mengakrabkan diri mereka dengan filsafat dialektikal dalam bentuk-bentuk yang telah ada secara historikal. Di antara bentuk-bentuk ini terdapat dua buah yang mungkin istimewa bermanfaat bagi ilmu-pengetahuan alam modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama ialah filsafat Yunani. Di sini pikiran dialektikal masih tampil dalam kesederhanaannya yang murni, masih belum terganggu oleh rintangan-rintangan penuh pukauan yang dipasang oleh metafisika abad ke tujuhbelas dan ke delapanbelas--Bacon dan Locke di Inggris, Wolff di Jerman-- dengan jalannya sendiri, dan yang dengan itu membendung kemajuannya sendiri, dari suatu pemahaman mengenai yang bagian pada suatu pemahaman mengenai yang menyeluruh, pada suatu wawasan mengenai antar-keterkaitan umum benda-benda. Di antara orang-orang Yunani --hanya karena mereka belum cukup maju untuk membedah, menelaah alam--alam masih dipandang sebagai suatu keutuhan, pada umumnya. Keterkaitan universal dari gejala-gejala alam tidak terbukti dalam hal partikular-partikular; bagi orang-orang Yunani ia adalah hasil dari kontemplasi langsung. Di sinilah letak ketidak-sepadannya (kekurangan) filsafat Yunani, yang karenanya, ia kemudian mesti mengalah pada gaya-gaya pandangan lain mengenai dunia. Tetapi di sini juga letak keunggulannya di atas semua lawan metafisikal mereka berikutnya. Apabila metafisika Yunani benar dalam hal partikular-partikular, maka dalam hal metafisika orang-orang Yunani itu benar pada umumnya. Itulah sebabnya mengapa kita dalam filsafat diharuskan, seperti juga di begitu banyak bidang lainnya, untuk kembali dan kembali lagi pada prestasi-prestasi orang-orang kecil yang bakat-bakat universal dan kegiatannya memastikan kepadanya suatu tempat di dalam sejarah perkembangan manusia yang tidak akan pernah dapat diklaim oleh orang-orang lain. Namun, sebab lainnya yalah, bahwa aneka bentuk filsafat Yunani dalam embrionya mengandung, dalam keadaan awal kelahirannya, hampir semua cara pandangan mengenai dunia di masa-masa kemudian. Karena itu, ilmu-pengetahuan alam teoretikal juga dipaksa untuk kembali pada orang-orang Yunani apabila ia berhasrat menjejaki kembali sejarah asal-usul dan perkembangan azas-azas umum yang dipakainya dewasa ini. Dan wawasan ini semakin mendesakkan dirinya ke depan. Telah menjadi semakin langka contoh-contoh mengenai para sarjana ilmu-alam yang, sambil sendiri menggarap fragmen-fragmen filsafat Yunani, misalnya atomika, seperti dengan kebenaran-kebenaran abadi, memandang rendah orang-orang Yunani dengan kecongkakan Baconian, karena orang-orang Yunani itu tidak memiliki ilmu-pengetahuan alam empirikal. Bagi wawasan ini saja jauh lebih baik untuk melangkah pada suatu pengenalan yang sungguh-sungguh akan filsafat Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk dialektika yang kedua, yaitu yang paling dekat pada para naturalis Jerman, yalah filsafat Jerman klasik, dari Kant hingga Hegel. Di sini sudah dilakukan suatu permulaan, yaitu bahwa telah menjadi mode untuk kembali pada Kant, bahkan terpisah dari neo-Kantianisme yang disebut di muka. Sejak pengungkapan bahwa Kant adalah pengarang dari dua hipotesis yang brilyan, tanpa mana ilmu-pengetahuan alam teoretikal dewasa ini jelas-jelas tidak dapat maju--teori, yang tadinya dijulukkan pada Laplace, mengenai asal-usul sistem matahari dan teori mengenai penghambatan peredaran (rotasi) bumi oleh pasang-surut--Kant kembali dihormati oleh kalangan sarjana ilmu-alam, sebagaimana yang memang layak diterima oleh Kant. Namun mempelajarai dialektika dalam karya-karya Kant akan merupakan suatu tugas yang sia-sia bersusah-payah dan berganjaran-kecil, karena kini telah terdapat, dalam karya-karya "Hegel," suatu kompendum yang serba-lengkap mengenai dialektika, sekalipun itu dikembangkan dari suatu titik-keberangkatan yang sama sekali salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah--di satu pihak--reaksi terhadap "filsafat alam" melepas dayanya dan merosot menjadi sekedar cercaan--suatu reaksi yang terutama dibenarkan oleh titik-keberangkatan yang salah ini dan degenerasi tak-berdaya dari Hegelianisme Berlin; dan sesudah, di pihak lain, ilmu-pengetahuan alam secara teramat mencolok ditinggalkan dalam keterpurukan oleh metafisika eklektik dewasa ini sehubungan dengan persyaratan-persyaratan teoretikalnya, barangkali ada kemungkinan untuk sekali lagi menyebut nama Hegel di depan para sarjana ilmu-alam tanpa meman-cing tarian St.Vitus yang dengan begitu mengasyikkan diperagakan oleh Herr Dühring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama sekali mesti ditegaskan bahwa masalahnya di sini sama sekali bukanlah hal mempertahankan titik-berangkat Hegel: bahwa jiwa, pikiran, ide, adalah primer dan bahwa dunia real hanyalah sebuah salinan (copy) dari ide itu. Feuerbach sudah meninggalkan hal itu. Kita semua sependapat, bahwa di setiap bidang ilmu-pengetahuan, dalam ilmu-pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan historikal, orang mesti mulai dari "faktum-faktum" (fakta) tertentu, dalam ilmu-pengetahuan alam, karenanya, dari berbagai bentuk material dan berbagai bentuk gerak materi; bahwa karena itu, juga dalam ilmu-pengetahuan alam antar- keterkaitan antar-keterkaitan tidak boleh dibangun ke dalam fakta, melainkan mesti ditemukan di dalamnya, dan manakala ditemukan, mesti diverifikasi sejauh mungkin lewat eksperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga bukan masalah mempertahankan isi dogmatik dari sistem Hegelian sebagaimana itu dikhotbahkan oleh para Hegelian Berlin dari aliran yang lebih tua dan aliran yang lebih muda. Maka itu, dengan jatuhnya titik-berangkat idealis, sistem yang dibangun di atasnya, khususnya filsafat alam Hegelian, juga ikut jatuh. Namun mesti diingatkan, bahwa polemik para sarjana ilmu-pengetahuan alam terhadap Hegel, sejauh mereka memang memahami Hegel secara tepat, semata-mata ditujukan terhadap kedua hal ini: yaitu, titik-berangkat idealis itu, dan konstruksi (rancang-bangun) sistem itu yang sewenang-wenang dan mengingkari fakta.Setelah semua ini dijadikan pertimbangan, masih tersisalah dialektika Hegel. Adalah jasa Marx bahwa, berlawanan dengan Eníyovo yang cuma sedang-sedang, congkak, rewel, yang kini berbicara besar di Jerman yang berkebudayaan, ia yang pertama kali mengedepankan kembali metode dialektikal yang telah dilupakan, kaitannya dengan dialektika Hegelian dan perbedaannya dari yang tersebut belakangan itu, dan sekaligus telah menerapkan metode ini dalam Capital pada/atas faktum-faktum suatu ilmu-pengetahuan empirikal, ekonomi politik. Dan ia melakukannya sedemikian berhasil sehingga, bahkan di Jerman, aliran ekonomi yang lebih baru melampaui sistem perdagangan-bebas yang vulgar hanya dengan menyalin dari Marx (dan seringkali secara tidak tepat), dengan berdalih (berpura-pura) mengritiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dialektika Hegel masih berlaku inversi yang sama dari semua antar-keterkaitan seperti dalam semua cabang lainnya dalam sistemnya. Tetapi, sebagaimana dikatakan Marx: "Mistifikasi yang diderita dialektika dalam tangan Hegel, sedikitpun tidak menghalanginya untuk menjadi yang paling pertama menyajikan bentuk keberlakuannya (bekerjanya) secara umum secara komprehensif dan sadar. Dengan Hegel dialektika itu berdiri di atas kepalanya. Ia mesti dibalikkan agar berdiri secara benar, apabila orang hendak menemukan inti-rasional di dalam kulit mistikalnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di dalam ilmu-pengetahuan alam sendiri, kita cukup sering berjumpa dengan teori-teori di mana hubungan yang sesungguhnya diberdirikan di atas kepalanya, refleksinya diambil dari bentuk aslinya dan yang karena itu perlu/mesti dibalikkan agar berdiri secara benar (di atas kakinya). Teori-teori seperti itu cukup sering berdominasi selama waktu panjang. Manakala selama hampir dua abad panas itu dipandang sebagai suatu substansi istimewa yang misterius, dan bukannya suatu bentuk gerak dari materi biasa, itu justru merupakan satu kasus seperti itu dan teori mekaninal mengenai panas melaksanakan pembalikan itu tadi. Namun begitu, fisika yang didominasi oleh teori kalorik menemukan serangkaian hukum yang sangat penting mengenai panas dan membuka jalan, khususnya melalui Fourier dan Sadi Carnot, bagi konsepsi yang benar, yang kini untuk bagiannya mesti membalikkan secara tepat hukum-hukum yang ditemukan oleh pendahulunya, untuk menerjemahkannya ke dalam bahasanya sendiri. Demikian pula, di dalam ilmu-kimia (chemistry), teori flogistika (phlogistics) pertama-tama memberikan bahannya, dengan seratus tahun kerja-eksperimental, dengan bantuan itu Lavoisier berhasil menemukan --di dalam oksigen yang diperoleh Priestley-- antipode sesungguhnya dari flogiston yang fantastik itu dan dengan demikian dapat membuang ke laut seluruh teori flogistika. Tetapi ini sama sekali tidak menyingkirkan hasil-hasil eksperimental mengenai ilmu-pengetahuan flogistika. Bahkan sebaliknya daripada itu. Mereka itu bertahan, hanya formulasinya yang dibalikkan, diterjemahkan dari flogistika ke dalam bahasa kimiah yang kini berlaku dan dengan demikian mempertahankan kesahihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dialektika Hegelian dengan dialektika rasional adalah sama seperti hubungan teori kalorik dengan teori mekanikal mengenai panas dan hubungan teori flogistika dengan teori Lavoisier. Alih bahasa: Ira Iramanto(marx.org)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak Asasi Manusia dan Kontribusi Sosialisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… are neither eternal truths nor supreme values … they not valid everywhere nor for an ulimited time. They are rooted neither in the conscience of the individula nor in a God’s plan of creation. They are of earhly origin… a comparatively late product of the histrory of human society-and their implementation doesn’t lie in in everybody’s interest. In their essentials, man’s interest are not the sam everywhere and they cannot even be the same particular country under the condition of the system pf private owner ship of the means of production…” Prof. Hermann Klenner, German Democratic Republic&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal pembacaan yang dilakukan oleh penulis terhadap beberapa bacaan, kutipan Prof. Hermann Klenner, di atas telah membuat kebingungan tersendiri. Konsep universalitas tentang Hak Asasi Manusia (HAM) yang sebelumnya telah tertanam di kepala penulis menjadi kabur kembali. Oleh karena itu, penjelasan di bawah ini akan menekan pada kontribusi pemikiran sosialisme yang diwakili oleh Karl Marx (1818-1883).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosialisme dan Marxsisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya kita mengetahui latar belakang Karl Marx sebelum kita membahas kontribusinya dalam perkembangan HAM di dunia. Sebagai salah satu murid dari Hegel, Marx sangat dipengaruhi oleh Hegelianisme. Pada saat Marx duduk di bangku kuliah-dia mempelajari tentang kemanusiaan serta filsafat dan hukum-, Hegelianisme sangat berjaya. Salah satu pandangan Hegel yang mempengaruhi Marx adalah konsep tentang bangsa/negara. Dimata dunia, Karl Marx dipandang sebagai seseorang yang mengklaim telah menjadikan sosialisme ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosialisme, secara sederhana adalah sebuah sistem organisasi sosial dimana harta benda dan pemasukan/pendapatan menjadi obyek dari kontrol sosial. Ini juga bisa dipahami sebagai sebuah gerakan politik yang bertujuan menempatkan sistem dalam kehidupan praksis. Kontrol sosial diatas memang dipahami secara luas dan berbagai kepentingan. Marxisme-sebagai sebuah ideologi dan teori sosial ekonomi yang dikembangkan oleh Karl Marx and Friedrich Engels-memandang sosialisme sendiri sebagi sebuah transisi perubahan dari kapitalisme menuju ke komunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak Asasi Manusia, dalam kritik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melihat kaitan antara HAM dengan kritik yang disampaikan oleh Marx, kita sebaiknya tidak lupa dengan konteks jaman pada abad ke-17 hingga ke 18. dalam masa itu, HAM berkembang dimulai dari sebuah tuntutan yang di munculkan oleh Thomas Jefferson, salah seorang pendiri Amerika Serikat. Tuntutan tersebut adalah agar manusia mendapatkan kembali hak-haknya yang tidak dapat dicabut sejak Bill of Rights.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa perang dingin-bahkan sampai saat ini-, muncul isu yang menjadi senjata untuk menyerang salah satu pihak dengan mengatakan bahwa Marxsisme telah menjadikan hukum dapat diabaikan dan HAM adalah ilusi dari kaum borjuis saja. Tentu saja, tuduhan tersebut menjadi sangat naif jika kita melihat lebih jauh sumbangan dari pemikiran Marx lebih jauh dalam perkembangan HAM. Geoffrey Robertson QC secara gamblang mengatakan bahwa pada tataran teorities, dunia telah berutang pada Marx pada penghapusan hak-hak alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa Marx mengkritik tentang HAM yang berkembang pada masa itu. Kritik tersebut ditulis dalam sebuah esai yang berjudul On the Jewish Question (1844). Ia menolak dengan membuat pernyataan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwa apa yang disebut dengan HAM … itu tidak apa-apanya. Kecuali hak asasi manusia yang egois, yaitu manusia yang terpisah dari manusia lainnya atau dari komunitasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik ini telah mengantarkan para pemikir Marxis pada jaman berikutnya telah mencirikan bahwa HAM adalah sarana universilasi kapitalisme terutama kebebasan tanpa tanggung jawab sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang sama, kaum sosialis maupun Marxis tetap berupaya untuk menghilangkan hak untuk kepemilikan. Perlu dipahami, pada masa abad ke-19, kepemilikan dipahami sebagai produksi, distribusi dan pertukaran atau kekuatan atas yang lainnya. kerja produksi dan dunia ekonomi dalam masyarakat harus dirasional dan dikontrol oleh publik. Oleh karena itu, hak kekayaan individu dapat diterima namun hak untuk kekayaan demi tujuan individu harus dibatasi bahkan dihilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, dibalik itu Marx mendukung deklarasi tentang hak warga negara. Dalam pandangannya, hak komunal ini sebagai sumber daya baru yang dapat mengantar kita ke transformasi sosial. Dalam inti pemikiran Marx dapat kita ditemukan gagasan yang sangat tajam dan sangat relevan pada masa itu-bahkan hingga saat ini- tentang hak sosial dan ekonomi dari warga negara seperti hak atas pendidikan, perumahan, dan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa tulisannya, ide tersebut terlihat dengan jelas. Dalam sebuah tulisannya yang terkenal Communist Manifesto (1848), Marx sebenarnya tidak secara langsung menyerang pada paham kapitalisme melainkan pada masyarakat tradisional, kepercayaan salah yang berasal dari abad pertengahan, feodalisme dan kekuasaan yang lalim (tirani). Dalam tulisan tersebut, Marx mengungkap bahwa dalam menegakkan demokrasi, kaum protelar harus menjadi kelas yang berkuasa. Dalam kekuasan itu, kaum proletar akan menggunakan kekuatan politiknya untuk mendorong sentralisasi kapital dan segala instrumen produksi di tangan negara. Ini kemudian dipahami sebagai perjuangan kelas. Selain itu, dalam tulisannya tersebut Marx menyampaikan sepuluh pokok pikirannya, beberapa diantaranya sangat kental nuansa HAM. Salah satunya adalah pendidikan gratis bagi semua anak di sekolah publik. Marx juga menekankan bahwa sepuluh pokok pikirannya tentunya bisa berbeda di setiap negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dalam Inagural Address of The Working Men’s International Association (1864), Marx menyampaikan beberapa yang permasalahan dihadapi oleh kaum pekerja. Meningkatnya produksi dan keuntungan dari proses produksi tidak diikuti oleh perbaikan kondisi para kelas pekerja. Dipaparkan bahwakondisi kesehatan kelas pekerja terus menurun. Lebih jauh lagi, Marx melihat bahwa kaum feodal dan pemodal menggunakan keistimewaan mereka untuk melakukan monopoli yang jelas-jelas merugikan kaum proletar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx kemudian lebih tajam lagi dalam dua tulisannya yaitu Instructions for Delegates to the Geneva Conggres (1866) dan , Critique of the Gotha Programme (1891). Dalam tulisan pertamanya, Marx menegaskan bahwa harus ada pembatasan hari kerja bagi para pekerja. Perhatiannya pada permasalahan anak mulai terlihat dengan penekanan bahwa negara harus memperhatikan para pekerja anak dan buruh anak, baik perempuan maupun laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Marx lebih spesifik lagi mengangkat beberapa permasalahan. Pertama, negara harus menyediakan pendidikan dasar secara meluas dan setara. Biaya pendidikan harus diambil dari pajak pendapatan kelas atas. Sebagai penegasan dari tulisan sebelumnya, Marx melihat bahwa kelas pekerja membutuhkan hari kerja yang normal. Artinya, harus ada jangka waktu kerja yang jelas. Khususnya bagi para pekerja perempuan, harus dilakukan pembatasan yang jelas. Pembatasan dalam hal ini bukan merupakan bentuk diskriminasi melainkan pembatasan bagi perempuan tidak boleh bekerja pada ruang kerja yang membahayakan perempuan secara mental dan fisik. Perkembangan pemikiran Marx tentang hak anak sendiri mulai tampak. Ini tampak dari pengasan bahwa harus ada pelarangan pekerja anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx sekali mengaskan tentang pentingnya pengawasan yang ketat dari negara untuk pabrik, tempat kerja dan usaha domestik. Selanjutnya, negara juga harus menjamin penegakan hukum. Ini muncul dari sebuah kenyataan bahwa sering terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh kebijakan pabrik. Yang tidak pernah terpikir bahkan terbayang oleh penulis bahwa Marx dengan meminta-walaupun itu tidak terlalu ditekankan-agar negara membuat peraturan yang jelas bagi para narapidana yang dipekerjakan. Mereka harus diperlakukan sama sesuai dengan hak pekerja yang umum dan tidak boleh diperlakukan secara sewenang-wenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori dan praktek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, terkadang praktek tidak seusai dengan teori. Ini juga dialami oleh berbagai negara yang menggunakan paham sosialisme. Sebagai contoh, dalam konstitusi Stalin pada 1936, beberapa hak dasar dijamin secara formal. Beberapa diantanya adalah hak untuk berbicara dan berkumpul, kebebasan pers dan hak untuk berdemonstrasi, kehormatan (inviolability) individu, rumah dan korespondensi, proses peradilan yang independen, hak untuk mendapatkan pengadilan yang terbuka dan adil, hak untuk mempertahankan pendapat dan hak untuk kebebasan beragama. Pada kenyataanya, dalam masa pemerintahan Stalin, hampir 20 juta orang dipaksa secara kejam untuk bekerja di kamp buruh. Mereka adalah narapidana yang dihukum sekitar 10–20 tahun, tentunya proses pengadilan tersebut jauh dari Sekitar 1 dari 10 orang meninggal akibat perlakuan yang kejam di dalam penjara seperti kelaparan dan kerja paksa yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut dapat kita lihat dibeberapa negara yang sampai saat ini masih menggunakan paham sosialis sebagai dasar negara. Kita ambil Kuba sebagai salah satu contoh. Dunia harus mengakui bahwa pemenuhan hak sosial, ekonomi dan budaya di Kuba dapat dikatakan paling baik. Peranan negara dalam pemenuhan hak tersebut menjadi sangat sentral. Kemajuan dunia pendidikan dan tingkat kesehatan masyarakat di Kuba dapat dikatakan paling baik. Di sisi lain, saat kita bicara tentang hak sipil dan politik di Kuba akan menjadi sangat berbeda. Sebagai salah satu contoh kasus, kebebasan pers dapat dikatakan tidak dilindungi oleh negara. Ini dapat kita lihat dari jumlah jurnalis yang ditangkap dengan berbagai tuduhan yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, paham sosialisme mengalami satu fenomena yang cukup menarik. Banyak negara komunis atau partai yang berhaluan kiri tetap menggunakan kata demokrasi dan/atau demokratik dalam konstitusi mereka-meskipun itu berarti sama atau tidak-setidaknya itu dapat ditemui di hampir seluruh dunia. Hal yang lain lagi adalah seringnya kita lihat gerakan-gerakan pembebasan melawan kolonialisme dan semi-kolonialisme di berbagai negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan pemikiran, landasan dasar hak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, HAM adalah sebuah kemajuan sejarah yang sangat penting dalam sebuah upaya umat manusia. Mari kita lihat beberapa teori yang sangat terkait dengan HAM dan bahkan dapat dikatakan telah terbukti dalam perjalanannya yang disumbangkan oleh pemikiran sosialisme.&lt;br /&gt;1. Tujuan dari Marxsisme adalah humanisme sosialis, dimana manusia dapat bebas berkembang, tidak teralineasi serta menjadi individu yang penuh kesadaran dan saling berhubungan dengan individu lain dalam kerangka sosial yang membuka kesempatan penuh untuk mengembangkan kapasitas dan potensi masing-masing individu.&lt;br /&gt;2. Ketika hukum yang berlaku di masa lalu serta elaborasi doktrin HAM telah memperlihatkan tanda bahwa isi dan fungsinya hanya diberikan kepada kelas sosial tertentu, sosialisme mencoba belajar dari kondisi tersebut. Walaupun masih sangat terbatas dan tidak jelas dalam penjelasan dan pelaksanaanya, sosialisme tetap mengakui terhadap hak mendasar manusia sebagai komunitas manusia yang harus dihormati dan umat manusia yang sepenuhnya merdeka&lt;br /&gt;3. Hak dan kebijakan tidak dapat disederhanakan secara abstrak. Lebih detil lagi dalam pandangan sosialisme, lingkungan politik tidak dapat dipisahkan pada masalah sosial ekonomi. Hak seharusnya tidak hanya dilihat sebagai sebuah asal kebebasan namun sebagai sebuah kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Bacaan:&lt;br /&gt;1. Tay, Alice Erh-Soon, “Marxism, Socialism and Human Rights” dalam E. Kamenka dan Alice Erh-Soon Tay, Human Rights Idea and Ideologies, Bab 8 Hal. 104-112&lt;br /&gt;2. Tulisan Karl Marx dalam Ishaty&lt;br /&gt;3. Russel, Bertrand, Sejarah Filsafat Barat; Kaitannya Dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno hingga Sekarang (London, 1945)&lt;br /&gt;4. Geoffrey Robertson QC, "Abad XIV: Bentham, Marx dan Dorongan Kemanusiaan," dalam Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, Perjuangan untuk Mewujudkan Keadilan Global, Bab I Hal 14 -19&lt;br /&gt;5. Hansen, Carol Rae, excerpts “Socialism, Marxism, and Human Rights” dalam A History of Human Rights Theory, (Onyx Press, ….)&lt;br /&gt;6. Brittanica Enskilopedia (sekitarkita.com)&lt;br /&gt;Syaldi, penulis adalah redaksi Sekitarkita dan aktif di Tim Relawan untuk Kemanusiaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8154004373917128427-5107214618402507734?l=tojib84.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tojib84.blogspot.com/feeds/5107214618402507734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8154004373917128427&amp;postID=5107214618402507734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/5107214618402507734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8154004373917128427/posts/default/5107214618402507734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tojib84.blogspot.com/2008/07/karya-karya-marx-dan-engels-1883.html' title='Karya-karya Marx dan Engels (1883)'/><author><name>DENBAGUS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05484534398157581131</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8154004373917128427.post-3972986456204918705</id><published>2008-07-27T11:13:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T11:14:37.678-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TOKOH - TOKOH DUNIA'/><title type='text'>MARTIN LUTHER 1483-1546</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy6-jiTO9I/AAAAAAAAAC8/YfmYL1y_ugo/s1600-h/12.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_ZHso3VMjdO0/SIy6-jiTO9I/AAAAAAAAAC8/YfmYL1y_ugo/s320/12.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227758851324066770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Martin Luther, yang pembangkangannya terhadap Gereja Katolik Roma dan melahirkan gerakan reformasi Protestan lahir di tahun 1483 di kota Eisleben, Jerman. Dia memperoleh pendidikan perguruan tinggi yang cukup baik dan pada suatu saat pernah belajar hukum (tampaknya atas dorongan sang ayah). Tetapi, secara keseluruhan dia tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal melainkan memilih jadi pendeta Augustinian. Di tahun 1512 dia meraih gelar Doktor dalam teologi dari Universitas Wittenberg dan segera sesudah itu terjun aktif dalam fakultas jurusannya.&lt;br /&gt;Ketidakpuasan dan keluhan-keluhan Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma timbul setingkat demi setingkat. Di tahun 1510 dia melakukan perlawatan ke Roma. Sampai di situ dia terbengong-bengong kaget bukan kepalang menyaksikan pemborosan dan kemewahan duniawi para pendeta gereja Katolik. Tetapi, yang paling mendorongnya melancarkan protes adalah terutama segi perbuatan gereja yang berkaitan dengan masalah pengampunan dosa yang dilakukan oleh gereja. Pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther menempel poster di pintu gerbang gereja Wittenberg yang berisi "sembilan puluh lima pokok sikap" yang diantaranya melabrak kemewahan hidup gereja secara umum dan kirim tindasan "sembilan puluh lima pokok sikap"-nya itu kepada Uskup Mainz. Selain itu, dicetaknya pula dan disebar luas ke mana-mana.&lt;br /&gt;Ruang lingkup protes Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma dengan kecepatan luar biasa menjalar dan meluas. Luther meningkatkan serangannya ke jantung masalahnya betul: mengingkari kekuasaan Paus, Dewan Gereja. Martin Luther menegaskan dia cuma tunduk pada tuntunan Injil dan dengan alasan pikiran sehat. Bisa dimengerti, gereja tidak senang dengan pendapat Luther ini. Luther diperintahkan datang menghadap pembesar-pembesar gereja dan sesudah saling dengar pendapat dan adu argumen serta perintah supaya Martin Luther mencampakkan pendapatnya, dia akhirnya dinyatakan "murtad" dan dinyatakan bersalah dan dikucilkan oleh dewan persidangan (1521) dan semua tulisan-tulisannya dinyatakan terlarang dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;Mestinya --menurut kebiasaan-- Martin Luther mesti dibakar hangus sampai jadi arang seperti halnya orang yang membakar jerami. Tetapi, pandangan-pandangan Luther sudah tersebar luas dan mempengaruhi orang Jerman serta sebagian kecil bangsawan-bangsawan Jerman. Meski Martin Luther mesti juga pergi sembunyi selama setahun, dukungan terhadap dirinya begitu kuat sehingga dia bisa terlepas dari hukuman-hukuman kriminal yang menimpanya.&lt;br /&gt;Martin Luther seorang penulis tenar dan produktif dan punya pengaruh luas. Salah satu kerja besarnya adalah menterjemahkan Injil kedalam bahasa Jerman. Ini --tentu saja-- membuka pintu bagi tiap orang yang melek huruf mempelajari Injil sendiri tanpa mesti lewat perantara gereja atau pendeta. (Kebetulan, terjemahan yang begitu indah dan sempurna menyebar pengaruh luar biasa terhadap bahasa dan kesusasteraaan Jerman).&lt;br /&gt;Teologi Luther --tentu saja-- mustahil bisa dijabarkan di sini secara ringkas dalam ruang terbatas. Salah satu dari gagasan kuncinya adalah doktrin perlunya keyakinan terhadap kepercayaan semata-mata, suatu gagasan berdasar tulisan-tulisan St. Paul. Luther yakin, manusia menurut kondratnya menjadi suram karena dosa-dosanya dan semata-mata lewat perbuatan dan kerja lebih baik saja yang dapat menyelamatkannya dari kutukan abadi. Penyelamatan hanya datang lewat kepercayaan dan dengan berkat pengampunan Tuhan. Karena itu, menurut Luther, jelaslah sudah bahwa perbuatan gereja menjual pengampunan adalah tidak pada tempatnya dan sia-sia. Dengan begitu sekaligus berarti, pendapat tradisional yang sudah berkarat yang menganggap gereja itu perantara yang tak bisa disingkirkan antara seorang Kristen dengan Tuhan adalah sesungguhnya sesuatu yang sesat. Jika seseorang menganut doktrin Martin Luther, itu artinya hak hidup Gereja Katolik Roma tersapu habis sekali pukul.&lt;br /&gt;Selain itu, dalam hal mempertanyakan peranan hakiki gereja, Luther juga melancarkan protes terhadap pelbagai macam keyakinan dan praktek peribadatan khusus. Misalnya, dia menolak adanya purgatory (keadaan sesudah mati dimana roh memerlukan penyucian lewat penyiksaan sementara), dan dia menolak kemestian membujang buat seorang pendeta. Dia sendiri di tahun 1525 kawin dengan bekas biarawati, punya enam anak. Luther meninggal dunia tahun 1546 di Eisleben tatkala sedang dalam perjalanan mengunjungi kota kelahirannya.&lt;br /&gt;Martin Luther, tentu saja, bukanlah seorang pemikir Protestan pertama. Seabad sebelumnya dia sudah didahului oleh Jan Hus dari Bohemia, dan pada abad ke-14 seorang sarjana Inggris John Wycliffe, malahan di abad ke-12 seorang Perancis bernama Peter Waldo dapat dianggap seorang Protestan pertama. Tetapi, pengaruh para pendahulu Martin Luther itu dalam gerakannya cuma punya daya cakup lokal. Di tahun 1517, ketidakpuasan terhadap gereja Katolik sudah merasuk ke mana-mana. Ucapan-ucapan Martin Luther sudah merupakan kobaran api yang berantai menyebar ke sebagian besar kawasan Eropa. Luther karena itu punya hak yang tak terbantahkan bahwa dialah orang yang bertanggung jawab terhadap sulutan ledakan dinamit pembaharuan.&lt;br /&gt;Konsekuensi yang paling kentara dari gerakan Pembaharuan ini --tentu saja-- terbentuknya pelbagai macam sekte Protestan. Meskipun Protestan cumalah merupakan bagian saja dari kekristenan secara keseluruhan, dan bukan pula merupakan bagian terbesar, tetapi toh penganutnya melampaui jumlah para penganut Buddha bahkan dibanding dengan umumnya agama-agama lain.&lt;br /&gt;Konsekuensi penting dari gerakan Pembaharuan ini adalah menyebar luasnya bentrokan agama bersenjata yang segera menyusul. Beberapa contoh dari perang agama (misalnya Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman yang bermula tahun 1618 dan baru berakhir tahun 1648) sungguh-sungguh suatu peperangan berdarah yang menelan banyak korban. Bahkan selain bentrok senjata, pertentangan pol
